Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 300 Perpisahan sementara


__ADS_3

Orang pertama yang didatangi Refald adalah Leo. Saat Refald mengatakan pada Leo bahwa ia akan pergi dalam jangka waktu lama, Leo sangat terkejut. Ini pertama kalinya kakaknya itu mengatakan hal yang tak biasa. Kepergian Refald kali ini tak bisa disamakan dengan kepergiannya seperti yang sebelum-sebelumnya. Hal itu membuat Leo agak sedikit sedih juga. Keduanya sedang berbincang-bincang di balkon istana megah Leo.


“Jangan tempatkan dirimu dalam posisi yang berbahaya lagi, Leo. Kali ini jika kau memanggil namaku, aku tidak bisa datang menolongmu, begitu juga dengan pasukanku, mereka semua sudah menghilang dari dunia ini sementara. Kau tidak akan bertemu dengan mereka lagi sekarang,” ujar Refald. Ia menatap lurus pemandangan indah halaman mension adik sepupunya.


“Apa? Pak Po juga menghilang? Semuanya?” Leo tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sulit sekali menggambarkan seperti apa perasaan suami Shena saat ini setelah mendengar penjelasan dari Refald tentang kepergiannya.


“Ehm, semuanya tanpa terkecuali.” Refald menatap tajam wajah adik kesayangannya. “Titip Rey, Leo. Selama aku pergi, ia pasti kehilangan sosok ayah. Ia begitu mengagumimu. Tolong jaga dia untukku.” Refald sungguh serius saat ini.


“Jangan khawatir, Kak. Aku akan minta Yeon dan Bima menemaninya. Aku juga akan menguliahkan mereka di tempat Rey berada. Tidak akan aku biarkan Rey sendirian. Serahkan semuanya padaku. Aku juga akan meminta Shena untuk sering-sering bersama dengan kakak ipar supaya ia tidak kesepian selama kau menjalankan misimu.”


“Syukurlah aku memiliki adik nggak ada akhlak sepertimu, tapi masih bisa diandalkan.” Refald menepuk pelan bahu Leo.


“Kau mulai mengajakku berantem lagi,”protes Leo.


“Justru pertengkaran kitalah yang membuatku sangat merindukanmu nanti.” Refald tertawa. Leo juga ikut tertawa.


“Kita akan bertengkar lagi setelah kau kembali, bahkan kalau perlu ayo berkelahi, tapi kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu. Lawan aku sebagai manusia biasa, aku ingin buktikan kalau aku jauh lebih kuat darimu.” meski sedih, Leo berusaha keras agar tegar dihadapan kakak sepupunya yang selalu resek ini.


“Setuju, aku akan menghajarmu nanti setelah aku kembali.” Refald memeluk Leo dengan erat sebagai salam perpisahan.


Sungguh mengharukan sekali ikatan tali persaudaraan antara Leo dan Refald ini. Perjalanan kisah cinta keduanya juga langka dan sukses membuat siapapun menjadi iri. Bahkan di dunia nyata, pria seperti Leo dan Refald ini sangat langka atau bisa jadi tidak ada.


Setelah puas berpamitan dengan Leo, Refald pergi menemui Zaya dan juga Sanha. Refald lega karena adiknya yang satu ini telah hidup bahagia bersama dengan suaminya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal kehidupan Zaya, begitu juga dengan sahabat terdekatnya, Eric. Nura adalah pasangan yang cocok untuk Eric meski mereka lebih banyak bertengkarnya daripada romantisnya.


Sekarang, giliran Refald menemui kedua orang tuanya yang kebetulan sedang ada di Jerman. Namun sebelum itu, ia menemui ayah dan ibu Leo dulu yang ternyata juga berada di kastilnya sendiri. Enaknya jadi Refald, ia hanya tinggal clang cling saja menemui siapapun yang ia suka diamanapun orang itu berada. Termasuk paman kesayanganya yang tidak lain adalah Byon Pyordova. Awalnya Byon dan Biyanca keberatan, tapi setelah mendengar penjelasan suami Fey itu, paman dan bibinya mau menerima kepergian Refald walau dengan hati yang berat.


“Kami akan selalu menunggu kedatanganmu, Refald. Temui aku segera begitu kau kembali.” Itulah kata-kata yang diucapkan Byon sambil memeluk erat keponakan kesayangannya.


"Tentu saja, Paman. Sampai ketemu lagi, bye Bibi." Leo melambaikan tangannya pada dua sejoli yang langgeng hingga tua dan pergi menghilang lagi ke tempat kedua orangtuanya.


“Aku tidak bisa mengatakan apa-apa karena kau jauh lebih hebat dariku dalam segala hal,” ujar ayah Refald saat Refald datang berpamitan pada ayah dan ibunya. “Jaga dirimu baik-baik dimanapun kau berada dan jangan khawatirkan kami semua yang ada disini. Begitu kau kembali nanti, ayah akan mengadakan pesta penyambutan kedatanganmu dengan sangat meriah.” Ayah Refald langsung memeluk tubuh putranya.


Selama ini, Mr. Dilagara memang tak banyak bicara, tapi ia sungguh bangga dan beruntung memlilki putra tunggal sehebat Refald. Bahkan kata takjubpun tak akan cukup mengungkapkan betapa luar biasanya sosok seorang Refald. Sementara Fey memeluk sang ibu mertua yang sedari tadi menangis tanpa henti setelah Refald mengungkapkan perihal kedatangannya kemari.


“Terimakasih, Ayah. Untuk segalanya, dan aku juga sangat sangat sangat berterimakasih telah menjodohkanku dengan seorang wanita secantik Shiyuri. Mungkin aku tidak akan jadi sekuat ini jika saja bukan Fey yang menjadi istriku.” Refald tersenyum pada ayahnya.


“Tentu, setiap orang tua pasti tahu apa yang terbaik bagi anaknya. Satu-satunya wanita yang paling sempurna menjadi pasangan hidupmu memang hanyalah Fey seorang. Tidak ada yang lain lagi. Tak peduli betapa kuatnya takdir mempermainkan cinta kalian, kau dan Fey tetap bisa bersama-sama kembali.” Ayah Refald menepuk pelan kedua bahu putranya yang kekar sambil membisikkan sesuatu kepada Refald sehingga membuat mata suami Fey itu berbinar-binar senang.


“Tentu saja, Ayah. Tunggu saja nanti, jaga kesehatan ayah dan ibu sampai aku kembali.” Refald terus tertawa bahagia dan membuat Fey memicingkan mata karena penasaran, apa yang membuat wajah suaminya jadi sesumringah itu.


Refald beralih menghampiri ibunya yang sudah mulai beruban. Hal itu sangat wajar karena ibunya yang cantik ini sudah memiliki cucu yang mulai beranjak dewasa dan siap menikah.


“Menantu kesayanganmu ada disini, Ibu. Jangan menangis, aku hanya pergi sementara. Lagipula, menantumu yang kau pilihkan untukku tidak ikut pergi bersamaku. Jangan lebay begitu.” goda Refald pada ibunya.


“Siapa yang menangisimu, bodoh! Aku sama sekali tidak keberatan kau mau pergi berapa lama. Yang aku khawatirkan adalah istri dan cucuku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari mereka tanpamu. Seandainya aku punya dua putra, pasti kusuruh putraku yang satunya menemani Fey supaya ia tidak sedirian,” isak ibu Refald.


“Ibu ... jangan mulai lagi, kenapa ibu berpikiran seperti itu?” pekik Refald kesal, bisa-bisanya ibunya memanas-manasinya dengan menyerahkan Fey pada orang lain.


“Ibu hanya bercanda, Refald. Kau yang lebay karena menganggap serius ucapan ibu.” Fey membela ibu mertuanya dan iapun langsung mendapat pelukan dari ibu Refald sambil terus menangis.


“Ibu, yang mau pergi bukan menantumu, tapi aku ... kenapa kau membuatku seperti anak tiri saja.” wajah Refald mulai sewot melihat sikap ibunya yang bertolak belakang dengan ayahnya.


“Pergi sana! Aku tidak mau melihatmu!” usir ibu Refald masih sambil menangis dipelukan menantunya.


Sebenarnya, ibu mertua Fey ini juga sangat sedih, tapi ia gengsi jika harus menangisi kepergian putranya sendiri dihadapan menantunya. Alhasil, ia pura-pura tidak peduli pada kepergian Refald.


Tidak ada yang bisa dilakuakan Refald. Ia hanya diam menunggui ibunya yang menangis sambil garuk-garuk kepalanya. Sementara Fey terus menenangkan ibu mertuanya. Ia tidak tahu apakah harus sedih atau senang. Sebab ia sendiri juga tidak berdaya menghadapi suaminya sebentar lagi akan pergi meninggalkannya.


Lewat tengah malam, pasangan suami istri itu saling bergandengan tangan menuju tempat Rhea berada. Menantu mereka sedang tertidur lelap disebuah rumah sederhana milik seorang nenek yang tinggal dengan cucu perempuannya yang congkak. Fey terkejut karena tempat yang dipilihkan Refald ternyata sangat jauh dari prediksinya. Ibu Rey itu agak kurang setuju jika Rhea harus menghadapi hari-harinya selama 3 tahun di tempat seperti ini. Istri Refald itu bisa membayangkan apa yang bakal Rhea hadapi setelah ini.


“Suamiku, apa kau tidak salah tempat? Rhea akan tinggal di tempat ini? Kenapa kau tidak menyuruh nenek itu tinggal di rumah pak Po. Itu adalah rumah ayah Rhea sendiri. Kenapa kau malah membiarkan mereka tinggal di gubuk kecil ini?” Fey mulai banyak bertanya. Lebih tepatnya, ia memprotes Refald.

__ADS_1


“Ini demi kebaikan Rhea sendiri, Honey. Riska dan Noval akan menjamin kesejahteraan hidup Rhea dan semua kebutuhannya selama ia tinggal disini tanpa kekurangan apapun. Bahkan Rhea juga bisa menempuh pendidikan yang ia inginkan. Pabrik yang aku bangun, itu semua adalah milik Rhea. Sementara ini, Riskalah yang membantu mengelolanya sampai Rhea siap menggantikan Riska nanti.


“Jangan khawatir, Honey. Selama Rhea tinggal bersama nenek Haida, iblis manapun tidak bisa mengganggu ataupun mendekatinya. Nenek Haida bukanlah nenek biasa. Dia sama seperti nenek Kaede di anime Inuyasha. Dialah yang juga membantu Rhea mengajarkan ritual yang akan ia jalani untuk membuatku kembali.” Refald memberikan penjelasan panjang lebar dan tinggi sambil mengamati menantunya yang sedang tertidur pulas.


Refald sudah memanipulasi ingatannya sehingga begitu Rhea sadar, maka gadis itu akan melupakan segala kenangannya bersama dengan Rey. Rhea hanya ingat bahwa dirinya adalah cucu angkat nenek Haida.


“Siapa sebenarnya nenek Haida itu, Refald?” Fey penasaran karena baru pertama kali ini ia mendengar nama nenek itu.


“Akan aku jelaskan nanti setelah aku kembali, Honey. Aku tidak bisa menjelaskan siapa dia sekarang. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya nenek ini, dan hanya aku saja yang tahu. Itulah alasanku kenapa aku menitipkan Rhea padanya, dan bukan pada Riska ataupun Noval.”


“Kau yakin Rhea akan sungguh baik-baik saja bersama mereka?” Fey agak sedikit cemas dengan lingkungan tempat tinggal Rhea yang sekarang ini.


Tepat di belakang rumah sederhana yang ditinggali Rhea, ada sebuah danau besar yang unik dan langka. Sepertinya, hanya nenek Haida saja yang berani membangun sebuah rumah di dekat danau ini, sedangkan penduduk desa lain lebih memilih membangun pondok mereka agak jauh dari danau. Sangat aneh sebenarnya, tapi Refald sudah mengambil keputusan yang artinya ia tahu bahwa ini adalah pilihan terbaik untuk Rhea.


“Aku yakin, meski ada banyak sekali batu sandungan dalam hidup Rhea. Menantu kita ini pasti bisa melewati semua cobaan hidup sampai kau dan Rey tiba kemari. Rhea pasti baik-baik saja, Honey.” Refald menggamit tangan Fey dan mengajaknya pergi dari rumah singgah nenek Haida tanpa diketahui oleh siapapun.


“Baiklah, aku tidak akan berkomentar apa-apa lagi kalau begitu. Setelah ini, kita mau pergi kemana lagi? Ini sudah lewat tengah malam.” Fey jadi sedih karena waktu sudah hampir pagi yang artinya Refald akan segera menghilang dari dunia ini.


“Pulang, ayo Honey.” Refald memeluk tubuh istrinya dan langsung menghilang kembali kerumahnya.


Keduanya berada di kamar Rey yang masih pingsan. Refald berjalan pelan dan duduk di samping putranya yang terbaring di atas tempat tidur. “Kau harus kuat Rey, ayah akan menjagamu dari jauh. Tetaplah bahagia walau tidak ada ayah disisimu. Jangan mengajak ibumu berdebat dalam hal apapun. Aku menyangimu, putraku. Sampai ketemu lagi.” Refald mengecup kening Rey dan mengusap lembut kepalanya untuk menghilangkan ingatan Rey.


Refald menatap wajah Fey dan mengajaknya pergi tidur bersama di dalam kamar mereka. Refald terus memeluk istrinya dan juga terus saja menciuminya tanpa henti seolah ini adalah ciuman terakhir sebelum Refald benar-benar pergi. Fey sendiri juga tidak menolak dan pasrah sepenuhnya. Ia menyerahkan seluruh raga dan jiwanya hanya untuk suami tercintanya. Sebab, malam ini adalah malam terakhir keduanya bersama.


“Refald, apa yang dibisikkan ayah mertua padamu tadi? Kenapa kau tampak bahagia?” tanya Fey disela-sela aktivitas Refald menikmati ciumannya.


“Ayah minta hadiah dari kita begitu aku kembali nanti,” jawab Refald sambil tersenyum manis pada Fey.


“Hadiah apa?”


“Kau akan tahu nanti, Honey. Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku mencintaimu, ingat itu.” Refald melanjutkan lagi ritualnya.


Di malam yang sunyi ini, dua insan sedang meluapkan salam perpisahan mereka dibalik selimut hangat tebal. Bahkan binatang-binatang kecilpun tak ingin bersuara seolah ikut memberi penghormatan bagi sang raja dedemit untuk menikmati malam terakhir ini bersama dengan istrinya sebelum Refald pergi.


“Selamat tinggal Refald sayang, sampai ketemu lagi di tiga tahun kedepan. Aku ... juga sangat mencintaimu melebihi apapun,” isak Fey sambil menahan rasa sesak di dada. Fey bangun dari tidurnya dan duduk di sebuah meja. Ia mengambil pena dan mulai menulis sebuah lirik lagu diatas kertas putih sebagai bentuk ungkapan perasaannya.


Benar-benar Pergi


Bila waktu malam akan datang ...


Aku tak mau sendirian ...


Ingin selalu ditemani kamu


Memelukku dalam kesepian ...


Bila waktu malam mulai sunyi


Ku tak mau ditinggal sendiri


Ingin selalu sama-sama kamu


Hingga nanti kamu benar-benar telah pergi


Itulah potongan lirik lagu yang juga merupakan salah satu lagu favorit Fey. Ia sama sekali tidak menyangka makna dalam lagu itu bakal Fey alami dalam kehidupannya. Fey kembali menangis dan menelungkupkan wajahnya diatas meja.


“Jangan menangis lagi, Fey. Kau harus kuat. Refald akan kembali padamu, perpisahan ini hanya sementara. Jalani hari-hari seperti biasa dan terus semangat. Kau harus tetap tegar demi Rey putramu,” gumam Fey pada dirinya sendiri.


Berkali-kali Fey menyeka air matanya. Ia terus berusaha menguatkan hatinya dan mencoba terbiasa melalui hari-harinya tanpa Refald disisinya.


“Ibu, kau dimana?” teriak Rey dari luar kamar ibunya.

__ADS_1


“Disini! Masuklah, Rey.” buru-buru Fey meletakkan penanya dan bangun dari kursi menghampiri putra semata wayangnya, buah cintanya bersama dengan Refald.


THE END


***


3 tahun kemudian ....


Fey membuka tirai jendela kamar Rey. Putra tunggalnya sedang tertidur pulas setelah semalam baru pulang hiking bersama dengan Yeon dan Bima. Putra dari Leo dan Shena yang tidak lain adalah adik sepupu Rey sendiri.


Selama 3 tahun terakhir ini, 3 bersaudara itu selalu besama-sama. Dimana ada Rey, disitulah Yeon dan Bima berada. Leo sengaja meminta putra-putranya agar selalu menemani kakak sepupunya, jangan sampai Rey sendirian. Yeon mengajak Rey naik gunung untuk mengisi waktu luang. Entah kenapa, semenjak kejadian 3 tahun lalu, Rey berubah jadi pendiam dan tidak suka berinteraksi dengan siapapun kecuali orang-orang terdekatnya.


Tentu saja hal itu membuat seluruh keluarga Rey jadi khawatir tapi juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untungnya, Rey masih mau diajak Yeon ikut organisasi pencinta alam di kampus mereka sehingga saudara sepupu itu sering hiking bersama. Baru semalam Rey pulang dari hiking dan kini tidur nyenyak sekali.


“Bangun Sayang, kau harus bersiap-siap.” Fey duduk di samping Rey dan menggoyang-goyangkan punggung putranya.


Rey tergolek dan mencoba membuka matanya yang terasa berat, ia melihat wajah cantik ibunya yang setiap hari bukannya bertambah tua tapi malah terlihat awet muda. Banyak sekali orang mengira kalau Fey adalah kekasih Rey, bukannya ibunya.


“Jam berapa ini, Ibu? Kenapa Ibu membangunkanku?” tanya Rey sambil menguap dan memejamkan matanya kembali.


“Kita akan pergi ke suatu tempat. Ayo bangun dan bersihkan dirimu, nanti kita bisa terlambat.”


“Memangnya kita mau kemana?”


“Ke pesta ulang tahun pernikahan bibi Riska dan Noval. Mereka ingin kita datang, kau harus menggantikan ayahmu sebagai perwakilan.” Fey membuka selimut Rey.


“Lalu bagaimana dengan kuliahku, Ibu?”


“Ehm, sebenarnya Ibu memindahkanmu ke universitas baru. Kau sendiri yang bilang kalau ingin pindah.”


“Dimana?” Rey agak terkejut tapi juga lega.


“Di dekat tempat tinggal bibi Riska dan paman Noval. Disana ada salah satu universitas terbaik dan tak kalah keren dengan unversitas ternama lainnya. Sangat cocok untukmu jika kau ingin menghindar dari kebisingan Yeon dan Bima.” Fey sangat tahu apa yang diinginkan putranya.


“Mereka berdua pasti akan dipindahkan paman Leo ke sana juga Ibu. Aku minta pindah bukan karena mereka berdua.” Rey mulai bangun dari tempat tidur dan mengambil handuknya.


“Apa karena wanita?” tebak Fey. Ia memerhatikan gerak-gerik putranya yang mondar mandir kesana kemari.


“Itu salah satunya, Ibu. Aku tidak mau dikejar-kejar banyak wanita yang menjengkelkan itu.”


Fey hanya tersenyum karena putranya kini sudah berubah drastis. Ia tidak lagi mirip dengan Leo yang suka bermain-main dengan wanita. Sekarang, Rey cenderung lebih mirip dengan Refald. Padahal ingatan Rey sudah dihapus, tapi sifatnya tidak sama seperti sebelumnya, Rey yang sekarang benar-benar mirip Refald saat ia ditinggal pergi Fey melarikan diri dulu.


“Ibu, apa dimasa lalu, aku punya kekasih?” mendadak, Fey bertanya seperti itu.


“Kenapa kau tiba-tiba saja bicara begitu?” Fey malah balik bertanya. Jangan-jangan Rey sudah mulai ingat kenangannya yang terhapus.


“Entahlah, setiap kali ada wanita yang mendekatiku, aku merasa bahwa aku sama sekali tidak tertarik pada mereka semua seolah aku sedang menunggu seseorang. Apa yang terjadi padaku, Ibu? Kenapa hatiku serasa sedih, tapi aku tidak tahu mengapa.” Rey merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.


“Kau akan mengetahui semua jawaban dari pertanyaanmu bila waktunya sudah tiba Rey. Ibu tidak bisa menjelaskannya padamu, karena Ibu sendiri juga tidak tahu. Sudah, jangan banyak bertanya, sekarang cepat mandi! Ibu tidak ingin terlambat datang ke pesta. Kita juga harus melihat-lihat rumah yang akan kita tinggali disana nanti.” Fey mendorong tubuh putranya agar cepat membersihkan diri dan bersiap-siap.


Tidak ada yang bisa Rey lakukan selain menuruti permintaan ibunya. “Baik Ibu. Tunggu saja diluar, aku akan siap dalam 30 menit.” Rey menutup pintu kamar mandi sambil tersenyum.


“Akhirnya, hari yang dinanti akan segera tiba. Kita akan segera bertemu kembali, suamiku Sayang. Ingatan Rey sudah mulai kembali, tak butuh waktu lama baginya untuk mengingat seluruh masa lalunya. Apalagi bila ia bertemu dengan Rhea, kemungkinan besar Rey sudah ingat apa yang terjadi antara dirinya dan juga Rhea.” gumam Fey sambil berjalan keluar pintu kamar Rey.


Hati Fey sedang berbunga-bunga membayangkan kemunculan seperti apa yang bakal dilakukan Refald nantinya. Selama 3 tahun ini, Fey benar-benar menunggu kedatangan orang yang amat sangat dirindukannya. Seperti apa Refald sekarang? Apakah tetap sama seperti dulu ataukah ada perubahan? Fey sungguh penasaran dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan Refald beserta seluruh pasukannya.


SEKIAN, TERIMA KASIH!


***


Aku udah rilis kelanjutan novel ini ... baca di bab pengumuman ya ....

__ADS_1


aku kasih bonus foto keluarga kecil Refald ... hehe ...



__ADS_2