Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 294


__ADS_3

Sepanjang pelajaran jam pertama, Rhea termenung sendirian di perpustakaan sambil membaca banyak buku. Namun, semua buku yang ia baca sama sekali tak bisa masuk di otaknya. Hal itu karena Pikiran Rhea sedang kalut dan gelisah tanpa sebab. Pandangan matanya kosong dan tidak tahu perasaan apa yang sedang menyelimuti Rhea saat ini. Ada raut kesedihan didalamnya.


“Kenapa kau berada disini sendirian, Putri?” tanya seseorang yang tidak lain adalah mbak Kun.


Rhea menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari seseorang yang disebut bibinya ini putri. “Bibi bicara pada siapa?” tanya Rhea bingung karena tak menemukan seorangpun disini selain dirinya.


“Siapa lagi kalau bukan kau, Putri?” jawab mbak Kun ikut duduk di depan Rhea sambil memerhatikan semua buku-buku yang diambil putri dari sahabatnya ini.


“Jangan panggil aku seperti itu, Bibi. Aku bukan putri.” lagi-lagi wajah Rhea kembali sedih dan ingin menangis.


“Kau adalah istri dari pangeran Rey. Tentu saja mulai sekarang kami semua, tak terkecuali ayahmu juga, harus memanggilmu dengan sebutan 'putri'.”


Rhea tak terlihat senang mendengar bibinya bicara seperti itu. Sebaliknya, ia malah semakin terbebani dan merasa tidak pantas bila dirinya harus dipanggil ‘putri’. Rey begitu sempurna, dan banyak digandrungi wanita. Bersamanya, sosok pangeran tampan itu harus rela melepaskan kebebasannya yang pernah ia dapatkan sewaktu tinggal di Swiss dulu.


Sekali lihat, Rhea bisa tahu kalau Rey adalah pria bebas yang biasa melakukan apa saja yang ia suka. Namun sekarang, Rey tidak bisa melakukan semua yang ingin ia lakukan karena sudah terikat dengannya. Untuk sesaat, Rhea sempat melihat wajah sedih dan kesal Rey ketika meminta wanita bule itu agar tidak lagi mendekatinya. Bayangan wajah Rey masih terlihat jelas diingatannya. Dan Rhea tidak suka melihat Rey yang seperti itu. bagaimanapun juga, Rhea ingin melihat Rey selalu bahagia meskipun tidak harus bersama dengannya.


“Ada apa? Kenapa wajahmu itu seperti orang yang tidak pernah makan selama setahun? Apa yang terjadi?” tanya mbak Kun yang heran melihat Rhea hanya diam dan memasang ekspresi seolah hidup enggan matipun tak mau.


Dengan mata berkaca-kaca, Rhea berkata, “Bibi, aku ... apa yang harus aku lakukan? Bisakah aku membatalkan pernikahanku dengan pangeran?” entah kenapa tiba-tiba saja Rhea bertanya seperti itu dan tentu saja mbak Kun langsung terkejut bukan kepalang.


“Apa?” pekik mbak Kun langsung, sampai beberapa buku-buku di perpustakaan yang tadinya tertata rapi mendadak berjatuhan dengan sendirinya.


Untung tidak ada siapa-siapa dan petugas perpustakaannya sedang pergi keluar. Di tambah lagi semua siswa siwi di sekolah sedang sibuk mengikuti pelajaran jam pertama. Hanya Rhea saja yang bolos dan lebih memilih sembunyi di perpustakaan untuk menenangkan diri. Jadi, apa yang dilakukan mbak Kun tadi aman dan tidak diketahui oleh siapapun. Dengan cepat, Rhea membenahi buku-buku yang tadi jatuh kembali ke tempatnya dengan menggunakan kekuatan tangannya. Rhea hanya tinggal mengangkat jari telunjuknya dan buku-buku itu melayang kembali ke tempat asalnya.


“Apa kau sudah gila, ha? Kau bosan hidup?” mbak Kun masih terlihat emosi mendengar pernyataan Rhea tadi. “Membatalkan pernikahanmu sama saja dengan bunuh diri. Banyak wanita diluar sana yang mengantri menjadi pendamping hidup pangeran Rey. Tapi raja dan ratu lebih memilihmu karena cuma kaulah satu-satunya wanita yang tepat menjadi pendamping hidup pangeran. Apa kau sedang kerasukan setan patah hati, ha? Bisa-bisanya kau bicara seperti itu. Jangan pernah ulangi kata-kata itu lagi pada siapapun kalau kau masih sayang nyawamu dan seluruh keluargamu.” Tatapan mata mbak Kun terlihat serius dan tidak main-main dengan apa yang baru saja dia ucapkan.


“Apa maksud, Bibi?” Rhea lumayan terkejut juga.

__ADS_1


“Jika kau berniat membatalkan pernikahan ini, maka kau dan kedua orang tuamu akan mati. Ah tidak, pak Po dan Divani akan musnah selamanya karena secaa tidak langsung mereka melanggar perjanjian dengan raja. Itukah yang kau inginkan?”


Air mata Rhea mengalir deras mendengar penjelasan bibinya. Gadis itu sungguh tidak menyangka dampaknya akan sefatal itu. Sejujurnya, ia hanya tidak ingin menyakiti siapapun termasuk pangeran pujaan hatinya sendiri. Hari ini Rhea benar-benar galau akut.


Sekan tahu apa yang dirasakan keponakannya, mbak Kun bangun dari duduknya dan mengajak Rhea pergi kesuatu tempat. “Ayo ikut aku,” ajak mbak Kun sambil menggamit tangan Rhea lalu memaksanya berdiri.


“Kita mau kemana?” tanya Rhea tidak mengerti dengan sikap bibinya.


“Ke aula,” jawab mbak Kun singkat.


“Ada apa di aula? Kenapa kita kesana? Tunggu! Aula mana yang Bibi maksud?”


“Diam dan ikut saja, supaya kau yakin dan tidak galau lagi.” Mbak Kun terus membawa paksa Rhea pergi ke ruang aula sekolah yang letaknya ada di halaman paling belakang sekolah.


Tentu saja sosok mbak Kun hanya bisa dilihat oleh Rhea saja. Sedangkan semua murid lain hanya melihat Rhea berjalan sendirian, padahal ia berjalan dengan mbak Kun.


***


Semua kaum hawa berteriak histeris melihat aksi Rey yang begitu mudah melakukan slam dunk berkali-kali. Aksi memukau Rey saat bermain basket membuat semua orang menjadi semakin kagum padanya. Sayang saja Rhea tidak ada di sini, Rey berharap wanita pujaan hatinya itu datang kemari dan melihatnya bermain basket meski ia sendiri tidak yakin karena jadwal pelajaran Rey dan Rhea sangatlah bertolak belakang.


Alih-alih melihat Rhea menyaksikan pertandingannya, Rey malah dikejutkan dengan kedatangan Irene ke tengah lapangan dan terang-terangan mendekatinya. Pakaian Irene sangat kotor karena ia habis dikerjain habis-habisan oleh teman-teman Rhea dengan menguncinya di kamar mandi lalu menyiram tubuh gadis bule itu dengan sampah melalui bagian atas pintu kamar mandi. Alhasil, seperti inilah wujud Irene saat ini. Sangat kotor, berantakan, dan juga bau.


“Kenapa denganmu?” tanya Rey. Ia menertawai kondisi Irene yang sudah mirip seperti pemulung. Bahkan pemulung sungguhan saja jauh lebih baik darinya.


“Sepertinya ini perbuatan kekasihmu!” tuduh Irene dengan kesal.


Senyum mengembang Rey langsung hilang mendengar kekasihnya dituduh yang bukan-bukan. Apalagi tidak ada bukti yang mengarah kalau Rhealah pelakunya. Rey yakin Rhea bukan tipe wanita yang seperti itu. Tentu saja Rey tidak terima dan wajahnya jadi berubah marah.

__ADS_1


“Jaga ucapanmu, istriku bukanlah orang seperti yang kau tuduhkan. Pasti teman-temannyalah yang melakukan semua ini padamu. Kau tahu kenapa? Karena mereka semua sangat menyayangi istri cantiku itu.” senyum Rey mengembang menyebut Rhea sebagai istrinya.


“Kau senang aku diperlakukan seperti ini? Memangnya apa salahku? Kenapa mereka bersikap seperti ini padaku?” Irene mulai kesal. Ia merasa diperlakukan tidak adil di sekolah ini.


“Mana aku tahu? Tanyakan saja pada mereka yang melakukan itu padamu. Kenapa kau tanya padaku? Pergi dari sini, dan jangan ganggu aku bermain,” usir Rey. Ia bersiap-siap bermain basket lagi bersama teman-temannya.


“Tidak mau! Kau harus membantuku membalas mereka yang melakukan ini padaku. Aku tidak kenal dan tidak punya siapa-siapa di sini selain dirimu, Rey? Masa kau tega sama aku? Tolonglah aku.” Irene memasang wajah seimut mungkin supaya Rey mau bersimpati padanya.


“Kalau begitu, kembalilah ke asalmu! Tempatmu bukan disini. Kalau kau tidak ingin diperlakukan seperti ini oleh mereka. Jauhi aku dan Rhea, jika tidak ... jangan salahkan aku kalau mereka membuatmu menyesal karena sudah nekat datang kemari.” Rey tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan lapangan tepat disaat ia melihat Rhea berdiri terpaku di ujung lapangan.


“Tapi Rey ....” Irene masih belum menyerah, ia berlari menyusul Rey dan hendak menyentuhnya, tapi dengan sigap Rey langsung menghindar.


“Eits, jangan coba-coba menyentuhku! Atau kau akan menyesal seumur hidupmu!” Rey menatap marah pada Iren dan pergi berlari menuju ke tempat Rhea berada. Rey bisa melihat mbak Kun disampingnya.


“Halo Bibi,” sapa Rey sambil tersenyum dan beralih memandang Rhea.


“Kenapa anda memanggil saya bibi, Pangeran?” tanya mbak Kun bingung.


“Sebab kau akan menjadi bibi iparku.” Rey mendekatkan wajahnya ke arah Rhea sambil berkata, “Usapkan keringatku, Sayang.” Rey tersenyum manis pada Rhea.


Rhea mengambil saputangan yang ada disakunya dan mengusap pelan keringat Rey disaksikan mbak Kun dan juga semua oang yang ada di sekolah ini. Tak terkecuali Irene yang sudah seperti kebakaran jenggot melihat betapa mesranya Rey dan Rhea. Sementara yang lainnya hanya bisa gigit jari saja.


“Kalian berdua mengingatkanku pada kisah cinta raja dan ratu sewaktu mereka berdua masih sekolah dulu. Tempat ini pula yang menjadi saksi kisah cinta mereka berdua yang ternyata menurun pada kalian.” mbak Kun langsung menghilang begitu saja setelah mengatakan kalimat mencengakan itu.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1


__ADS_2