
“Arghhhhhhh ... sakit ... lepas, lepaskan aku, Fey!” teriak orang yang tiba-tiba muncul di sebelah kananku.
Aku sangat terkejut mendengar teriakannya, namun aku lebih terkejut lagi ketika melihat tangan kananku sudah ada di atas kepalanya. Rupanya, tanpa sengaja aku menjambak rambut orang yang ternyata adalah salah satu seniorku yang sengaja bersembunyi di semak-semak.
“Apa yang kau lakukan? Kau menjambak rambutku! Sakit tahu!” teriak seniorku.
Spontan aku melepaskan tanganku dari kepalanya, cowok yang biasa dipanggil si kribo itu mengusap-usap rambut kribonya.
“Maaf, Kak. Maaf ... aku tidak tahu kalau yang aku cengkeram bukanlah semak-semak, melainkan rambut Kakak!” tukasku. Aku jadi merasa bersalah karena tanpa sengaja sudah menjambak rambut seniorku. Bisa gawat kalau sampai aku gagal ujian caraka gara-gara seniorku ini marah padaku karena ulahku. “Lagian apa yang Kakak lakukan di sini? Bikin jantungan saja.”
Cowok kribo yang bernama Jojo ini langsung salah tingkah mendengar pertanyaanku. “Sebenarnya aku bertugas untuk menakut-nakuti kalian, makanya aku bersembunyi di semak-semak ini dengan tiba-tiba muncul di depan kalian saat kalian berjalan melewati jalan ini. Tapi sepertinya aku sedang sial karena belum sempat aku menakutimu kau sudah terlebih dulu menjambak rambutku, mentang-mentang rambutku sama dengan semak-semak belukar ini. Kau seenaknya saja menjambak rambut orang,” terangnya sambil cemberut.
Entah apa yang harus kukatakan pada seniorku satu ini, ingin tertawa tapi tidak tega. Aku juga takut dia akan merasa tersinggung dan akhirnya tidak ingin meloloskanku untuk ujian ini.
“Maaf, Kak. Sungguh aku tidak tahu, lagian nggak ada tempat lain apa? Masak sembunyi di semak-semak?”
“Yah kalau manjat pohon gak bisa aku, Fey. Entar disangkain aku monyet lagi, karena filosofiku mendekati mereka!”
Aku berusaha menahan mulutku agar tidak tertawa. Apa yang dikatakan Kak Jojo ini benar. Wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi brewok dan rambutnya yang kribo serta bentuk badannya yang kurus kering memang hampir mirip dengan spesies kera. Wajar kalau Kak Jojo lebih memilih sembunyi di semak-semak daripada ia dikira kera kalau bersembunyi dia atas pohon.
“Apa Kakak tidak apa-apa? Apa aku boleh melanjutkan perjalananku. Atau aku harus menerima misi lain?”
“Iya, tidak apa-apa. Oke, lanjutkan saja misimu. Semoga berhasil.”
“Terima kasih, Kak. Sebaiknya Kakak sembunyi lagi, tapi jangan terlalu dekat dengan jalan supaya Kakak tidak dijambak lagi. Aku pergi dulu,”ledekku.
“Dasar kau ini!”
Aku tertawa meninggalkan seniorku yang lucu ini. Syukurlah disela-sela keteganganku, aku masih bisa tertawa berkat kak Jojo. Aku pun melanjutkan perjalananku dengan perasaan lega, karena sedikit lagi aku akan sampai di garis finish acara caraka ini.
__ADS_1
Baru saja aku berjalan beberapa meter dari tempat kak Jojo tadi, tiba-tiba langkahku harus terhenti lagi karena aku melihat sekelebat cahaya yang tadi aku lihat sebelumnya. Cahaya yang mirip dengan hantu kuyang itu menuju ke arah kiri. Aku baru sadar kalau saat ini aku sedang berada dipersimpangan jalan. Kak Vega tadi berpesan supaya aku tidak melewati jalan yang sudah dipasang dengan tali rafia yang sudah terpasang sebagai penghalang jalan jika aku sampai di sebuah persimpangan. Mungkin saja jalan inilah yang dimaksud oleh Kak Vega tadi.
Aku mengamati kedua jalan ini. Anehnya aku tidak menemukan tali rafia dimanapun. Aku bingung memutuskan jalan mana yang harus kulewati, Sebab tidak ada tali atau apapun yang terpasang dikedua jalan ini. Akhirnya aku mencoba berjalan ke arah kiri jalan yang tadi dilewati cahaya putih tadi. Entah kenapa tiba-tiba aku menghentikan langkahku yang baru berjalan tiga langkah. Suasana hatiku sangat tidak enak, rasa gelisah begitu kuat menyerangku, dan tanpa pikir panjang lagi, aku berbalik arah dan berjalan cepat ke arah berlawanan dari jalan yang aku lewati tadi, yaitu persimpangan jalan di sebelah kanan.
Aku berlari dan terus berlari, bayangan hantu kuyang yang terlintas dikepalaku membuatku ingin cepat-cepat mengakhiri misi ini. Beruntung setelah lima belas menit kemudian, aku melihat beberapa temanku berdiri berjajar didepanku. Setelah dekat, aku baru tahu akhirnya kami kembali lagi di lokasi awal kami memulai misi tadi.
Syukurlah akhirnya aku sampai dengan selamat.
Aku terduduk lunglai di tanah setelah melewati perjalanan panjang yang penuh dengan ketegangan.
****
“Itulah yang terjadi padaku tahun lalu saat aku mengikuti kegiatan caraka sebagai junior.” ucapku mengakhiri cerita. Refald hanya menatapku tanpa ekspresi.
“Lalu, apa yang membuatmu hampir kehilangan nyawa.” Tanya Refald penasaran.
“Keesokan paginya, aku memeriksa kembali jalan yang kulewati semalam saat aku mengikuti caraka bersama dengan semua peserta PA. Aku sangat terkejut ketika aku sampai di persimpangan jalan yang kulewati itu ternyata, sebelah kiri jalan, sudah terpasang tali rafia warna biru, jadi tidak mungkin ada orang yang boleh melewati jalan itu karena tiga meter dari situ adalah jurang yang sangat dalam.”
“Maksudku, saat aku melewati jalan persimpangan semalam, tali rafia ini tidak ada dan aku hampir saja jatuh ke jurang jika aku tidak menghentikan langkahku dan berbalik badan pergi ke arah lain. Sosok cahaya itulah yang membuatku tertarik melewati jalan itu, meski aku sendiri tidak yakin, tapi kenyataannya adalah, selangkah lagi aku maju waktu itu, maka bisa dipastikan saat ini aku tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi.”
Refald tertegun melihatku, ia berbalik arah untuk menyembunyikan ekspresinya, lalu ia langsung memelukku dengan erat. Sangat erat.
“Maafkan aku, maafkan aku, Honey ... harusnya aku ... datang lebih cepat, dengan begitu, kau tidak harus mengalami kejadian seperti itu.”
Aku yang juga terkejut karena Refald memelukku tiba-tiba, terharu mendengar ucapannya. “Tidak apa-apa. Aku yang dulu mungkin akan terus menyalahkanmu. Tapi sekarang aku sudah mengerti, apa yang terjadi padaku, bukanlah kesalahanmu atau kesalahan siapapun. Semua sudah digariskan ditangan kita masing-masing. Begitu juga garis tanganku yang sudah menjadi takdirku. Jangan merasa bersalah lagi, oke?” tukasku seraya membalas pelukannya yang hangat.
Refald terus memelukku dalam waktu lama, sampai akhirnya ia melepaskannya karena mendengar suara teriakan seseorang yang mencari-cari kami. Kami berdua segera tersadar dan langsung menghampiri suara teriakan yang ternyata adalah suara Yoshi. Ia sedang memanggil-manggil nama kami.
“Kalian berdua dari mana saja?” tanya Yoshi begitu melihat kami datang menghampirinya, ia sedikit terlihat emosi. “Kalian ini benar-benar membuat kami khawatir, ngapain kalian berada di sana malam-malam, ha? Udah kebelet apa? Adaooowww .... nih apaan ci? Main jitak-jitak?”
__ADS_1
Refald menjitak kepala Yoshi dengan kencang. “Yang pertama! Itu balasan karena kemarin kau membentak-bentak istriku waktu repling prusik! Yang kedua, kau sudah nuduh kami yang nggak-nggak. Kami berada di sini bukan berarti kami harus berbuat mesum. Ada banyak hal yang harus kami lakukan terutama untuk menjaga keselamatan nyawa kalian! Jadi, jangan lagi menuduh kami yang bukan-bukan. Meski aku juga sangat ingin melakukannya, tapi aku tahu batasannya!” tegas Refald lalu pergi menggandeng erat tanganku dan meninggalkan Yoshi yang melongo karena heran.
****
Refald terus menggenggam tanganku dan membawaku pergi meninggalkan tempat ini. Sebentar lagi kegiatan caraka akan dimulai, aku dan Refald bergabung kembali dengan teman-temanku untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum acara dimulai.
Saat acara caraka dimulai, para junior masih tertidur lelap di tenda mereka masing-masing. Semua anggotaku juga sudah siap ditempatnya. Kegiatan caraka tahun ini sama dengan tahun lalu saat aku masih menjadi junior. Hanya saja, tempat kami berbeda.
Kali ini lokasi caraka tidak jauh dari tempat kami berkemah. Bahkan kami bisa memantau langsung setiap peserta yang berjalan menelusuri rute caraka. Karena rute itu berada tepat di bawah lokasi kami berkemah.
Suasana malam ini agak gelap sehingga dapat dipastikan kalau para peserta caraka tidak akan menyadari bahwa kami bisa memantau pergerakan mereka dari atas. Hal itu dilakukan agar apa yang terjadi padaku di tahun lalu, tidak terjadi pada semua junior di tahun ini. Jika ada hal yang mencurigakan, kami bisa langsung sigap mengatasinya.
“Semuanya sudah siap?” tanyaku pada yang lainnya.
Semua mengangguk dan berkata, “Siap!”
Kami tidak bisa bersuara keras, supaya tidak membangunkan junior sebelum waktunya. Kami melakukan tos bersama dan segera standby di posisi masing-masing.
Refald setia bersamaku. Ia bersikap lebih waspada setelah aku menceritakan kepadanya tentang kejadian yang menimpaku di tahun lalu. Ia bahkan mengikuti semua pergerakanku. Jika aku duduk, maka ia ikutan duduk disebelahku, jika aku berdiri, maka Refald juga berdiri, jika aku berjalan, ia juga mengikutiku berjalan. Semua yang kulakukan, Refald juga melakukannya. Bahkan ia menyediakan minuman dan makanan hanya khusus untukku.
Aku sendiri bingung dengan tindakan Refald yang menurutku terlalu berlebihan, tapi aku tidak bisa protes karena kegiatan caraka sudah dimulai. Disamping itu, aku juga sedang tidak ingin berdebat dengannya saat ini.
“Aku tahu kau bosan mendengarnya, tapi aku bisa pastikan bahwa selama ada aku di sisimu, kau dan yang lainnya akan tetap aman.” Bisik Refald saat kami memulai acara carakanya.
Aku mengangguk. Memang sulit untuk memercayai semua yang dikatakan Refald. Namun, tidak ada cara lain selain berusaha memahami apa yang ia katakan. Apalagi ini menyangkut keselamatanku dan semua orang yang mengikuti kegiatan ini.
Kami hanya butuh melewati malam ini. Besok pagi, kami sudah harus meninggalkan tempat ini. Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja sampai kami semua pergi dari sini.
Malam ini aku membiarkan Refald melindungiku dengan segala upaya yang ia punya meski aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terlepas dari serangkaian kejadian di luar nalar yang kualami selama berada di sini.
__ADS_1
Aku merasa nyaman berada di sisi Refald. Tidak ada lagi rasa takut seperti yang ku alami tahun lalu. Bahkan jika hantu itu muncul lagi dihadapanku, aku sudah tidak takut lagi. Karena genggaman tangan Refald yang hangat membuatku berani menghadapi makhluk astral yang berusaha menggangguku.
****