
Tak butuh waktu lama bagi Refald untuk mengalahkan semua para preman itu hanya dengan menggunakan tangan kosong. Selain punya kekuatan yang tak biasa, Refald juga jago bela diri. Dia sendiri yang melatih Leo sejak adik sepupu kesayangannya itu masih anak-anak. Tak heran jika kedua kakak beradik ini mudah sekali mengalahkan penjahat meski tak perlu menggunakan senjata.
Semua preman pasar itu terkapar tak berdaya begitu juga bosnya yang tadi sempat terkena tembakan Refald dibetisnya. Mereka mengerang kesakitan sambil memegangi luka-lukanya.
“Hancur sudah muka tampanku cuma gara-gara buat beli susu,” gumam salah satu preman yang terkapar tak berdaya.
“Diam kau! Atau aku cincang kau nanti, siapa suruh kau ikut jadi preman pasar kayak bos sangar itu.”
“Itu karena aku butuh uang buat beli susu anakku! Bekerja diladang saja tidak akan cukup menghidupi keluargaku. Tapi lihat sekarang, mukaku bonyok begini, dapat uang kagak, sakit iya!” para preman itu saling mengeluh satu sama lain, niat hati ingin cepat kaya malah hampir kehilangan nyawa. Memang enak jadi preman?
“Sebenarnya, siapa kau? Kenapa kau ikut campur urusan kami?” teriak bos preman sangar itu pada Refald tanpa memedulikan keluhan-keluhan anak buahnya.
“Aku tidak akan ikut campur kalau saja kau dan anak buahmu tidak bikin ulah yang hampir saja membuat istriku jatuh. Ia bahkan istri tercintaku itu belum sempat memakan makanannya. Apa kau tidak tahu betapa laparnya dia? Tapi kau malah buat keributan di tempat ini. Kau benar-benar merusak kesenanganku. Kalau kau tidak ingin diganggu, Jangan mengganggu orang lain! Pergi kalian dari sini atau kuhabisi kalian semua!” bentak Refald dan para preman itu pun bangun. Mereka semua berlari tunggang langgang sebelum Refald benar-benar marah sungguhan.
“Oey! Bantu aku! Dasar anak buah tak tahu diri kalian?” teriak bos preman sangar itu sambil mengerang kesakitan karena kesulitan berjalan. Ia bahkan harus melompat-lompat karena salah satu kakinya sedang terluka.
“Yang lain saja, Bos! Film drakor kesukaanku sudah mau tayang!” teriak preman penggemar drakor itu. Preman tersebut beneran berlari kencang meninggalkan bosnya sendirian tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Dasar edan itu bocah! Awas saja kalau aku menemukanmu lagi! Aku bikin rempeyek teri kau nanti!” geram preman sangar itu.
Masalah preman itu sudah selesai. Fey berjalan mendekat ke arah dua orang yang menjadi bulan-bulanan para preman pasar tadi.
“Kalian berdua tidak apa-apa? Kenapa mereka mengganggu kalian?” tanya Fey yang ikut duduk di samping wanita yang memegangi tubuh sang pria. Wajah pria itu penuh luka lebam akibat dihajar habis-habisan.
“Mereka semua adalah orang-orang suruhan suamiku, Nona ... dan ceritanya sangat panjang.”
“Aku sudah menikah, jangan panggil aku Nona. Panggil Fey saja, dan pria itu adalah suamiku.” Fey menunjuk Refald yang berjalan pelan kearahnya.
“Oh, maaf. Nona Fey, anda masih sangat muda begitu juga dengan suami anda.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Lanjutkan, apa yang terjadi?”
“Jangan disini Honey," sela Refald. "Kita bawa saja mereka pulang, itu akan lebih aman untuk mereka. Banyak orang yang sedang memerhatikan kita.” Refald membantu si pria berdiri dan mengajak mereka semua pulang ke rumah pak Po.
Satu jam kemudian, akhirnya keempat orang itu sampai disebuah bangunan tua milik pak Po. Sang pemilik rumah langsung menyambut kedatangan keempat orang tersebut, meski yang dua lagi, pak Po tidak mengenalnya.
“Siapa mereka, Pangeran? Kenapa si pria itu babak belur begitu? Anda apakan mereka?”
“Kau pikir mukaku ini mirip algojo, apa? Aku dan Feylah yang menyelamatkan mereka berdua. Jika saja kami tidak membantu mereka, para preman pasar itu pasti sudah menjadikan mereka pepes ikan!” hardik Refald kesal dengan pak Po karena dituduh yang bukan-bukan.
“Maaf, Pangeran. Kan saya tidak tahu.” Pak Po langsung terlihat sedih. Bukan karena ia salah tuduh pangerannya sendiri, tapi karena mulai hari ini, apapun yang dilakukan Refald, tidak akan pernah diketahui lagi olehnya kecuali kalau Refald sendiri yang memberitahunya.
“Kenapa mukamu monyong, begitu?” Refald pura-pura tidak tahu meski sebenarnya ia tahu apa yang dipikirkan pak Po saat ini.
“Saya sedih, Pangeran. Saya tidak tahu apapun yang pangeran lakukan diluar sana? Anda tidak tahu betapa cemasnya saya kalau pangeran kenapa-napa?”
“Ehm ... itu ... itu ....”
“Itu apa?” tanya Refald semakin penasaran.
“Sebenarnya, saya ... tidak mengerti apa yang dilakukan dua orang yang ada dalam video itu, Pangeran. Mereka saling tumpang tindih dan mengerang ah uh ah uh. Divani sampai tidak berani lagi melihat video itu begitu pula dengan saya. Apakah itu video penyikasaan?” tanya pak Po dengan wajah polosnya dan Refald langsung tertawa terbahak-bahak mengagetkan semua orang yang ada di rumah ini.
“Apa yang terjadi disini?” tanya Fey bingung melihat suaminya tiba-tiba tertawa meledak-ledak seperti itu.
“Bawa mereka berdua istirahat dulu dikamarnya, Honey. Baru kita bicara.” Refald berusaha keras menghentikan tawanya.
Meski masih tidak mengerti, Fey tetap membawa tamu-tamunya untuk istirahat diruangan khusus yang disediakan untuk para tamu. Memang ruangannya belum rapi mengingat rumah ini baru 2 hari dihuni. Jadi, mereka bisa istirahat seadanya di tempat ini.
“Maaf kalau rumahnya agak sedikit berantakan. Kami baru tiba kemarin dan belum sempat berbenah, istrihatlah. Jika makanan sudah siap, kami akan panggil kalian.”
__ADS_1
“Terima kasih Nona Fey. Maaf sudah merepotkan kalian semua, tapi kami hanya akan tinggal sementara saja disini.”
“Kita bicarakan itu nanti, ehm ... maaf nama anda ....”
“Riska, dan pria ini adalah Aditya.”
Oh, baik nona Riska, silahkan beristirahat, anggap saja rumah sendiri. Aku permisi.” Fey menutup pintu kamar lalu dengan cepat menemui Refald. Sementara Di langsung menyiapkan makanan di dapur.
“Sekarang, jelaskan padaku. Kenapa kau tertawa?”tanya Fey pada suaminya.
“Sepertinya kita harus memberikan privat khusus untuk mantan dedemit kesayanganmu ini tentang adegan maju mundur cantik seperti yang biasa kita lakukan, Honey. Sebab, ia sama sekali tidak mengerti apapun.” Refald masih mati-matian menahan tawa sementara Fey mengerutkan dahinya.
“Bukankah di video sudah dijelaskan? Mereka hanya tinggal mengikuti gerakannya? Gampang, kan?”
“Tapi pak Po menganggap itu adalah sebuah penyiksaan.”
“Apa?” kepala Fey langsung puyeng melihat betapa polosnya pak Po. Ia bahkan lebih polos dari anak TK. “Sebenarnya, kau itu hidup dizaman model apa, sih? Masa begituan saja kau tidak mengerti?” Fey jadi ingin mengomeli pak Po habis-habisan. Tapi ia teringat masih ada yang harus dia urus daripada meladeni kepolosan pak Po yang sudah level tinggi itu. “Akan aku urus kau nanti! Haaaah, aku bisa gila jika kau terus-terusan seperti ini, pak Po?” Fey pun langsung masuk ke dapur untuk membantu Di menyiapkan makanan untuk mereka semua.
“Sekarang, bagaimana Pangeran? Sepertinya putri sangat marah padaku?” tanya pak Po pada Refald.
“Aku juga sangat kesal padamu, bagaimana mungkin aku punya anak buah se-bloon dirimu! Huh, benar-benar tidak bisa dipercaya. Kau membuatku malu saja!” Refald pun bangun berdiri dan menyusul istrinya ke dapur.
“Memangnya aku kenapa?” gumam pak Po bingung.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1