
Refald berhenti melompat saat berada di sebuah bukit tinggi. Ia naik di atas pohon besar yang paling tinggi dibukit itu. Perlahan, Refald menurunkan Fey di atas sebuah dahan tempat mereka berdua berpijak. Adegan itu juga mengingatkan Fey pada film twilight dimana Edward mengajak Bella berkencan di atas pohon sambil menikmati pemandangan laut selat California yang ada disekitar mereka. Bedanya disini tidak ada laut, yang ada hanyalah pepohonan rindang di hutan rimba.
“Kenapa kau mengajakku kemari Refald? Memangnya siapa tamu yang harus kita sambut?” tanya Fey yang melihat Refald sedang mengamati sekelilingnya.
Refald tidak langsung menjawab. Ia menoleh pada Fey yang bersandar di batang pohon besar. Refald merentangkan kedua lengannya untuk mengurung Fey dalam pelukannya. “Sudah lama kita tidak melakukan adegan Edward Bellamu seperti ini, kita berdua terlalu sibuk dengan urusan duniawi sampai kita sendiri lupa kalau kita punya dunia sendiri.” Refald terus menatap wajah Fey.
“Kau belum jawab pertanyaanku, siapa tamu yang harus kita sambut?” ujar Fey yang juga membalas tatapan tajam mata Refald. Dalam hati ia bersyukur karena mata Refald tak lagi sendu seperti sebelumnya. Sebaliknya ia terlihat lebih bersemangat.
“Kau akan segera tahu sendiri, Honey. Sembari kita menunggu kedatangan mereka, nikmati saja panorama alam yang ada di tempat ini selagi kita bisa menikmatinya.” Refald melepas kurungan tangannya dan beralih menggenggam erat salah satu tangan istrinya menatap keindahan alam didepannya
Mereka berdua menikmati pemandangan alam yang terbentang luas dihadapan mereka. Sayangnya, pemandangan indah itu hanya akan bertahan beberapa minggu saja. Setelah itu ... keindahan itu akan lenyap dan diselimuti oleh lautan darah manusia dengan segudang dosa yang sudah mereka perbuat karena kesalahan mereka sendiri.
****
Shena terus mengikuti langkah kaki Leo yang terus saja menerobos lebatnya hutan yang dalam. Sebenarnya, Shena sudah tidak tahan berjalan bersama dengan Leo. Sebab, ia merasa mereka berdua semakin tersesat di dalam hutan. Namun, setiap kali ia hendak mencari jalan lain dan memisahkan diri dari Leo, cowok itu selalu menarik tangannya dan tidak mau melepaskannya jika Shena tidak mau mengikuti langkah kaki Leo.
“Awas saja kalau sampai kau coba-coba memisahkan diri dariku!” ancam Leo setelah untuk kesekian kalinya Shena mencoba melarikan diri dari Leo.
“Bilang saja kalau kau itu takut sendirian!” ujar Shena.
“Aku tidak takut pada apapun, yang aku takutkan bagaimana kalau ada binatang buas menerkammu tiba-tiba saat kau terpisah dariku!” cetus Leo.
“Satu-satunya binatang buas di sini adalah kau! Makanya sampai sekarang, kita tidak bertemu binatang buas manapun karena aku yakin, para binatang itu takut padamu!” gumam Shena yang langsung mendapat lirikan tajam dari Leo.
“Kalau benar aku sebuas yang kau kira, sudah daritadi aku memakanmu dan setelah keluar dari sini, kau sudah berbadan 2 bahkan bisa jadi 3 sekaligus!” tandas Leo sehingga membuat Shena bergidik ngeri menjauh dari Leo.
“Kau benar-benar sarap!” cetus Shena dengan kesal sambil meninggalkan Leo dan berjalan lebih dulu.
Yang ada dipikiran Leo cuma otak mesum doang! Berani-beraninya di tengah hutan belantara begini ia bicara seperti itu! Dasar gengster nggak ada akhlak! Batin Shena.
“Shenaaa! Awas!” teriak Leo tiba-tiba. Cowok itu berlari cepat dan menarik tangan Shena sebelum Shena terperosok ke dalam jurang yang dalam.
__ADS_1
Saking kuatnya tarikan Leo, Shena jatuh ke dalam pelukan Leo sehingga cowok itu kehilangan keseimbangan dan keduanya terjatuh bersamaan. Shena terkejut karena ia jatuh tepat di atas tubuh cowok yang paling dibencinya. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan penuh makna.
“Sampai kapan kau tidur diatasku? Aku bisa kehilangan kendali kalau kau tidak juga bangun dari tubuhku!” ujar Leo sambil tersenyum.
Seketika Shena bangun berdiri dengan gugup. “Maaf, aku tadi terlalu shock, terimakasih sudah menolongku.” Shena hendak nyelonong pergi tapi tangannya langsung ditarik oleh Leo. “Apa lagi?” tanya Shena.
“Kau salah jalan!” ujar Leo sambil terus menarik tangan Shena ke arah yang berlawanan dengan arah Shena tadi melangkah.
“Tapi ...,”
“Tidak ada protes! Sekali kau buka mulut akan kucium kau di sini!”ancamnya.
“Selalu saja ancaman yang sama!” gumam Shena.
“Kau ingin mencobanya?” tanya Leo yang mendengar gumaman Shena.
“Tidak! Terima kasih!” jawab Shena cepat.
Jantung Shena berdetak dengan cepat. Bukan karena ia habis jatuh bersama dengan Leo, melainkan karena hampir saja ia kehilangan nyawa kalau saja Leo tidak segera menyelamatkannya dari jurang yang ada di samping kanan mereka saat ini.
“Leo, aku lelah sekali. Bisakah kita istirahat sebentar, aku sudah tidak kuat.” Shena berbicara dengan napas tersengal-sengal.
Leopun menghentikan langkahnya dan mengamati sekitarnya. Leo menarik tangan Shena dan mendudukkannya di atas batu besar. “Istrihatlah di sini sebentar.” Cowok itu mengeluarkan air mineral dalam tasnya dan meminumnya sambil melirik Shena. “Kau mau?” Leo menawarkan minumannya pada Shena.
Deg!
Shena tiba-tiba saja gugup. Tidak mungkin ia minum dari botol yang habis diminum Leo. Namun, Shena haus sekali saat ini, tenggorokannya juga sudah kering daritadi. Karena takut terlambat, Shena lupa tidak menyiapkan apa-apa saat berangkat tadi.
Leo mengulurkan botol minumannya pada Shena dan terpaksa gadis itu menerima botol mineral itu kemudian meminumnya dalam sekali teguk. Leo hanya tersenyum melihat Shena meminum botol bekas bibirnya sendiri.
__ADS_1
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Shena yang melihat Leo tersenyum aneh padanya.
“Aku senang ...,” Leo sengaja menggantungkan kalimatnya dan mendekatkan wajahnya pada Shena. “Kerena secara tidak langsung ... kita sudah berciuman!” Leo tertawa manis di depan Shena. Wajah gadis itu langsung merah padam karena Leo terus saja melihatnya.
“Kau dapat teori itu darimana? Jangan mengada-ngada!” tiba-tiba saja mata Shena terbelalak dan mulutnya menganga lebar melihat apa yang ada dibelakang Leo. “Leopard!” ucap Shena dengan gugup dan juga takut.
“Iya, itu memang namaku!” Leo tersenyum bangga karena wanita yang disukai Leo memanggil nama panjangnya.
“Bu-bukan kau, bod0h! Masudku i-itu ... itu Leopard bukan, sih?” Shena menunjuk sesuatu yang ada dibelakang Leo.
Senyum mengembang yang ada di wajah Leo seketika hilang saat ia menoleh kebelakang dan mendapati seekor binatang buas sungguhan bernama Leopard sudah siap siaga menerkam keduanya.
Dengan sigap, Leo melindungi Shena dari balik punggungnya dan mencari ancang-ancang jika binatang Leopard itu datang menyerangnya. “Aku hitung sampai tiga, bersiaplah dan cepat lari dari sini,” bisik Leo pada Shena.
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Shena mulai khawatir dan juga takut. Tanpa sadar, Shena sudah memegang erat lengan Leo.
“Aku akan mencoba menghalau binatang itu. Sementara kau melarikan diri dan mencari bantuan.”
“Kau gila, apa? Memangnya kau pahlawan super yang bisa menghalau binatang itu? Kita lari sama-sama!” Shena setengah berteriak tidak setuju dengan usulan Leo.
“Kalau kita lari sama-sama, salah satu dari kita pasti bakal jadi mangsanya. Dan sudah dipastikan siapa diantara kita yang terkena terkamannya lebih dulu. Jalan satu-satunya adalah kau lari duluan, kalau ada kesempatan aku akan menyusulmu! Percayalah padaku! Saat berkunjung ke China ada salah satu pendeta yang bilang padaku kalau aku punya seribu nyawa, jadi aku tidak akan mati semudah itu, apalagi cuma berhadapan dengan namaku sendiri,” Leo masih saja bisa menyombongkan diri disaat genting seperti ini.
Shena sendiri tidak tahu harus bagaimana. Disisi lain, ia tidak ingin Leo terluka hanya untuk menyelamatkannya. Disisi lain lagi, ia juga sangat ketakutan setengah mati, ia tidak yakin meskipun berhasil melarikan diri dari sini, bahaya lain pasti akan mengancamnya selama ia tidak keluar dari hutan ini.
“Satu ...,” Leo mulai berhitung. “Dua ...,” tepat dihitungan ketiga, macan Leopard itu melompat dengan lincah dan hendak menerkam Leo dan Shena. Namun, ditengah-tengah lompatannya. Ada seseorang yang menghalau binatang itu sehingga binatang tersebut terpental jauh sampai membentur batang pohon besar dan akhirnya jatuh tak bergerak. Binatang Leopard itupun mati seketika.
“Kalian tidak apa-apa?” tanya seseorang itu.
BERSAMBUNG
***
__ADS_1
Semoga suka ya dengan dunia halu dan fantasiku ... love you ...