Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 83 Pak Guru


__ADS_3

“Apa yang kalian berdua bicarakan?” tanya Refald saat mengantarku pulang ke rumah.


“Banyak, bukankah kau bisa membaca pikiranku, aku tidak perlu menceritakan semuanya padamu, kan? Bagaimana denganmu? Apa yang kalian bicarakan pada Epank?” aku balik bertanya.


Refald hanya tersenyum. “Tidak banyak, aku hanya bicara ala kadarnya saja. Kau yakin tidak apa-apa menceritakan semua tentang jati dirimu yang sebenarnya pada Yua? Dia tampak sangat syok.”


Mendengar Refald bicara seperti itu berarti dia memang tahu apa saja yang aku bicarakan dengan Yua. “Benar, aku menceritakan semua pada Yua mengenai siapa aku sebenarnya, itu karena aku percaya bahwa Yua bisa memahami kondisiku. Dan bukan Yua saja, Nura dan Mia juga akan aku beritahu.” Aku menatap Refald yang sedang fokus menyetir.


Sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan Refald pada Epank, sebab saat Yua mengantar kami ke halaman parkir rumah sakit, Yua tampak tegang saat Epank tiba-tiba muncul dibelakangnya. Aku hanya berharap mudah-mudahan hubungan Yua berjalan dengan lancar seperti yang sudah ia impikan sejak lama.


Akhirnya kami berdua sampai di rumahku. Saat kami turun aku melihat pembina mapala datang dan sedang berbicara dengan ayahku di teras rumah. Kami berdua memberi salam pada pembina sekaligus guru disekolah kami.


“Baguslah kalian sudah datang,” ucap pak Budi sambil tersenyum sumringah melihat kami. “Saya datang kemari karena mendapat laporan dari petugas perhutani bahwa kalian berdua selamat dan sudah kembali ke rumah. Saya sangat bersyukur kalian berdua baik-baik saja dan jujur saya terkejut ada ayahmu juga di sini Fey, karena selama ini kau tidak pernah mengatakan apapun soal keluargamu.”


“Maafkan saya, Pak. Itu karena Ayah saya tinggal di luar negeri dan jarang bisa datang kemari,” jawabku sambil menatap ayahku yang tersenyum padaku.


“Baiklah mari kita duduk kembali dan berbicara santai, Pak,” ajak ayah, dan kami semua pun mengobrol bersama di teras rumah sambil menikmati teh hangat yang disajikan mbok Min.


Refald menceritakan sedikit pengalaman kami selama berada di dalam hutan yang notabennya jauh dari fakta yang ada. Itu karena yang kami alami jauh di luar nalar manusia sehingga Refald terpaksa harus berbohong pada Pak Budi dan ayahku bahwa kami banyak mengalami hal mistis yang penuh misteri dan menakutkan, apalagi jika mengingat pasukan dedemit yang dimiliki Refald. Untungnya mereka langsung percaya bahwa kami selamat berkat keberuntungan dan pengalaman Refald sebagai salah satu pendaki profesional di perkumpulannya.


“Kenapa kau tidak bergabung saja ke dalam organisasi mapala Refald, kau bisa membantu Fey melatih para juniornya,” usul pak Budi setelah mendengar kisah heroik Refald saat menyelamatkanku dari Hutan.

__ADS_1


“Tidak, Pak. Saya tidak bisa bergabung, karena saya ingin fokus belajar supaya bisa lulus dengan nilai terbaik nanti. Saya tidak mau nilai saya jelek sementara nilai pacar saya bagus.” Sindiran tajam Refald tepat mengenaiku.


Refald terlalu blak-blakan di depan Pak Budi sehingga aku memelototinya. Anehnya, ayahku hanya diam saja sambil tersenyum melihat tingkah konyol Refald.


“Apa yang kau katakan, bodoh!” bisikku pada Refald.


“Sudah saatnya semua orang termasuk guru kita ini tahu seperti apa hubungan kita yang sebenarnya. Tidak ada gunanya dirahasiakan lagi, ayahmu juga sepertinya setuju.” Refald balas berbisik ditelingaku. Aku pun tidak bisa bekata apa-apa lagi karena pak Budi menatap kami dengan heran.


“Baiklah, itu terserah padamu. Jadi, benar kalian berdua pacaran? Dan Bapak sudah tahu?” tanya pak Budi pada ayahku setelah menatap Refald.


“Benar, Pak,” ucap ayahku dengan santai. “Sayalah yang menjodohkan mereka. Bagaimana, Pak? Mereka berdua serasi, kan? Saya harap Refald bisa menjaga putri saya dengan baik selama saya bekerja di luar negeri. Dan itu semua terbukti, saya tidak khawatir lagi sekarang.” Ayahku tersenyum seolah bangga pada Refald.


Aku melongo saja mendengar jawaban ayah yang tak terduga.


“Tapi, Pak? Apa tidak terlalu berlebihan membiarkan mereka selalu bersama seperti ini? Mereka masih remaja, apa kata orang-orang jika melihat mereka terlalu dekat?” pak Budi terlihat khawatir. “Maaf bukannya saya ikut campur, tapi saya khawatir akan berpengaruh buruk pada siswa yang lainnya.”


“Tapi saya dan Refald tidak pernah melakukan apa-apa, Pak?” aku membela diri agar pembinaku ini tidak berpikiran negatif pada kami. “Saya dan Refald tahu batasannya, kami juga tahu betul mana yang baik dan mana yang bukan, kami juga bukan anak kecil lagi. Dan saya juga akan selalu menjaga kehormatan nama besar ayah saya. Bapak tidak perlu khawatir, meski status kami adalah pacar, tapi kami punya komitmen. Bahkan kami berdua punya mimpi untuk mengejar cita-cita kami masing-masing, dan kami tidak ingin menghancurkan mimpi itu dengan melakukan hal-hal yang terlarang.” Aku merasa bahwa kata-kataku itu juga untuk memperingatkan Refald agar tidak terus terusan mengajakku menikah secepatnya.


Kini giliran Refald yang melongo menatapku, begitu juga dengan ayah dan pak Budi.


“Baiklah kalau begitu, syukurlah kalau kau punya pemikiran seperti itu. Anak muda jaman sekarang itu sangat mengkhawatirkan pergaulannya. Semoga kalian tetap teguh dengan prinsip kalian dan fokus pada apa yang ingin kalian capai. Saya sebagai guru hanya bisa mendukung saja. Kalau begitu, saya permisi dulu. Ada banyak hal yang harus saya lakukan sekarang. Terima kasih atas waktunya dan sampai ketemu lagi besok di sekolah Fey.” Pak Budi menatapku sambil tersenyum bangga. “Senang bisa bertemu dengan anda Mr. Kinomoto semoga lain waktu kita bisa berjumpa kembali.” Pak Budi menjabat tangan ayah.

__ADS_1


“Senang bertemu dnegan anda, juga Pak. Titip juga putri kesayangan saya ini.”


“Baik, Pak ... saya permisi.” Pak budi masih bersalaman dengan ayahku dan aku pun memberi hormat pada guruku itu.


“Wauwww, Honey ... kau keren sekali tadi,” puji Refald setelah ayahku masuk ke dalam rumah dan pak Budi berlalu dari rumah.


“Aku mengatakan apa yang sebenarnya, Sayang.” Aku mencubit kedua pipi Refald dengan gemas dan menggoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Refald pun memeluk pinggaku dengan erat. “Masuklah, nanti sore akan aku ajak kau ke vila pamanku lagi.”


Aku melepaskan cubitanku dan menatap Refald bingung. “Vila pamanmu lagi? Vila yang mana? Apa kita pernah ke sana?”


Refald mengangguk, tapi masih tetap memelukku. “Kita pernah ke sana. Kau ingat saat malam supermoon waktu itu? Itu adalah Vila milik pamanku. Aku dengar dia dan istrinya sedang liburan ke sana. Aku akan membawamu bertemu dengan mereka sebelum ayah dan ibuku datang kemari.”


“Kenapa tidak menunggu ayah dan ibumu datang saja? kita ke sana bersama-sama.”


“Pamanku keburu pulang kalau sampai menunggu ayah dan ibuku datang yang entah kapan mereka sampai kemari. Pamanku hanya 3 hari di vila karena istrinya lagi ngidam,” jelas Refald.


“Oh iya? Istrinya hamil? Apa aku harus membawakan sesuatu untuk istrinya?” entah kenapa aku sangat senang kalau ada wanita hamil, apalagi dia merupakan salah satu keluarga Refald.


“Boleh, nanti sore aku akan menjemputmu dan kita cari buah tangan untuk mereka.” Refald mengecup keningku dengan lembut sebelum ia pamit. “Sampai ketemu lagi, Honey,” ucapnya sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Refald masuk ke dalam rumah untuk pamit pada Ayah dan nenekku yang ada di dalam. Samar-samar aku mendengar Refald meminta izin pada ayahku tentang rencananya nanti sore untuk bertemu dengan pamannya yang aku juga baru tahu kalau Refald punya paman di sini.


***


__ADS_2