Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 82 Pengakuan


__ADS_3

“Apa kau tidak berlebihan membuatnya kesal seperti itu?” komentar Refald setelah Via menghilang dari pandangan kami.


“Dulu dia tidak seperti itu, tetapi sekarang aura silumannya sudah keluar. Mungkin Epank baru menyadari siapa Via yang sebenarnya.” Aku menatap wajah Refald.


“Sekarang bagaimana?” Refald balik menatapku.


“Bagaimana apanya? Kau takut dengan ancamannya? Bukankah kau akan melindungiku dari bahaya apapun? Apa itu bohong?” tanpa sadar aku mencurigai Refald.


Refald menjitak kepalaku sehingga aku mengerang kesakitan. “Auww, sakit tahu!” protesku.


“Tentu saja aku akan melindungimu, tapi kau tidak boleh sembarangan memancing kemarahan orang!” ia mengusap-usap kepalaku yang habis ia jitak.


Aku hanya diam tanpa tahu harus berkata apa, sebab Refald bisa membaca pikiranku. Makanya aku berusaha tidak memikirkan apapun meski kuakui kalau Refald sangat sweet sekali.


“Sampai kapan kita akan terus ada di sini?” Refald memandang pintu ruangan Epank yang masih tertutup rapat. Kami masih berdiri di depan ruangannya seperti menunggu antrian nomor.


“Aku ingin tahu apa yang Epank bicarakan dengan Yua di dalam.” Aku mencoba mengintip dari balik pintu. Aku hanya bisa melihat tangan Yua dipegang oleh Epank tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Tentu saja mereka sedang pacaran, sebaiknya kita tidak mengganggu mereka.” Refald menggamit lenganku untuk mengajakku pergi dari sini, tapi aku menahan langkahnya.


“Bagaimana kau bisa tahu, apa kau bisa mendengar pembicaraan mereka? Apa kau juga bisa membaca pikiran mereka?” aku harap jawaban Refald adalah ‘iya’.


“Apa kau sudah gila? Kalau mencium Yua mungkin aku bisa, tapi aku tidak mungkin berciuman dengan Epank.” Refald terlihat kesal, itu artinya harus ada kontak fisik dengan Refald supaya ia bisa mendengar pikiran orang yang diinginkannya.


Aku terkekeh melihat Refald memelototiku. “Maksudmu kau hanya bisa mendengar pikiran orang yang sudah berciuman denganmu?” aku masih ingin menggoda Refald.


“Aku tidak yakin, tapi kurang lebih seperti itu.” Refald menatapku dengan tajam seolah tahu kalau aku hanya menggodanya.


“Yang benar dong, gimana sih?” aku pura-pura cemberut berat padanya sehingga Refald langsung mendaratkan ciuman mautnya padaku. ******* bibirku dengan cepat lalu melepaskannya lagi sambil menatapku lekat-lekat.


“Cuma kaulah satu-satunya orang yang pernah berciuman denganku, dan aku tidak tertarik dengan yang lain. Jangan sampai kau membuatku kehilangan kekuatanku dengan pertanyaan konyolmu ini, atau aku akan memaksamu menikah denganku sekarang juga.” Refald kembali menciumku sebelum aku sempat bicara.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Yua langsung menjerit ketika kami sedang memadu asmara.


Refleks ia langsung menutup wajahnya sambil berbalik badan sehingga membuat Epank juga terkejut, “Ada apa Yua?” tanya Epank sambil berjalan ke arah Yua berdiri untuk mengetahui apa yang membuat cewek itu terkejut.


Aku mendorong tubuh Refald agak jauh tapi Refald langsung menarik tubuhku lagi mendekat ke arahnya.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Bermesraan di tempat umum begini? Apa ini yang kalian dapatkan selama berada di dalam hutan?” Epank langsung blak-balakan.


“Istriku ini penasaran tentang apa yang sedang kalian lakukan di dalam, makanya aku memberitahunya ....” Refald mengeratkan rangkulannya padaku. “Seperti inilah yang sedang kalian lakukan.” Refald jauh lebih blak-blakan.


“Tapi kami tidak berciuman seperti yang kalian lakukan sekarang,” bantah Yua yang menatapku dengan ekspresi tak percaya. Aku sendiri hanya diam tanpa tahu harus berkata apa.

__ADS_1


“Kalian berdua jangan sok pamer di depan kami.” Epank malah terlihat sensi dengan apa yang dikatakan Refald.


“Aku tidak pamer pada kalian, kami sudah terbiasa melakukannya. Benar kan, Honey?” Refald tersenyum padaku tapi matanya mengancamku jika tidak mengatakan ‘iya’.


Aku hanya tersenyum saja.


“Apa yang sedang kau lakukan pada temanku, Refald? Kenapa dia jadi menurut padamu seperti itu?” Yua mengamatiku dari atas sampai bawah, “Dan juga kenapa kalian kemari? Kalian terlihat baik-baik saja?” pertanyaan Yua sedikit ambigu.


“Aku sedang memeriksakan ....”


“Anak kami,” aku Refald memotong kalimatku yang disusul dengan tatapan tajam semua orang termasuk aku.


“Apa?” kami bertiga bahkan saling kompak bertanya.


“Apanya?” tanya Refald.


“Apa yang kau katakan?” tanyaku marah pada Refald karena ia berkata yang bukan-bukan.


“Benarkah itu?” tanya Yua yang terlihat langsung lemas.


“Itu tidak benar,” jawabku cepat, Refald hanya bercanda, mana mungkin kami punya anak, melakukannya saja tidak pernah!” aku berusaha meyakinkan Yua agar percaya pada ucapanku.


“Iya pun juga tidak apa-apa.” Epank semakin memperkeruh suasana.


Aku langsung menarik tangan Yua dan menyeretnya pergi dari orang-orang gila itu.


“Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan para cecunguk-cecunguk itu,” gumamku saat berjalan agak sedikit pincang sambil menggandeng tangan Yua.


Aku mengajak Yua ke kantin rumah sakit supaya kami bisa mengobrol dengan bebas tanpa diganggu oleh Refald dan Epank.


“Benarkah yang dikatakan Refald? Kau hamil?” tanya Yua setelah kami duduk di kursi dan saling berhadapan.


“Kau percaya padanya?” aku balik bertanya.


“Tentu saja tidak, tapi aku sangat terkejut, aku pikir selama kalian di hutan, bisa saja kan kalian melakukannya?” sepertinya Yua masih belum memercayaiku.


“Kau ini? Apa aku serendah itu? Kau tidak tahu betapa menyeramkannya berada di hutan seperti itu, apalagi tengah malam, mengingatnya saja aku sudah gemetar.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku saat mengingat peristiwa yang kualami bersama Refald saat kami masih berada di dalam hutan waktu itu. “Tapi aku bersyukur Refald ada bersamaku, entah apa yang terjadi padaku jika ia tidak datang menyelamatkanku. Aku datang kemari untuk memeriksakan kondisi kakiku yang terkilir akibat jatuh ke jurang dan dokter bilang seminggu lagi aku sudah bisa berjalan seperti sebelumnya.” Yua mendengarkan penjelasanku dengan seksama.


“Oh, terus bagaimana kau tahu kalau aku ada di ruangan Epank? Padahal aku tidak bisa mengontakmu sama sekali.” Ayu menengguk minuman yang kami pesan.


“Kepala perhutani yang memberitahuku bahwa kalian semua dirawat di rumah sakit ini, makanya aku minta Refald mengantarku kemari untuk memeriksakan kondisiku sekaligus menjenguk kalian. Aku sangat terkejut mak lampir itu ada di sini juga bahkan sampai membuat keributan di sini. Apa yang sebenarnya terjadi, Yua?” aku melihat Yua yang masih menunduk dengan ekspresi bingung.


“Via tidak ingin berpisah dari Epank.” Akhirnya Yua bicara sambil menatap mataku.

__ADS_1


“Kenapa? Jelas-jelas belangnya sudah ketahuan, wajar saja kalau Epank minta berpisah darinya.” Aku meminum minuman soda gembiraku. Sungguh terasa segar ditenggorokanku karena puas Epank sudah memutuskan berpisah dari Nenek sihir Via itu.


“Via tetap keukeuh tidak mau mengakhiri hubungannya dan masih saja terus mengejar-ngejar Epank. Dia bahkan menuduhku merebut Epank darinya.” raut wajah Yua jadi sedih. Aku pun ikut sedih melihatnya.


Si Nyi blorong itu masih saja bikin masalah!


Aku berusaha memahami situasi Yua saat ini. “Lalu, bagaimana dengan Epank sendiri? Apa yang kalian bicarakan tadi? Aku sempat melihat kalian berdua saling berpegangan tangan.”


“Dia memintaku menjadi kekasihnya. Tapi aku menolaknya.” Yua bicara dengan ekspresi datar.


“Apa? Kenapa kau menolaknya? Bukankah selama ini kau mencintainya? Sekarang cintamu sudah terbalas, harusnya kau senang dan menerimanya? Kenapa malah menolaknya? Kau ini bodoh atau apa sih?” aku sendiri yang malah jadi heboh di sini begitu mendengar Yua menolak lagi cinta Epank.


“Aku ingin dia menyelesaikan masalahnya dulu dengan Via, baru aku mau menerimanya. Sejujurnya aku sangat senang saat Epank menyatakan cinta padaku, tubuhku serasa melayang mendengarnya, tapi jika mengingat tatapan Via padaku, aku takut hubungan kami tidak akan bertahan lama. Aku yakin Via pasti akan melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan hubungan kami berdua. Karena itu aku memintanya menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik. Agar tidak ada permusuhan diantara kita semua.” Yua terlihat sangat tenang, dan lagi-lagi aku kagum akan sifat kedewasaannya.


Aku manggut-manggut setuju dengan keputusan Yua. “Kau benar, terus bagaimana jawaban Epank?” aku penasaran.


“Ia akan mengusahakannya, tapi untuk saat ini ia tidak ingin melihat wajah Via. Epank masih tidak terima dikhianati Via selama ini. Sejujurnya aku mengerti, pasti sangat berat bagi Epank karena cintanya pada Via harus berakhir mengenaskan seperti ini. Padahal, hubungan mereka sudah terjalin cukup lama. Aku saja masih belum percaya kalau Epank bisa mencintaiku dan melupakan Via secepat itu.” Yua seperti sedang memikirkan sesuatu. Cewek itu terus mengaduk-ngaduk minumannya.


“Aku tidak begitu paham soal cinta, tapi mungkin Epank jatuh cinta padamu karena kau berulang kali menyelamatkannya. Kau ingat kan? Sedangkan Via yang jadi pacarnya saja tidak pernah melakukan apa-apa untuk Epank.”


“Apa benar begitu?” Yua jadi terlihat bersemangat setelah mendengar argumenku.


“Tentu saja? Cintamu tulus padanya, karena itulah Epank bisa jatuh cinta padamu.” Aku menyemangati Yua agar ia tetap kokoh pada cintanya.Aku melihat Yua jadi berseri-seri.


“ Mungkinkah yang kau katakan itu benar?”


Aku bisa melihat ada kepercayaan diri lagi dalam diri Yua. “Tentu saja, apa kau tidak yakin?”


“Tentu saja aku yakin, terima kasih Fey, kau membuatku semangat lagi,” ucapnya sambil tersenyum.


“Aku akan selalu mendukungmu Yua, karena kau sahabat terbaikku.”


Yua menggenggam erat tanganku, “Lalu bagaimana dengan kalian?”


“Apanya?” tanyaku bingung.


“Apa kalian berdua sudah jadian?” Yua terlihat serius lagi.


Aku mengerti ke mana arah pembicaraan Yua, “Lebih dari itu, kami sudah bertunangan.” Aku menyeruput lagi minumanku.


“Apa?” Yua memelototiku.


***

__ADS_1


__ADS_2