Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 96 melarikan diri


__ADS_3

Aku heran kenapa dua orang ini pingsan ketika melihat sosok cantik nan rupawan yang ada dihadapanku ini. Harusnya mereka malu dengan tato dan badan besar mereka yang tak sepadan dengan nyali para preman-preman pasar dimana ternyata, sama hantu saja mereka jadi takut sampai seperti itu.


“Kenapa mereka bisa pingsan? Harusnya mereka terpesona dengan wajah ayumu, Mbak? Apa kau terlalu cantik sampai mereka tak kuasa menatap wajahmu itu?” tanyaku sambil menyunggingkan senyum tak percaya kalau seorang penjahat bisa takut juga sama hantu.


“Yang sedang mereka lihat bukanlah wajah asliku, wajar jika mereka pingsan saat melihatku. Wajahku yang asli adalah yang anda lihat sekarang. Sedangkan manusia-manusia lainnya, menganggap wajah kami itu sangat menakutkan dan menyeramkan, itu memang benar. Makanya saat melihatku, mereka ketakutan, bahkan sampai pingsan, seperti dua orang bodoh itu,” terang sosok hantu wanita yang mulai terbiasa aku panggil sebagai mbak Kun.


Tidak ada alasan bagiku untuk tidak memercayai apa yang dikatakan makhluk putih cantik ini. Sejak Refald menceritakan semuanya padaku, hal ajaib yang terjadi diluar nalar manusia, sudah sering aku lihat dan aku alami. Apa yang terjadi padaku saat ini, juga bukan hal yang baru lagi.


Sepertinya, aku mulai terbiasa dengan kehidupan baruku, sebagai tunangan Refald yang dianggap pangeran oleh para makhluk astral tak kasat mata sejenis mbak kun ini. Aku yakin akan ada makhluk-makhluk lain yang sedang menantiku untuk bertemu dengan mereka sehingga aku harus menyiapkan mentalku dari sekarang. Seperti yang dikatakan Refald, cepat atau lambat aku pasti akan bertemu para pasukannya, dan inilah saatnya.


“Ayo kita pergi, pangeran menunggu anda di hulu sungai.” Dalam satu kedipan mata, mbak Kun membuka ikatanku sehingga aku bisa kembali bebas bergerak lagi. “Ikuti saya,” ajak mbak Kun sambil melayang di udara.


Kalau dilihat dari belakang, sosok putih melayang itu benar-benar menakutkan. Apalagi ini sudah malam dan berada di tempat yang gelap. Untuk sesaat, aku kembali ketakutan, tapi aku harus mengingat betapa cantik jelitanya mbak Kun yang ada didepanku agar aku tak ketakutan lagi melihatnya.


“Apa Yua baik-baik saja?” tanyaku sambil mengekor di belakang mbak Kun yang melayang diatasku sekaligus untuk mengalihkan rasa takutku dan menganggapnya seperti manusia biasa yang memiliki kekuatan super sama seperti Refald.


“Dia baik, dan sudah berada dikamarnya dengan selamat. Saat ia terbangun, teman anda itu akan melupakan segalanya yang sudah pernah terjadi padanya. Jadi, jika bertemu dengannya, mohon jangan singgung soal penculikan ini,” terang mbak Kun tanpa menoleh ke arahku.


“Syukurlah kalau begitu, terimakasih sudah mau membantuku menyelamatkan temanku.” Aku menghela napas lega.


Mbk Kun tiba-tiba saja berhenti melayang dan berbalik arah menatapku. “Anda berterimakasih pada saya?” tanyanya terkejut.

__ADS_1


“Tentu saja, bukankah sudah seharusnya aku mengucapkan terima kasih karena kau bersedia membantuku?” tanyaku heran sekaligus juga bingung. Apa ada yang aneh dengan ucapanku? aku membatin dalam hati.


“Tanpa anda minta pun, pangeran sudah menyuruh saya untuk melakukan hal yang sama, tapi tidak pernah mengucapkan terimakasih seperti yang anda lakukan, saya benar-benar terharu. Sebagai makhluk rendahan, saya merasa terhormat mendapat ucapan terima kasih dari seorang manusia.”


Bukankah dia dulunya juga manusia? Kenapa dia bicara seolah tak pernah menjadi manusia? Pikirku.


Entah aku salah lihat atau apa, sosok putih cantik itu seolah sedang meneteskan air mata. Ini pertama kalinya aku melihat ada hantu menangis secara langsung didepanku sehingga membuatku jadi salting tak tahu apa yang harus aku lakukan.


“Apa Refald memperlakukan kalian dengan tidak baik? Apa dia jahat pada kalian semua?” tanyaku penuh penasaran.


Sosok putih itu mengusap wajahnya yang sungguh benar-benar cantik. Aku saja sampai iri melihat parasnya yang menawan. “Pangeran adalah orang yang wajib kami lindungi, dan bukan hanya dia, segala hal yang berkaitan dengannya, kami harus melindunginya. Termasuk anda yang sudah terpilih sebagai pengantin pangeran, apapun yang terjadi pada anda, kami juga harus melindungi anda. Bahkan jika kalian berdua nanti memiliki seorang anak, maka kami pun juga harus melindungi anak kalian. Itulah takdir yang digariskan pada kami. Selama ini, pangeran sangat baik dan tidak pernah marah, dan ia tidak suka banyak bicara. Sayapun jadi heran, karena saat bersama anda, ia jadi berbeda.”


Aku terkejut mendengar kalimat terakhir yang dikatakan mbak Kun barusan. “Tunggu, berbeda apanya?” tanyaku bingung, mungkinkah ... tanpa mbak Kun sadari, ia telah membuka apa yang selama ini tidak aku ketahui soal Refald?


“Kenapa Refald tidak datang sendiri menjemputku. Bukankah ia bisa berlari cepat dan datang kemari? Kenapa malah menyuruhmu kesini dan membawaku menemuinya. Memangnya apa yang sedang dia lakukan?”gumamku. Sejujurnya aku kesal karena bukan Refald sendiri yang menyelamatkanku.


“Anda akan tahu setelah bertemu dengannya, jadi ikuti saja saya, sebaiknya kita cepat, saya tidak bisa menunjukkan jalan pada anda jika hari sudah menjelang fajar.” Mbak Kun mulai kembali melayang dan membukakan selot pintu secara perlahan agar aku bisa keluar dengannya tanpa menimbulkan keributan.


Ada banyak orang yang berjaga di depan gudang ini. Mereka semua dalam keadaan tertidur pulas. Saat mbak Kun melintas diatas mereka, aku melihat hidung mereka mulai mengendus-endus seolah sedang mencium aroma sesuatu. Aku memerhatikan gerak gerik mereka dan baru menyadari satu hal. Aroma sosok mbak Kun benar-benar wangi. Sebuah aroma yang juga tidak asing bagiku, aroma itu adalah aroma bunga melati.


“Kenapa aku barus sadar kalau wangi mbak Kun benar-benar seperti wangi bunga putih mungil itu?” gumamku lirih dan berlari pelan menyusul sosok putih melayang menerobos masuk kedalam hutan belantara.

__ADS_1


Hutan ini benar-benar menakutkan, begitu sunyi, sepi dan juga sangat gelap. Hanya suara burung hantu terdengar berkicau di mana-mana, menambah kesan horor setiap jalan yang aku lewati. Jika saja aku tidak mengenal sosok putih yang ada didepanku, mungkin aku sudah pingsan karena ketakutan berada di dalam hutan yang angker ini.


“Apa masih jauh? Di mana Refald?” aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Refald untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Apa dia baik-baik saja atau tidak.


“Apa anda merindukan, Pangeran? Baru juga beberapa jam kalian tidak bertemu.” Mbak Kun mulai mengeluarkan tawa khasnya yang menakutkan, tapi bagiku, tawanya itu terdengar menggelikan karena aku tahu dia sedang menggodaku.


“Aku hanya, khawatir padanya, setiap hari aku bertemu dengannya. Jadi, tidak alasan bagiku untuk merindukannya.”


“Tapi pangeran meriduknan anda.” Mbak Kun masih saja tertawa dengan khas tawa kuntilanak. Anehnya, aku tidak takut lagi dengan suara yang harusnya terdengar menakutkan itu. aku mulai yakin, kalau aku sudah terbiasa dengan tawa dan keberadaan mbak Kun.


“Jika dia merindukanku, kenapa dia tidak datang langsung padaku? Dan malah menyuruhmu?” tanyaku terdengar kesal.


Mbak Kun berhenti tertawa dan juga berhenti melayang secara tiba-tiba sehingga tanpa aku sadari, wajahku menabrak baju putihnya bagian bawah. Aku sangat terkejut saat wajahku menyapu kain putih bersih itu, aroma melati begitu kuat menyengat. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, tidak ada kaki disana. Aku langsung los saja saat menabrak kain itu. mataku terbelalak dan ketakutan mulai menyerangku kembali.


“Lihatlah ke depan, pangeran Refald ada di sana! Dia sedang menunggu anda, temui dia!” setelah bicara seperti itu, mbak Kun pun menghilang dalam sekejap mata. Entah pergi ke mana dia.


Aku mengamati sosok laki-laki yang duduk santai di atas sebuah batu besar yang ada di tepi sungai besar. Sudah jelas sekali kalau laki-laki itu adalah Refald.


"Kenapa dia ada di sini?" gumamku.


***

__ADS_1




__ADS_2