
“Aku terkejut kau masih ingat bagaimana panggilanmu padaku, Shiyuri!” suara ayahku terdengar sangat merdu.
Aku sangat terkejut ayah bisa menggunakan bahasa indonesia dengan lancar. Perlahan aku melepaskan pelukannya, berharap yang terjadi saat ini bukanlah mimpi.
Aku menatap wajah ayahku. Ada segudang rindu dimatanya, aku bahkan tidak bisa menggambarkan betapa senangnya diriku saat ini. Terlebih lagi, aku bisa melihat kembali wajah tampan ayahku. Dia sangat mirip dengan kakakku.
Satu satunya yang diwariskan ayah padaku hanyalah warna kulit kami yang sama-sama putih dan rambut lurus kami yang hitam lebat. Selebihnya aku persis seperti ibuku.
“Otousan! Ah ... maksudku, Ayah! Bagaimana Ayah bisa menggunakan bahasa ibu dengan sangat lancar?” ucapku seraya menahan air mataku yang sudah hampir jatuh.
Ayah tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku. “Aku pikir kau akan lupa bagaimana cara berbahasa Jepang dengan baik karena terlalu lama tinggal di sini, karena itu Ayah belajar bahasa ibumu selama ini. Meskipun sebelum kau lahir, Ayah juga sudah mempelajarinya dari mendiang ibumu. Sepertinya dia tahu kalau semua ini pasti bakal terjadi, makanya Ayah berusaha keras. Dan lihat, Ayah berhasil. Sekarang Ayah mengerti semua yang kau dan ibumu ucapkan dulu.”
“Otousan!” aku memeluk ayah lagi sambil menangis. Sudah lama sekali aku tidak pernah lagi menyebut panggilan itu.
Aku teringat bagaimana sulitnya ayah memahami bahasaku dan bahasa ibuku saat kami sedang berbincang-bincang. Bahkan dulu ayah sering terlihat kikuk jika ibu memarahi ayah karena sesuatu hal dengan menggunakan bahasa kami.
Awalnya aku tidak mengerti kenapa ayah bersikap begitu setiap kali ibu marah ketika menggunakan bahasa jawa. Tetapi akhirnya aku tahu, kalau ayah kesulitan menggunakan bahasa kami.
Begitu juga dengan kakakku, ia sama seperti ayah yang kesulitan memahami bahasa yang diajarkan oleh ibu. Ibu mengajarkan kami tiga bahasa sejak kami masih kecil, yaitu bahasa Jepang, bahasa Indonesia dan bahasa jawa yang merupakan bahasa khas daerah suku Jawa tempat dimana ibuku dilahirkan.
Anehnya, kakakku sama persis dengan ayah, ia tidak bisa berbahasa indonesia ataupun berbahasa jawa meski ibuku mengajarinya dengan baik. Berbeda denganku yang langsung bisa menguasai kedua bahasa itu dengan lancar dalam kurun waktu yang relatif cepat. Sebaliknya, aku malah jadi kesulitan mempelajari bahasa Jepang. Karena itulah sewaktu kecil aku tidak punya banyak teman, sebab, aku kesulitan berkomunikasi dengan mereka. Tapi aku paham bila ada orang lain yang berbicara bahasa Jepang denganku, meskipun aku tidak lihai menguasainya.
Terlepas dari permasalahan interaksi dalam berkomunikasi mengenai ragam bahasa, kami sekeluarga tetap bisa hidup bahagia. Kami semua, tetap saling menyayangi dan mengasihi.
Hidup kami sempurna waktu itu, sampai peristiwa menyedihkan yang tak terduga itu terjadi. Sejujurnya, aku sudah tidak ingin mengingat semua itu lagi, karena aku sudah melupakannya berkat seseorang. Sekarang aku sudah baik-baik saja dan aku senang bisa kembali bertemu dengan ayahku.
“Aku merindukanmu, Otousan!” ucapku seraya melepaskan kembali pelukan ayahku.
“Ayah juga sangat merindukanmu, Sayang! Putri kecilku yang sekarang sudah beranjak dewasa!” ayah menatapku dengan mata berkaca-kaca. Ia melepaskan kaca matanya dan mengusap kaca mata itu dengan sapu tangannya.
Aku menggenggam erat tangan ayah sambil berkata, “Ayah baik-baik saja?”
Ayahku mengusap air matanya dan kembali melihatku. “Ayah baik-baik saja, putriku! Ayah berusaha baik supaya bisa bertemu kembali denganmu.” ia kembali memelukku dengan sangat erat. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau juga baik-baik saja?”
Aku mengangguk. “Aku baik-baik saja, Ayah! Ayah jangan menangis. Wajah Ayah jadi jelek jika Ayah menangis!”
__ADS_1
Ayahku melepaskan pelukannya lagi sambil tersenyum. “Kau sendiri juga menangis, tapi kau terlihat sangat cantik meski sedang menangis. Shiyuri putriku ... Ayah benar-benar merindukanmu. Maafkan Ayah jika baru bisa datang kembali kemari.”
Senyum dan tangisku mulai memudar mendengar kata-kata ayah.
“Ayah, kenapa tidak bilang padaku kalau mau kemari? Ayah sengaja memberiku kejutan? Ayah juga sulit sekali dihubungi.”
Belum sempat ayah menjawab pertanyaanku, nenek langsung menyela pembicaraan kami. “Aku yang menyuruh dia datang kemari secepatnya! Kenapa? Apa ada masalah?”
Aku menatap nenek yang tiba-tiba sudah berdiri disebelahku. “Tidak, Nek! Aku sangat senang. Terima kasih, Nek!” kini ganti aku yang memeluk nenekku.
Ayah tersenyum melihat kami tampak akur. Aku yakin inilah yang selama ini ayah dan ibuku inginkan.
“Di mana Kakak? Bagaimana keadaannya? Apa dia juga ikut kemari?”
“Kakakmu ... ”
Aku mencari-cari kakakku ke segala arah berharap aku juga bisa bertemu dengannya lagi, aku sangat merindukan kakakku. Dan betapa terkejutnya aku setelah tahu siapa saja yang ada diruangan ini selain aku, nenekku, dan ayahku.
Bukan kakakku yang kutemukan, melainkan mereka ...
Bagaimana bisa mereka ada di sini?
Aku dan Refald saling beradu pandang. Sepertinya ia mengawasiku dari tadi. Aku terlalu bahagia bertemu kembali dengan ayahku sampai aku tidak sadar kalau ada orang lain juga di sini.
Termasuk dia. Orang yang berusaha mati-matian kulupakan, kini datang kembali, tepat dihadapanku.
“Refald? Kau ....”
Refald diam menatapku tanpa bicara sepatah katapun. Sebaliknya, Eric yang malah menghampiriku.
“Jadi ... kau adalah Shiyuri?” Eric tampak tak percaya melihatku. Entah kenapa ia terasa seolah mengenal Shiyuri. "Benarkah kau ... adalah Shiyuri?"
“Iya ... dia adalah putri bungsuku yang paling kusayangi. Nama Jepangnya adalah Shiyuri, tapi namanya di sini adalah ....”
“Lafeysionara!” ucap nenekku yang lagi-lagi menyela kata-kata ayah. “Aku yang memberikan nama itu untuknya. Aku ingin dia melupakan masa lalunya dan memulai kehidupan yang baru di sini. Pada awalnya, aku ingin dia menggantikan putriku yang telah tiada. Karena cucuku ini sangat mirip dengan ibunya. Aku bahkan ingin dia terus tinggal di sini. Selamanya ... tapi, aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa mengulang apa yang pernah kulakukan pada putriku dulu. Jadi, mulai sekarang dan seterusnya, aku akan mendukung semua yang ingin Cucuku lakukan, bahkan jika ia ingin meninggalkanku dan kembali bersama dengan Ayahnya lagi saat ini, karena disanalah kehidupan dia yang sebenarnya.”
__ADS_1
Aku menatap nenek penuh haru. Perlahan air mataku jatuh mengalir. Situasi saat ini tidak bisa kumengerti. Ada banyak kejutan hari ini. Bahkan aku masih belum bisa percaya dengan semua ini.
Disaat yang bersamaan, tiba-tiba Refald dan ayah berada dihadapanku, seolah-olah ada ikatan yang menghubungkan kami semua. Mereka berdua adalah orang yang sama-sama kusayangi. Aku juga sangat merindukan mereka berdua. Saat ini, aku sungguh tidak tahu bagaimana cara mengatasi situasi ini.
Aku menatap ayahku, berharap ayah bisa memberi jawaban dari situasi yang menurutku terlalu aneh ini. “Otousan! Jelaskan ada apa ini? Bagaimana kalian semua bisa berada di sini disaat yang bersamaan?”
Ayah menggenggam erat tanganku. “Tentu. Kau mungkin belum tahu, bahwa mereka di sini bukan karena kebetulan. Tapi ayah datang kemari, bersama dengan mereka, karena sudah saatnya kau dan tunanganmu bertemu setelah sekian lama kalian berpisah.”
Aku terkejut mendengar ucapan ayah. “Apa? Tunangan? Apa maksud Ayah?”
“Ah ... benar. Kalian mungkin tidak begitu mengenal satu sama lain, tapi dia adalah tunanganmu. Dia bilang, kalian tidak sengaja bertemu!” ayah menatap Eric yang juga sedari tadi melihatku.
Aku juga menatap wajah Eric dengan ekspresi yang tidak bisa kupahami, berharap bukan Ericlah tunanganku. Lalu, aku beralih ke Refald yang berdiri di belakang Eric. Aku bingung siapakah orang yang dimaksud ayah. Tidak mungkin dia adalah Refald, karena ia sudah mencintai orang lain, meskipun aku sendiri juga sudah mulai mencintainya. Aku berusaha menepis segala kemungkinan yang ada bahwa kenyataannya, Ericlah yang dimaksud ayah.
“Jadi motor di depan itu, adalah hadiah yang Ayah berikan padannya dulu?” tubuhku langsung terasa lemas, tapi aku berusaha kuat agar perasaanku pada Refald tetap aman tersembunyi.
“Benar, aku tidak menyangka kalau kau masih mengingatnya. Ayah kira kau sudah lupa?”
Aku mundur selangkah, antara terkejut dan tidak percaya. Jadi benar dugaanku selama ini. Sejak melihat Eric datang mengendarai motor itu, aku sudah mengira bahwa dia adalah tunanganku. Tapi aku berusaha keras menepisnya. Berdalih karena plat nomernya tidak ada. Namun, sekarang semuanya mulai jelas.
Entah kenapa aku merasa sangat pusing sekali. Aku tidak tahu harus merasakan apa. Disisi lain aku senang, karena setelah sekian lama aku bisa bertemu dengan ayahku tanpa harus mengalami insiden seperti waktu itu, saat ayahku datang menjemputku dan bertengkar hebat dengan nenekku.
Aku juga lega, pertemuan kali ini diwarnai dengan keharuan yang begitu mendalam. Sebab, antara nenek dan ayah sudah saling menerima dan memaafkan satu sama lain, tidak ada salah menyalahkan lagi.
Disisi lain, aku kecewa sekaligus tidak bisa menerima kenyataan bahwa Eric lah yang menjadi tunanganku. Bukannya Refald. Aku juga tidak mungkin bisa berharap banyak padanya. Apalagi jika melihat Refald kembali dan berdiri dihadapanku dalam situasi rumit seperti ini, membuatku menjadi semakin sedih.
Rasa sakit yang kurasakan sekarang malah serasa semakin besar dari pada saat dia meninggalkanku waktu itu. Sulit memercayai semua ini, fakta bahwa Eric yang disukai Nura adalah tunanganku, membuatku tidak bisa menerima kebenaran ini.
Apalagi aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa pada Eric. Selama ini, aku hanya menganggap dia adalah sahabat dekat Refald, dan aku yakin, Eric sendiri juga tidak tahu bahwa aku adalah tunangannya sampai hari ini. Karena sebelumnya, ia membelaku saat Nura menuduhku berselingkuh dari Refald.
Tapi, kenapa sekarang malah jadi seperti ini?
Ini sungguh ironi sekali. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan mengalami hal aneh dan rumit seperti ini disepanjang hidupku. Bahkan dalam mimpipun aku tidak pernah bisa membayangkannya.
Sahabat dekat dari orang yang kucintai ... adalah tunanganku, orang yang disukai sahabat dekatku, Nura.
__ADS_1
***