
Setelah sarapan bersama, Refald meminta izin pada ayah untuk membawaku ke rumah sakit sekaligus memeriksakan kakiku yang terkilir dan menjenguk teman-temanku.
Ayah langsung menyetujuinya tanpa syarat apapun, ia bahkan memercayai Refald sepenuhnya. Ayah hanya berpesan supaya kami tidak pulang larut malam.
“Sebenarnya, ayah ingin mengantar kalian memeriksakan kondisi Shiyuri, tapi ada beberapa hal yang harus ayah urus di sini karena beberapa hari ke depan ayah harus segera kembali ke Jepang.”
“Kenapa Ayah kembali secepat ini?” tanyaku tidak terima karena ayahku akan kembali ke Jepang dalam waktu dekat. Padahal kami baru saja bertemu.
“Sayang, ayah tidak bisa berlama-lama di sini karena ayah juga harus bekerja. Lagipula sebentar lagi kakakmu juga akan menikah, ayah juga harus menyiapkan semuanya.” Ayah menatapku dengan lembut berharap bahwa aku mengerti situasinya sebagai seorang ayah yang akan menikahkan putri sulungnya.
“Kapan Sakura akan menikah? Kenapa mendadak sekali?” aku pun bingung harus bagaimana, kami berdua sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan berita pernikahannya.
“Mereka berdua sudah memutuskan, maka ayah hanya bisa mendukung saja. 2 bulan dari sekarang, kau masih bisa datang di acara pernikahan kakakmu nanti. Ayah akan minta izin pada kepala sekolahmu agar kau diizinkan ke Jepang untuk menghadiri acara pernikahan Sakura. Kalian berdua akan menjadi pendamping mereka.” Ayah terlihat santai sambil menikmati makanannya.
Aku hanya diam tanpa bicara lagi, aku hanya menatap wajah ayahku. Kedua putrinya sudah memiliki pasangan masing-masing. Aku baru sadar, sejak kematian ibuku, tidak sekalipun ada niat didalam diri ayah untuk menikah lagi, itu karena mungkin ayah hanya mencintai ibuku seorang dan tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya.
Aku jadi rindu pada ibu, tanpa terasa bulir air mata menetes bila mengingat kenangan bersama ibuku dulu. Segera aku mengusap air mataku sebelum yang lainnya tahu.
Dibandingkan denganku, ayahku jauh lebih menderita daripada aku. Namun, dia adalah sosok ayah yang hebat dan tegar serta terlihat kuat di mata anak-anaknya. Aku tidak pernah melihat ayah menangis bahkan ketika jenazah ibuku dimakamkan waktu itu. Entah seperti apa perasaannya saat ini, pasti ayah juga merindukan ibu, sama sepertiku.
“Apa kau tidak suka, Sayang?” tanya ayah yang seketika membuyarkan lamunanku.
“Apa maksud Ayah?” tanyaku tidak mengerti.
“Soal pernikahan Sakura, apa kau keberatan?” ayah menatapku dengan cemas, mungkin ia takut kalau aku tidak suka dengan pernikahan kakakku yang terkesan mendadak.
“Kenapa cucuku yang satu itu buru-buru menikah? Apa dia hamil duluan?” tanya nenek dengan spontan sehingga membuat Refald tersedak.
Aku menoleh pada Refald dan menyodorkan segelas air putih untuknya. Tidak hanya Refald yang terkejut sampai tersedak begitu, aku dan ayah juga sama-sama terkejut.
“Terima kasih, Honey,” ucap Refald sambil terbatuk-batuk.
__ADS_1
“Kenapa kau?” tanya nenek pada Refald. “Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?”
“Nenek terlalu jujur saat bertanya, aku sampai kaget,” jawab Refald singkat.
“Apa kau sudah melakukannya dengan Fey?” lagi-lagi nenek terlalu blak-blakan menanyakan hal yang terlalu intim, apalagi di depan kami berdua yang baru saja berumur 17 tahun.
“Tidak!” kami berdua saling menoleh karena menjawab dengan kompak meski tanpa sengaja.
“Nenek jangan salah paham, kami tidak akan melakukannya sebelum kami menikah,” terang Refald.
“Syukurlah kalau begitu,” ucap nenek lalu beralih menatap ayah. Aku lebih terkejut lagi karena nenek langsung percaya dengan ucapan Refald. “Bagaimana denganmu? Kau belum menjawab pertanyaanku,” tanya nenek pada ayah.
“Tentu saja tidak Ibu, Sakura gadis yang baik sama seperti Shiyuri. Dia hanya ingin hidup bersama dengan orang yang dia cintai, karena mereka sudah lumayan lama terpisah, sama seperti Shiyuri dan Refald saat ini, bedanya Sakura dan Sauran sudah lebih dewasa dari mereka. Lagipula, Sakura sudah berusia 20 tahun, ia berhak memilih jalan hidupnya. Termasuk keputusannya untuk menikah.”
“Tapi dia kan masih kuliah, ayah?” tanyaku.
“Sebentar lagi, dia akan lulus, Sayang. Kakakmu bisa menyelesaikan gelar sarjananya kurang dari 3 tahun. Dia sangat cerdas, sama sepertimu. Ayah sudah bertemu dengan walasmu dan beliau bilang, kau adalah murid tercerdas yang pernah mereka punya.”
Aku terkejut ayah bertemu dengan walasku. Padahal selama ini ayah tidak pernah bertanya apapun mengenai sekolahku.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Sayang?” tanya ayah.
“Tidak Ayah, aku hanya senang, akhirnya kakakku bisa menikah dengan Sauran. Justru aku akan kecewa jika bukan Sauran yang menjadi pendamping hidup kakakku.”
“Oh iya? Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Padahal kalian jarang sekali bertemu.” Ayah seolah penasaran dengan kisah cinta antara Sakura dan Sauran.
“Ehm ... sejak dulu, kisah cinta antara Sakura dan Sauran sudah aku ketahui bersama dengan almarhum ibu, Ayah. Mereka saling mencintai sejak masih SD, hanya saja mereka harus terpaksa berpisah karena Sauran di suruh ibunya untuk kembali ke Hongkong. Ayah tidak tahu saja betapa bodohnya mereka berdua dulu, mereka selalu bertengkar jika bertemu padahal mereka saling menyukai satu sama lain.” Aku terlalu antusias menceritakan sedikit kisah cinta kakakku yang aku ketahui saat aku masih kecil.
“Oh iya? Jadi cuma ayah yang tidak tahu kisah mereka berdua?” Ayah manggut-manggut.
“Itu karena Ayah hanya sibuk bekerja dan menjodohkanku dengan cecunguk yang ada di sampingku ini.” aku menoleh ke arah Refald.
__ADS_1
“Ehemmmm .... “ Refald berdeham keras tanda tidak terima karena aku menyebutnya dengan panggilan cecunguk. Refald memelototiku, sedangkan aku hanya tersenyum mengejek padanya.
“Tapi akhirnya kalian saling mencintai, bukan?” pertanyaan ayah membuat kami langsung menatapnya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ayah. Aku malu karena kenyataannya memang iya, sekarang kami berdua saling mencintai satu sama lain.
“Aku langsung jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama dulu, Otoosan.” Refald berkata dengan jujur. Aku langsung menoleh ke arahnya. Nenek yang tadinya cuek is the best dengan pembicaraan kami juga langsung melihat Refald.
“Ayah tahu, dan Ayahmupun juga tahu, makanya kami tidak asal menjodohkan kalian.” Ayahku tersenyum bahagia melihat mukaku yang merah padam karena malu.
“Kau ini seenaknya saja menjodohkan anakmu!” nenek pun ikut berbicara, aku bangga pada nenek yang seolah mengerti isi hatiku. “Tapi aku memang langsung menyukai Refald saat pertama kali dia mengantar Fey ke rumah. Kalian berdua memang pasangan yang serasi dan sudah ditakdirkan untuk bersama.” Aku langsung kecewa karena Nenek semakin memperkeruh suasana hatiku yang tiba-tiba jadi buruk.
Oke! Jadi mereka semua memojokkanku dan sangat mendukung Refald seolah cuma dialah yang pantas menjadi pasanganku dan tidak ada pria lain lagi selain dia. Bagus!
“Bisakah kita pergi sekarang?” tanyaku pada Refald. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum mereka membuatku semakin terpojok. “Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan teman-temanku.” Aku mengelap mulutku dan minum jus melon kesukaanku lalu berdiri meninggalkan meja makan.
Refald pun mengikuti langkahku sambil merangkul pundaku, “Kami pergi dulu, Otoosan, Nenek ... kami janji akan pulang tepat waktu,” seru Refald dari depan pintu. Aku pun melepaskan pelukannya karena masih marah.
Aku mendengus kesal pada Refald yang sudah bersikap sok akrab pada keluargaku. Aku jadi berpikir, apakah aku bisa akrab dengan keluarga Refald seperti yang Refald lakukan saat ini, mengingat sudah 7 tahun lamanya kami tidak pernah saling bertemu. Bahkan aku tidak tahu seperti apa wajah calon mertuaku.
Refald membukakan pintu mobil untukku dan aku baru sadar kalau Refald sudah berganti mobil lagi dari mobil jeep canvas menjadi volvo silver.
“Sejak kapan kau menukar mobilmu?” tanyaku agak bingung dan penasaran apakah Refald juga bisa memindahkan mobil layaknya jin.
“Pak No yang yang mambawa mobil ini kemari tadi pagi. Ia membawa mobil jeep ku masuk ke garasi vila.” Refald menutup pintu mobil dan berjalan memutar untuk duduk di balik kursi kemudinya.
“Oh, aku kira kau juga punya kekuatan memindahkan barang sesukamu seperti jin di lampu ajaib milik aladina,” gumamku disambut dengan tawa Refald yang keras.
“Kau ini terlalu berkhayal tingkat tinggi. Jangan terlalu benyak melihat film fantasi. Lihatlah, otakmu jadi terkontaminasi oleh cerita fantasi di film-film yang kamu lihat itu.” Refald menyalakan mesin dan mulai mengendarai mobilnya untuk mengantarku ke rumah sakit tempat di mana teman-temanku di rawat.
“Terserah akulah,” ujarku.
__ADS_1
Aku tidak bisa membayangkan orang seperti Pak No mengendarai jeep canvas milik Refald, pasti pria paruh baya yang menjadi penjaga vila kepercayaan Refald terlihat keren dan stay cool dari orang-orang seusianya.
***