
Saat aku membuka mataku di pagi hari, aku melihat ruangan yang tidak asing lagi bagiku. Mataku terlalu berat untuk membuka dengan sempurna. Berkali-kali aku mengusap-usap mataku supaya bisa melihat dengan jelas untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah berada dikamarku sendiri dan bukan berada di hutan lagi.
Setelah beberapa menit, akhirnya aku benar-benar yakin kalau aku memang ada di rumah lagi, dikamarku, di rumah almarhum ibu dan ayahku dulu.
“Ah benar, semalam pasti aku hanya bermimpi. Tidak salah lagi, tempat ini memang kamarku, dan Refald ... mungkin cuma mimpi. Mana mungkin dia ada di sini?” Gumamku menertawai diriku sendiri yang berharap bahwa keberadaan Refald saat tidur sambil memelukku itu nyata dan bukan hanya mimpi belaka.
“Itu bukan mimpi.” Terdengar suara dari belakangku dan aku hafal betul siapa pemilik suara itu.
“Refald?” aku segera memutar tubuhku menghadap Refald yang sedang berbaring membelakangiku. Aku terkejut dan juga terpana melihat Refald yang begitu fresh dan tampan. Ia tersenyum manis padaku, “Jadi semalam bukan mimpi?" tanyaku penuh semangat.
Refald menarik tubuhku dengan cepat sehingga aku terjatuh diatasnya. “Tentu saja ini bukan mimpi, Honey ... “ Refald langsung menghujamkan ciuman mautnya padaku. “Aku ada di sini, bersamamu, forever.” Refald memelukku dengan erat, dan akupun senang berada dipelukannya seperti ini.
Aku merasa kami berdua seperti pasangan pengantin baru yang sedang melakukan bulan madu. Bedanya kami masih bisa menahan diri agar tidak menuruti birahi kami masing-masing karena kami berdua masih di bawah umur. Kami yakin, akan datang waktunya masa-masa indah seperti itu, sedangkan saat ini, yang bisa kami lakukan hanya bisa menikmati momen indah kebersamaan kami yang dulu sempat tertunda karena perpisahan kami.
“Ohayou ....” tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Refald langsung melempar tubuhku hingga aku jatuh terjerembab ke lantai.
“Auhh ... sakit tahu!” kepalaku terbentur dinding dengan keras. Refald yang langsung bangun dari tempat tidurnya dan ayahku yang baru datang terkejut melihatku merintih kesakitan. Dengan sigap, mereka berdua berlari menghampiriku untuk memeriksa kondisi kepalaku.
“Maaf, Honey, aku terkejut tadi dan ....”
“Kau melemparku begitu saja ....” aku memelototi Refald karena kesal, sedangkan dia hanya menundukkan wajahnya. Aku tahu Refald sedang menyembunyikan tawanya.
“Ayah yang harusnya minta maaf karena sudah mengganggu masa-masa indah kalian berdua, apa kau baik-baik saja, Sayang?” ayah mengusap-usap kepalaku sedangkan Refald hanya menatapku sambil memasang wajah polos tak berdosa.
Aku menatap wajah ayah dan Refald secara bergantian, ada tawa di mata keduanya. Mereka berdua benar-benar menjengkelkan. Suasana hatiku menjadi sangat buruk sekarang, tidak mungkin aku bilang pada ayahku bahwa aku tidak sedang baik-baik saja sekarang.
“Ohayou, Otousan!” aku bangkit berdiri dari tempat dudukku dan pergi keluar dari kamar tanpa sadar bahwa keadaanku masih sangat berantakan, rambut awut-awutan dengan muka tidak kalah kusut dari benang. Aku meninggalkan dua orang laki-laki menjengkelkan di belakang. Aku juga tidak mau peduli apapun komentar mereka tentang tindakanku barusan.
Sebenarnya, aku sangat malu pada ayah dan Refald. Bisa-bisanya ia mendorongku begitu saja disaat ayah datang membuka pintu tanpa peringatan. Aku merasa seolah-olah kami sudah tertangkap basah sedang melakukan sesuatu, padahal kami hanya saling berpelukan saja.
__ADS_1
“Pagi cucuku,” sapa nenek dari balik ruang makan. Nenek sedang menyiapkan sarapan untuk kami yang di bantu oleh mbok Min, orang yang mengurus rumah ini selama ayah dan almarhum ibu tidak ada di sini.
“Pagi, Nek ...,” balasku dengan malas. Aku menguap dengan lebar karena masih sangat ngantuk sekali, selama seminggu di hutan aku sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak.
“Apa kau sudah mandi? Kau berantakan sekali,” komentar nenek.
Aku mencomot anggur yang ada di meja makan, “Setelah dua orang menjengkalkan itu keluar dari kamarku, baru aku akan mandi, Nek,” jawabku asal.
“Kenapa dengan mereka?” Nenek jadi penasaran mendengar jawabanku.
Baru saja aku mau jawab, tapi tiba-tiba ada yang menyelaku sebelum mulutku bersuara.
“Aku memergoki mereka bermesraan, Ibu,” sela ayah sambil menuruni anak tangga.
Aku langsung terpaku mendengar suara Ayah, aku bahkan tidak berani menoleh kearahnya. Rasa maluku kembali menyerang sehingga membuatku berlari keluar ruang makan dan naik lagi ke tangga menuju kamar.
Sial, ayah benar-benar menggodaku sekarang, kenapa dengan mereka semua? Aku benar-benar pusing sekarang. Ada di mana cecunguk gila itu?
“Di sini!” suara Refald tiba-tiba terdengar berbisik di telingaku. Aku jadi kaget hingga meloncat saat menoleh Refald sudah berdiri dengan senyuman mautnya di sampingku.
“Kau ini! Suka sekali membuatku terkejut, ha? Bagaimana kalau aku tiba-tiba terkena serangan jantung?” aku mengelus-elus dadaku yang tidak sakit.
“Aku akan memberikan jantungku padamu!” Refald hanya cengar-cengir menatapku.
“Dasar tukang gombal, tunggu, bagaimana bisa kau tahu apa yang sedang aku pikirkan tentangmu? Kau bisa mendengar pikiranku? Sejak kapan?” aku bingung karena Refald tahu kalau aku sedang mencarinya. Aku juga baru ingat, semalam ia belum menjawab pertanyaanku tentang apakah ia bisa mendengar apa yang aku pikirkan atau tidak.
Refald mendudukkanku di meja rias dan membantuku menyisir rambutku yang acak-acakan. “Sejak pertama kali kita berciuman, aku bisa mendengar apapun yang kau pikirkan, bahkan saat kau memakiku dan meminta tolong padaku! Aku bisa mendengar semuanya. Aku bisa mendengar suara hatimu, karena kita sudah terhubung satu sama lain.” Refald menatapku yang terpana mendengar penjelasannya melalui cermin yang ada di depan kami. Sentuhan lembut tangan Refald pada rambutku membuatku semakin takjub padanya.
Aku terperangah sampai mulutku menganga mendengar penjelasan Refald yang tidak masuk akal. “Apa kau yakin kau bukan keturunan Edward?” aku jadi berhalusinasi lagi.
__ADS_1
Refald tertawa terbahak-bahak, “Honey ... berapa kali aku bilang, aku bukan Edar seperti yang kau tuduhkan?”
“Bukan edar, bodoh! ED-WARD, kau ini mirip Yua saja! selalu saja salah mengucap nama tokoh utama twilight.” Aku jadi sensi jika ada orang yang sengaja memelesetkan nama tokoh favoritku.
“Ya sudah terserahlah, yang jelas aku memang berbeda dengan yang lain. Sayangnya, aku juga punya kelemahan. Jika sampai aku marah dan membenci seseorang, maka kekuatanku ini secara otomatis akan menghilang selama satu bulan. Jadi, selama sebulan aku akan menjadi manusia biasa sepertimu dan yang lainnya. Para pasukanku juga tidak bisa lagi mengawalku.” Refald masih sibuk merapikan rambutku.
Pantas saja waktu itu, saat Refald dikejar-kejar banteng, ia terlihat lelah dan kepayahan, sangat berbeda dengan Refald yang sekarang. Ternyata saat itu, ia kehilangan kekuatannya karena marah dan kesal padaku. Sekarang aku paham, itulah alasan kenapa ia memintaku sebagai bodygoardnya selama sebulan, meski sebenarnya lukanya itu tidak parah dan hanya mengerjaiku saja, dasar Refald!
“Kenapa kekuatanmu bisa hilang jika kau marah?” tanyaku penasaran.
“Karena aku, adalah keturunan raja yang harus selalu bersikap bijak dan sabar dalam menghadapi banyak hal. Kekuatan ini menuntunku supaya aku bisa lebih banyak menahan diri, jangan sampai ambisi mengalahkanku. Jika itu terjadi, maka aku tidak pantas menyandang gelar sebagai keturunan raja dan juga tidak akan pernah bisa menjadi raja. Sebab seorang raja harus bisa berperilaku bijak dan sabar agar bisa melindungi rakyat dan keturunannya, begitu juga dengan almarhum leluhurku. Untuk melahirkan raja-raja yang seperti itu, maka kekuatan leluhurkulah yang mengajarkan kami semua sebagai penerus garis keturunan raja agar memiliki sifat bijak, sabar dan bertanggungjawab. Jika sifat itu tidak ada, maka dia bukanlah keturunan raja yang sesungguhnya dan tidak berhak menaiki tahta.”
Aku sedikit paham dengan penjelasan Refald. Kekuatan yang dimiliki Refald bertujuan untuk membuat para keturunan raja tidak bersikap tinggi hati dan tetap bersahaja kepada siapapun. Jika ada keturunan raja yang seperti itu, maka secara otomatis kekuatan itu akan hilang dengan sendirinya.
“Apakah ayahmu juga memiliki kekuatan yang sama sepertimu?” aku jadi penasaran dengan ayah Refald yang sebentar lagi akan jadi ayah mertuaku. Sebab, aku merasa beliau sangat konyol sekali, tidak menandakan kalau dia adalah salah satu keturunan dari raja juga, bahkan kalau tebakanku benar, sikap Refald dan ayahnya sangat berbanding terbalik.
“Tidak, ayah tidak memiliki kekuatan seperti yang aku punya. Kekuatan ini hanya bisa diberikan langsung oleh almarhum kakek buyutku pada keturunan raja yang terpilih. Kebetulan akulah salah satu dari yang terpilih itu.” Refald masih sibuk menata rambutku.
Aku masih memikirkan semua kisah kekuatan Refald dengan akal sehatku meski tidak nyambung sama sekali. Berapa kali pun aku menyangkalnya semua yang terjadi tetaplah nyata, mau tidak mau aku harus mengerti dan memahami. Aku kira kisah kekuatan Refald ini hanya ada dalam cerita film dan novel saja, tapi ternyata juga ada di dunia nyata.
“Ada berapa kegilaan lagi yang harus kuhadapi setelah ini.”gumamku lirih.
Refald memelukku dari belakang setelah menata rambutku yang kini terlihat lebih rapi dari sebelumnya, “Jangan khawatir Honey, kau dan aku pasti bahagia selamanya layaknya orang biasa pada umumnya, Oke.” Refald mengecup pipiku dengan lembut, tangannya menggenggam erat tanganku. “Sekarang bersihkan dirimu dan kita turun ke bawah, jangan mengkhawatirkan apapun, karena aku sudah menjelaskan semuanya pada ayah. Jadi, beliau sudah mengerti. Setelah itu, kau harus ikut denganku, kita pergi ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
“Kau tidak rindu dengan teman-temanmu?” Refald melepaskan pelukannya.
Aku terkejut, terlalu banyak hal yang terjadi sampai aku lupa bagaimana kondisi teman-temanku. Tanpa banyak bicara aku menyambar handuk dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Aku sempat melihat Refald menertawai tingkah konyolku.
__ADS_1
Sial, bagaimana bisa aku melupakan teman-temanku, ahh ... aku bodoh sekali.
****