
Refald benar-benar menghapus ingatan Shena dan Leo termasuk kebersamaan yang pernah ada diantara dua sejoli itu. Refald menjadikan ingatan mereka mendadak hilang begitu saja bagai mimpi disiang hari.
Malam terakhir dimana Shena tertidur lelap dalam dekapan Leo, saat itulah Refald masuk ke dalam kamar mereka dan memindahkan keduanya ke tempat tinggal mereka masing-masing sehingga begitu keduanya sadar, apa yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi belaka dan keduanya tidak akan bisa mengingat apapun. Begitu bangun dari tidur mereka, mimpi itupun akan hilang dan sirna tak berbekas.
Leo kembali ke istananya dengan segala kemewahannya sedangkan Shena tinggal disebuah kontrakan sederhana berukuran satu kamar yang ada di dekat kampusnya. Dua kehidupan yang perbedaannya benar-benar kontras. Namun, perbedaan kasta itu tidak akan jadi penghalang dimulainya kisah cinta mereka setelah 3 tahun ke depan.
Refald juga memanipulasi waktu dan keadaan menjadi sama saat pertama kali Leo datang ke kampus dimana adik sepupunya itu masih belum tahu siapa Shena begitu juga sebaliknya. Beberapa teman-teman Leo yang berhubungan dengan keduanya juga dihapus ingatannya oleh Refald sehingga mereka semua kembali ke titik awal yaitu tidak saling mengenal satu sama lain, termasuk ingatan Roy dan Laura. Refald sengaja membiarkan takdirlah yang akan mengatur jalannya kisah cinta Leo-Shena dan Roy-Laura kembali ke titik nol tanpa ikut campur tangannya lagi. Sebab, selama 3 tahun ke depan, Refald akan menetap di Swiss bersama Fey dan tidak akan pernah datang lagi kemari.
Sungguh aneh dan canggung memang, tapi itulah yang terbaik untuk mereka semua dan merekapun harus menjalani aktivitas kampus seperti layaknya mahasiswa pada umumnya. Semuanya fokus belajar dan sibuk mengejar impian mereka masing-masing untuk mencapai cita-cita mereka.
Sementara Refald sendiri, ia menemui calon adik iparnya Deydey di vila yang sudah mereka sepakati untuk membicarakan masalah penundaan pernikahannya dengan Zaya yang sudah memilih kabur dari rumah sampai 3 tahun ke depan tepat dimana Refald dan Fey sudah kembali dari Swiss dan mulai mempersiapkan kembali pesta pernikahannya yang sempat tertunda.
Untungnya, Deydeypun setuju menunda pernikahan dengan gadis pilihan keluarganya dan memilih tinggal bersama dengan kakeknya. Keduanya sepakat membicarakan pernikahan ini kembali bila Refald sudah menyelesaikan segala urusannya termasuk pernikahannya dengan Fey.
Setelah pertemuan singkat dengan calon suami Zaya, Refald dan Fey terbang ke Jepang untuk menjemput Ayah Fey lalu mereka bertiga berangkat ke Swiss bersama-sama tak lupa mereka berpamitan pada Sakura dan Sauran sebelum akhirnya mereka menetap di Swiss.
Sesuai kesepakatan, harusnya hidup Ayah Fey sudah berakhir di tahun yang sama tepat saat Refald menghapus ingatan Leo dan Shena. Dengan kata lain, Ayah Fey harusnya sudah meninggal, tapi berhubung pernikahan Fey tertunda hingga 3 tahun ke depan akibat bencana yang melanda desa perkampungan setan, maka leluhur Refald dan Fey memberikan hadiah ekstra yang harus mereka berdua lakukan agar saat Fey menikah dengan Relafd nanti, Ayah Fey masih bisa menjadi wali nikahnya. Itulah alasan kenapa Fey dan Refald mengajak Mr. Kinomoto pergi ke Swiss bersama mereka.
Tujuannya adalah untuk memperpanjang usia ayah Fey sampai batas waktu pernikahan putrinya. Mr. Kinomoto harus rela melepaskan jiwanya dan bersemedi di pegunungan Alpen sampai 3 tahun ke depan tepat seminggu sebelum pernikahan Fey dan Refald dilangsungkan. Jiwa yang keluar dari dalam tubuh Ayah Fey yang harusnya sudah meninggal akan kembali ke dalam tubuhnya yang ia letakkan di sebuah gua tersembunyi tepatnya di dasar pegunungan Alpen yang tentunya tidak akan pernah dijangkau oleh manusia. Dan yang mengetahui lokasi itu hanyalah Refald seorang.
Sampai saat itu tiba, Refald dan Fey harus tinggal di Swiss untuk menjaga raga ayah Fey sampai jiwanya kembali di hari yang sudah ditentukan. Barulah ketiganya kembali ke Indonesia untuk melangsungkan pernikahan yang sudah disiapkan keluarga besarnya termasuk Leo sendiri.
"Kita akan bertemu lagi disini 3 tahun lagi dari sekarang, Ayah. Sampai saat itu tiba, jaga diri Ayah baik-baik," ujar Refald pada jiwa Mr. Kinomoto yang keluar dari raganya dan berjalan ke arah dinding goa dimana istrinya, alias ibu mertua Refald sudah menunggu kedatangan suaminya.
Keduanya pun menghilang dari balik dinding goa setelah sempat melambaikan tangan dan tersenyum manis pada Refald. Refald sendiri membuat penghalang khusus yang menutupi raga ayah mertuanya yang terbujur lurus diatas tempat tidur es berukuran satu orang agar tubuhnya tetap utuh. Sedangkan penghalang yang dibuat Refald bertujuan agar tak ada makhluk apapun mengganggu raga ayah mertuanya.
Setelah seluruh persiapan selesai, Refald menutup pintu goa dan meminta pasukan dedemitnya untuk menjaga tempat ini supaya tidak ada makhluk apapun mendekati wilayah ini. Jika sampai ada yang mendekat, maka tanggung sendiri akibatnya.
****
Tiga tahunpun sudah berlalu, suasana pagi di Iseltwald, Swiss terlihat sangat cerah. Tempat ini merupakan salah satu desa yang cantik dan wajib dikunjungi oleh setiap wisatawan yang datang ke Swiss, lokasi ini adalah tempat tinggal Fey dan Refald selama berada di Swiss. Tepatnya ada di sisi selatan Danau Brienze, wilayah Benese Oberland. Ini adalah sebuah desa yang rapi, bersih dan ramah akan wisatawan. Penduduk di sini juga biasanya menawarkan kepada wisatawan asing tentang kegiatan beternak dan cara memproduksi keju. Bahkan rutinitas itupun menjadi kegiatan sehari-hari yang dilakukan Fey untuk mengisi aktivitasnya selama berada di desa ini.
Rumah mereka, tepat menghadap langsung danau Brienze. Fey betah tinggal di sini karena setiap hari, ia bisa memandangi panorama menakjubkan dari destinasi salah satu tempat wisata paling indah di dunia. Refald sengaja memilih tempat ini karena dari sini, ia bisa memantau raga ayah mertuanya yang tersimpan rapi dalam goa di pengunungan Alpen yang membentang luas dihadapannya.
Secangkir kopi, menemani Refald yang sedang berdiri di balkon mengamati pegunungan indah dimana ayah mertuanya berada saat ini. Fey yang baru saja pulang jalan-jalan disekitar danau langsung memeluk tubuh Refald dari belakang.
"Kau sudah bangun?" ujar Fey dari balik punggung Refald. Calon suaminya itu berbalik badan dan langsung mencium mesra Fey.
"Kau suka sekali meninggalkanku sendirian? Bagaimana kalau ada orang lain yang menculikmu?" tanya Refald mulai posesif.
"Semua orang di sini tahu kalau aku adalah istrimu. Tidak akan ada yang berani macam-macam padaku. Apalagi kau sempat membuat beberapa pria hidung belang patah tulang saat mereka mencoba menggodaku tepat dihari pertama kita datang kemari. Sejak saat itu, tidak ada yang berani menggangguku lagi. Apa yang aku takutkan? Tempat ini seperti rumah kedua bagiku. Aku tidak takut pergi kemanapun sendirian tanpa ...." Belum sempat Fey menyelesaikan kata-katanya, Refald langsung menyerang bibir merah delima Fey dengan ciuman mautnya.
"Kau cerewet sekali?" ujar Refald setelah menyudahi ciumannya. "Kau harus bersiap-siap malam ini. Sudah saatnya aku menjemput Ayah. Kau juga harus bersiap-siap menyambut kedatangannya."
Seketika raut wajah Fey langsung menjadi ceria. "Sudah saatnyakah? Sungguh?" Fey seakan tak percaya bahwa waktu berlalu begitu cepat seperti dalam hitungan detik saja.
Refald memeluk tubuh Fey yang berjingkrak-jingkrak karena kegirangan. "Tentu, Honey. Jangan bilang karena keasyikan di sini kau melupakan hari bahagia kita."
Fey berhenti bereaksi dan melepaskan pelukan Refald. "Bagaimana bisa aku melupakan hari bahagia kita. Justru aku tidak bisa lepas dari bayang-bayang dimana aku akan sah menjadi istrimu. Aku takut akan ada kejadian yang bakal menunda pernikahan kita lagi, makanya aku berusaha mencari kesibukanku sendiri supaya tidak berpikiran buruk lagi. Aku tidak percaya hari itu akan tiba. Ini serasa mimpi bagiku." Lagi-lagi Refald menghadiahi Fey dengan ciuman mautnya.
"Ini bukan mimpi. Leo dan keluarga besar kita, sudah mempersiapkan segalanya untuk hari pernikahan kita. Bukankah dia baru darisini 2 minggu yang lalu?"
__ADS_1
Fey tersenyum sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Refald. "Adik kesayanganmu menggerutu karena ada seorang wanita bersikap acuh padanya disaat wanita-wanita yang lain heboh dan berlomba-lomba mendekatinya. Bahkan yang terbaru ada yang sampai bunuh diri karena hubungan Leo dengan wanita itu harus berakhir. Adikmu benar-benar jadi buaya darat."
"Kau menyimak?" tanya Refald sambil tersenyum.
"Tentu saja, ingin rasanya waktu itu aku memberitahunya bahwa wanita yang acuh padanya adalah Shena, gadis yang selama ini ia cari, tapi pak Po dan mbak Kun malah menghalangiku. Dimana makhluk astral itu sekarang?" Fey mendengus kesal mengingat kejadian pak Po dan mbak Kun melakukan berbagai macam cara untuk menghalanginya.
"Kenapa kau tidak panggil mereka dan menanyakan sendiri alasan kenapa mereka menghentikanmu mengatakan siapa gadis yang dibicarakan Leo waktu itu?"
Fey diam karena ia tahu alasannya. "Aku tidak mau merusak acara pernikahan kita lagi. Jika aku melakukannya, aku takut kita gagal menikah lagi," jawab Fey lirih. Ia hanya menunduk dan memainkan kakinya. Refald tersenyum lagi dan memeluk Fey dengan erat.
"Persiapkan dirimu dari sekarang, Honey. Seminggu lagi, kita akan sah menjadi suami istri."
Fey hanya tersenyum manis dalam pelukan Refald. Tanpa diminta pun, gadis itu sudah siap lahir batin menjadi Nyonya Refald.
"Aku sudah siap," ujarnya dalam pelukan Refald.
"Bagus, aku juga siap." Refald tersenyum simpul penuh makna. Keduanya tetap berpelukan dalam waktu yang lama sampai matahari menghangatkan tubuh keduanya.
***
Shena berdiri di sebuah pemakaman sambil meletakkan sebuah buket bunga di atas tempat peristirahatan terakhir sahabatnya yang juga teman satu kosnya. Buliran air mata terus saja mengalir deras membahasi pipi Shena. Ia tidak pernah menyangka, Sasa memilih mengakhiri hidupnya hanya karena putus cinta. Gadis itu benar-benar tidak menyangka, cinta bisa membutakan segalanya sampai nyawapun jadi taruhannya.
Dalam hati, Shena benar-benar marah pada orang yang bernama Leo, ia adalah mantan Sasa yang bahkan di hari kematian sahabatnya ini, cowok breengsek itu tak menampakkan batang hidungnya untuk ikut berbelasungkawa bahkan 14 hari setelah kematian mantan kekasihnya.
"Sasa," isak Shena. "Kenapa kau bisa mencintai orang sebangsaat dia? Bajingan itu bahkan tidak punya belas kasih. Kau lihat? Ia bahkan tidak datang dihari terakhir kau dikebumikan? Kau masih mencintainya? Apa yang kau lihat darinya? Gadis cantik dan baik hati sepertimu harusnya layak hidup bahagia. Kenapa kau memilih buaya darat sepertinya? Dan jadi berakhir seperti ini? Kenapa?" teriak Shena sambil menangis tersedu-sedu. "Kau lihat saja, aku akan membalas dendam untukmu. Cowok brengsekk itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal atas apa yang sudah ia lakukan padamu." Shena mengepalkan kedua tangannya tepat di saat hujan deras mengguyur tempat pemakaman itu.
Dalam keadaan basah kuyub setelah pulang dari pemakaman almarhum Sasa sahabatnya, Shena memutuskan pergi ke klub malam dimana dia biasa melihat Leo datang ke tempat itu yang kebetulan tempatnya dekat dengan tempat kerja sambilan Shena. Gadis itu sudah tidak tahan lagi melihat Leo selalu datang dan pergi sambil membawa wanita yang berbeda-beda sementara mantan kekasihnya yang juga salah satu sahabat Shena baru saja meninggal.
Apalagi kalau bukan klub malam, salah satu hiburan malam yang berbeda dengan bar atau diskotik karena dilengkapi ruang tarian dan layanan DJ yang memainkan musik dengan iringan tarian erotis.
Sebenarnya, ini pertama kalinya Shena datang ke tempat seperti ini. Ia benar-benar kaget saat mendengar musik yang diperdengarkan dalam klub malam begitu kencang dan memekikkan telinga. Alunan musik sengaja dimainkan secara langsung oleh DJ melalui sistem audio serba lengkap. Kebanyakan lagu yang ada di klub malam ini mengutamakan genre musik tertentu, seperti techno, house, heavy metal, garage, hip-hop, salsa, dancehall, atau soca.
Hingar bingar suara lagu, tarian orang-orang serta bau rokok dan alkohol jadi satu memenuhi ruangan luas ini. Kemarahan Shena sudah tak terbendung lagi, meski sebenarnya ia ogah menginjakkan kaki di tempat seperti, Shena membulatkan tekad datang kemari. Gadis itu mencari-cari keberadaan Leo yang ternyata sedang duduk rileks di sofa sambil dikelilingi banyak wanita berpakaian minim.
Tanpa pikir panjang dan dengan amarah yang bergejolak pada puncaknya, Shena berjalan cepat mendekati meja Leo dan ia langsung mengambil gelas berisi wine lalu menyiramkan isi gelas tersebut tepat di wajah Leo.
Byurrrr!
Tentu saja semua orang yang menyaksikan aksi gila yang dilakukan Shena langsung shock termasuk juga Leo sendiri, cowok itu berdiri cepat menatap Shena dengan marah. Wajah dan baju mahalnya basah dengan air wine.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Leo dan bukannya jawaban yang ia dapat malah sebuah tamparan keras mendarat di pipi kinclong Leo. Yah, Shena menampar wajah tampan Leo di depan semua orang.
Wanita-wanita yang ada disekeliling Leo tak terima dan hampir saja mengeroyok Shena kalau saja Leo tak menghalangi langkah mereka.
"Jangan ada yang menyentuhnya!" teriak Leo menggelegar.
"Tapi Leo ...," ujar salah satu wanita yang berdiri disamping Leo.
"Kau tidak dengar? Jangan ada yang menyentuhnya, kalau tidak ... akan kuhabisi kalian semua," ancam Leo. Matanya menyiratkan api kemarahan yang begitu besar. Bukan karena ia disiram air wine atau ditampar oleh Shena, tapi karena wanita-wanita yang ada disekelilingnya hendak menyakiti Shena.
Sedangkan Shena sendiri tetap berdiri kokoh tak gentar menghadapi anak-anak metropolitan yang bisanya cuma menghabiskan dan menghamburkan uang orang tua mereka saja.
__ADS_1
"Kenapa kau menamparku?" tanya Leo pada Shena yang masih terlihat marah.
"Kalau aku bisa, rasanya aku ingin sekali membunuhmu! Tapi aku tidak ingin mengotori tanganku." usai bicara seperti itu Shena berbalik badan dan hendak pergi meninggalkan tempat yang bagai neraka ini. Namun, langkahnya terhenti karena Leo bertanya lagi padanya pertanyaan yang harusnya Leo sudah tahu sendiri.
"Kenapa?"
Shena balik badan lagi. "Kenapa? Huh, kau sungguh tidak tahu? Atau kau pura-pura tidak tahu?" Shena malah balik bertanya sambil memicingkan mata.
"Dengarkan aku, nona siapa namamu? Ehm ... Shena ya, kalau kau ingin jadi pacarku, bilang saja ... dengan senang hati aku akan menerimamu. Tidak perlu melakukan cara seperti ini. Mereka semua yang ada di sini malah menganggapmu gila karena aku."
"Apa?" Mata Shena terbelalak tak menyangka beraninya cowok brengsek seperti Leo berkata seperti itu padanya. "Aku? Gila karenamu? Kau pikir kau itu siapa? Jangan salah paham. Siapa yang mau jadi pacarmu? Aku bahkan sangat membencimu. Saking bencinya ... aku sampai ingin sekali memutilasimu! Aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Dasar playboy laknaat!"
"Diam kau wanita ******! Beraninya kau berkata seperti itu pada Leo. Lihat dirimu, kau itu cuma gadis miskin yang berlagak sok!" ujar salah satu wanita seksi yang berdiri dekat dengan Shena.
"Kau yang diam! Masih mending aku, karena aku bisa membeli pakaian lengkap dan bisa menutupi seluruh tubuhku! Tidak sepertimu yang hanya bisa membeli baju kekurangan kain! Bajumu itu cuma bisa menutupi dada dan pahamu saja! Kasihan sekali kau!" Kata-kata Shena sukses membuat Leo tertawa terbahak-bahak. Shena mengatai wanita seksi itu memakai baju kurang kain. Padahal harga baju kurang kain itu jauh lebih mahal dari baju lengkap yang dipakai Shena.
Sedangkan wanita yang dikatai Shena, langsung merah padam menahan amarah. Ia ingin sekali menggampar wajah Shena, tapi Leo tidak mengizinkannya. Alhasil wanita itu cuma bisa mengepalkan kedua tangannya penuh dendam.
"Awas saja kau, Shena!" gumam gadis itu. Ia terpaksa membiarkan Shena pergi begitu saja keluar dari klub malam ini setelah sukses membuat kekacauan di dalamnya.
***
Shena terduduk lunglai di sebuah halte bus sambil menyandarkan kepalanya dibangku penunggu. Berkali-kali gadis itu menghela napas panjang memikirkan aksi yang baru saja ia lakukan. Shena sendiri tidak tahu dapat keberanian darimana ia sampai berani menyiram dan menampar wajah seorang gengster kelas kakap yang ada di kampusnya. Pasti besok ia bakal jadi bulan-bulanan seluruh mahasiswa atas aksi gilanya tadi.
"Bodohnya aku." Shena memukuli kepalanya sendiri.
Hujan deras belum juga berhenti begitu pula dengan bis yang ditunggu Shena tak kunjung datang daritadi. Gadis itu mulai khawatir jangan-jangan sudah tidak ada bis yang lewat lagi.
"Apa sebaiknya aku jalan kaki saja, ya ... 5 km tidak terlalu jauh. Aku pasti sampai 2 atau 3 jam lagi. Lagipula, bajuku juga sudah basah kuyub dan aku tidak bawa apa-apa tadi. Kenapa aku bisa seceroboh ini?" Shena merutuki kebodohannya sendiri. "Seandainya Sasa masih hidup, dia pasti mau membayari taksiku. Aku tidak hafal nomer Laura atau yang lainnya. Kenapa kau pergi meninggalkanku Sasa! Jika kau masih hidup, aku tidak perlu harus melakukan semua ini." Shena mulai menangis lagi mengenang salah satu sahabatnya yang sudah tak bisa dilihatnya lagi.
Kepergian Sasa benar-benar sebuah pukulan telak bagi Shena. Meski sudah 14 hari berlalu semenjak Sasa tiada, Shena masih saja berduka.
Namun disela tangisannya, Shena bangkit berdiri dan membulatkan tekad untuk menerobos hujan. Ia tidak mungkin naik kendaraan lain karena uang yang Shena bawa tidak cukup. Satu-satunya cara agar ia sampai ke tempat kosannya hanyalah dengan jalan kaki.
Saat Shena melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ada seseorang dari belakang memayungi tubuh Shena sambil mengikuti langkahnya. Tentu saja Shena bingung dan mencari tahu siapa orang yang berbaik hati berbagi payung dengannya. Dan betapa terkejutnya Shena setelah tahu siapa orang itu. Mata Shena terbelalak saking shocknya.
"Kau!" ujar Shena.
"Hai!" balas orang yang berbagi payung dengan Shena sambil tersenyum manis.
BERSAMBUNG
***
Ini episodenya panjang banget ya ... Sabar untuk pesta pernikahan Refald dan Fey ya ...
__ADS_1