Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 47 Caraka


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan di tempat ini sendirian, ha?” tanyaku saat aku berada dibelakangnya. Refald berbalik kearahku dan melihatku.


“Kau sendiri? Kenapa kau kemari?”


“Jawab dulu pertanyaanku, baru aku akan jawab pertanyaanmu. Jangan bilang kalau kau mau memancing lagi.”


Refald hanya tersenyum melihatku dan menggamit tanganku. “Aku tidak memancing, aku hanya mengamati.”


“Mengamati apa? Siapa yang kau amati?” aku melihat sekeliling dan tidak menemukan apa-apa selain diriku dan Refald. “Tidak ada siapa-siapa di sini? Apa kau berencana ingin mengintip orang mandi?”


Refald menempelkan jari telunjuknya dijidatku.”Apa aku seburuk itu dimatamu? Untuk apa aku mengintip orang mandi di sini? Aku tidak tertarik melihat orang mandi. Kau harus ingat itu. Kecuali, jika kau sendiri yang mandi, baru aku tertarik.” Refald menyeringai nakal. Tapi aku tidak akan terpengaruh olehnya.


“Oh iya? Sayang sekali aku tidak akan pernah mandi di sini selama kau masih ada di sini. Jadi, silahkan bermimpi!”


Refald manggut-manggut. “Tidak untuk saat ini, tapi nanti, lagipula aku tidak akan mengizinkanmu mandi di sini. Terlalu banyak orang. Bisa-bisa bukan aku saja yang bisa melihatmu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”


“Sudahlah! Apa yang kau bicarakan? Bisa kita kembali ke topik awal kita?” aku sedang tidak ingin membahas hal bodoh yang ada dipikiran Refald.


“Topik apa?”


Aku kesal dengan Refald yang pura-pura tidak tahu tentang apa yang ingin kuketahui. “Apa yang kau amati? Tidak ada apapun di sini.”


Refald tersenyum sambil menatap derasnya aliran sungai yang mengalir di depan kami. Hari sudah mulai gelap, jadi aku tidak bisa melihat apapun yang ada di sini selain hutan dan sekitarnya.


Apanya yang lucu? Kenapa dia tersenyum seperti itu?


“Sebelum memancing ikan, kau harus mengamati pergerakan ikan itu terlebih dulu, jika sudah tahu pergerakannya, kau bisa melemparinya umpan supaya ikan itu mau terpancing. Itulah yang kulakukan sekarang.”


Aku sedikit bingung dengan kata-kata Refald sehingga tanpa sadar, aku melangkah maju mendekati sungai dan mengamati ikan-ikan yang ada didalamnya, tapi tidak ada satu pun ikan yang terlihat. Padahal, waktu itu aku sempat melihat banyak sekali ikan yang berloncat ke sana kemari dan muncul dipermukaan.


“Apa ikan-ikan itu punya jadwal kapan akan muncul dan tidak? Aku tak menemukan seekor ikan pun di sini.”Mataku terus mengawasi aliran sungai.


Refald hanya tersenyum melihat gerak-gerikku. “Tentu saja mereka semua langsung kabur begitu tahu kau datang, kau itu kan menakutkan sekali,”godanya.


“Aku sedang tidak ingin bercanda, Refald.”


“Baiklah,” Refald masih menggenggam tanganku sambil tersenyum. “Apa rapatnya sudah selesai?” ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


Aku mengangguk. Ia memang begitu, ia selalu tahu cara membuatku agar tidak kesal lagi padanya.


“Kalau begitu, makanlah ini.” Refald memberiku sebuah kotak putih yang berukuran sedang.


“Apa ini?” aku menerima kotak itu dan mengamatinya. Tercium bau masakan yang menyengat dan sangat menggiurkan membuat perutku jadi keroncongan.


“Aku tahu dari tadi kau belum makan apa-apa. Kau bisa sakit jika kau tidak makan.”


“Sejak kapa kau menyiapkan semua ini?”


“Sejak tadi, saat kau dan teman-temanmu masih rapat di dalam tenda.”


“Kau ini? Tiba-tiba saja aku merasa terharu sekali ....“ aku melihat Refald yang juga melihatku. “Selama ini aku tidak biasa diperhatikan, ini jadi sangat aneh.”


“Aku tahu. Rasa aneh itu akan hilang dengan sendirinya, karena mulai saat ini aku akan menjaga dan melindungimu.”


“Aku sudah dengar itu berulang kali. Jika kau mengulanginya lagi, aku bisa bosan mendengarnya.”


“Baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang makanlah.”

__ADS_1


“Lalu, kau sendiri?”


“Aku sudah makan.”


“Tapi aku tidak melihatmu makan apapun sejak kemarin, kau juga tidak tidur, apa kau baik-baik saja?”


“Jangan khawatirkan aku. Kau tidak tahu betapa kuatnya diriku. Lihat! Aku baik-baik saja, kan?”


“Aku tidak mengerti, tapi terserah kau saja. Aku akan makan ini bersama dengan teman-temanku jika kau tidak mau makan.” Aku mau beranjak pergi tapi Refald menahanku dengan tidak mau melepaskan genggamannya.


“Kau tidak perlu pergi. Semua teman-temanmu saat ini pasti sudah makan semua. Begitu juga dengan para juniormu.” Refald memberitahuku.


“Apa kau yang memesankan makanan untuk mereka lagi?”


Refald mengangguk.


“Terimakasih Refald, aku ....” Refald langsung mendaratkan ciuman manisnya dibibirku dengan lembut.


“Sama-sama,”ujar Refald setelah menyudahi ciumannya dan terus melihatku dengan penuh cinta.


Wajahku merona merah saat Refald menatapku seperti itu. Sepanjang aku mengenalnya, ini pertama kalinya aku sangat malu berada didepannya, tapi Refald malah tersenyum puas melihatku dan menenggelamkanku dalam pelukannya.


“Kau ini ... apa kau tahu? Wajahmu benar-benar seperti semangka.”


Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku senang sekali hari ini. Biasanya aku akan langsung kesal atau marah jika Refald bersikap mendadak romantis begitu, tapi sekarang aku tidak kesal lagi. Padahal ini bukan pertama kalinya Refald menciumku.


Tanpa sengaja, tanganku mendarat dilengannya yang di perban sehingga membuatku teringat akan lukanya. “Bagaimana dengan lukamu?” aku melepaskan pelukan Refald dan mengamati lengannya yang masih di perban.


“Sudah tidak apa-apa. Berapa kali harus kubilang, aku sangat kuat.”


“Sakit, tapi tidak masalah ... hanya dengan melihatmu saja, rasa sakitnya jadi hilang.”


Lagi-lagi dia sok romantis.


“Apa benar tidak apa-apa?” Aku begitu mencemaskannya, bagaimanapun juga tangannya jadi seperti ini gara-gara ulahku.


Refald hanya menatapku tanpa ekspresi dan lagi-lagi ia mendaratkan ciuman mesranya dibibirku. Jantungku semakin cepat berdetak dan aku hampir saja tidak bisa bernapas.


“Aku akan baik-baik saja, Honey.” Refald menyudahi ciumannya lagi, tapi wajahnya masih ia lekatkan diwajahku. Aku hanya menunduk tanpa mampu menatapnya. “Besok aku akan pergi lebih awal. Setelah itu aku akan menjemputmu ke sini. Sebaiknya kau istirahat sebelum wajahmu semakin merah. Rasanya aku ingin sekali memakanmu kalau wajahmu terus-terusan seperti itu.”


Aku mendorong tubuh Refald menjauh dariku. “Kau memang sudah gila!” seruku.


Aku langsung berlari meninggalkan Refald dan pergi menemui yang lainnya. Jika aku terus bersama dengan Refald aku tidak bisa menguasai diriku lagi. Pesona Refald benar-benar membuatku mabuk kepayang seolah menari di atas awan.


Haaahhhhhh ... aku tidak tahu lagi bagaimana aku bisa menghadapi pesonanya yang semakin membuatku tidak berkutik bila bersamanya. Apa ini rasanya cinta? Kenapa aneh sekali?


***


Setelah acara makan-makan yang dipesankan oleh Refald. Semua orang kembali ke tenda masing-masing dan memanfaatkan waktu untuk istirahat semaksimal mungkin. Mereka juga diperbolehkan untuk tidur lebih awal karena tengah malam nanti semua orang harus bangun untuk mengikuti kegiatan caraka.


“Apa itu caraka? Kenapa aku baru mendengarnya? Dalam komunitasku aku tidak pernah mendengar istilah seperti itu,” tanya Refald saat kami berkumpul bersama di depan api unggun.


“Kau yakin kau tidak pernah mendengarnya?” bisikku pada Refald.


“Ehm ... aku baru tahu darimu.”


“Kau pendaki kelas kakap tapi tidak tahu apa itu caraka?”

__ADS_1


“Caraka adalah ... “ jawab Alex. “Sebuah kegiatan yang bisa dikatakan sebagai unjuk keberanian diri atau unjuk nyali. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur seberapa besar nyali anggota PA ketika dia berada di dalam hutan terutama ketika ia berada dikegelapan, apalagi disaat sendirian. Mereka yang mengikuti kegiatan caraka dilatih agar bisa bersatu dengan alam untuk menemukan jalan keluar jika mereka tersesat di dalam hutan yang gelap tanpa pencahayaan apapun dan hanya bisa mengandalkan sinar bulan jika ada. Itulah kegiatan yang akan kita lakukan malam ini. Para junior akan dibangunkan satu persatu untuk menyusuri jalan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Mereka akan menelusuri rute dari sini dan akan kembali lagi ke sini. Jarak waktu antara satu orang dan orang yang lainnya adalah 10 menit.”


Refald menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Acara yang bagus. Apa ini hanya boleh diikuti para junior saja?”


“Iya, para senior yang ada di sini sudah pernah mengikutinya.”


“Bagaimana denganmu, Honey?” Refald beralih memandangku. "Apa kau juga pernah mengikuti acara ini?”


“Tentu saja dia ikut!” jawab Yoshi. “Dia terlalu takut sampai salah mengucap kata sandi.”


“Kata sandi?” Refald mengernyitkan dahinya.


“Saat menyusuri rute, ada beberapa pos yang di jaga oleh beberapa senior untuk memantau dan mengawasi para junior agar mereka tidak saling menunggu di jalan akibat rasa takut dan menghindarkan mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika mereka bertemu senior yang berjaga di pos, mereka harus mengucapkan kata sandi. Jika senior itu diam, maka junior bisa melanjutkan perjalanan mereka. Namun, jika senior itu menjawab sandinya, maka junior itu harus berhenti sejenak untuk mendapatkan pengarahan dari senior itu.”


“Lalu, sandi apa yang diucapkan istriku sehingga dia salah menyebut kata sandi?”


Aku memberikan kode pada Yoshi agar tidak memberitahukannya pada Refald. Aku sudah kehilangan muka di sini. Bisa-bisanya Yoshi membuka rahasiaku di depan Refald meski semua orang yang ada di sini sudah tahu insidenku saat masih menjadi junior dulu.


Yoshi hanya menatapku untuk memahami kode dariku.


“Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa kalian saling menatap seperti itu? Apa yang kalian sembunyikan dariku?”


“Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Istrimu memintaku merahasiakannya darimu.”


Aku memelototi Yoshi tapi Refald malah menghalangi pandangaku dari Yoshi sehingga hanya dia yang terlihat olehku. Refald menggeser duduknya tepat didepanku.


“Katakan padaku! Apa yang kau sembunyikan dariku? Kenapa orang lain kau biarkan tahu rahasiamu sedangkan aku tidak?”tatapan mata Refald kali ini terlihat sangat menakutkan.


Entah kenapa aku merasa Refald mengintimidasiku sehingga aku jadi gugup. Meski bukan pertama kalinya Refald bersikap seperti ini, tetap saja aku tidak enak hati sendiri.


“Itu bukan rahasia,” ujarku membela diri. “Aku hanya salah mengucapkan kata sandi, apanya yang rahasia?”


Refald kembali ke tempat duduknya dan kembali bertanya pada Yoshi dan sedikit mengacuhkanku.


“Sandi apa yang dia ucapakan?”tanya Refald pada para seniorku.


Semua orang saling pandang dan tersenyum mengingat kata sandi yang dulu salah kuucapkan. Padahal, Yoshi belum memberitahu Refald apa kata sandinya.


“Kami dulu memakai kata sandi ‘Mbah, putumu liwat’ tapi dia malah salah mengucap ‘Mbah untumu liwat’!”


Semua orang langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Yoshi, kecuali Refald yang masih diam membisu. Entah dia mengerti atau tidak arti kata yang dibicarakan Yoshi.


“Aku tidak habis pikir kenapa kau bisa salah ucap kata itu?” tanya Joni yang diiringi tawa kekasihnya yang duduk disebelahnya.


“Dia terlalu takut waktu itu, untung saja ia tidak pingsan,” Jawab Yoshi.


“Jika ada setan yang mendengar dia mengucapkan kata sandi seperti itu, mungkin setannya yang akan pingsan.” Celetukan Alex membuat semua yang mendengarnya kembali tertawa.


Yah ... silahkan kalian semua membullyku sepuasnya.


Melihat Refald yang masih diam tanpa bicara apa-apa dengan tatapan tidak mengerti, membuat kami semua yang ada di sini langsung ikutan diam. Mereka mungkin mengira Refald sedang marah.


“Kenapa kau diam saja, Bro, kau sudah tahu kata sandi apa yang salah diucapkan istrimu.”


Tidak ada sahutan, ekspresi Refald terlihat datar sedatar-datarnya.


****

__ADS_1


__ADS_2