
Hari sudah sore saat keluarga Yua datang. Aku menyambut mereka dan menjelaskan kronologi kejadiannya. Aku juga minta maaf pada keluarganya karena sudah menyebabkan Yua jadi seperti ini.
Aku mengira keluarga Yua akan marah padaku seperti halnya Via. Karena itulah, aku bersiap menerima segala konsekuensi yang diberikan keluarga Yua padaku. Tapi dugaanku ternyata salah, keluarga Yua sama sekali tidak marah. Mereka malah tersenyum bangga atas apa yang dilakukan putrinya. Mereka juga berharap suatu hari nanti Yua akan menjadi seorang dokter yang bisa menyelamatkan nyawa banyak orang.
“Kami bangga padamu Sayang, kau hebat sekali.” ucap ibu Yua seraya membelai lembut rambut putrinya dengan senyuman bangga.
Aku tersentuh melihatnya. Yua benar-benar beruntung memiliki keluarga yang berhati besar seperti mereka. Seandainya ibuku masih ada, mungkin aku juga akan merasakan sama seperti yang dirasakan Yua sekarang. Mengenai hal itu, tiba-tiba saja aku teringat ucapan Refald saat kami berdebat diruang tunggu tadi.
Kata-kata Refald itu, terngiang jelas dibenakku. Sikapku yang selalu menyalahkan diri sendiri tanpa sadar, aku telah menyakiti perasaan banyak orang. Aku terlalu tenggelam dengan kesedihanku sehingga aku meninggalkan ayah dan kakakku tanpa memikirkan bagaimana perasaan mereka saat itu. Mereka mungkin jauh lebih sedih kehilangan ibu, dan juga kehilanganku.
Kenapa aku baru sadar sekarang? Ternyata yang kulakukan selama ini hanyalah memperparah kesedihan mereka. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?Apakah mereka juga memikirkanku? Aku sangat merindukan mereka berdua. Ingin rasanya aku kembali seperti dulu lagi. Memulai kehidupan yang baru, dengan bahagia. Berkumpul bersama dengan keluargaku lagi.
Kini aku menyesal, tapi aku juga tidak bisa mengembalikan waktu. Seandainya aku bisa memutar kembali waktuku, aku tidak akan lari dari takdir dan kesedihan ini.
Aku pamit pulang pada Yua dan keluarganya sesuai janjiku tadi. Sesampainya di depan pintu rumah sakit, aku baru sadar kalau aku tidak membawa apa-apa. Tas dan ponselku ada di dalam mobil Refald.
“Bagus, sekarang bagaimana caraku bisa pulang. Dompetku juga ada di dalam tas yang dibawa Refald. Aku benar-benar bodoh.”
Tiba-tiba ada mobil volvo silver berhenti tepat didepanku, dan aku tahu siapa orang yang ada dibalik kemudinya, ia tidak lain dan tidak bukan sudah pasti, Refald. Ia tidak mematikan mesinnya, dan juga tidak keluar dari mobilnya. Ia hanya diam saja dan menatap lurus ke depan. Aku mengerti maksudnya mengingat kami baru saja bertengkar tadi. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain membuka pintu mobilnya dan duduk disampingnya. Kemudian kami melesat pergi dengan cepat begitu aku sudah masuk.
Selama dalam perjalanan, kami hanya diam tanpa saling memandang. Sebenarnya, semua yang dikatakan Refald padaku memang benar. Hanya saja, saat ini aku tidak ingin mengakuinya dulu. Aku sendiri juga ingin memutuskan hubungan yang baru saja kami jalin ini meskipun sebenarnya kami belum menyatakan perasaan kami masing-masing. Aku berniat ingin kembali ke Jepang setelah acara CARAKA selesai diadakan. Tapi sebelum itu, aku juga ingin memastikan kondisi tangan Refald terlebih dulu.
***
Keesokan harinya aku berangkat kesekolah bersama dengan teman-temanku. Ini pertama kalinya aku bisa berangkat dengan mereka ke sekolah setelah beberapa minggu kami tidak jalan bersama. Harusnya aku merasa senang bisa kembali kekebiasaanku sebelumnya, berangkat bersama dan juga pulang bersama, bercerita dan bercanda seperti biasanya. Tapi entah kenapa aku tidak lagi merasakan hal seperti itu. Entah apa yang terjadi denganku.
Mungkinkah karena aku sudah terbiasa dengan Refald?
“Aku sangat terkejut kau datang menjemputku pagi tadi. Aku tidak menyangka setelah sekian lama, akhirnya kita bisa berangkat bersama lagi.” Nura memulai pembicaraan.
“Kenapa kau tidak berangkat bersama Refald?” tanya Mia.
“Apa kalian sudah putus?” Nura menyela. Aku hanya diam sejenak menatap mereka.
“Kami tidak pernah pacaran, Nura? Bagaimana bisa putus?”
“Lalu? Bukankah kau tidak boleh meninggalkannya? Kau harus tetap bersamanya, kan?”
“Sudah ada temannya, Eric. Kau tentu masih ingat cowok yang waktu itu datang bersamaku kerumahmu.”
“Tentu saja. Aku tidak akan pernah melupakan cowok seganteng itu ....”
“Eric? Siapa dia?” tanya Mia penasaran.
Benar, Mia belum pernah bertemu dengan Eric. “Dia temannya Refald. Untuk sementara ini, dia yang menggantikanku mengurus Refald.”
“Oh!” Mia manggut-manggut. “Bagaimana kondisi Yua saat ini? Aku dengar dia terkena racun ular?”
“Dia sudah baik-baik saja. Besok dia sudah boleh pulang!”
“Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti, kita jenguk dia. Kita pulang bersama-sama lagi, kan?
__ADS_1
“Tentu!” Aku mengangguk setuju.
Tanpa sadar, aku teringat Refald. Sepertinya ia masih marah padaku. Semalam ia mengajakku makan sebelum mengantarku pulang, tapi ia sendiri tidak mau makan meski aku menawarkan diri menyuapinya. Ia juga tidak bicara apapun. Ia hanya menatapku tanpa eskpresi. Ini aneh, ia berbeda dari biasanya. Seperti ada yang ia sembunyikan dariku.
Aku memintanya mengantarku kerumah ibuku, karena aku sedang malas pulang kerumah nenek. Jadi, aku menelepon nenekku untuk memberi tahu kalau malam ini aku menginap di rumah ibuku. Tanpa bertanya apapun, nenekku mengizinkanku. Sepertinya, nenek memberikan kebebasan sepenuhnya padaku, dan ia juga sangat percaya bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri. Terbukti dari tujuh tahun lamanya aku bisa hidup dengan baik di sini meskipun hanya sendiri.
Sesampainya di rumah, Refald juga diam, ia mengatakan kalau besok kami tidak perlu berangkat bersama karena ada Eric yang akan mengantar dan menjemputnya. Mendengar hal itu, harusnya aku merasa senang. Karena kata-kata itulah yang selama ini aku tunggu. Tapi jauh dilubuk hatiku yang terdalam, aku sangat kecewa. Itu artinya, mulai sekarang, kami sudah tidak bisa bersama-sama lagi seperti sebelumnya.
“Baiklah kalau begitu, aku bisa berangkat dengan teman-temanku besok.” aku menundukkan wajahku untuk menyembunyikan perasaanku saat mengatakan itu.
Jika memang Refald benar menyukaiku, pasti ia sudah mengatakannya. Tapi, sejauh ini, ia tidak mengatakan apa-apa. Itu artinya, ia masih mencintai orang yang selama ini dicarinya. Mungkin saja perasaannya padaku, hanyalah perasaan sesaat yang harus diakhiri secepatnya.
Refald mengangguk pelan dan langsung pamit pulang. Lagi-lagi, ia tidak mengatakan apapun. Aku hanya bisa menatapnya pergi meninggalkanku. Entah kenapa hatiku terasa sakit melihat Refald pergi seperti itu.
Apa ada yang salah denganku? Semarah itukah dia padaku? Kenapa sikapnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat setelah pertengkaran singkat kami.
Aku mulai tidak memahami Refald lagi. Tapi mungkin inilah jalan yang terbaik bagi kami saat ini. Karena sejak awal, kami memang tidak bisa terus bersama-sama. Jurang pemisah diantara kami membuat kami tidak bisa saling menyeberangi. Ia sudah punya seseorang yang ia cintai, dan aku juga sudah memiliki tunangan. Kenyataan yang pahit memang. Cepat atau lambat, kami memang harus berpisah.
Itulah kenapa aku tidak bersemangat lagi pagi ini, meski sekarang aku bisa kembali ke kehidupanku yang seperti biasanya, aku tetap tidak begitu gembira.
Apakah perasaan ini yang dinamakan patah hati sebelum jatuh cinta?
“Kau kenapa, Fey?” tanya Mia saat kami tiba di depan pintu gerbang sekolah. “Kenapa kau hanya diam saja dari tadi?”
Aku menyembunyikan perasaanku saat ini dan berusaha untuk tersenyum. “Tidak apa-apa Mia, aku hanya memikirkan kondisi Yua!” Aku mencoba berbohong.
“Kau bilang dia baik-baik saja."
“Kalau dokternya sudah bilang begitu, berarti memang Yua sudah baik-baik saja. Jadi, jangan khawatir. Lagi pula, kita akan menjenguknya bersama nanti."
Aku mengangguk sambil tersenyum. Kami pun masuk ke kelas masing-masing karena bel masuk sekolah sudah berbunyi.
Sangat aneh bagiku tidak ada Yua disampingku. Selama jam pelajaran, aku sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan materi yang diberikan. Pikiranku melayang entah kemana. Beberapa teman mengajakku bicara, tapi aku tetap saja tidak bisa menyimaknya.
Via tidak bicara padaku lagi hari ini, mungkin ia masih marah padaku, dan aku sendiri juga tidak terlalu peduli. Bodo amat dia mau marah atau tidak. Sebab aku juga tak begitu dekat dengannya.
Sekarang sudah jam istirahat, hari ini aku tidak berniat pergi ke kantin. Tapi Mia dan Nura menjemputku di kelas dan memaksaku pergi ke kantin bersama mereka.
Hari ini aku belum melihat Refald dari tadi, ingin rasanya menemuinya dikelasnya, tapi kuurungkan niatku karena aku tidak mau bermasalah dengan teman sekelasnya. Aku tidak mau kejadian yang kemarin terulang lagi.
“Kenapa mereka semua menatap kearah kita terus? Apa hari ini aku terlihat lebih cantik dari biasanya?” tanya Nura yang mulai narsis.
“Dasar narsis!” jawab Mia.
Aku memerhatikan orang-orang yang ada disekitarku. Nura benar, mereka berbisik-bisik sambil melihat ke arah kami. Firasatku jadi tidak enak.
“Sebaiknya kita jangan menghiraukan mereka. Kita pergi saja dari sini!” aku berdiri dan mengajak teman-temanku pergi.
“Apa yang terjadi? Kenapa mereka berbisik-bisik seperti itu?” tanya Mia.
“Aku tidak tahu, yang jelas, sasaran mereka adalah aku,”ujarku.
__ADS_1
***
Aku baru sadar kalau hari ini, Refald tidak masuk sekolah. Pantas saja aku tidak melihatnya dari tadi.
Apa yang terjadi dengannya? Apa dia sakit? kenapa dia tidak bilang kalau tidak masuk sekolah?
Aku mencemaskan keadaan Refald. Ia sama sekali tidak menghubungiku dari kemarin. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Mungkin sebaiknya, aku meneleponnya begitu sampai di rumah.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Saat keluar dari kelas, Nura dan Mia langsung mengajakku ke rumah sakit untuk menjenguk Yua.
“Kau terlihat seperti orang yang tidak sakit?” tanya Nura pada Yua yang sedang duduk bersandar dengan memakan semua makanan yang ada dihadapannya.
“Aku memang tidak sedang sakit. Aku hanya terkena bisa ular. Siapa yang bilang kalau aku sakit?”
Nura menunjukku dengan jari telunjuknya, dan aku hanya tersenyum.
“Banyak sekali makanan yang kau makan? Kau seperti orang yang kelaparan karena sudah seminggu tidak makan.”Nura mulai iri dengan banyaknya makanan yang tersedia di kamar Yua.
“Diam kau! Apa kau ke sini hanya untuk mengomentariku? Kau belum tahu rasanya bagaimana terkena bisa ular. Aku sedang dalam masa pemulihan. Jadi aku harus makan yang banyak!”cetus Yua.
“Jangan dengarkan Nura, Yua!” ucap Mia menenangkan. “Ia hanya iri saja padamu, kau hanya tiduran di sini dan dilengkapi dengan berbagai macam makanan yang bisa kau nikmati sendiri sesuka hati. Siapa yang tidak ingin sakit kalau seperti ini?”
“Kau benar,” ucap Yua masih sambil mengunyah makanannya. “Kau mau?” Yua menawarkan potongan terakhir pizza kesukaannya. Tentu saja Nura tanpa ragu mau mengambilnya. Tapi belum sempat tangan itu menjangkau pizza, Yua langsung memasukkan pizza itu ke dalam mulutnya sendiri dan langsung mengunyahnya dengan lahap. “Beli saja sendiri sana!”
Nura ngambek dan cemberut berat. Aku dan Mia tertawa melihat ekspresinya.
“Aku masih mengerti karena kau baru saja sembuh. Jika tidak, akan kujitak kepalamu jika kau melakukannya lagi padaku!” ucap Nura, dan Yua masih saja meledeknya.
“Bagaimana kondisimu?” tanyaku pada Yua.
“Aku baik-baik saja. Besok aku sudah boleh pulang dan beraktivitas seperti biasa. Tidak ada masalah. Lalu ... Bagaimana dengan kegiatanmu minggu ini? Apa tetap akan diadakan seperti rencana semula?”
Aku mengangguk. “Acara kami tetap diadakan, karena petugas perhutani sudah memastikan bahwa area itu sudah aman. Mereka juga memastikan bahwa ular itu tidak akan datang mengganggu kami lagi. Meski aku sendiri tidak mengerti bagaimana cara mereka melakukannya. Tapi mereka berani menjaminnya. Hal itu sudah mereka sampaikan pada kepala sekolah dan pembina kami sehingga acara ini masih bisa dilakukan sesuai rencana. Dengan syarat, kami harus tetap mematuhi peraturan yang ada supaya kami tetap aman.”
“Baiklah, aku akan membantumu nanti.”
“Apa?” teriak Mia dan Nura bersamaan.
“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau kau terluka?” Tanya Mia.
“Kau yakin kau tidak apa-apa jika mau ikut kegiatan ini dengan kami?” Nura juga khawatir.
“Aku hanya akan duduk ditendaku dan mengawasi kalian saja, berjaga-jaga jika ada yang sakit atau pun terluka. Aku tidak harus mengikuti kegiatan yang kalian lakukan, kan? Jadi aku pasti baik-baik saja!”
“Tapi ....”
“Kau tenang saja, Fey. Bukan hanya aku saja yang berpartisipasi dalam acara kalian. Epank dan beberapa anggota PMR yang lainnya juga akan ikut serta."
“Apa?” aku terkejut mendengar ucapan Yua. "Epank?"
****
__ADS_1