
Setelah sekian waktu lamanya, akhirnya pak Po muncul dari luar rumah dan masuk ke dalam, tepat disaat semua orang sedang sarapan bersama. Tentu saja Fey langsung menatap tajam pak Po dan langsung menghampirinya begitu mantan pasukan dedemit itu memasuki ruangan.
“Apa yang kau lakukan semalam, ha? Kau ini ... ayo ikut denganku! Aku akan menghabisimu!” Fey menjewer telinga pak Po sehingga mantan hantu itu mengerang kesakitan.
Padahal, ia tidak tahu apa kesalahannya sampai Fey jadi semarah itu padanya. Fey bahkan menyeret pak Po menuju ruangan yang sama saat Refald memberi pengarahan pada pak Po semalam.
“Aaaah ... Putri, memangnya apa salah saya? Kenapa dijewer begini?” erang pak Po. Kepalanya ia miringkan mengikuti jeweran tangan Fey ditelinganya.
“Kau masih berani bertanya apa kesalahanmu? Sepertinya kau memang harus dikembalikan jadi pak Po lagi supaya pintar sedikit. Bagaimana bisa kau jadi bodoh sekali saat menjadi manusia? Aku benar-benar kesal padamu!” omel Fey dan semua orang hanya memandang diam tingkah laku mereka berdua. Dan yang paling terkejut tentu saja Riska dan Aditya karena mereka tidak mengerti sama sekali maksud dari apa yang dibicarakan Fey pada pak Po.
“Pangeran, tolong saya! Telinga saya bisa lepas kalau Putri menariknya dengan kencang seperti ini!” wajah pak Po memelas berharap Refald bisa menolongnya.
Namun, harapan pak Po sepertinya kandas karena Refald berpaling dari pak Po dan pura-pura melanjutkan sarapannya. “Aku tidak dengar dan tidak lihat apapun. Apa kalian juga merasakan hal yang sama?” tanya Refald pada semua oang yang terpaksa mengikuti himbauannya.
“Pangeran! Kenapa kau kejam sekali padaku! Di ... tolong aku!” karena Refald tidak mau tahu pendekataannya, pak Po mencoba meminta bantuan istrinya.
Namun, Refald menatap Di dengan tatapan tajam dan memberi kode agar ia tidak ikut campur apa yang dilakukan Fey pada pak Po. Meski berat, Di terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan Refald dan langsung menundukkan kepalanya.
Melihat istrinya diam saja, pak Po jadi semakin frustasi. “Ada apa dengan kalian semua? memangnya apa salahku?” protes pak Po masih dengan wajah tanpa dosa.
Fey pun mendudukkan pak Po dengan paksa diruangan tertutup. Ia memarahi pak Po habis-habisan tentang bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik apalagi wanita itu adalah istrinya.
“Melakukan hubungan suami istri yang dipaksakan dengan tindakan nyeleneh bin aneh itu merupakan tindakan yang tidak baik dilakukan, pak Po. Bagaimana bisa kau menyuruh Di berpose seperti itu semalaman sementara kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan? Sebenarnya kau ini manusia dari zaman apa, sih? Kenapa hal seperti itu saja kau tidak tahu?” Fey mulai meluapkan emosinya. “Berbagai macam cara sudah kami lakukan untuk memberitahumu, tapi kenapa kau masih belum mengerti juga?”
__ADS_1
“Putri, aku tidak tahu apa-apa soal hubungan yang Putri ungkapkan. Aku mati disaat usiaku masih sangat muda. Di zaman perang, anak-anak seusiaku hanya tahu bermain-main saja. Aku mencoba memahami apa yang kalian ajarkan padaku, tapi ternyata tidak mudah. Aku berusaha memasukkan ...ehm ... itu ... ke dalam itunya Di ... tapi Di mengerang kesakitan. Aku tidak tega, Putri. Jadi, kutempelkan saja pedang etalibunku. Sampai kecebong yang pangeran Refald maksud keluar dengan sendirinya,” terang pak Po dengan polosnya tanpa merasa malu lagi pada Fey.
Sedangkan Fey sendiri langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya setelah mendengar penjelasan dari pak Po. Berkali-kali ia menghembuskan napas antara marah dan ingin tertawa, tapi juga kesal. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara menghadapi kepolosan mantan dedemit yang satu ini.
Refald, kemarilah! Panggil Fey dalam hati. Ia tahu suaminya itu bisa mendengar pikirannya. Tanpa menunggu lama, Refaldpun masuk kedalam ruangan dimana pak Po dan istrinya berada.
“Sepertinya, aku tidak bisa lagi berhadapan dengan pa Po, Suamiku,” ujar Fey saat melihat suaminya amsuk dan berjalan mendekatinya. “Entah kenapa, aku jadi malu sendiri mendengar betapa polos dan bodohnya dia. Kau saja yang jelaskan cara tradisional yang sudah aku beritahukan padamu tadi.” Fey hendak keluar ruangan meninggalkan Refald dan pak Po, tapi tangannya dicekal oleh Refald lalu menariknya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
“Kau tetap disini, Honey. Jangan tinggalkan aku.” Refald mencium kening Fey sambil melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. Keduanya saling menatap penuh cinta sehingga membuat pak Po mulai menyadari sesuatu.
“Anda berdua, benar-benar romantis sekali. Kenapa tidak terpikirkan olehku melakukan hal sama seperti yang anda berdua lakukan?” pak Po hendak pergi keluar ruangan tapi kerah baju pak Po langsung ditarik oleh Refald dari belakang hingga suami Di itu tak bisa bergerak leluasa.
“Mau kemana kau?” tanya Refald geram.
“Memeluk istri saya, Pangeran. Seperti yang barusan anda lakukan pada Putri.”
“Tidak, Pangeran. Saya tidak pernah berpelukan seperti anda berdua,” jawab pak Po dengan ekspresi polos sepolos bayi. Refald jadi bengong menatap wajah pak Po.
Sementara Fey, hanya bisa memegangi kepalanya yang sudah dibikin puyeng dengan kepolosan pak Po. Baru kali ini ia bertemu dengan manusia langka model pak Po. Selama ini, Fey menganggap Refald adalah satu-satunya orang terlangka di dunia ini, tapi ternyata masih ada yang lebih langka lagi dari Refald, yaitu mantan pasukan dedemit Refald sendiri, pak Po alias Ezi.
“Duduklah pak Po. Ini adalah cara terakhir yang bisa kami lakukan untuk memberitahumu tentang hal intim yang bisa kau lakukan sebagai manusia biasa sekaligus tanggungjawabmu sebagai suami yang harus kau penuhi pada Di.” Refald menatap serius wajah pak Po. “Etalibunmu, harus kau masukkan ke dalam lubang sumur istrimu. Biarkan dia mengerang kesakitan karena artinya, ia hanya tercipta untukmu. Kau harus terus memasukkannya. Tapi, jangan terlalu kasar.” Refald berhenti bicara dan mengambil sebuah kentongan kecil yang terbuat dari kayu beserta pemukulnya dari atas meja ruangan ini.
Entah apa fungsi benda itu disini. Kalau dilihat dari bahannya, kentongan tersebut mungkin bukan sembarang kentongan, tapi merupakan sebuah benda keras yang sengaja dipasang sebagai hiasan rumah.
__ADS_1
“Perhatikan aku,” lanjut Refald. “Malam nanti, kau harus mencoba melakukan apa yang akan aku katakan padamu. Apa kau bersedia?” tanya Refald.
“Siap, Pangeran. Memangnya apa yang harus saya lakukan?” pak Po jadi penasaran hal apa yang harus ia lakukan sampai Refald terlihat seserius itu.
“Dengarkan aku baik-baik, pak Po. Saat kau memasukkan etalibunmu ke dalam lubang sumur istrimu, aku akan mengetuk kentongan ini satu kali, seperti ini.” Refald memukul kentongan yang ada ditangannya dengan ketukan satu kali sehingga terdengar bunyi ... ‘tok’.
“Jika aku mengetuk kentongan ini dua kali ....” Refald berhenti bicara dan mengetuk kentongan tersebut dua kali seperti yang dibilang Refald sampai terdengar bunyi ... ‘tok tok’. “Maka kau harus mengeluarkan pedangmu dari dalam lubang sumur istrimu. Jika aku mengetuk kentongan ini satu kali lagi, kau masukkan kembali pedangmu. Dan jika aku mengetuk dua kali, kau harus mengeluarkannya lagi. Apa kau paham maksudku?” tanya Refald memerhatikan wajah pak Po serta menunggu reaksinya.
Lama juga pak Po terdiam dan akhirnya ia mulai bersuara setelah beberapa menit berlalu. “Maksud pangeran, jika anda mengetuk kentongan itu satu kali, maka aku harus memasukkan pedangku, dan jika anda mengetuk dua kali maka aku harus mengeluarkan pedangku begitu pula seterusnya. Apa benar begitu, Pangeran?” tanya pak Po dengan wajah bloonya.
“Benar.” Refald tersenyum senang. Akhirnya, Refald bisa bernapas lega karena pak Po mengerti juga.
“Apa harus saya coba sekarang?” Kini, giliran pak Po yang jadi tidak sabaran.
“Jangan! Nanti malam saja? kalau aku sudah memberimu kode. Kau baru boleh melakukannya.”
“Baik pangeran. Apa sekarang saya boleh pergi?” tanya pak Po.
“Pergilah!” Refald menatap Fey yang berdiri membelakanginya. Sebenarnya, sejak tadi istri Refald itu sudah mati-matian menahan tawa mendengar penjelasan Refald pada pak Po.
“Jangan ditahan, Honey! Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!” ujar Refald sambil memeluk Fey dari belakang.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***