Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 22 Cowok itu ...


__ADS_3

Hari ini aku tidak melihat Nura dan Mia, bahkan saat rapat tadi, mereka juga tidak ada. Aku mencoba masuk ke kelas Mia, ternyata ia juga tidak masuk sekolah begitu juga dengan Nura.


Kenapa mereka? Tumben sekali?


Aku kembali ke kelas dan menanyakan kondisi Nura pada Yua saat mereka pulang bersama semalam. Yua bilang Nura masih baik-baik saja saat ia mengantar Nura pulang. Tidak ada yang aneh.


Begitu Nura turun dari motor, Yua langsung cabut dan langsung pulang kerumahnya. Sedangkan Mia menurut versi Rio, juga langsung mengantarnya pulang. Mereka tidak pergi kemana-mana setelah kami makan bersama. Meski sebenarnya tidak benar-benar makan bersama. Hanya Rio dan Mia saja yang menikmati makanan mereka berdua.


Aku hanya khawatir mereka tidak bisa mengikuti kegiatan tahunan nanti. Biasanya mereka selalu memberitahuku jika tidak masuk sekolah, tapi kali ini berbeda. Mereka tidak memberitahuku apa-apa.


Untungnya survey besok hanya aku, Lisa dan Juna ditambah dua anggota PMR yaitu Yua dan Epank saja yang akan bergerak menyurvey lokasi sehingga Nura dan Mia bisa beristirahat di rumah terlebih dulu kalau memang mereka sedang sakit.


Aku hanya berharap tidak terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Aku tidak bisa menghubungi mereka karena ponselku ada di rumah. Aku berencana berkunjung ke rumah mereka, untuk mencari tahu apakah mereka baik-baik saja. Itu artinya aku harus mengajak Refald juga karena kami pulang berboncengan bersama, tapi aku ragu apakah Refald setuju kalau kuajak mampir ke rumah mereka sepulang sekolah nanti.


Tidak ada salahnya jika aku mencoba membujuknya.


Aku berjalan menuju kelas Refald saat kedua kelas kami kebetulan jamkos (jam kosong). Belum sempat aku masuk ke dalam, tiba-tiba ada seseorang menghalangiku dengan tangannya sehingga aku menghentikan langkahku berjalan.


"Ada apa?" tanyaku pada cewek tinggi itu. Ia menatapku tajam.


"Harusnya aku yang bertanya!" ucapnya dengan lantang. "Mau apa kau ke sini? Ini bukan kelasmu! Pergi sana!" usirnya.


Aku menatap balik cewek tomboi yang angkuh itu. "Kelas ini bukan milik nenek moyangmu. Siapapun bisa masuk ke kelas ini, minggir!" aku sama sekali tak gentar dengan sikap jutek cewek tomboi ini.


Aku memaksa masuk, tapi cewek tomboi itu masih saja menghalangiku. Ia menatapku dengan penuh kebencian. Sepertinya ia ingin sekali memukulku tapi aku tidak takut padanya. Aku bahkan sudah siap jika ia mengajakku berkelahi. Meskipun sebenarnya aku sangat tidak menginginkannya. Karena selama ini, aku tidak pernah mencari masalah atau membuat masalah dengan siapapun.


Satu lagi rahasiaku yang tidak diketahui oleh siapapun di sini. Aku pandai sekali berkelahi. Aku bahkan menguasai hampir semua teknik taekwondo. Aku sering menggunakan waktu senggangku untuk berlatih dengan kakakku sewaktu aku masih berada di Jepang dulu. Meski itu sudah lama sekali. Aku masih ingat semua gerakannya. Karena itulah aku tidak takut dengan gertakan cewek ini meski aku sendiri tidak tahu apa alasannya dia bersikap kasar padaku. Saat kami beradu mulut, ia hampir saja memukulku. Ia melayangkan tangannya, tapi tiba-tiba saja ia mengerang kesakitan dan aku terkejut setelah tahu penyebabnya.


Tangannya yang menghalangiku dipegang Refald dengan kuat. Tapi menurutku, Refald tidak hanya memegang lengan cewek itu, tapi juga mencengkeramnya dengan sangat kasar sehingga cewek itu kesakitan.


"Lepaskan tanganku!" Teriaknya.


"Sudah kuperingatkan dari awal. Jangan pernah mengganggu atau menyakiti pacarku! Jika tidak, bukan hanya lenganmu yang sakit, tapi aku juga bisa mematahkan seluruh tulang-tulangmu! Kau ingat itu baik-baik!" ucap Refald dengan penuh emosi, lalu melepaskan cengkeramannya.


Cewek itu mundur sambil menangis, ia ketakutan melihat Refald semarah itu. Aku sendiri terkejut Refald bisa sesadis itu pada cewek. Padahal cewek itu belum melakukan apapun padaku. Aku melihat Refald yang penuh dengan emosi masih menatap wajah gadis itu lekat-lekat.


Aku mendekatinya dan menggenggam tangannya untuk meredakan emosinya. Karena seluruh siswa di kelas sudah mulai memerhatikan kami. Aku menarik tangannya dan mengajaknya keluar menuju gazebo yang ada di taman di halaman depan kelas kami.


"Apa yang kau lakukan? Kau menyakiti wanita?" ucapku agak sedikit emosi juga. Aku tak pernah menyangka orang sekeren Refald bisa melakukan tindak kekerasan pada wanita yang tidak disukainya.


"Dia hampir saja memukulmu! Tentu saja aku tidak terima!"


"Aku tidak akan mati hanya karena pukulannya! Kau tidak lihat? Semua orang memerhatikan kita! Lagi pula ia tidak memukulku!"


"Aku tidak peduli!" Refald langsung pergi meninggalkanku dengan penuh emosi. Aku ingin mengejarnya tapi aku tidak bisa, langkahku terhenti begitu saja.


Tidak ada gunanya mengejar Refald jika dia sudah emosi seperti itu. Daripada nanti kami bertengkar dan menimbulkan masalah, sebaiknya aku membiarkan ia sendiri dulu.


Aku kembali ke kelasku dalam keadaan marah. Lagi-lagi, aku menjadi pusat perhatian. Sepertinya tidak butuh waktu lama bagi semua teman-temanku untuk tahu apa yang terjadi di kelas Refald.


"Ada apa ini, Fey?" tanya Yua saat aku duduk disebelahnya.


Aku menceritakan kronologinya pada Yua. Aku tidak tahu kalau bakal jadi seperti ini. Padahal aku hanya ingin membujuk Refald supaya bisa kuajak kerumah Mia dan Nura setelah pulang sekolah nanti mengingat perjalanan kami satu arah. Jika aku mengantar Refald terlebih dulu, artinya aku harus bolak balik dijalan. Sedangkan nanti ada banyak sekali hal yang harus aku persiapkan untuk kelancaran kegiatan besok.


Yua menepuk pundakku dan menenangkanku. Aku sendiri tidak tahu ke mana Refald pergi tadi. Mudah-mudahan emosinya kali ini tidak menimbulkan banyak masalah. Cowok itu aneh sekali. Kemarin ia memaksaku menyukainya, tapi ia selalu menyusahkanku.

__ADS_1


Kalau seperti ini bagaimana bisa aku menyukainya? Yang ada aku malah semakin benci padanya! Dasar si Refald cowok aneh! Dia benar-benar bodoh!


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku menunggu Refald yang sejak tadi belum muncul juga. Entah ke mana perginya cowok itu. Yua menawarkan diri menemaniku. Tapi aku menyuruhnya pulang dulu karena besok masih banyak kegiatan yang harus kami lakukan bersama.


"Kau yakin tidak apa-apa sendiri?" tanya Yua ragu.


Aku mengangguk sambil tersenyum tapi aku juga mulai mencemaskan Refald.


"Baiklah! Hubungi aku jika ada apa-apa! Aku pergi dulu." Yua pergi meninggalkanku didepan kelas sendirian.


Suasana sekolah sudah mulai sepi. Beberapa anak juga sudah tidak terlihat wara wiri dijalan utama menuju pintu gerbang. Meski hari ini hari sabtu, kegiatan ekstrakurikuler sementara ditiadakan karena besok dan minggu depan banyak kegiatan lain yang dilakukan. Jadi hari ini semua siswa pulang lebih cepat dari jam biasanya.


Sudah setengah jam aku menunggu Refald yang tak kunjung muncul batang hidungnya.


Apa yang terjadi dengannya? Apa dia meninggalkanku? Apa dia sudah pulang duluan?


Aku memutuskan meninggalkan sekolah karena pak penjaga sudah hampir menutup gerbang sekolah. Itu artinya aku siswi terakhir yang ada di sekolah ini. Berarti Refald sudah tidak ada lagi di sini.


Ia benar-benar meninggalkan aku! Semarah itukah dia padaku? Bagaimana bisa ia meninggalkanku di sini sendirian! Dasar Refald bodoh! Awas saja nanti!


Aku berlari menuju parkiran berharap motor Refald masih ada di sana, tapi ternyata apa yang kucemaskan itu benar. Motornya sudah tidak ada! Itu artinya Refald sudah pulang duluan meninggalkanku sendirian.


Aku bingung harus bagaimana. Aku keluar gerbang sekolah dengan perasaan marah. "Tidak seharusnya ia lakukan ini padaku. Apa salahku? Dia benar-benar menjengkelkan! Apa sekarang ia balas dendam lagi padaku?" Aku menunggu angkutan umum di depan sekolahku.


Tidak ada yang bisa kulakukan lagi di sini. Aku tidak membawa ponsel. Yua juga mungkin sudah jauh. Apa yang harus kulakukan? Tidak ada angkot yang lewat lagi di sini.


Aku memainkan sepatuku di atas pasir dan tiba-tiba saja ada suara motor berhenti tepat didepanku. Itu bukan suara motor milik Refald. Tapi itu suara motor kawasaki ninja ZX10-R yang sangat keren. Pemilik ninja hitam itu membuka helmnya. Aku langsung terkejut melihat siapa pemiliknya.


Cowok itu ... bukankah dia ... adalah teman Refald yang pernah menanyakan alamat padaku waktu itu?


"Hai! Kita bertemu lagi!" ujarnya seraya tersenyum manis padaku.


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ayahku juga pernah memberikan hadiah motor seperti ini pada tunanganku saat dia, ulang tahun, dan motor yang di pakai teman Refald ini, sama persis seperti yang diberikan ayahku waktu itu. Aku ingat plat nomernya sama dengan tanggal ulang tahunnya. Aku memerhatikan motor itu untuk memastikannya, tapi sayangnya motor itu tidak ada platnya.


Aku menatap teman Refald yang sampai saat ini belum kutahu namanya. Ia juga melihatku terpana dengan gelagatku yang aneh.


"Kau kenapa? Apa aku terlihat aneh? Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanyanya heran.


Aku mencoba menenangkan diriku, berharap apa yang kupikirkan ini salah. Meski aku harus mencari tahu kebenarannya. "Tidak apa-apa! Bukankah kau ... temannya Refald?"


"Iya," ucapnya sambil tersenyum. "Aku mencarinya kemana-mana. Di rumahnya tidak ada. Kupikir dia masih ada di sini!"


Aku terkejut karena sampai saat ini Refald belum pulang juga. Kalau begitu ke mana perginya?


"Tapi bagaimana bisa kau tahu kalau dia ada di sini?"


Cowok itu tersenyum. "Tentu saja aku tahu. Aku yang mengurus kepindahannya kemari."


Aku lebih terkejut lagi mendengarnya. Setelah pertemuan terakhir waktu ia membawa Refald pergi ke rumah sakit. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Bahkan ketika aku datang ke vila Refald, dia juga tidak pernah ada dan ia baru muncul hari ini.


"Tapi aku tidak pernah melihatmu sejak saat itu!"


"Ada banyak hal yang harus kuurus diluar kota. Karena itu aku meninggalkan Refald di sini sendirian. Lagi pula bukankah ada kau yang merawatnya? Aku belum bertemu dengannya lagi. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa dia memarahimu terus?"


Aku tidak menyangka cowok ini tahu banyak tentang apa yang terjadi diantara kami. Berarti cowok ini juga tahu banyak soal Refald. Dia juga yang membantu mengurus urusan Refald. Itu artinya ia juga tahu siapa aku.

__ADS_1


Sebenarnya siapa cowok ini? Dia bule, tapi dia lancar sekali berbahasa Indonesia sama seperti Refald. Sebenarnya, mereka ini bule darimana, sih? Kenapa logat bahasanya lancar sekali?


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


Aku memalingkan wajah dengan gugup. "Maaf Aku hanya penasaran tentangmu karena Refald tidak pernah cerita banyak soal dirimu!"


"Oh benar, Kau pasti tidak mengenalku meskipun Refald sering membicarakanmu."


"Apa yang kalian bicarakan tentangku?" aku terkejut karena ternyata Refald juga sering membicarakanku dengan cowok ini.


"Banyak sekali, salah satunya adalah kau wanita yang aneh menurut dia, dan aku setuju, karena selama aku berteman dengannya, dia tidak pernah memuji seseorang, apalagi wanita?"


"Kau anggap itu pujian?" tanyaku tidak percaya.


"Tentu saja!"


"Apa kau tahu arti kata aneh itu apa?"


"Misterius ... itu nama lainnya, bukan?"


Dasar bule gila! Aneh! Misterius! Apakah itu sebuah pujian dinegaranya?


"Kenapa kau ada di sini? Di mana Refald?" cowok itu celingukan mencari sosok Refald.


"Aku tidak tahu." jawabku malas.


Cowok itu terkejut. "Kau juga tidak tahu di mana dia? Apa kalian sedang bertengkar? Bukankah kalian harusnya bersama-sama?"


Aku tidak mau menjawabnya. Aku menjadi kesal jika mengingatnya. Tapi, jika kupikir-pikir lagi, memang akulah yang salah. Harusnya aku berterimakasih padanya karena sudah menolongku. Niatnya padaku sebenarnya baik. Tapi aku malah memarahinya. Tentu saja dia marah padaku. Bahkan sekarang kami menjadi bahan perbincangan lagi di sekolah. Seandainya tadi aku tidak jadi ke kelas Refald, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Cowok itu mengambil ponsel dan menelepon seseorang, sepertinya dia menelepon Refald.


"Hai ... where are you? What? Oke ... I will be there ...." ucap cowok itu sebelum dia menutup teleponnya. "Ayo! Aku antar kau pulang! Ini sudah sore dan sepertinya sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sini!"


"Apa kau akan menemui Refald? Di mana dia?"


"Kenapa? Kau tidak sabar ingin bertemu dengannya?"


"Tidak, aku hanya penasaran apa dia baik-baik saja!"


"Dia sangat kuat, tenang saja! Dia bahkan tidak mati saat jatuh ke jurang waktu kami mendaki gunung bersama."


"Apa? Dia juga suka mendaki gunung?"


"Kau tidak tahu?"


"Aku tidak tahu banyak tentangnya. Ia melarangku bertanya mengenai banyak hal mengenai dirinya. Jadi aku tidak tahu apa-apa."


"Aneh sekali, kukira kalian sudah saling mengenal satu sama lain."


Aku tidak mengerti apa maksud cowok ini. Tapi aku tidak mau ambil pusing karena masih ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini.


Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Untuk saat ini, kukesampingkan dulu masalahku dengan Refald. Akan kuurus nanti jika acara survey besok sudah selesai.


"Ehmmm ... boleh aku minta bantuan sedikit darimu?"

__ADS_1


Cowok itu menatapku dengan wajah penasaran, tapi tetap terlihat keren. "Apa itu?"


****


__ADS_2