
“Apa kau gugup?” tanya Refald sambil fokus menyetir. Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju Vila paman Refald yang tadi ia ceritakan.
“Sedikit,” jawabku singkat dan mengamati pepohonan yang sedang kami lintasi di sekujur samping jalan.
“Kau baru bertemu paman dan bibi iparku, kenapa kau sudah segugup itu? Mereka tidak akan memakanmu. Sebaliknya, mereka berdua orang yang asyik.” Refald sepertinya sedang memancingku.
“Wajar bagi gadis seusiaku merasa gugup saat bertemu dengan salah satu anggota keluarga tunanganku. Justru sangat aneh jika aku tidak gugup, karena aku masih belum waktunya memiliki tunangan.” Aku berusaha menjelaskan pada Refald adat istiadat yang ada di negara ini. Meski aku tidak lahir di sini, entah mengapa aku memiliki jiwa patriotisme di negara yang kini menjadi tempat tinggalku. Bahkan tanpa sadar, aku pun ikut organisasi pecinta alam yang juga membuatku merasa wajib mencintai segala macam keindahan alam yang ada di tempat ini.
Mungkinkah aku sudah menemukan tempat tinggalku yang sesungguhnya?
Aku membayangkan bagaimana aku akan menjalani kehidupanku nanti, baik di sini atau dimanapun Refald berada. Karena aku yakin, setelah peresmian hubungan kami, dia pasti akan membawaku kemanapun dia pergi.
Refald tersenyum menatapku dan kami sampai di depan sebuah pintu gerbang vila yang terletak di tengah-tengah hamparan hutan pinus. Tempatnya memang tidak asing lagi bagiku, karena aku merasa pernah datang kemari.
Tempat ini, sama persis seperti tempat yang pernah diperlihatkan Refald padaku waktu itu, waktu malam supermoon di mana Refald memaksaku untuk jatuh cinta padanya sebelum aku tahu bahwa Refald adalah tunanganku yang sudah lama terpisah. Seandainya dulu aku tahu, pasti aku akan menerimanya dengan senang hati sehingga kami bisa menikmati malam supermoon yang memesona bersama. Sayangnya aku tidak tahu.
Waktu itu, kami hanya datang berdua malam-malam tanpa diterangi oleh cahaya sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Berbeda dengan sekarang, kalau pada saat malam vilanya terlihat sangat menyeramkan, tapi kalau sore-sore begini, tempatnya sangat sepi dan menenangkan, membuat siapapun yang datang kemari merasa nyaman. Cocok sekali jika dipakai untuk liburan dan refreshing. Bangunan vila tiga lantai yang megah juga terlihat eksotis untuk ukuran vila di pedesaan yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal kami.
Awalnya aku pikir vila itu adalah milik Refald sendiri seperti Vila cahaya yang ditinggali Refald saat ini. Namun ternyata, vila yang kami datangi ini adalah milik pamannya. Pantas waktu itu Refald sangat mengenal betul tempat ini melebihi aku meski ia tergolong orang baru di wilayah ini, mungkin ia sudah sering datang kemari.
Refald memarkir mobil volvonya di depan pintu masuk vila. Kami berdua turun dan mengeluarkan beberapa oleh-oleh untuk paman dan bibi ipar Refald.
“Apa yang kita bawa ini tidak berlebihan, kan? Mereka menyukainya tidak, ya?” aku takut kalau paman dan bibi Refald tidak menyukai oleh-oleh dariku.
“Jangan khawatir, mereka pasti suka.” Jawaban Refald berhasil menghiburku, ia membawakan semua barang-barang yang aku hadiahkan untuk paman dan bibi ipar Refald.
Ketika memasuki ruang tamu, kami disambut oleh pria matang yang umurnya bekisar kepala 3 dengan wajah oriental asli khas Indonesia. Ia tersenyum ramah pada kami. Dia juga tak kalah tinggi dengan Refald. Badannya tegap dan atletis, sekali lihat saja aku langsung tahu kalau orang ini pasti paman Refald.
Refald pun membalas senyuman paman ini dan memeluk Refald dengan erat.
“Hai, Refald! Kau semakin tampan saja, ya? Sudah lama sekali tidak melihatmu? Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja? Kenapa kau jadi jarang sekali ke Jakarta? Bagaimana sekolahmu? Kau betah tinggal di sini?” paman itu langsung memberondongi Refald dengan banyak sekali pertanyaan. Aku berasa jadi kacang.
“Paman, bertanyanya satu-satu, bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaan paman sekaligus?” Refald melepaskan pelukan hangat dari pamannya.
“Kau benar, ehm ... dia ....” akhirnya paman Refald menyadari keberadaanku, ia menoleh ke arahku dan mengamatiku dari atas sampai bawah. “Apakah dia ....” tangan kanannya menunjuk ke arahku.
__ADS_1
“Iya paman, kenalkan, dia adalah Lafeysionara itu nama Indonesianya, nama Jepangnya ad ...” Aku membekap mulut Refald seketika dan berbisik ditelinganya.
“Jangan menyebut nama Jepangku, satu nama saja cukup, kan? Kenapa kau mau menyebutkan semuanya?” aku memelototi Refald tapi berusaha tersenyum manis pada Paman Refald yang menatap heran pada kami.
“Tidak apa-apa, biar dia tidak salah paham bahwa Fey dan Shiyuri adalah orang yang sama. Karena saat kita bertunangan dulu, pamanku ini datang dan ikut menghadiri acara pertunangan kita. Saat itu memang dia belum menikah dan masih muda, dan yang ia tahu nama tunanganku adalah Shiyuri, bukan Fey.” Refald balas memelototiku.
“Hey, kalian berdua! Apa yang kalian lakukan, ha?” paman Refald melipat kedua tangannya di dada.
“Ehem ... maaf paman, tunanganku takut paman salah paham dengan dua nama yang dimilikinya, karena aku sendiri sempat terkecoh juga oleh namanya.” Refald malah menjelaskan permasalahannya pada pamannya soal nama. Aku langsung mencubit pinggang Refald.
“Senang bertemu denganmu Paman, halo aku Fey ...” aku mengulurkan tanganku berharap Refald tidak banyak bicara lagi mengenaiku.
“Halo juga.” Paman Refald membalas uluran tanganku,” Aku Randra Abiyakta, panggil saja Randra.”
“Baik, paman Randra?” aku menoleh ke segala arah untuk mencari-cari di mana bibi iparku. “Ehm paman, di mana bibi? Refald bilang anda datang kemari bersama dengan bibi?”tanyaku.
“Aku di sini,” teriak wanita cantik yang sedang menuruni tangga. Wanita cantik itu tersenyum padaku sambil mengusap-usap perutnya yang sudah mulai membuncit. Tidak salah lagi, wanita cantik ini adalah bibi ipar Refald yang sedang hamil muda. Di lihat dari parasnya yang menawan, dia pasti berumur sekitar kepala dua. Dia datang menghampiri kami dan menatap kami satu persatu.
“Siapa itu, Sayang?” tanyanya pada suaminya.
“Fey, ini istriku, Halimah.” Wanita cantik yang bernama Halimah itu tersenyum manis padaku.
Istrinya langsung mengulurkan tangannya dan aku langsung menyambutnya senang. “Kau cantik sekali, Fey. Pantas Refald bela-belain ke sini hanya untuk mencarimu. Aku selalu penasaran seperti apa wajahmu sehingga keponakanku yang tampan ini tidak bisa mencari pengganti dirimu.” Ucapan bibi Halimah membuatku malu dan Refald jadi salah tingkah.
Kamipun saling berjabat tangan.
“Bibi jangan bilang begitu, tidak ada wanita dihidupku selain dia.” Refald malah berterus terang di depan paman dan bibinya ini. Aku semakin malu dan tidak berani mengangkat wajahku.
“Wah beruntung sekali kamu, Fey. Keponakanku bucin habis padamu,” puji bibi Halimah.
“Sudah, jangan menggoda mereka lagi, Sayang.” Paman Randra merangkul mesra pundak istrinya. “Kalian berdua masuk dan istirahatlah ke dalam, sebaiknya, nanti kalian makan malam saja di sini.” Kami semua masuk ke dalam ruang keluarga, “Refald kau ikut aku.” Pinta paman Randra pada Refald setelah kami masuk. Ia pergi ke sebuah ruangan kosong.
“Aku akan menemani calon ponakanku,” ujar bibi Halimah yang langsung menggamit lenganku.
Setelah Refald membantu menaruh semua oleh-oleh yang kami bawa untuk bibi, ia pergi ke ruangan pamannya yang ada di sudut kiri ruang keluarga.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa paman Randra terlihat serius sekali?
“Apa saja yang kau bawa ini, Fey. Ini terlalu banyak.” Bibi Halimah terlihat gembira dengan semua oleh-oleh yang kami bawa. Aku pun beralih melihat wajah calon bibiku ini dengan senang.
“Apa Bibi tidak suka?” tanyaku memastikan.
“Tentu saja suka, kebetulan sekali semua yang kau bawa adalah yang aku inginkan. Terima kasih ya, Sayang.” Refleks bibi Halimah memelukku dengan erat. Ia memanggil salah satu penjaga vila agar memasak semua makanan yang disiapkan untuk makan malam. Aku pun menawarkan diri membatu mereka menyiapkan makan malam.
Aku sangat salut pada istri paman Randra, meski ia sedang hamil muda, ia tetap terampil menyiapkan makanan untuk suami dan kami semua.
“Bibi lihai sekali memasak, sepertinya aku perlu belajar banyak dari bibi.”
Bibi Halimah tersenyum padaku dan berkata, “Aku bisa mengajarimu kapanpun kau mau. Kau bisa meminta nomorku pada Refald jika kau butuh bantuan dariku.” Bibi Halimah terlihat sangat bersemangat sekali ketika memasak. ia tidak seperti wanita yang sedang hamil.
“Baik Bi, terima kasih.” Melihat Bibi Halimah, aku jadi teringat almarhum ibuku saat ia memasak di dapur dulu. Tingkah mereka berdua hampir sama jika sudah bergelut dengan dunia dapur.
“Sama-sama Sayang, aku senang kaulah yang menjadi pasangan Refald." Aku terkejut bibi Halimah tiba-tiba bicara seperti itu di tengah kesibukannya memasak.
“Kenapa Bibi bicara begitu? Kita baru saja bertemu dan bibi belum mengenalku.” Aku meyakinkan bibiku supaya tidak terlalu cepat menilai seseorang.
“Itu karena Refald sangat bahagia bersamamu,” terang bibi Halimah sambil mengaduk-ngaduk masakannya. “Dulu, waktu dia datang ke sini untuk pertama kali, wajahnya tidak sebahagia sekarang, ada keputusasaan yang besar di dalamnya. Ia bahkan tidak bisa tersenyum, sikapnya yang sok cool membuatku sempat ilfeel padanya. Tapi, begitu aku melihatnya lagi hari ini, wajahnya benar-benar sudah berbeda, aku bahkan hampir tidak mengenalinya tadi. Setelah melihatmu aku baru tahu, kaulah orang yang membuat Refald bahagia. Dia sangat mencintaimu. Aku yakin sekali, orang yang dicintai Refald pasti bukanlah gadis biasa saja. Pasti ada keistimewaan dalam dirimu yang hanya bisa dilihat oleh orang seperti Refald."
“Akulah yang beruntung bisa bersama Refald bibi, dia menjagaku dengan sangat baik. Tidak ada yang istimewa dariku Bi, aku hanya cewek biasa yang kalah jauh bila disandingkan dengan Bibi saat ini.”
“Oh iya? Inilah keistimewaanmu. Selain wajahmu cantik, hatimu juga tak kalah cantik. Aku menyukaimu. Kau memang cantik luar dalam.” Bibi Halimah tersenyum padaku meski sebenarnya aku kurang begitu paham maksud dari ucapannya.
“Bibi juga sangat cantik, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini, pasti paman juga sangat menyayangi Bibi.” Aku tulus memujinya dari dalam hatiku.
Bibi menatapku sambil tersenyum, kami berdua tertawa bersama di dapur sampai makan malam siap.
“Apa yang sedang mereka bicarakan? Serius sekali?” Bibi Halimah melihat Refald dan suaminya sedang mengobrol sambil menghidangkan dan menata makanan di meja makan.
Akupun mengamati Refald yang sedang membuka laptop untuk memeriksa sesuatu. Dari wajah dan ekspresi mereka, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi dan aku tidak tahu apa itu.
****
__ADS_1