
Perlahan, mata Rhea terbuka dan hal pertama yang ia lihat adalah sebuah atap istana berlapis emas dan berbentuk klasik ala ciri khas kerajaan kuno zaman dahulu. Rhea berusaha mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi padanya. Tapi semakin ia berusaha keras berpikir, kepalanya terasa semakin berat. Ia mencoba untuk bangun dan keluar dari ruangan ini sampai akhirnya terdengar suara seseorang menghentikan aksinya.
“Berbaring saja dulu sampai kepalamu tak terasa berat lagi,” ujar seseorang itu yang tidak lain adalah Rey, suami Rhea sendiri, sang pangeran impiannya dan pria asing yang selalu dikatainya sebagai playboy buaya buntung.
Mata Rhea mengikuti arah suara itu berasal dan betapa terkejutnya ia saat melihat Rey sudah berbaring santai disebelahnya dengan senyum mengembang.
“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Rhea tak terima. Pikirannya langsung jadi kacau kemana-mana.
“Kenapa? Aku suamimu sekarang. Wajar kalau kita satu kamar. Lagipula, ini malam pertama kita sebagai pasangan suami istri.”
“A-apa? Kau bilang apa tadi?” pekik Rhea seolah tak percaya Rey selancang itu padanya.
“Kau?” Rey bangun dari tidurnya dan mulai mendekat ke arah Rhea. Gadis itu jadi sangat gugup saat Rey menatap lekat-lekat wajahnya seolah Rey ingin sekali memakannya hidup-hidup. “Rhea ... apa kau masih belum sadar? Aku ... adalah pangeran yang kau impikan. Inikah caramu memanggil suamimu yang juga seorang putra dari rajamu?”
“Ma-maafkan saya Pa-pangeran.” Rhea menundukkan wajahnya walau dalam hati ia benar-benar sangat kesal.
Pangeran apanya? Dasar buaya buntung! Haishhh ... kenapa harus orang seperti dia yang jadi pangeran impianku? Ini pasti cuma mimpi, ini tidak mungkin terjadi, batin Rhea sambil menepuk-nepuk pipinya agak sedikit keras berharap apa yang ia alami ini hanyalah mimpi belaka. Sayangnya, yang terjadi ini nyata karena Rhea merasakan sakit dipipinya akibat tepukan tangannya sendiri.
“Ayo kita selesaikan ritual kita?” ajak Rey yang tersenyum simpul melihat wajah pucat didepannya.
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain melihat betapa shocknya Rhea saat ini. Kalau gadis lain pasti suda memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan kehangatan dari Rey. Tapi tidak dengan Rhea. Gadis aneh ini malah sebaliknya. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu untuk menghindarinya.
“Ritual apa yang Pangeran maksud?” tanya Rhea was-was.
Ingin rasanya ia berlari keluar dari kamar ini dan mencari ayahnya. Rasanya sangat aneh bila ia harus berada di dalam kamar hanya berdua saja dengan Rey meski kini mereka memang pasangan suami istri di dunia lain ini.
“Apalagi? Setiap pasangan yang sudah menikah pasti mereka akan ....”
“Hentikan!” seru Rhea memotong kata-kata suaminya. “Ma-maaf Pangeran, tidakkah kita terlalu dini untuk melakukannya? Lagipula, kita hanya pasangan suami istri di dunia lain, sedangkan di dunia nyata ... kita ....” Rhea bingung. Ia tidak tahu harus menyebut apa hubungan antara dirinya dan Rey dikehidupan nyata mereka. Sebab, sebelumnya mereka memang tidak saling kenal dan baru saja bertemu beberapa waktu lalu.
Rey tersenyum simpul melihat betapa polosnya istrinya ini. “Aduh, ini gawat.”
“Hah? Apanya yang gawat? Apa terjadi sesuatu? Apa saya melakukan kesalahan? Saya tidak bermaksud menolak, saya ... saya hanya ... belum siap.” Rhea mulai berkaca-kaca takut kalau kata-katanya menyinggung Rey sehingga terjadi bencana seperti yang dikatakan ayahnya.
“Melakukan apa yang kau maksud, ha?”
“Bukankah ... anda tadi bilang ... lanjutan acara dari setiap pasangan yang menikah adalah ....”
“Penyatuan jiwa,” jawab Rey cepat dan Rhea langsung diam.
“Harusnya memang seperti itu, tapi kau tahu sendiri aku tidak punya kekuatan seperti ayahku. Aku hanya manusia biasa. Jadi, penyatuan jiwa kita tertunda. Kita akan benar-benar melakukannya kalau sudah menikah resmi di dunia nyata. Jadi kau tenang saja. Meski begitu ....”
__ADS_1
“Lalu, hal gawat apa yang anda maksudkan tadi?” tanya Rhea. Lagi-lagi ia memotong kata-kata Rey.
Rey yang gemas langsung merebahkan Rhea diatas bantal dan mengunci tubuh gadis itu dengan tubuhnya agar tidak bisa bergerak. Rey menatap tajam mata Rhea bahkan ia bisa mendengar detak jantung gadis itu.
“Kau suka sekali memotong kata-kata orang yang belum selesai bicara, hm?”
“Bu-bukan begitu ... bisakah anda bergeser dari tubuh saya? Bukankah tadi ....”
“Kau tenang saja, aku tidak akan memakanmu malam ini. Inilah caraku mengenali tubuh wanita yang aku ....” Rey hampir keceplosan. Jantungnya juga mulai berdetak tak kalah kencang dari Rhea.
Rhea menunggu kalimat selanjutnya dari Rey. Ia baru sadar kalau wajah pangerannya benar-benar tampan bila dilihat dari dekat.
“Tadi, anda belum menjawab pertanyaan saya,” ujar Rhea mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Yang mana?”
“Hal gawat apa yang anda maksud? Kesalahan apa yang saya lakukan?” mata Rhea terlihat cemas, takut dan juga tegang. Bahkan bibirnya juga jadi gemetar.
“Kau sungguh ingin tahu?”
“Tentu saja, ayah bilang, saya tidak boleh melakukan kesalahan apapun karena bisa membahayakan semuanya.”
“Kau memang berbahaya,” ujar Rey. Ia masih bertahan diatas tubuh Rhea.
“Ini gawat, benar-benar gawat. Kau tahu? Ini sangat sulit bagiku. Biasanya, orang lain yang menyatakan, tapi ... kali ini ... aku sudah tidak bisa memendamnya lagi.”
“Menyatakan apa?” kening Rhea sudah jadi keriting dengan teka-teki Rey sejak tadi. Ia sungguh tidak paham sama sekali apa maksud ucapan Rey.
“Menyatakan bahwa aku ... jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu.” Rey memejamkan mata saat mengungkapkan isi hatinya pada Rhea yang terlalu cepat ini.
Awalnya, Rhea sangat terkejut dan hampir tidak percaya karena ternyata, pangerannya ini juga mencintainya. Ada sejuta kelegaan dalan hati Rhea saat ini, ingin rasanya ia menjerit kegirangan tapi tidak mungkin ia lakukan karena Rey masih menindih tubuhnya hingga tak bisa bebas bergerak kemana-mana. Kekesalannya pun menghilang karena Rhea sebenarnya juga merasakan hal yang sama.
“Itu masih belum seberapa, Pangeran. Saya malah jatuh cinta pada anda jauh sebelum kita berdua bertemu. Tapi ... kenapa setelah bertemu anda jadi menyebalkan sekali. Dan berapa banyak wanita yang sudah anda takhlukkan diluar sana.” Mata Rhea kembali berkaca-kaca. Bukan karena tahu Rey seorang playboy, melainkan karena terlalu bahagia ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Rey yang mendengar penyataan Rhea merasa senang juga. Ia membuka mata dan menatap tepat manik mata istrinya. “Kau mencintaiku? Benarkah? Kau tidak bohong?” tanya Rey untuk memastikan apakah pendengarannya itu benar atau tidak. Ia seolah merasakan sesuatu yang berbeda dari dalam tubuhnya.
Dengan wajah malu-malu dan muka semerah tomat, Rhea mengangguk pelan. Ia tidak bisa lagi berkata-kata karena ia juga bingung harus berkata apalagi.
Melihat anggukan Rhea, Rey tersenyum bahagia.“Aku tak pernah menakhlukkan wanita manapun. Di Swiss aku memang dekat dengan banyak wanita dan tak satupun diantara mereka bisa membuat jantungku berdebar kencang seperti saat bersamamu sekarang. Merekalah yang menyatakan cinta padaku dan aku hanya bersikap biasa saja. Aku hanya mengajak mereka makan dan pergi jalan-jalan. Itupun tak lebih dari 30 menit. Sebab, paman Leo selalu mengomeliku jika aku sampai melebihi batasku. Paman tahu kamanapun aku pergi dan dengan siapa aku keluar. Mungkin ayahkulah yang memberitahu karena ayah tahu aku lebih suka mendengarkan paman daripada ayahku sendiri.”
“Kenapa anda tidak menolak mereka? Bukankah ... anda tahu kalau anda sudah dijodhkan dengan saya?”
__ADS_1
Deg!
Rey tertegun mendengar pertanyaan itu. Tidak mungkin ia bilang kalau Rey mengira bahwa gadis hutan yang dijodohkan dengannya pasti berwajah jelek. Siapa sangka kalau ternyata Rhea, sangatlah cantik dan punya daya tarik tersendiri. Kalau saja sejak awal ia dipertemukan dengan Rhea, pasti Rey tidak akan bermain-main dengan wanita untuk mengusir rasa bosan.
“Ehm, itu ....”
“Anda pasti mengira kalau saya sangat jelek dan tak sepadan dengan para gadis-gadis yang ada di Swiss itu, bukan?” tebak Rhea. Tentu saja Rey langsung terkejut karena Rhea mengetahui yang sebenarnya.
“Darimana kau tahu?”
“Jadi benar anda berpikiran seperti itu?” Rhea jadi kesal dan mencoba mendorong tubuh Rey menjauh darinya. Namun, kedua tangan Rhea dipegang kuat oleh Rey sehingga gadis itu tak bisa bergerak lagi.
“Sudah kubilang, meski banyak wanita cantik diluar sana, cuma kaulah satu-satunya wanita yang bisa membuat jantungku berdebar-debar. Kalau kau tidak percaya, ayo kita buktikan.” Mata elang Rey menatap tajam wajah Rhea.
“Bagaimana caranya?”
“Seperti ini.” Rey mendekat ke wajah Rhea dan ia menempelkan bibirnya tepat di bibir ranum Rhea yang sedang gemetar karena gugup.
Mereka berdua berciuman mesra untuk meluapkan hasrat cinta yang baru saja mereka rasakan. Ada sensasi tersendiri saat bibir mereka bersentuhan. Agar tak lepas kendali, Rey langsung bangun dari posisinya dan agak sedikit menjauh dari Rhea. Rey jadi kikuk sendiri karena ini pertama kalinya ia mencium seorang wanita. Begitu juga dengan Rhea. Ciuman tadi adalah ciuman pertamanya. Mereka berdua celingukan kesana kemari seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
“Sekarang tidurlah, besok aku harus sekolah.” Rey pun mencoba tidur disebelah Rhea dan memunggungi istrinya.
“Biasanya para suami pasti bilang besok pergi kerja, tapi suamiku ini malah bilang besok mau sekolah, rasanya aneh sekali,” gumam Rhea sambil tertawa. Ia pun berpindah posisi membelakangi Rey yang juga membelakanginya. Ia mencoba memejamkan mata karena besok Rhea juga ingin mengejutkan suaminya.
Tiba-tiba saja, sebuah tangan panjang terulur dan melingkar erat diperut Rhea. “Biarkan aku tidur sambil memeluk istriku,” bisik Rey di telinga Rhea.
Rhea menatap tangan besar pangeran impiannya yang kini sudah menjadi suaminya. Rhena baru sadar kalau lengan Rey kekar juga. Ada rasa bahagia yang begitu besar dirasakan dua insan pasangan pengantin baru ini. Meski baru bertemu, keduanya merasa seolah ikatan ini sudah terjalin sangat lama. Dua hati mereka sudah bersatu sekarang. Kini, saatnya mereka menjalani hari-hari indah di dunia nyata sebagai pasangan.
“Yang penting jangan sampai lepas kendali.” Rhea mengingatkan sambil memegang punggung tangan Rey yang melingkar erat diperutnya.
“Aku akan berusaha keras menahannya sampai kita resmi menikah di dunia nyata.” Rey tersenyum membayangkan dirinya dan Rhea benar-benar menikah sungguhan.
“Itu masih lama, karena anda harus lulus sekolah.”
Tidak ada sahutan lagi, sepertinya Rey sudah tidur karena Rhea bisa merasakan hembusan napas Rey yang teratur dibalik telinganya.
BERSAMBUNG
***
Part selanjutnya curahan hati pak Po ... apa yang dilakukan pak Po dan seperti apa Reaksi Refald dan Fey menghadapi tingkah pak Po? Kejutan apa yang diberikan Rhea untuk Rey? Ditunggu aja ya ... 17 episode lagi menuju tamat.
__ADS_1
Tak terasa part putra raja panjang banget ... ini adalah novel pertamaku. Meski bahasanya belibet dan banyak typo beterbangan Dimana-mana, mudah-mudahan kalian tidak bosan membacanya ...
terimakasih atas dukungan semuanya ... love you all