
Fey menatap Refald untuk meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. Namun, Refald sepertinya enggan menjelaskannya sekarang, ia hanya bisa salah tingkah di depan nenek Fey yang sudah mulai membongkar sedikit rahasianya selama ini. Padahal, Refald berencana mau memberitahu Fey semuanya lewat kejutan yang sudah ia siapkan, tapi rencana itu kini gagal total.
“Nenek, kenapa Nenek mengungkit-ungkit masalah itu?” Refald masih belum mau menatap wajah Fey yang sejak tadi terus melihatnya.
“Sampai kapan kau mau menyembunyikannya? Fey juga sudah mencintaimu. Harusnya, sudah tidak ada rahasia lagi diantara kalian berdua.”
“Tapi Nek. Waktunya belum tepat, haish Nenek ... apa Nenek tidak lihat bagaimana cucu Nenek ini menatapku? Dia seolah mau membunuhku dengan cintanya, Nek.” Refald mulai mengeluarkan jurus gombalnya.
“Bagus dong, kau akan mati karena cintanya yang begitu besar padamu.” Nenek Fey sepertinya ikut memeriahkan jurus andalan Refald. Padahal obrolan mereka sama sekali tidak nyambung.
“Bagaimana kalau aku beneran mati karena cinta Fey yang begitu besar padaku, Nek?”
“Maka Fey akan menguburmu dengan semua cinta yang dia punya.” Jawaban nenek Fey, semakin lama semakin ngelantur saja.
“Nenek? Benarkah Nenek akan membiarkan Fey membunuhku dengan semua cinta yang dia punya? Lalu bagaimana dengan cintaku padanya, Nek?”
“Cintamu padanya akan selalu ada bersamanya meskipun kau mati karena dibunuh dengan cintanya.”
Fey benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, dua orang yang ada dihadapannya ini benar-benar menjengkelkan.
“Hey kalian berdua!” seru Fey. “Apa yang kalian bicarakan, ha? Cinta apanya? Kau jahat Refald, Nenek juga. Kalian berdua bermain api dibelakangku! Aku benci kalian berdua!” Fey langsung ngambek melihat sikap Nenek dan Refald padanya.
Bagaimana bisa mereka mempermainkan perasaanku saat ini. Mereka bicara, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Atas dasar cinta apanya? Dasar menyebalkan! Batin Fey dengan kesal.
Gadis itu berjalan cepat menaiki tangga tanpa peduli lagi pada dua orang yang berdebat soal cinta yang tidak jelas itu.
“Cepat susul istrimu,” pinta Nenek pada Refald sambil tersenyum.
“Baik, Nek.” Refald langsung menyusul Fey menaiki tangga lalu menggendong tubuh mungil itu tanpa izin terlebih dulu.
“Turunkan aku! Apa yang kau lakukan?” berontak Fey, tapi Refald sama sekali tidak menggubris penolakannya.
Secepat kilat, Refald berlari menuju kamar mereka dalam hitungan detik saja. Ia membaringkan Fey diatas tempat tidurnya. Namun, karena Fey lagi ngambek akut, ia tidak mau tidur dan mencoba kembali bangun. Sayangnya, gerakan Fey kalah cepat dengan suaminya yang menahan tubuh Fey agar tidak bisa bergerak dan tetap berbaring di tempat tidur. Refald duduk disamping Fey sambil memegang kuat kedua tangan istrinya yang terlentang.
“Jangan marah, Honey. Aku dan nenek tidak bermaksud menyembunyikan apa-apa darimu. Tadi itu, aku hanya bercanda dengan Nenek ....”
“Wuaaah, daebak.” Fey memotong kalimat Refald. “Aku saja tidak pernah bercanda dengan nenek seperti itu? Kalian sepertinya sangat dekat sekali, ya?” Refald mendapat sindiran telak dari Fey.
“Honey, dengarkan aku dulu. Kau salah paham, terlalu banyak hal yang sudah terjadi sampai aku lupa memberitahumu sebuah rahasia yang sudah aku simpan dari dulu. Aku berencana memberimu kejutan di waktu yang tepat, tapi nenek sudah merusak kejutanku.”
“Aku masih belum tahu kejutan apa yang kau maksud? Jadi kau tenang saja,” sindir Fey lagi.
“Baiklah, maafkan aku. Untuk sekarang, istirahatlah dulu, kau tidak boleh marah-marah terus. Pikirkan Refald kecil yang ada diperutmu. Aku janji, setelah kau cukup istrahat aku akan mengajakmu ke suatu tempat dimana kau akan mengetahui semua rahasia yang sudah aku simpan rapat-rapat selama ini.”
“Sungguh, kau tidak bohong?” tanya Fey agak ragu pada Refald.
“Sumpah demi cintaku padamu, aku rela diubah menjadi semakin tampan jika aku mengingkari janjiku.” Refald mengangkat tangannya membentuk huruf V untuk meyakinkan Fey.
“Apa-apaan itu? Mana ada sumpah seperti itu? Kau sengaja mengerjaiku lagi? Apa aku ini sebuah mainan bagimu?”
“Tidak, Honey. Siapa yang bilang kau mainanku? Kau adalah istriku. Dan istri tercintaku ini sedang mengandung buah hati pernikahan kami. Mana mungkin aku mengerjai ibu dari calon anakku?”
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapimu, kenapa aku merasa kata-katamu itu isinya gombalan semua?”
“Aku tidak sedang ngegombal Honey, aku bukan Leo.”
“Leo jadi seperti itu pasti karena kau yang mengajarinya! Apalagi kau itu kakaknya. Segala hal yang kau ajarkan padanya pasti diterapkan sama dia. Tidak heran kalau dia jadi punya sifat nggak ada akhlak gitu!”
__ADS_1
“Kenapa malah membicarakan soal Leo, sih? Bagaimana kalau ... aku mengunjungi Refald kecil?” Refald semakin mengeratkan pelukannya tapi ia tetap hati-hati agar tidak sampai menindih perut istrinya.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak mau!” pekik Fey langsung dan mencoba beringsut dari pelukan Refald.
“Ayolah, Honey. Aku akan melakukannya pelan-pelan.” Refald berusaha merayu Fey agar mau bercinta dengannya.
“Tidak mau! Pergi sana!” Fey berusaha mendorong tubuh suaminya yang terus saja memeluknya.
“Aku tidak mau pergi sebelum berhasil mengunjungi Refald kecil.” Refald tersenyum melihat Fey menatapnya bengong.
“Kau bilang, kau mau memberi ruang Refald kecil untuk berkembang. Kenapa kau malah ingin menemuinya sekarang?”
“Kau yang membuatku ingin bertemu dengannya, kau harus bertanggungjawab.”
“Hah? Kenapa aku? Memangnya apa yang aku lakukan padamu?”
“Pokoknya aku mau mengunjunginya sekarang!” Refald tetap bersikukuh dengan keinginannya.
“Kenapa sekarang kau yang jadi mirip Leo, sih?” Fey mulai geram pada Refald.
“Kau sendiri yang bilang, karena aku adalah kakaknya!” Refald mengedipkan salah satu matanya pada Fey.
“Kalian berdua memang gila!”
“Kau benar, aku tergila-gila padamu sampai tidak ingin melepaskanmu sekarang. Sini, buka bajumu!” paksa Refald.
“Tidak mau! Kau saja yang buka!”
Ups, kenapa aku malah menyuruh Refald? batin Fey jadi keki.
“Oke! Dengan senang hati!” Refald hendak membuka pakaian yang dikenakan istrinya tapi langsung ditahan oleh Fey karena baru sadar kalau ia telah salah ucap.
“Aku nggak mau pergi, kau milikku sekarang.” Refald terus melanjutkan aksi nakalnya.
“Dasar nggak ada akhlak! Kau dan Leo sama saja!”
“Iyalah, karena aku kakaknya dan dia adikku! Kita bersaudara.”
Refald dan Fey terus saja berdebat satu sama lain sambil bermain maju mundur cantik ala pasangan Refald dan Fey seperti yang biasa mereka lakukan. Namun, ritual mereka kali ini agak sedikit berbeda, Refald melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati agar Fey tidak kesakitan. Sebaliknya, Fey merasakan sensasi kenikmatan yang lembut sehingga membuatnya mengalami pelepasan berkali-kali. Sentuhan-sentuhan halus tangan Refald membuat Fey jadi semakin bergairah dan entah kenapa, membuat Fey ketagihan untuk melakukan ritual maju mundur cantik mereka lagi, dan lagi.
“Bukankah kau tadi ngotot tidak mau bercinta denganku? Kenapa sekarang malah minta lagi?” tanya Refald setelah keduanya selesai melakukan ronde pertama.
“Kau yang menghinoptisku, jadi kau harus bertanggungjawab,” Fey menirukan kalimat Refald yang tadi. Ia menatap dada bidang Refald yang ada didepannya sambil mengelus lembut dada bidang tersebut.
“Kenapa aku? Memangnya apa yang aku lakukan padamu?” Refaldpun balas mengembalikan kalimat Fey yang tadi juga diucapkan istrinya.
“Itu kan kata-kataku?” Fey mulai ngambek lagi.
Fey membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya, tapi Refald langsung memeluknya dengan sangat erat. Mereka berdua tidak memakai sehelai benangpun dan hanya berbalut selimut kesayangan Fey.
“Tunggu 10 menit Honey, baru kita main lagi,” bisik Refald ditelinga Fey dengan suara khas menggoda sehingga membuat gadis itu tersenyum geli sendiri antara malu tapi juga bahagia.
Malam ini, menjadi malam panjang antara Fey dan Refald memadu kasih dan saling menyatukan dua tubuh menjadi satu jiwa. Mereka berdua menikmati malam panjang ini dengan syahdu dan penuh cinta. Bulan dan bintangpun turut bahagia menyaksikan dua sejoli sedang asyik bergumul dibawah selimut berlapiskan atas dasar nama cinta.
***
Keesokan harinya, Refald memeriksakan kehamilan istrinya ke dokter spesialis kandungan agar mereka bisa mengetahui perkembangan calon buah hatinya. Ternyata, usia kandungan Fey sudah hampir memasuki bulan kedua. Yang membuat Fey terkejut adalah selama ini, ia sudah hamil muda tapi ia belum menyadarinya. Mungkin kerena ini adalah kehamilan pertamanya sehingga Fey belum paham betul gejalanya.
__ADS_1
“Dok, apa anda yakin? Janin yang ada dalam perut saya ini sudah hampir berusia dua bulan? Kami baru saja menikah dua bulan yang lalu.” Fey masih belum percaya ia sudah hamil dari sebulan yang lalu.
“Berarti, malam pertama kalian langsung sukses. Tak perlu butuh waktu lama bagi kalian berdua untuk segera mendapat momongan. Kebanyakan pasangan lain harus menunggu berbulan-bulan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun baru dikasih momongan. Selamat untuk anda berdua, ya. Ini adalah anugerah terindah yang selalu dinantikan setiap pasangan yang sudah menikah.”
“Ehm, anda benar Dok, terimakasih.” Fey tersenyum bahagia antara percaya dan tidak percaya.
“Sama-sama, saya akan memberikan vitamin jika nanti anda merasa mual atau pusing. Di trimester pertama, biasanya gejala mual dan pusing akan terjadi. Anda beruntung jika tidak mengalami morning sickness.”
“Sejauh ini, saya memang belum mengalaminya Dok, hanya pusing saja.”
“Hal itu wajar, Nyonya. Tidak masalah, yang penting anda dan janin anda sehat dan baik-baik saja. Anda juga harus menjaga pola makan dan banyak-banyaklah beristirahat, jangan terlalu melakukan pekerjaan yang berat-berat. Ehm, satu lagi dan ini yang terpenting, jika kalian mau berhubungan suami istri, sebaiknya lakukan dengan posisi miring dan buatlah suasana senyaman mungkin, hindari posisi terlentang supaya tidak terjadi penekanan pembuluh darah di daerah perut. Kalian juga bisa melakukan gaya duduk (sitting down) atau wanita diatas (women on top) saat bersenggama, yang penting kalian berdua merasa aman dan nyaman. Itu saran dari saya. Sekali lagi selamat untuk kalian berdua dan semoga tetap sehat sampai proses persalinan.”
Wajah Refald dan Fey langsung memerah mendengar penjelasan dokter terutama tentang bagaimana mereka harus melakukan posisi yang baik saat bercinta. Keduanya tersenyum dan saling lempar lirikan satu sama lain. Tangan Refald menggenggam erat tangan Fey yang sejak tadi memainkan jari-jari tangannya.
“Terimakasih dokter,” ujar Fey berdiri dari tempat duduknya diiringi Refald yang sejak tadi tak henti-hentinya menatap Fey dengan ekspresi penuh bahagia. Mereka berduapun pamit undur diri.
Begitu keluar dari rumah sakit, Refald langsung mengajak Fey pergi kesuatu tempat. Awalnya, Refald mengira bakal diajak menemui nenek dan teman-temannya untuk memberitahukan kabar bahagia seputar kehamilannya. Namun ternyata, tebakan Fey salah, Refald memasuki kawasan hutan dimana tempat itu adalah tempat pertama kali mereka bertemu. Disinilah awal mula pertemuan Fey dengan Refald saat suaminya itu kehilangan kekuatannya untuk pertama kalinya karena terlalu marah pada dirinya.
Karena kekuatannya hilang, Refaldpun terpaksa berlari masuk ke dalam hutan saat ada banteng mengejar-ngejarnya tanpa ampun. Fey datang tepat waktu untuk menyelamatkannya. Sungguh kisah yang sweet dan romantis. Sejak saat itu, ada kisah-kisah selanjutnya tentang keseharian mereka berdua dimulai hingga akhirnya kini mereka telah resmi menikah bahkan sebentar lagi juga akan memiliki momongan.
“Kenapa kau mengajakku kemari?” tanya Fey sambil mengenang masa-masa indah bersama dengan Refald.
Sebuah pelukan erat dari belakang melingkar kuat dipinggang Fey yang sedang memandangi padang safana dimana dulu kawasan ini merupakan habitat para banteng berada sebelum mereka dipindahkan akibat insiden yang menimpa dirinya dan Refald.
“Honey, aku sangat menyukai tempat ini. Ada kejutan yang ingin aku tunjukkan padamu. Aku harap, kau tidak salah paham padaku lagi, oke.” Refald maju selangkah lalu merentangkan kedatangannya untuk membuka sebuah lubang hitam berukuran pintu yang muat dimasuki dua orang. “Ayo, ikutlah bersamaku Honey.” Refald kembali mengulurkan satu tangannya dan Fey menerima uluran tangan suaminya dengan senyum merekah.
Secepat kilat, Refald menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya dan keduanya memasuki lubang hitam yang tadi dibuat Refald. Mereka berdua memasuki dimensi lain yang sudah disiapkan Refald jauh-jauh hari sebelumnya. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di dunia lain dimana tempat ini juga sudah tidak asing lagi bagi Fey.
“Refald, Ini ....” Fey terlalu takjub karena tidak menyangka bakal bisa datang lagi ke tempat tak terlupakan ini. Sebuah tempat terindah yang pernah ia datangi bersama Refald.
“Tempat, jiwa kita bersatu dalam ikatan pernikahan sebelum kita berdua benar-benar resmi menikah didunia nyata.” Refald membantu mengingatkan.
“Benar, disinilah kau mengajakku menikah dan menunjukkan sebuah puisi terindah berisi bagaimana perasaanmu sesungguhnya. Aku tidak akan pernah melupakan kata-kata indah yang tertulis jelas dilangit-langit sana.” Fey memandangi langit dan membayangkan tulisan berisi ungkapan hati Refald terpampang diatas langit yang berwarna biru cerah itu.
Refald terus menatap wajah istrinya sambil terus tersenyum. “Kali ini, aku akan memberimu kejutan yang sama. Bedanya, bukan dalam bentuk tulisan atau kata-kata lagi, melainkan sebuah memori yang terekam dalam ingatan seseorang.”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Sebentar lagi, kau akan melihat sebuah ingatan seseorang Honey. Anggap saja kau sedang menonton film bioskop kesukaanmu. Hanya saja, filmnya tidak diputar dilayar lebar, melainkan diatas langit-langit yang luas.” Refald pun ikut memandang langit-langit yang kini ditatap Fey dengan takjub.
“Oh iya? Kau bisa melakukan hal luar biasa seperti itu?”
“Kenapa? Kau tidak percaya?”
“Aku percaya, hanya saja aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa film yang tersimpan dalam memori seseorang itu.”
“Beri aku ciuman dulu, baru aku akan memperlihatkannya padamu.” Refald menyodorkan wajahnya tepat di depan wajah istrinya.
“Dasar mesum!” gumam Fey, tapi ia pun melakukan apa yang diminta suaminya.
Sebuah ciuman manis mendarat mulus di bibir Refald sehingga membuat pasangan dua sejoli itu semakin bahagia. Ia menjetikkan jarinya dan film bioskop ala Refaldpun dimulai.
BERSAMBUNG
****
Jangan lupa dukung like, vote dan komentarnya ya ... love you all...
__ADS_1