
Refald menatapku dengan penuh cinta seperti biasanya. Aku yakin dia tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Ciuman manis lagi-lagi mendarat dibibirku yang gemetar karena kecemasan dan ketakutanku, telah kembali menyerang.
Aku tertegun mendapat ciuman manis dari Refald. Jantungku berdetak sangat kencang. Pikiranku seakan melayang entah ke mana. Aku terhanyut merasakan nikmatnya ciuman hangat yang Refald berikan padaku.
Sejak kapan ciuman Refald menjadi sangat memabukkan?
Perlahan, Refald menyudahi ciumannya, dan kembali menatapku. “Jangan takut lagi, oke! Aku sudah punya banyak rencana dan cara untuk bisa ke luar dari tempat yang menakjubkan ini. Sebaiknya kita cepat, jangan biarkan Yua menunggu lama karena dia juga harus segera membawa Epank turun dan mencari bantuan,” ucap Refald dengan lembut.
Aku menuruti perkataan Refald dan mencoba percaya sepenuhnya padanya. Tidak ada pilihan lain lagi meski sebenarnya aku agak ragu dengan keputusan Refald yang menginginkan kami segera terjun lagi dari sini.
Aku pikir tali yang menggantung membawa kami ini akan ditarik ke atas, tapi ternyata aku salah.
“Sebenarnya, kenapa kita tidak menunggu bantuan datang? Dan menyuruh mereka menarik kita dari atas? Daripada harus turun lagi ke bawah? Kita tidak tahu seperti apa dasar jurang ini?”
“Kita tidak bisa menunggu bantuan, jika itu terjadi, maka yang mereka temukan hanyalah nama kita saja, karena semua itu pasti sudah terlambat. Lagi pula, kita tidak tahu kapan banjir susulan akan datang lagi. Sebelum itu terjadi, sebaiknya kita menuruni tebing ini dan mencari tempat yang aman supaya bisa keluar dari hutan ini,” jelas Refald.
Apa yang dikatakan Refald memang masuk akal juga. Memilih menuruni tebing memang lebih tepat daripada harus menunggu bantuan yang entah kapan bisa datang. Karena yang namanya menunggu itu sangat menyakitkan. Lagipula kami juga tidak akan bisa bertahan lama bergelantungan di tebing jurang tanpa pengaman apapun, apalagi tangan Refald sepertinya masih belum sepenuhnya sembuh.
Tidak salah kalau ia dapat gelar pendaki kelas kakap, sebab ia bisa menganalisa strategi yang akan dilakukan disaat genting dan segera mencari jalan keluarnya tanpa panik. Refald terlihat sangat tenang menjelaskan padaku tentang apa yang harus kami lakukan disaat seperti ini. Ia juga langsung cepat mengenali dan memahami seluk-beluk area ini walaupun ia belum pernah sama sekali ke tempat ini.
Refald memang luar biasa, berapa kali ... ah tidak, sudah berapa gunung yang ia jelajahi sejauh ini?
“Pegang yang erat, kita akan mulai turun, kau ingat waktu latihan repling prusik saat itu, kan? Kita juga akan turun seperti itu.” ucapan Refald membuyarkan lamunanku.
“Iya aku ingat,” ujarku sambil tersenyum, mencoba mengingat kembali momen itu.
Refald semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku, dan aku juga memeluk erat leher Refald. Ia menatapku dengan tatapan yang bisa membuat siapapun meleleh jika melihatnya. Tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Kami berdua turun dan mengulangi lagi adegan sok romantis yang kami lakukan saat latihan repling prusik pada kegiatan caraka kemarin.
Jujur aku tidak sanggup melihat tatapannya yang membuatku terlena. Pesona Refald yang begitu menawan membuat jantungku berdegub semakin kencang. Apalagi dengan jarak yang sedekat ini. Sungguh suasana yang seperti ini membuatku lupa akan keberadaanku saat ini.
Rasa takut akan kematian yang sewaktu-waktu menjemput, mendadak hilang tak berbekas dan hanya meninggalkan rasa syahdu yang memabukkan. Ditambah lagi ada keindahan pemandangan alam yang menakjubkan sehingga semakin mendukung suasana keromantisan kami berdua.
Dalam hitungan detik setelah melayang turun, kami pun sampai dan mendarat di sebuah tanjankan tepat di sisi kanan air terjun. Semua sesuai dengan yang diprediksikan Refald. Ternyata, tanjakan ini juga sangat dekat dengan derasnya air terjun yang mengalir. Butir-butir cipratan airnya membasahi seluruh tubuh dan wajahku. Rasa sejuk dan menyegarkan langsung terasa begitu butiran air itu mengenaiku.
Refald menatapku yang sedang menikmati dinginnya air terjun saat mengenai wajahku sambil melepaskan sarung tangan yang tadi ia gunakan saat meluncur memegang tali karmenter. Ia tersenyum licik dan langsung mendaratkan ciuman manisnya lagi dibibirku. Kali ini aku agak sedikit berontak karena terkejut.
__ADS_1
“Dasar mesum!” aku agak sedikit mendorong tubuh Refald menjauh dariku. Tapi aku langsung oleng karena rasa sakit pada kakiku yang terkilir sehingga tubuhku jadi tidak seimbang.
Dengan sigap Refald langsung menangkap tubuhku sebelum aku benar-benar terjatuh ke dasar jurang yang lebih dalam lagi.
“Hati-hati!” suara Refald terdengar cemas, ia langsung memapahku dan mendudukkanku untuk memeriksa kakiku. “Apa kau tidak apa-apa? Maaf ....”
“Aku sudah tidak apa-apa. Kau tidak perlu minta maaf seperti itu. Kau sudah menyelamatkanku. Jadi akulah yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkanmu.”
“Tunggu sebentar.” Refald mengalihkan pembicaraan lalu berdiri ke arah tali yang masih menggantung dan mengikat tali tersebut diantara batang pohon yang tumbuh menjulang didinding tebing dengan kuat. Kemudian Refald menarik tali tersebut dengan sekuat tenaga. Beberapa menit kemudian tali itu jatuh dan melewati kami.
Aku hanya menatap jatuhnya tali karmenter itu dengan takjub.
“Beres! Setelah ini kita bisa turun lagi,” ucap Refald sambil tersenyum manis padaku.
Jadi itu rencana Refald? Ini seperti semacam estafet. Bedanya kami tidak berlari tetapi terjun ke bawah. Masuk akal juga. Aku semakin mengagumi Refald. Jika aku sendirian, mungkin yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan panik saja.
Refald kembali mendekatiku dan jongkok didepanku lagi untuk memeriksa kakiku. “Mana yang sakit?” tanyanya lembut.
“Yang kiri,” jawabku singkat.
Aku tidak begitu mengerti ucapan Refald jadi aku mengiyakan saja. Beberapa detik kemudian Refald menekan kakiku dengan sangat kencang sehingga membuatku berteriak karena kesakitan.
“Arghhhhhh ... sakit sekali ....” teriakku sambil meringis menahan sakit.
“Kakimu terkilir, aku hanya membantu meluruskannya saja supaya tidak bengkak.”
Aku tidak menjawab, dan memerhatikan kakiku yang terasa lebih baik dari sebelumnya.
“Maafkan aku, aku janji lain kali aku tidak akan melakukannya lagi tanpa seizinmu. Hampir saja kau celaka karena aku. Jujur aku tidak bisa menahan hasratku saat melihat wajahmu yang menggemaskan saat terkena cipratan air terjun itu. Aku merasa aku seperti monster sekarang ini. Maaf, Honey ....” terang Refald panjang lebar sambil memeriksa kondisi kakiku.
Wajahnya masih tertunduk, aku bisa melihat jelas kalau dia merasa bersalah atas insiden kecil tadi. Aku tersenyum melihat tingkah Refald seperti itu. Ternyata Refald adalah anak yang tahu sopan santun juga.
Aku juga sempat tertegun Refald tiba-tiba bicara seperti itu. “Aku kira kau ini berotak mesum, tapi ternyata kau bisa sopan juga! Baiklah ... aku memaafkanmu,” ucapku menggodanya.
“Apa? Kau mengatai tunanganmu sendiri mesum?” Refald memalingkan mukanya karena kesal. “Aku tunanganmu dan kita juga akan segera menikah jika aku mau! Bagaimana bisa kau menyebutku mesum?”
__ADS_1
Aku tertawa melihat Refald yang sudah mulai kesal. “Tapi aku belum tentu mau menikah denganmu! Kau Pe-De sekali?” ucapku semakin menggodanya.
“Aku tidak peduli, begitu kita ke luar dari tempat ini, kita akan menikah!” Refald terlihat sangat serius mengatakannya.
“Apa?” gantian aku yang tercengang mendengar ucapan Refald sekarang. “Kau hanya bercanda, kan?”
“Aku tidak pernah bercanda, Honey. Apalagi ini menyangkut pernikahan.”
“Tapi kita masih sekolah! Aku tidak mau menikah muda.”
“Sekarang sudah modern, Honey. Ikatan pernikahan tidak bisa menghambat siapapun untuk melanjutkan pendidikan.”
“Tidak! Di sekolah kita tidak diperbolehkan siswa atau siswinya terikat pernikahan. Jika sampai itu terjadi, maka siswa siswi itu akan dikeluarkan. Aku ... aku ... tidak ... kenapa kita jadi membicarakan ini, sih?” mukaku langsung berubah memerah.
“Kita memang harus membicarakannya” terang Refald. “Ada begitu banyak hal yang harus kita bicarakan, karena kita akan selalu bersama selamanya.”
“Apa kita tidak bisa membicarakan hal yang lain? Rasanya aku belum cukup umur untuk membicarakan hal semacam itu?”
Refald tersenyum menatap wajah polosku. “Aku beruntung punya calon istri sepolos dirimu, Honey. Aahhh ... ini tantangan bagiku. Karena selama mencarimu, aku sendiri juga tidak pernah bergaul dengan siapapun kecuali dengan Eric.”
“Aku tidak percaya,” Ejekku sambil tersenyum. Aku benar-benar tidak percaya kalau Refald tidak pernah bergaul dengan siapapun.
“Sungguh! Selama hidupku, semenjak terpisah darimu, aku tidak pernah berteman dengan siapapun kecuali dengan Eric yang kebetulan dia adalah tetangga sebelah rumahku sewaktu di Swiss. Kami tumbuh besar bersama dan ia tahu segalanya tentangku. Aku mencurahkan waktu senggangku hanya untuk menjelajahi alam dan Eric selalu bersamaku. Ia selalu penasaran seperti apa dirimu. Ia bahkan sangat senang sewaktu aku memberitahunya bahwa kaulah orang yang selama ini aku cari.”
Aku tercengang mendengar penjelasan Refald. Aku baru ingat sewaktu Eric menekankan kata bahwa hanya akulah yang dicintai Refald saat Yua menuduhku berselingkuh dengan Eric sewaktu berkunjung kerumahnya dulu.
“Jadi Eric sudah tahu sebelumnya ... kalau aku ... adalah tunanganmu?”
Refald mengangguk. “Ehm ... dia tahu semuanya. Dia juga yang mendesakku untuk segera menemui Ayahmu supaya mengajaknya datang kemari dan menjelaskan semuanya padamu. Karena, jika aku sendiri yang mengatakannya, kau tidak akan percaya. Padahal aku ingin mengatakan semua kebenarannya setelah memastikan bahwa kau benar-benar jatuh cinta padaku. Namun, melihat situasi waktu itu, aku terpaksa menyetujui usulan Eric. Aku sangat terkejut dan tidak menyangka kalau ternyata kau salah paham mengenai sosok siapa yang menjadi tunanganmu. Kau bahkan terang-terangan mengatakan mencintai orang lain yang ternyata adalah tunanganmu sendiri ... yaitu aku.”
“Cukup! Jangan diteruskan lagi!” aku memalingkan muka menyembunyikan wajah merah meronaku karena menahan malu yang sangat luar biasa.
Aku malu mengingat masa itu. masa dimana aku mengira bahwa Eric lah yang menjadi tunanganku, dan di depan semua orang aku bahkan menyatakan kalau aku mencintai Refald yang ternyata dialah tunanganku yang sebenarnya. Aku benar-benar malu ... aku bahkan ingin sekali mengakhiri hidupku kalau teringat masa itu. Terlebih lagi, Refald sangat mengingat semua detail kejadiannya.
****
__ADS_1