Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 125 Suasana Hati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Refald hanya diam dan tak banyak bicara. Tangannya tetap menggenggam erat tanganku. Sementara aku sendiri juga bingung harus berkata apa. Refald tidak terlihat marah, tapi apa yang ia lakukan pada pria asing tadi, sangat mengerikan. Jika dalam keadaan tidak marah saja bisa sampai seperti itu, apalagi kalau sampai marah?


Sepertinya, aku harus lebih berhati-hati lagi. Jangan sampai orang lain celaka karena aku. Pikirku.


“Dia ingin berbuat jahat padamu. Di saku celananya, sudah ada sapu tangan dicampur dengan obat bius yang siap membiusmu dan kau bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku tidak segera memberinya pelajaran.” Refald mulai berbicara sambil terus menatap lurus ke depan tanpa mau melihatku. “Meski dia gagal mendapatkanmu, penjahat kelamin itu akan mencari sasaran berikutnya. Aku hanya membuatnya gagar otak ringan, supaya saat ia sadar, pria itu akan selalu ingat kejadian yang menimpanya seandainya ia hendak berbuat jahat lagi,” terang Refald setelah membaca pikiranku.


Seketika aku berhenti berjalan dan terpaku, tanganku menarik tangan Refald yang terus melangkah didepanku sehingga ia pun ikut berhenti dan menatapku. “Ada apa? Kenapa kau berhenti? Kita harus segera berangkat.” Tangan kami saling tarik menarik.


Untuk sesaat, aku diam dan tidak mau berkata apa-apa. Secepat kilat, aku bergerak cepat dan memberikan hadiah ciuman manis pada Refald karena ia sudah menyelamatku dari orang jahat seperti pria asing tadi. “Terimakasih, Suamiku!” aku tersenyum setelah menyudahi ciumanku dan berjalan cepat mendahuluinya.


Apa yang aku lakukan barusan sungguh membuatku malu, mungkin wajahku sudah memerah semerah semangka. Aku memegang kedua pipiku yang terasa panas dan menenangkan jantungku sendiri karena berdetak kencang. “Apa yang sudah aku lakukan tadi? Aku mencium Refald begitu saja? Mau di taruh di mana mukaku?” aku terus berjalan cepat sambil menunduk.


Tanpa kuduga, dari belakang Refald menggendongku dalam pelukannya dan kami langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang melewati kami. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku? Malu tahu dilihatin banyak orang?” aku berusaha melepaskan diri tapi aku kesulitan bergerak. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan kekuatan Refald.


“Kau tidak malu menciumku di keramaian tadi, kenapa mesti malu saat kugendong. Aku tidak ingin istriku kelelahan karena jantungnya berdetak sangat kencang.” Refald menyeringai dan terus saja berjalan cepat bahkan ia terlihat seolah berlari. Ia sama sekali tidak peduli dengan banyaknya pasang mata memerhatikan kami.


Sebagian besar memandang iri kami, tapi tak sedikit pula yang menghujat aksi Refald yang terlalu berlebihan. Namun, Refald benar-benar bodo amat, ia terus saja menggendongku sampai kami memasuki pesawat yang kami tuju.


Benar apa yang dikatakan Refald, kedua orang tuanya sudah menunggu kami di dalam pesawat. Penumpang pesawat ini hanya kami berempat, tempatnya juga sangat luas ala hotel bintang lima. Pasti ini adalah pesawat pribadi milik Refald dan keluarganya.


“Kenapa kau menggendongnya? Apa yang terjadi dengan, Shiyuri?” tanya Ayah Refald.


“Kau apakan menantuku? Dasar bocah tengik?” Ibu Refald juga tak mau kalah. Mereka berdua mengkhawatirkan keadaanku.


Refald mendudukkanku di sebuah kursi panjang lalu menghadap kedua orang tuanya yang berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


“Aku menyelamatkan menantu kalian dari sasaran orang jahat! Puas!” Refald pun pergi ke belakang, sepertinya ia masuk ke dalam toilet pesawat. Entah apa yang ia lakukan di sana.


“Apa yang dikatakan bocah tengik itu?” tanya ibu mertuaku karena tidak mengerti maksud Refald.


Aku pun menjelaskan kronologi kejadian yang hampir saja membuatku celaka jika Refald tidak melindungiku tepat waktu.


“Huh, bocah tengik itu tahu bagaimana cara melindungi istrinya, syukurlah kalau begitu. Apa kau baik-baik saja?” tanya ibu mertuaku.


"Ehm, aku baik-baik saja, Ibu. Berkat Refald."


"Baiklah, sekarang istirahatlah karena perjalanan kita masih jauh," ucap ibu mertuaku dan ia pun duduk di kabinnya diikuti oleh suaminya.


Seorang pramugari seksi datang memberitahu bahwa kami akan segera lepas landas. Perjalanan ke Jepang memakan waktu kurang lebih delapan jam. Sebisa mungkin, kugunakan waktu itu agar bisa menata hati dan bersiap menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku yang sudah hampir satu dekade kulupakan.


“Kakakmu juga sangat merindukanmu, ia ingin bertemu denganmu tapi ia tidak ingin melanggar sumpah yang sudah ia ucapkan padamu. Dia pasti sangat senang melihatmu datang di hari bahagianya,” terang Refald yang entah sejak kapan ia duduk di sebelahku.


“Kau tahu segalanya tentangku, Refald. Sebagai adik satu-satunya, aku sangat merasa bersalah pada kakakku karena tidak bisa membantu menyiapkan acara pernikahannya. Aku memang adik yang tidak berguna.” Hatiku sedih memikirkan semua kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini. Aku berharap, Sakura mau memaafkanku.


“Hadiah pernikahanmu yang sebentar lagi siap, juga merupakan hadiah pernikahan kakakmu yang tak akan pernah ia bayangkan dalam hidupnya Kau memberikan kebahagiaan yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh ayah dan kakakmu. Itu sudah lebih dari cukup untuk menebus semua kesalahan yang pernah kau lakukan pada mereka. Honey, kau sangat luar biasa. Ayah dan Sakura sangat menyangimu. Mereka pasti bisa mengerti apa yang kau rasakan, baik dulu ataupun sekarang.” Refald mencium keningku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.


“Ehm, aku juga ingin menunjukkan sesuatu pada Sakura dan juga kalian semua sebelum hadiah pernikahanku yang kuminta datang.” Aku sangat senang karena bersama Refald hatiku yang tadinya kalut menjadi tenang kembali.


“Oh, iya? Apa itu? Kenapa aku tidak tahu?” Refald menatapku dan mengusap lembut kepalaku.


“Karena aku sengaja tidak memikirkannya, itu kejutan dariku. Lihat saja nanti.” Aku memeluk lengan Refald sambil tersenyum tanpa memikirkan apapun.

__ADS_1


“Kau mulai main teka-teki denganku? Tapi aku akan segera tahu.” Lagi-lagi Refald menggenggam erat tanganku.


“Kau tidak akan pernah tahu. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu tahu kejutanku,” ujarku penuh percaya diri sambil terus rebahan di bahu suamiku. “Oh, iya. Aku tidak melihat mbak Kun dan Pak Po. Apa mereka akan datang kalau aku memanggil mereka?”


“Mbak Kun sudah ada di Jepang, dia jatuh cinta pada sosok hantu Jepang. Aku tertawa saat pak Po merengek padaku agar menghentikan mereka. Pak Po benar-benar membuatku sakit kepala.”


“Oh, iya? Jadi ini kisah cinta segitiga para hantu? Lalu, ada dimana pak Po sekarang?”


“Di toilet,” jawab Refald.


“Apa? Ngapain dia di toilet?”


“Kau lihat saja sendiri!”


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Tidak! Aku tidak mau, cepat usir dia dari toilet!”


“Kenapa? biarkan saja dia? Mungkin dia juga lagi caper dengan hantu toilet,” jawab Refald santai.


“Aku mau ke toilet? Kau mau Pak Po melihatku di sana?”


“Haish, sial! Tunggu di sini!” Refald langsung berdiri dan masuk ke dalam toilet, entah apa yang sedang ia lakukan di dalam situ.


****


__ADS_1


__ADS_2