Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 98 Tertangkap


__ADS_3

Refald membawaku menaiki sebuah bukit kecil dimana terdapat goa diatasnya. Kami masuk dan berteduh di dalam goa tersebut sambil melihat betapa derasnya hujan mengguyur wilayah ini. Ukuran goa pun lumayan luas juga. Dari sini, kami bisa melihat hamparan hutan rimba yang membentang luas di hadapan kami.


“Aku baru tahu ada tempat seindah ini. Jika tidak hujan pasti bakal lebih bagus lagi,” gumamku lirih antara takjub dan cemas campur aduk menjadi satu.


“Kau tidak apa-apa, Honey?” tanya Refald, dia menatapku karena aku sedang menggigil kedinginan.


“Ehm, aku tidak apa-apa,” elakku, padahal aku benar-benar kedinginan dan sudah mulai agak tidak enak badan.


“Tunggu disini, jangan ikuti aku. Aku akan segera kembali.” Tanpa menunggu persetujuanku Refald berjalan masuk lebih jauh ke dalam gua.


“Kau mau ke mana? Aku ikut!” teriakku menghentikan langkah Refald.


“Tidak, Honey. Kau tetap di sini. Aku takut jika aku membawamu malah tidak akan bisa kembali. Tunggulah di sini sebentar.”


“Refald, kau jangan menakutiku, memangnya kau mau pergi ke mana? Kau sudah tidak punya kekuatan lagi sekarang. Jangan tinggalkan aku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Atau ... padaku?” Aku takut jika tidak ada Refald disisiku, aku semakin gemetaran di sini. Dan bahaya apapun juga bisa mengancamku. Sangat berbeda jika ada Refald disampingku.


“Aku hanya akan mencari kayu bakar kering untuk menghangatkanmu. Siapa tahu di dalam sana ada kayu kering yang bisa kita gunakan untuk api unggun. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, oke. Kau aman di sini, Honey. Aku akan segera kembali.” Refald pun menghilang jauh ke dalam goa. Aku ingin sekali mengejarnya tapi langkah kakiku seolah tertahan oleh sesuatu sehingga aku mengurungkan niatku menyusul Refald.


Aku mengamati sekeliling goa yang ditumbuhi semak belukar dan juga suasananya lumayan gelap. Kakiku melangkah pelan mengarah batu besar yang ada di dinding goa lalu duduk diatasnya. Aku terus memerhatikan arah ke mana Refald tadi pergi dengan harap-harap cemas dan berusaha mengusir pikiran negatifku tentangnya.


“Semoga Refald cepat kembali dalam keadaan selamat. Kenapa dia nekat pergi begitu saja. Padahal kekuatannya kan sedang hilang. Apa tidak apa-apa berjalan ke dalam goa yang gelap itu sendirian?” aku terus melongok ke dalam berharap Refald cepat muncul kembali. Aku mulai takut sendiri karena tidak ada tanda-tanda Refald datang lagi.


“Dasar bodoh! Kenapa dia meninggalkanku sendirian di sini! Tidakkah dia tahu kalau aku sangat ketakutan?” gumamku sembari mondar-mandir mencemaskan Refald.


Selang beberapa menit, Refald akhirnya muncul dan membawa banyak sekali kayu bakar. Ia meletakkan kayu bakar tersebut di dekat batu besar yang bisa menghalangi angin agar tidak mematikan apinya jika Refald mulai mematuk api unggun untuk menghangatkan kami berdua.


Entah bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kayu bakar kering sebanyak itu. Aku hanya menebak, pasti berkat bantuan makhluk tak kasat mata yang ia temui di dalam goa.


Aku akui, Refald memang luar biasa meski tanpa kekuatannya. Sebelumnya, dia terlihat keren bagai Edward di dunia nyata dengan kekuatan supranaturalnya, tapi sekarang aku merasa dia lebih mirip Inuyasha si manusia setengah siluman yang akan jadi manusia seutuhnya saat memasuki bulan baru. Bedanya, Inuyasha hanya berubah jadi manusia biasa dalam waktu sehari semalam saja. Sedangkan Refald akan menjadi manusia sama seperti yang lainnya dalam jangka waktu 1 bulan, lebih lama dari Inuyasha.


“Tokoh siapa lagi yang kau bandingkan denganku?” tanya Refald saat ia berhasil menyalakan api unggun sehingga tubuh kami menjadi hangat.

__ADS_1


“Kau tidak perlu tahu,” jawabku sewot. “Aku senang, karena kekuatanmu hilang. Jadi, untuk sementara, kau tidak bisa meledekku tentang apapun yang aku pikirkan.” Aku tersenyum senang melihat Refald yang juga sedang menatapku tanpa kedip. “Kenapa kau melihatku begitu?”


“Lepaskan bajumu dan berikan padaku,” pintanya tiba-tiba.


Permintaan Refald membuatku terkejut. “Kau mau aku kedinginan, ha?”


“Bajumu yang basah itu akan membuatmu sakit, lepaskan saja dulu. Aku tahu kau masih memakai kaos dalam. Lagi pula, di sini tidak ada siapa-siapa selain aku. Tidak masalah, kan?”


“Tapi ada dedemit yang kau lihat.”


“Mereka sudah pergi, aku mengusirnya. Tempat ini seperti kamar khusus buat kita berdua.”


Aku hanya bisa menghela napas berat saat Refald mulai kumat melanturnya. “Kau saja yang ...” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, Refald sudah mulai menanggalkan pakaiannya yang basah dan meletakkannya diatas batu besar dibelakangnya. Sekarang, dia hanya memakai kaos dalam tanpa lengan.



“Lepaskan Honey, apa kau ingin aku membantumu melepas pakaianmu?”


“Kemarilah, duduklah disampingku,” pintanya.


“Tidak mau!”


“Kenapa?”


“Kau manusia biasa sekarang, akan berbahaya kalau kita duduk berdekatan disaat seperti ini.” entah kenapa aku jadi berkata jujur sekali.


“Apa kau pikir aku akan menodai tunanganku sendiri? Aku tidak sebejad itu meskipun aku ingin.” Refald berdiri dan duduk disampingku tanpa peringatan. “Kita hanya perlu saling menghangatkan saja, Honey ... dalam artian yang positif tentunya.” Refald bersandar di dinding batu dan menarikku ke dalam pelukannya. “Jangan berpikiran negatif tentangku, aku akan menjagamu, tidak hanya keselamatanmu saja, tapi juga kehormatanmu sebagai wanita, karena kau adalah pengantinku.” Refald mencium keningku dengan mesra.


Aku bersandar di dada Refald, dan mulai merasa hangat. Dia benar, aku saja yang terlalu naif memikirkan hal yang tidak mungin dilakukan oleh seorang pangeran seperti Refald. Tentu saja dia akan selalu menjaga dan melindungiku. Dia bukan binatang yang selalu memanfaatkan kesempatan seperti pria hidung belang pada umumnya. Refald sangat berbeda dengan pria manapun di luar sana. Sejujurnya, aku merasa Refald seolah hanya tercipta untukku dan aku pun juga hanya tercipta untuknya.


“Setelah ini, apa yang akan kita lakukan bila hujan reda,” tanyaku.

__ADS_1


“Kita harus segera mencari jalan keluar dari sini, aku yakin para penjahat itu sedang mencari keberadaan kita.”


“Apa kau tahu siapa dalang di balik semua ini?”


“Aku tahu, tapi aku sudah kehilangan kekuatanku, jadi aku tidak bisa menangkapnya karena aku masih SMA."


“Siapa dia?” tanyaku penasaran.


“Orang yang menginginkan flasdisk.”


“Flasdisk yang kita temukan di hutan waktu itu? Boleh aku tahu ada di mana flashdisk itu sekarang?” tanyaku penasaran. Sejak saat itu aku memang tidak tahu dimana Refald menyimpan benda itu.


“Ada di tempat yang aman, kau tenang saja. Sekarang tidurlah sambil menunggu hujan reda. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan.”


“Memangnya isinya apa?” aku masih penasaran kenapa penjahat itu mengincar nyawa kami hanya demi bisa mendapatkan benda kecil itu. Pasti isinya sangatlah penting.


“Jika yang mengincar bisa melakukan segala macam cara termasuk tindak kriminal, berarti isinya tentu hal yang mengandung unsur kriminal juga.”


“Ah, kau benar. Mereka bahkan menculikku untuk memancing kedatanganmu. Itu artinya ada hal yang berbahaya dalam flashdisk itu.”


“Sudahlah, jangan dipikirkan, tidurlah sambil memulihkan tenaga, karena perjalanan kita masih sangat panjang.” Refald mengeratkan pelukannya padaku.


Aku pun setuju dengan Refald karena aku sendiri juga mulai mengantuk. Tanpa terasa, aku mulai terlelap didekapannya tanpa mimpi, mungkin aku terlalu lelah.


Samar-samar, aku melihat ada banyak sekali kaki yang berdiri didepanku saat aku mulai membuka mataku. Aku sangat terkejut dengan apa yang aku lihat ini. Refald duduk bersimpuh dengan kepala menunduk dan tangan terikat ke belakang. Mataku terbelalak dan mengerjap tak percaya.


Aku sangat terkejut dan bangun seketika, tapi tiba-tiba saja, ada senjata api sedang menempel keras dikepalaku. “Diam dan jangan bergerak, jika tidak, pacarmu itu akan mati.” Aku melirik orang yang menodongkan pistolnya padaku dan betapa terkejutnya aku setelah tahu, siapa orang itu.


Bukankah dia ....


****

__ADS_1


__ADS_2