Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 44 Curiga 2


__ADS_3

“Pergilah ke lokasi repling prusik tadi.” Ucap Refald saat kami masih berada di dalam tenda tepat setelah aku tersadar dari pingsan.


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?”


“Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi firasatku tidak pernah salah. Ada kemungkinan seseorang sengaja menjatuhkan Yua.”


Aku terperangah sampai mulutku menganga mendengar Refald bicara seperti itu. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku karena tidak bisa percaya.


“Apa itu benar? Lalu ... siapa orang yang tega melakukan tindakan keji seperti itu? Apa alasannya ia ingin mencelakai Yua?”


“Itulah yang harus kita cari tahu sekarang. Sementara ini jangan katakan apapun pada orang lain termasuk teman-temanmu sampai aku bisa menemukan buktinya. Ini hanya rahasia kita saja, oke!”


Aku mengangguk.


“Kau sudah tidak apa-apa?” Refald memegang pipi kananku dengan lembut dan hangat.


“Aku sudah baikan, jangan khawatir. Lalu ... apa yang akan kau lakukan sekarang?”


“Aku akan pergi sebentar. Aku akan kembali setelah satu jam. Aku senang kau tidak apa-apa.”


“Kau mau pergi ke mana?”


“Ke suatu tempat, akan kujelaskan semuanya setelah kita semua keluar dari sini.”


“Kau janji?”


“Aku janji. Jika aku masih belum kembali dalam satu jam, maka ....”


“Kau akan kembali.” Aku memotong kata-kata Refald. “Kau pasti kembali! Aku akan menunggumu di sini.” kata-kataku itu adalah untuk memastikan diriku sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada Refald, dan ia akan kembali sesuai janji yang ia ungkapkan.


Refald mencium keningku sebelum ia pergi. Aku menggenggam erat tangannya berusaha meyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja.


Setelah Refald pergi, aku pun juga bersiap-siap melakukan sesuatu untuk mencari tahu bahwa apa yang dikatakan Refald itu benar atau tidak.


****


“Kau menemukan sesuatu?” tanya Alex saat aku mengamati tali karmenter yang terpotong. Ia juga yang langsung membuyarkan lamunanku.


“Kurasa begitu.” Aku menyulurkan potongan tali itu pada Alex. “Lihat ini. Potongan tali ini sangat rapi. Ini adalah tali yang aku beli seminggu yang lalu. Tidak mungkin tali ini rusak. Lihat juga disebelah sana. Masih ada lebelnya. Ini membuktikan kalau tali ini masih baru, jadi tidak mungkin kalau terputus begitu saja kalau bukan karena ada yang memotongnya.”


Alex memerhatikan tali yang kupegang dan label tali yang terpasang diujung tali ini. “Maksudmu ada yang sengaja memotong tali ini?”


Aku mengangguk meski aku sendiri ragu. “Potongan talinya sangat rapi, tidak menandakan kerusakan. Sepertinya orang yang memotong tali ini menggunakan pisau besar atau gunting yang besar. Masalahnya adalah, kita tidak tahu alat tersebut sekarang ada di mana.”


“Siapa? Maksudku ... siapa orang yang ingin mencelakai Yua. Apa dia punya musuh di sini?”


Aku tidak bisa menceritakan kisah cinta segitiga Yua yang membuatku mencurigai Via pada Alex. Aku juga tidak bisa menuduh Via tanpa bukti. Meski yang kutemukan saat ini adalah bukti nyata bahwa tali ini memang sengaja diputus menggunakan senjata tajam. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana cara mengungkap siapa pelakunya.


“Yua itu sama sepertiku, Kak. Dia anak rumahan, selama tujuh tahun aku berteman dengannya, ia tidak pernah bermusuhan atau mencari masalah dengan siapapun. Kalau pun ada yang membenci Yua, aku sama sekali tidak tahu siapa orangnya.” Aku berbohong. Aku tidak tahu apakah kebohonganku ini merupakan jalan yang terbaik atau tidak.


Sebenarnya, hanya ada satu orang yang membenci Yua, tentu saja orang itu adalah Via. Tapi, tidak mungkin Via bisa memotong tali setebal lontong ini sendirian. Pasti ada seseorang yang membantunya. Lagi pula, saat itu, Via terus berada di sisi Epank. Tidak ada waktu untuk Via berjalan ke arah tali dan memotongnya. Aku yakin ada orang lain yang melakukannya.


“Apa yang kau pikirkan, Fey? Apa kau mencurigai seseorang?”


Aku menggeleng, “Aku hanya berpikir, seandainya saja ada rekaman cctv, pasti akan sangat membantu kita.” Aku berbohong lagi.


“Itu dia!” Alex menjetikkan jarinya. Ia berlari ke arah tas hitamnya yang ia letakkan di bawah pohon. Ia membuka tasnya dan mengotak atik isinya. Ia menemukan kamera kecil cannon ditangannya. “Kita akan lihat semua rangkaian kejadian dari sini.” Ucapnya senang.

__ADS_1


Awalnya aku tidak mengerti maksud Alex, tapi melihat senyumnya aku mulai paham. Aku baru ingat kalau selain menjadi pimpinan jaga malam, ia juga bertugas sebagai dokumenter yang mengabadikan seluruh kegiatan yang kami lakukan.


Kami melihat satu persatu gambar yang ada di kamera kecil milik Alex. Namun, baru beberapa gambar yang kami lihat tiba-tiba kameranya mati.


“Hah, kenapa mati?” tanyaku.


“Sepertinya baterainya habis.”


“Sial! Kalau begini, kita tidak akan bisa menemukan pelakunya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Isi ulang baterainya pakai ini.” Terdengar suara lantang dari belakang dan aku mengenali suara itu.


“Refald!” aku melihat Refald membawa power bang di tangannya.


“Akhirnya kau muncul juga,” seru Yoshi. “Darimana saja kau?”


“Mengambil ini. Aku yakin kalian pasti membutuhkan ini.”


“Bagaimana kau bisa tahu kalau kami akan membutuhkan ini.”


“Firasat.” Ia menyeringai. Refald memberikan power bangnya pada Alex dan kami mulai memeriksa kembali hasil jepretan Alex satu persatu begitu kameranya sudah menyala.


“Apa itu? Kenapa fotonya berisi foto istriku semua? Itu ... dan itu, nah, itu lagi ... lagi-lagi istriku. Ada apa denganmu? Apa tidak ada orang lain yang bisa kau potret selain foto istriku?” Refald mulai curiga berlebihan. Tapi kami semua tidak menghiraukan ocehannya. Kami terlalu fokus untuk mencari pelaku yang memotong tali karmenter disetiap detail kegiatan yang tertangkap kamera kecil ini.


“Huh! Kenapa foto Fey banyak sekali? Apa kalian sengaja memotret istriku diam-diam?” Refald masih saja protes.


Lama-lama aku geram juga ia bersikap berlebihan seperti itu. Aku kan ketua pelaksana dalam kegiatan ini. Para peserta pecinta alam itu pastinya banyak berinteraksi denganku ketimbang yang lain. Wajarlah kalau fotoku lebih banyak. Dasar si Yeon ini.


“Hentikan ocehanmu Refald!” aku menatapnya marah. "Apa kau tidak lihat? Setiap kegiatan memang ada aku di foto itu. Aku juga ketua pelaksana di kegiatan ini. Wajar fotoku jauh lebih banyak dari pada yang lain? Kenapa kau mempermasalahkan hal itu?”


“Lalu apa masalahnya? Apa kau tahu? Setiap wanita di sini memiliki puluhan fotomu, mereka memotretmu secara diam-diam. Jika dihitung secara keseluruhan dengan jumlah populasi wanita yang ada di sini, jumlah fotomu yang tersimpan di kamera mereka mungkin sudah lebih dari ratusan. Bahkan mungkin bisa jutaan. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu! Kenapa kau jadi repot kalau Kak Alex mengabadikan aktivitas yang kulakukan di sini?”


Refald kikuk mendengar kata-kataku yang terlihat seperti meluapkan emosi dan amarahku yang sudah lama kupendam selama ini. Aku sendiri juga kesal padanya. Bisa-bisanya ia memprotes hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyelidikan yang kita lakukan sekarang.


“Hey, kalian berdua! Sudah selesai bertengkarnya?” tanya Alex yang daritadi hanya diam memerhatikan perdebatan kami. “Apa foto siapa yang tersimpan di kamera orang lain itu yang terpenting saat ini?”


“Maafkan aku, Kak. Aku terlalu terbawa emosi.”


“Hadeuhhhh. Aku tidak yakin hubungan rumah tangga kalian akan bertahan lama atau tidak.” Komentar Yoshi disambut Refald dengan langsung memelototinya.


Aku mendengus kesal dan langsung berdiri di sebelah Alex untuk ikut memeriksa kembali kameranya.


“Tunggu ....” ucap Refald.


“Apa? Kau keberatan jika aku berdiri disebelahnya?” aku memelototinya.


“Tidak ... aku hanya ingin kau jangan dekat-dekat dengan siapa pun?”


“Hedeuhhh ... kau itu terlalu berlebihan. Bilang saja kalau kau cemburu. Mereka tidak melakukan hal-hal yang terlarang, kenapa kau over protektif pada istrimu?”komentar Yoshi lagi.


“Diam kau!” Refald mengacuhkan komentar Yoshi dan berjalan ke arahku lalu berdiri disampingku.


Aku tidak habis pikir dengan semua ini. Refald benar-benar menyebalkan. Ia memaksaku berdiri diantara Alex dan dirinya. Kini, aku berada tepat di tengah dua laki-laki yang sangat kontras perbedaan karakternya.


Yang satu cuek is the best tanpa mempedulikan hal-hal yang ada di sekitarnya tapi sangat bertanggungjawab dengan tugas yang diembannya. Sedangkan yang satunya, aku tidak bisa menggambarkan secara tepat seperti apa Refald. Kadang ia sangat baik, kadang membosankan, kadang menyebalkan, kadang menyenangkan dan juga kadang membuatku ingin selalu bersamanya.


Itulah Refald. Tunanganku, orang yang dulu aku benci, kini menjadi orang yang berarti dalam hidupku. Sampai saat ini aku pun tidak mengerti, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang seperti Refald. Padahal kami baru saja bertemu setelah sekian lama terpisah.

__ADS_1


Sekarang aku hanya memahami satu hal yang mulai bisa kurasakan, bahwa kebencianku pada Refald dulu, berubah menjadi cinta. Meski aku belum pernah mengatakan secara langsung padanya.


“Ketemu!” ucap Alex.


Kami segera melihat gambar yang dimaksud Alex dan memerhatikannya dengan serius.


“Lihat orang ini!” kami semua melihat foto yang di tunjuk Alex.


“Dia ...” ucapku dan Refald bersamaan. Aku terkejut Refald juga mengenali foto yang dimaksud Alex. Kami saling memandang.


“Kalian berdua mengenal orang ini?” tanya Alex.


Refald menatapku. Sepertinya ia menunggu jawabanku terlebih dulu. “Dia anggota PMR.”


“Bagaimana denganmu Refald? Apa kau mengenalnya juga?”


“Aku tidak mengenalnya, karena aku masih baru, tapi aku pernah bertemu dengannya dan ... aku juga tahu alasan orang itu melakukannya.”


“Apa maksudmu?” Alex mengernyitkan alisnya. Begitu juga dengan aku dan Yoshi.


“Semua barang bukti yang kalian butuhkan ada di dalam tasku. Juga sidik jari.” Refald memberikan tas hitamnya pada Alex. Lalu ia melihat jam tangannya. “Dalam 30 menit, polisi akan datang kemari beserta pembina kalian.”


Alex membuka tas ransel hitam Refald dan terkejut setelah tahu apa isi tas tersebut. “Bagaimana bisa kau menemukan ini?”


Kami semua memerhatikan tas hitam yang dibawa Alex.


“Aku sudah menjelaskannya pada polisi. Biarkan nanti mereka yang akan menjelaskannya pada kalian semua. Sementara ini kita jangan melakukan apa-apa dulu sampai polisi itu datang, agar pelakunya tidak kabur dari sini.


“Kenapa harus ada polisi? Bagaimana kalau sampai kepala sekolah tahu? Apa masalah ini tidak bisa kita selesaikan secara kekeluargaan?” tanya Yoshi.


“Saat ini semua orang merasa cemas dan was-was atas kejadian tadi. Mereka semua pasti akan menyebarkan semua kejadian ini pada orang tua mereka masing-masing. Daripada nanti kita mendapat masalah yang jauh lebih rumit dari ini. Ada baiknya kita serahkan semua masalah ini pada polisi. Tapi, masih ada jalan lain yang lebih bagus dari ini dan itu semua tergantung dari ... Yua.”


"Tunggu! Jadi, tadi kau pergi untuk ini?” tanyaku pada Refald. Aku masih syok mengenai orang yang ada di1foto itu. tapi, melihat situasinya, dia memang memiliki motif yang sangat kuat untuk mencelakai Yua. Di tambah lagi, dengan cepat Refald bisa menemukan semua bukti-buktinya.


Bagaimana bisa? batinku. Aku menatap wajah tampan tunanganku yang penuh dengan misteri.


“Tapi ... aku tidak yakin apakah Yua, bisa menerima kenyataan bahwa ada orang yang sengaja membuatnya celaka.”


“Mengenai itu, biar aku saja yang bicara pada Yua, kau harus segera menghadiri rapat. Teman-temanmu sudah menunggu.” Ucap Refald.


Ini sungguh tidak bisa dipercaya? Orang itu ... bersedia melakukan segala macam cara karena dibutakan oleh cinta?


Aku masih belum bisa berpikir dengan jernih saat ini. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kejadian yang berurutan membuatku bingung dan tidak mengerti. Sebelumnya semuanya baik-baik saja. Tapi semuanya berubah semenjak aku datang ke sini.


“Alex, Yoshi kurasa kalian harus menyambut pembina dan polisi yang sebentar lagi datang.”


“Kau benar.” ucap Alex. “Kami pergi dulu.” Ia berlalu pergi meninggalkan kami disusul dengan Yoshi yang masih terpaku sama sepertiku.


Aku masih menatap Refald yang mulai berjalan ke arahku. Sepertinya ia tahu apa yang sedang kupikirkan.


“Kau jangan pingsan lagi.” Refald berbisik di telingaku. “Akan sangat merepotkan jika kau pingsan lagi di saat seperti ini. Aku harus menggendongmu lagi. Kau tahu? Jarak dari sini ke tendamu itu sangat jauh. Rasanya punggungku serasa pecah.”


Aku berbalik menatap Refald. Dalam situasi seperti ini ia masih saja bisa bercanda.


“Kau tidak sebanding dengan Epank!” ucapku sambil berlalu meninggalkan Refald yang terperangah mendengar ucapanku.


****

__ADS_1


__ADS_2