
“Bisa-bisanya Ayah tersenyum disaat aku sedang berduka?” Rey geleng-geleng kepala antara shock dan juga tidak percaya melihat sikap ayahnya.
“Bukan begitu, Rey. Aku hanya tidak bisa menahan perasaanku ketika kita akan kembali bersama setelah 3 tahun nanti. Tapi ya sudahlah, lupakan saja. Sekarang, letakkan Rhea diatas batu panjang itu.” Refald mengalihkan perhatian. Sudah saatnya ia harus melakukan apa yang harus dilakukan. “Ah, tunggu sebentar. Aku harus pergi mengutuk seseorang.” Refald langsung menghilang begitu saja meninggalkan keluarga dan besannya di dasar tebing.
Rey hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ayahnya. Ia beralih menatap wajah istrinya dengan perasaan yang tak bisa digambarkan. Ini bagai buah simalakama bagi Rey. Meski ia tak jadi kehilangan Rhea, ternyata Rey kehilangan ayahnya. Ray juga berpaling menatap ibunya yang ternyata sejak tadi menatap balik dirinya seolah memberikan isyarat bahwa Rey tak harus meragukan keputusan ayahnya.
“Maafkan aku Ibu, kau harus terpisah dari ayah gara-gara aku.” Rey menundukkan kepalanya dihadapan Fey.
“Kau tidak bersalah, Putraku. Sejak awal, kami sudah mengetahui kalau ini bakal terjadi. Kamilah yang harus minta maaf padamu karena tak bisa membantumu lebih dari ini, meski kalian terpisah sementara, dan tidak saling mengenal satu sama lain, cinta kalian tetap abadi selamanya. Kau penggemar pamanmu Leo, bukan? Dulu paman dan bibimu juga mengalami hal sama seperti yang kau alami sekarang, tapi lihatlah ... mereka berdua kini hidup bahagia selamanya. Perjalanan cintamu tidak berakhir disini Rey, justru kisah cinta kalian yang sesungguhnya, baru saja dimulai.”
Perkataan Fey benar-benar membuat hati Rey sedikit lega. Ia beruntung memiliki orangtua seperti Refald dan Fey, meski selama ini ia mengidolakan Leo, tapi tak bisa dipungkiri bahwa Refald ayahnya, memang jauh luar biasa daripada pamannya.
Rey mengangkat tubuh istrinya dengan segenap hati dan jiwanya. Ia serahkan seluruh perasaan cinta yang ia punya ke dalam tubuh Rhea yang sudah mulai terbujur kaku. Setelah meletakkan tubuh wanita yang dicintai Rey ini diatas batu panjang pilihan Refald, Rey kembali memasangkan gelang hitam yang tadi sempat terlepas saat ia hendak menyelamatkan Rhea.
“Kita akan bertemu lagi, Sayang. Tunggu kedatanganku untuk menjemputmu. I love you, my girl.” Rey mencium satu tangan Rhea dengan tulus. Ia juga menatap tajam wajah cantik istrinya.
***
Sudah bisa ditebak kemana Refald pergi sekarang. Tentu saja ia menemui Irene yang terperangkap dalam jeratan para pasukan dedemitnya.
“Kalian semua, mundur!” perintah Refald pada pasukannya setelah ia tiba diatas tebing tempat Irene berada.
“Baik, Raja.” seluruh pasukan Refald mundur dan berdiri dibelakangnya.
Tak bisa digambarkan lagi seperti apa wajah Irene saat ini. Ia sangat ketakutan dan semakin takut saat melihat api kemarahan yang terpancar di wajah Refald.
“Kau adalah manusia serakah termuda yang pernah aku temui di seluruh dunia. Banyak orang sepertimu, tapi mereka baru memiliki perasaan itu setelah mereka mengerti arti hidup yang sesungguhnya dan tidak dimasa saat mereka masih duduk di bangku SMA. Keserakahan manusia biasanya muncul ketika ia sudah dewasa. Namun, diusiamu yang sekarang, ketamakan dan keserakahanmu telah membutakan segalanya dan sudah melebihi kapasitas manusia normal pada umumnya. Kau nekat mencelakai menantuku karena Rey tidak mencintaimu. Huh, berani sekali kau! Kau akan menuai apa yang sudah kau tanam.” Refald memancarkan kilatan mata merahnya yang berbahaya.
“Apa salahnya jika aku menginginkan, Rey? Tidak ada yang salah dengan cinta, kan?” Irene masih berani mengelak.
“Kau hanya menginginkan tahta putraku. Tidak ada cinta seperti yang kau lakukan ini. Kau adalah keturunan dari iblis yang pernah kulenyapkan. Wajar jika kau menyalahgunakan kemampuanmu atas dasar nama cinta. Jangan harap kau merasa menang setelah mengetahui kelemahan Rey. Kau ... sudah masuk kedalam lubang yang kau gali sendiri. Tamatlah riwayatmu kali ini.”
“Apa maskudmu?”
“Dengarkan kutukanku baik-baik,” lanjut Refald sambil menatap wajah pucat pasi orang yang ada dihadapannya. “Selama sisa hidupmu, kau tidak akan pernah dicintai oleh siapapun, yang ada dalam hidupmu hanyalah penderitaan, kesengsaraan dan kesialan. Tidak ada kebahagiaan sedikitpun. Dan itu akan berlaku pada semua keturununamu serta seluruh keluargamu, walaupun kau menikah, parnikahanmu tidak akan pernah bahagia. Kau akan merasakan neraka dunia dalam arti yang sebenarnya, bahkan air mata darahmupun takkan bisa menghapus kutukan ini. Selamat menikmati hukuman atas apa yang sudah kau lakukan!” Refald tersenyum sinis setelah memberikan kutukannya.
Langit-langit langsung ramai dengan kilatan cahaya petir. Suara gemuruh sambaran petir-petir tersebut menerjang setiap tempat yang diinginkan langit. Bahkan kilatan petir itu menyambar batu yang ada di belakang Irene hingga hancur lebur. Gadis itu berteriak ketakutan melihat apa yang terjadi barusan, ditambah kutukan mengerikan dari Refald membuat seluruh tubuhnya jadi gemetar tak karuan. Seketika, Irene pun pingsan dan Refald meninggalkan gadis itu sendirian.
Tak ada yang abadi di dunia ini. Cinta adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia, tapi cinta juga bisa membutakan siapapun yang termakan oleh keserakahan dan juga ketamakan.
Apa yang terjadi pada Irene adalah suatu gambaran cinta buta. Sesuatu yang dipaksakan, maka hasilnya tak seindah yang diinginkan. Alangkah baiknya jika kita belajar menerima sesutu itu walau tak sesuai dengan keinginan kita. Mengalah bukan berarti kalah. Memanfaatkan kelemahan orang lain juga bukanlah hal yang baik dilakukan, karena tidak akan membawa manfaat apapun.
***
Refald kembali ke tempat keluarganya berkumpul dan bersiap untuk menghidupkan Rhea lagi. Sebelum ritual itu dilakukan, Refald mempersilahkan pak Po dan Divani mengucapkan salam perpisahan pada putri semata wayang mereka sebelum mereka menghilang. Sebab, begitu Refald melakukan ritual terakhirnya, maka secara otomatis seluruh pasukan dedemit Refald juga akan lenyap sementara.
Tanpa menunggu lama, Refald juga memanggil seluruh pasukannya untuk berkumpul di bawah air terjun ini. Ada yang ingin Refald tanyakan sebelum Refald mulai melakukan ritual menghidupkan Rhea kembali.
“Aku rasa ... aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku memanggil kalian semua kemari. Sebagai raja kalian, aku sangatlah egois karena harus terpaksa melakukan semua ini dan berimbas pada keberadaan kalian semua dalam dunia fana ini. Jika diantara kalian ada yang tidak setuju dengan keputusanku, majulah! Aku akan melepas simbol yang melekat dalam jiwa kalian agar kalian terbebas dari ikatan menjadi pasukanku.”
Tak satupun dari pasukan dedemit Refald melangkahkan kakinya. Semuanya terdiam di tempat masing-masing sambil terus menundukkan kepala mereka.
“Aku masih memberikan kesempatan kepada kalian semua untuk terbebas dari ikatan yang mengikat kalian sebagai pasukanku. Dengan begitu, meski aku menghilang, kalian tetap akan ada di dunia ini dan tidak menjadi pasukanku lagi.” Refald menatap seluruh wajah pasukannya satu persatu.
“Lebih baik kami menghilang daripada tidak menjadi pasukan anda, Raja. Apapun keputusan yang anda ambil, kami siap sedia menerima dan mendukung anda.” Semua pasukan Refald mengatakan kalimat yang sama.
__ADS_1
“Huh, kalian semua seperti kloningan dari pak Po saja, baiklah ... aku anggap kalian tidak keberatan dengan keputusan yang aku ambil ini. Persiapkan diri kalian, aku akan memulai ritualku.”
Fey memerhatikan apa yang dikatakan semuanya. Di sisi lain, ia sangat keberatan. Tapi bila melihat Rey, sebagai ibu, ia tak bisa mencegah tragedi ini. Pandangan mata Fey menatap mbak Kun yang menggandeng erat tangan Arka. Fey baru sadar kalau yang mengalami perpisahan bukan hanya Rey dan dirinya saja. Tetapi mbak Kun juga, Arka bukanlah pasukan dedemit Refald, jadi saat mbak Kun menghilang, maka Arka akan tetap berada di dunia ini.
“Saat aku pergi, jangan pernah kau menduakan aku, aku akan menghabisimu jika sampai aku tahu kau berpaling dariku,” ancam mbak Kun. Padahal belum apa-apa, tapi Arka sudah mendapat teguran keras dari sang istri.
“Kau tenang saja Sayang. Aku akan setia menunggumu kembali. Aku janji, meski aku adalah iblis, aku tidak akan mengingkari janjiku.”
“Tolong jaga ratu dan pangeran, meski raja sudah menyiapkan perlindungan untuk mereka, aku harap kau tetap mengawasinya dan sering-seringlah mengunjungi ratu.”
“Raja Refald bakal memusnahkanku kalau sampai aku berani menemui ratu. Aku hanya akan mengawasi mereka dari jauh, yang terpenting adalah Rhea. Kau jangan khawatir, selama aku masih ada, tidak akan terjadi apa-apa pada mereka semua.”
“Aku percaya padamu. Dan ingat, jangan tebar pesona pada siapapun!”
“Oke-oke, tidak akan. Aku akan menghilang juga jika aku melakukannya.” Arka menggenggam erat tangan mbak Kun lalu keduanya saling berciuman sebagai tanda perpisahan.
Refald menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil memejamkan mata tepat disaat Divani dan pak Po selesai mencium kening Rhea. Sedangkan Rey hanya menatap nanar wajah pucat istrinya.
“Kau juga boleh mencium istrimu, Rey. Setelah ini ingatanmu juga akan menghilang.” Refald tersenyum menatap putranya yang tampak ragu saat menatap wajah Rhea.
“Ayah, tidak bisakah kau tidak menghilangkan ingatanku? Aku mohon!”
“Tidak, kau bisa dalam bahaya jika aku tidak mengambil ingatanmu. Kau jangan khawatir, ingatanmu pasti kembali sebelum ritual terakhir, dan kau bisa melindungi Rhea sampai aku muncul kembali.”
Rey terdiam mendengar pejelasan ayahnya. Rasanya Rey tidak sanggup menerima kenyataan ini, tapi ia harus tegar menghadapi semuanya. Apa yang dikatakan ibunya memang benar, ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah permulaaan dan Rey harus bisa menerima takdirnya.
Dengan langkah gontai Rey mendekat kearah tubuh Rhea yang terbaring kaku di atas batu. Ia mencium kening istrinya. “Ini bukan akhir Rhea ... ini adalah awal mula kisah cinta kita. Izinkan aku menjagamu dihatiku. Aku ... akan selalu dekat dihatimu setiap waktu. Setiap hembusan napasku akan mengingatkan hubungan kita. Namaku ... akan menjadi namamu ... Rey dan Rhea. Sampai ketemu lagi, Sayang ... aku telah menulis hidupku dinamamu. Aku akan hidup ... hanya untukmu.” Rey mencium mesra bibir Rhea. Rey membelai lembut pipi kekasihnya sambil menatap lekat-lekat wajah Rhea.
Setelah itu Reypun pingsan dan Arka dengan sigap menangkap tubuh Rey. “Bagaimana ini, Raja? Apa yang harus saya lakukan dengan pangeran?”
“Baik, Raja.” Arka pun menghilang untuk meletakkan Rey di tempat tidurnya.
Refald kembali berkosentrasi dengan ritualnya, tapi ia tidak bsia memalingkan wajahnya menatap Fey yang juga menatapnya. “Jangan menatapkau seperti itu, Honey. Aku sulit memusatkan pikiranku. Kau membuatku ingin berlari memelukmu ....”
Belum juga Refald selesai bicara Fey sudah berlari menabrak tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat. “Akulah yang sejak tadi ingin memelukmu,” isak Fey didekapan Refald.
“Kalau kau seperti ini, apa yang harus aku lakukan, Honey?” Refald mencium kening Fey dengan sepenuh hati. Bohong jika Refald tidak merasa berat berpisah dengan wanita pujaan hatinya. Sebenarnya Refald sendiri juga tidak sanggup, tapi hanya inilah satu-satunya cara supaya ia bisa kembali bersama dengan seluruh keluarganya kelak. Dan hari itu, adalah hari yang sangat membahagiakan bagi kisah cinta Refald dan Fey untuk selamanya.
“Maafkan aku, aku sudah menghambat ritualmu. Aku tidak akan menangis lagi. 3 tahun ... aku akan menunggu 3 tahun itu, aku yakin waktu akan cepat berlalu. Aku percaya padamu, manusia superku.” Fey mencium bibir Refald sambil berurai air mata.
Refaldpun juga membalas ciuman istrinya. Setelah itu, Fey melangkah mundur agar Refald bisa melanjutkan ritualnya. Sementara pak Po dan Divani saling berpegangan tangan dengan hati was-was. Sedangkan Arka sudah kembali keposisinya semula dan langsung memeluk mbak Kun untuk yang terakhir kali sebelum istrinya ini menghilang bersama dengan rekan-rekannya yang lain.
Ritual Refald sudah dimulai. Dari tangan raja dedemit itu keluarlah asap, semakin lama asap itu semakin banyak berkumpul tepat di depan Refald. Dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, suami Fey itu menggerakkan asap-asap tersebut ke tubuh Rhea dan secara ajaib, asap itu masuk ke tubuh menantunya melalui lubang hidungnya.
Begitu asap itu terhisap, semua makluk astral pasukan Refald, mulai berubah menjadi transparan dan menghilang satu persatu seiring dengan banyaknya asap yang dihisap oleh Rhea.
Setelah Rhea menghisap seluruh asap tersebut, seluruh pasukan Refald menghilang dan hanya menyisakan Refald seorang. Fey yang memerhatikan kejadian ajaib dan menyedihkan itu hanya bisa diam melihat satu persatu pasukan suaminya lenyap dari hadapannya.
Begitu juga yang terjadi pada mbak Kun dan Pak Po beserta istrinya. Tangis Fey langsung pecah karena menyadari bahwa selama 3 tahun kedepan, ia tak akan bisa melihat pasukan Refald lagi.
Masih teringat jelas diingatan Fey bagaimana ia pertama kali bertemu dengan mbak Kun dan juga pak Po serta pasukan-pasukan Refald yang lain saat ia masih menjadi tunangan Refald. Masa-masa itu, tak akan pernah bisa Fey lupakan apalagi ibu dari Rey itu sudah menganggap pasukan Refald seperti keluarganya sendiri. Perpisahan ini benar-benar membuat hati Fey sedih dan pedih.
“Jangan sedih, Ratu. Istriku dan rekan-rekannya pasti akan kembali bersama kita lagi. Bukankah itu yang anda dan raja lihat di masa depan? Perpisahan ini hanya sementara. Sebaiknya anda fokus pada kehidupan pangeran setelah ini. Biarkan saya yang menjaga Rhea begitu ia hidup kembali.” Arka menenangkan Fey dan berhasil, kata-kata iblis penggila drakor itu benar juga. Tidak salah jika ia suka menonton drakor karena adegan seperti ini pasti sudah biasa baginya.
__ADS_1
“Kau benar Arka. Aku tidak boleh lemah agar suamiku bisa melakukan misinya dengan baik.” Fey tersenyum menatap Refald yang matanya sudah mulai terbuka. Ada sejuta kesedihan di wajah Refald.
Setelah seluruh asap yang dikeluarkan Refald masuk ke dalam tubuh Rhea, gadis itu mulai bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, tapi ia masih belum bisa membuka mata alias pingsan. Kekuatan Refald sungguh luar biasa. Wajar jika dia menjadi raja dari pasukan dedemit dari dunia lain, karena segala keputusan yang Refald ambil selalu tepat. Walau mulanya menyedihkan, tapi endingnya pasti bahagia.
“Arka, bawa Rhea ke tempat yang sudah aku siapkan sebelumnya. Riska dan Noval sedang menunggu disana. Setelah ini, aku akan menyusulmu kesana,” pinta Refald pada Arka.
“Baik, Raja.” Arka pun mengangkat tubuh Rhea dan menghilang dalam sekejap mata. Ia akan selalu mengingat kata-kata terakhir istrinya sebelum mbak Kun menghilang. “Aku akan melakukan apapun yang kau minta, Istriku. Selamat tinggal, sampai bertemu lagi 3 tahu kedepan,” gumam Arka sambil mengamati wajah Rhea yang lemah.
Kini hanya tinggal Fey dan Refald saja di tempat ini. Tatapan mata Fey tak pernah berpaling dari suaminya sejak tadi. Rasanya, ingin sekali Fey menangis, tapi ia tidak mau Refald merasa sedih karena air matanya. Sebisa mungkin ia menahan air mata itu agar tidak tumpah dan mencoba tersenyum bangga pada sosok luar biasa seperti seorang Refald.
“Kau cantik saat tersenyum, Honey. Aku pasti akan sangat merindukanmu jika kau terus tersenyum seperti itu.” Refald melesat cepat menghampiri istrinya dan mengusap lembut bibir indah Fey.
“Kau juga sangat luar biasa, Suamiku. Aku bangga menjadi wanita yang paling kau cintai di dunia ini.” Fey merebahkan kepalanya di dada Refald dan menyembunyikan air matanya yang sudah tak terbendung lagi. Fey buru-buru mengusap air mata itu ketika jatuh membasahi pipinya.
Tubuh ini, kehangatan ini, panggilan sayang ‘honey’ dari Refald, pasti membuat Fey merindukan semua ini. Dada Fey serasa sesak memikirkan Refald harus meninggalkannya selama 3 tahun. Tanpa kabar, tanpa bisa berkirim pesan.
“Aku pasti sangat merindukanmu, bisakah kau lakukan satu hal untukku, Honey?” ujar Refald pada istrinya. Ia membelai lembut rambut indah Fey.
“Aku akan menyerahkan nyawaku jika kau memintanya. Katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu, Suamiku.”
Refald tersenyum, ia sangat suka jika Fey memanggilnya seperti itu. “Nyawamu adalah nyawaku, Honey. Jiwa kita sudah bersatu menjadi satu keutuhan. Yang kubutuhkan adalah dirimu. Datanglah ke Swiss di bawah gunung Alpen tempat Ayah mertua dimakamkan. Aku bisa melihatmu darisana, setidaknya aku bisa mengobati rasa rinduku padamu meski aku tidak bisa menemuimu secara langsung.”
“Itu tidak adil, lalu bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan jika aku sangat merindukanmu?”
“Aku akan mengirim selembar daun berisi pesan cinta untukmu. Cuma itu yang bisa kulakukan. Kita hanya bisa berharap, Rhea bisa menyelesaikan ritualnya dengan baik supaya kita bisa kembali bersama.”
“Daun? Hanya itu?”
“Ehm, hanya itu ... kita akan terpisah selama 3 tahun, itu bukan waktu yang lama, Honey. Begitu aku kembali, hanya ada cinta yang kita miliki. Setiap pagi, saat membuka jendela, kita berdua akan melihat sinar mentari bersama-sama, menatap langit-langit bersama, dan aku akan menuliskan puisi cinta untukmu diatas awan seperti yang biasa kulakukan. Kita akan melalui hari-hari kita dengan penuh cinta.” Pelukan Refald semakin erat terasa di tubuh Fey.
Fey bahkan memejamkan mata membayangkan kata-kata yang diucapkan suaminya, betapa romantis dan bahagianya masa yang digambarkan Refald barusan. Fey sudah tak sabar menunggu momen itu.
“Aku akan menunggu saat-saat indah seperti yang baru saja kau katakan. Aku akan hidup untukmu, seperti Rey yang hidup hanya demi Rhea. Aku akan setia menunggu kedatanganmu, sama seperti dulu, saat kau datang mencariku kemari.” kedua tangan Fey melingkar erat di pinggang Refald seolah enggan melepaskannya.
“Ehm, hiduplah demi aku, bahagialah demi pertemuan kita yang indah. Aku akan datang dengan keren nanti. Kau harus menyambut kedatanganku dengan seluruh cinta yang kau punya. Hanya untukku.” Refald menyentuh dagu Fey dan menengadahkan wajahnya supaya menatapnya. Refald mencium bibir istrinya yang gemetar. “Dari segala hal yang pernah kita lalui bersama, yang paling aku rindukan adalah ciuman manis dari bibir indah ini. Aku bisa gila jika tidak menciummu setiap hari. Aku tidak tahu apakah aku ... bisa melewati 3 tahun tanpa ciuman manis darimu, Honey.” sekali lagi Refald mencium mesra istrinya.
“Disaat seperti ini, kau masih bisa mesum? Kau benar-benar membuatku ingin menangis saja.” Fey menundukkan wajahnya sambil menyeka air matanya yang jatuh. “Apakah kau akan menghilang sekarang?” tanya Fey dengan hati was-was. Ia takut Refald bakal menghilang dan meninggalkannya di hutan belantara sendirian.
Adegan ini mengingatkan Fey pada film kesukaannya saat Edward memutuskan meninggalkan Bella tepat di tengah hutan lebat sampai Bella tersesat. Dan kini, Fey benar-benar merasa jadi Bella sungguhan. Ternyata, rasanya sesakit ini. Pantas saja Bella yang hanya manusia biasa nekat mencari kekasihnya di tengah hutan walau ia tahu bahwa Edward sudah benar-benar meninggalkannya.
“Tidak, Honey. Aku masih punya waktu sampai matahari terbit besok. Ayo, temani aku berpamitan pada seluruh keluargaku, termasuk adikku si cecunguk Leo. Dia bisa kalap kalau aku tidak pamitan dengannya. Dan juga ... berhenti menyamakan apa yang terjadi pada kita dengan adegan film kesukaanmu itu. Sekali lagi aku tegaskan, suamimu yang tampan ini tidak pergi meninggalkanmu, aku hanya menebus apa yang sudah aku langgar dengan bertapa di dalam gunung tempatku dilahirkan. Begitu menantu kita selesai melakukan ritualnya, aku pasti kembali. Kau mengerti, Honey?”
“Iya iya ... aku mengerti, sangat sangat sangat mengerti. Padahal adegan kita ini memang mirip dengan mereka yang ada di film Newmoon. Dasar!” gerutu Fey dalam pelukan Refald.
Refald tertawa tanpa suara, ia melepas pelukannya dan langsung membawa Fey pergi dari tempat ini.
BERSAMBUNG
***
Maaf, ini adalah episode terpanjang yang pernah aku buat. Semoga tidak bosan. 1 episode lagi menuju tamat dan silahkan nanti baca lanjutan kisah mereka di novel terbaruku. Judul dan ada di akun mana? Aku up di episode selanjutnya.
Terimakasih atas dukungannya selama ini, love you all.
Oh iya, maaf untuk Leo, belum bisa aku up karena sedang fokus bikin part spesial kisah Leo dan Shena untuk proses terbit novel ‘Playboy Jatuh Cinta’ yang season satu. Kalau sudah selesai, baru aku up Leo season 2.
__ADS_1