Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 150 Intimidasi Leo


__ADS_3

Refald membawa Leo ke suatu tempat di dalam hutan hanya dalam sekejap mata. Refald yang sekarang, memiliki jurus teleportasi mirip seperti jurus hiraishin no jutsunya Minato. Kekuatan Refald kian hari memang semakin meningkat. Ia berusaha keras meningkatkan kekuatannya demi bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Bukan hanya Fey saja yang harus ia lindungi, tapi seluruh keluarganya juga. Sebab, keluarga Refald bukanlah keluarga yang biasa. Setiap saat, selalu saja ada bahaya yang mengincar mereka dan Refald harus siap sedia dimanapun ia berada.


Tempat yang Refald dan Leo datangi ini, merupakan tempat acara pernikahannya dengan Fey yang sebentar lagi akan dilangsungkan begitu Fey menyelesaikan ritualnya. Refald sengaja membawa Leo kemari karena ia ingin Leo bisa membantunya menyiapkan segala hal yang Refald perlukan di hari bahagianya bersama dengan Fey.


“Tempat apa ini, Kak?” tanya Leo sambil mengamati sekitar.


“Ini adalah tempat yang akan aku gunakan untuk acara pernikahanku sebulan lagi dari sekarang. Aku ingin kau membantuku memeriahkan acaranya. Selain itu, besok rombonganmu akan mengadakan ospek di tempat ini. Aku mengajakmu kemari karena aku tidak ingin kau membuat ulah lagi selama berada di tempat ini. Jika tidak, aku tidak bisa lagi membantumu. Semakin banyak orang yang tahu kekuatanku, maka keluarga kita juga akan mengalami banyak bahaya. Selain itu, kau akan langsung di DO dari universitas ini kalau sekali lagi kau berbuat ulah. Itu artinya, kesempatanmu menemukan wanita yang kau cintai juga hilang.” Refald menatap pemandangan indah yang ada di depan mata. Sedangkan Leo, meresapi arti dari ucapan Refald.


“Beritahu aku siapa dia? Ada banyak sekali wanita, tidak mungkin aku mendekati semuanya.” Leo menatap Refald dengan tajam.


“Aku kira kau sudah tahu siapa dia? Kalian sudah bertemu, harusnya kau bisa merasakannya.”


Jawaban Refald masih meninggalkan teka-teki untuk Leo. Sebelumnya, Leo memang sudah bertemu dengan banyak wanita dan yang membuat jantungnya berdetak hanyalah gadis yang tadi ia tolong. Sayang saja Leo lupa menanyakan siapa namanya.


“Apa benar gadis itulah yang aku cari? Tapi kenapa dia kasar sekali?” gumam Leo bicara pada dirinya sendiri.


“Leo,” ujar Refald.


“Iya, Kak. Ada apa?”


“Apa kau ingat siapa nama gadis kecil yang kau cari itu?”


Leo diam sejenak sebelum ia menjawab, “Tentu, aku tidak akan pernah melupakan namanya, gadis itu bernama ... Shena. Masalahnya, di universitas ini ada banyak yang yang bernama Shena, dan aku tidak tahu Shena yang mana. ”


Refald tersenyum mendengar jawaban Leo. Ia menjetikkan jarinya dan Leo langsung kembali berada di kampusnya, tepat di koridor tempat Shena sedang melihat papan pengumuman untuk mencari daftar namanya tercantum di kelompok mana.

__ADS_1


Leo terkejut karena Refald langsung mengirimnya kemari begitu ia menyebutkan nama Shena. cowok itu berjalan mendekati Shena dan menatapnya tajam. Pasti ada alasan kenapa Refald mengembalikanku tepat dimana gadis yang aku tolong ini berada, batin Leo.


“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Shena agak terkejut karena tiba-tiba saja Leo sudah berdiri dihadapannya menghalangi papan pengumuman yang ia lihat.


“Kau berhutang banyak padaku!” ucap Leo tanpa basa-basi. Cowok itu berjalan mendekat ke arah Shena.


“Hutang apa? Perasaan aku tidak pernah pinjam uang ke kamu?” Shena berjalan mundur menghindari Leo yang terus saja mendekatinya.


Tatapan mata Leo, benar-benar menakutkan, tapi Shena juga tak gentar. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun pada Leo, jadi tidak ada alasan untuk takut padanya.


“Gara-gara menyelamatkanmu, motor kesayanganku lecet. Kau tahu itu berapa harganya? Jual rumah saja tidak akan cukup untuk membayar biaya perbaikannya. Gara-gara menyelamatkanmu, aku harus bikin onar di kampus ini tepat di hari pertama masuk kuliah. Gara-gara menyelamatkanmu, aku hampir saja kena DO, dan gara-gara menyelamatkanmu, aku hampir saja masuk penjara. Semua itu terjadi gara-gara aku menyelamatkanmu, karena itu aku ingin kau membayarnya.” Manik mata Leo menatap tajam mata Shena.


Kalau nolong orang itu harusnya ikhlas, ini orang malah minta pamrih? Dasar aneh! Batin Shena.


“Berapa yang harus aku bayar?” tantang Shena. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Leo.


“Dengar, aduh ... aku lupa siapa namamu tadi? Ehm ... ah, Leo. Sudah kubilang dari awal, aku tidak memintamu membantuku. Kau sendiri yang memilih ikut campur urusanku. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus mati tertabrak para geng motor itu, tapi yang jadi pertanyaan adalah ... kenapa kau menyelamatkanku padahal kita tidak saling kenal? Kita bahkan baru bertemu hari ini? Jika semua yang terjadi padamu adalah karena aku, maka aku minta maaf, akan aku berikan uang yang aku punya padamu besok jika itu membuat kita impas.” Shena pergi meninggalkan Leo, tapi tangannya ditarik oleh Leo hingga gadis itu hampir saja jatuh ke dalam pelukannya.


Leo menyandarkan Shena di dinding koridor dan mengunci tubuh Shena dengan rentangan kedua lengannya sehingga membuat Shena tidak bisa berkutik. Leo mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Shena. Hembusan napas Leo bahkan terasa sampai di wajah gadis cantik itu.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Shena mencoba untuk tetap tenang walau dalam hati ia sangat tegang. Ini pertama kalinya ada seorang pria berani bersikap seperti ini padanya.


“Siapa yang menyuruhmu pergi? Kita belum selesai bicara!” ujar Leo tandas dan tegas.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Singkirkan tanganmu, banyak orang yang melihat kita.” Shena berusaha melepaskan diri, tapi tatapan mata Leo yang tajam setajam silet, seolah membuat Shena tak bisa berkutik dihadapannya.

__ADS_1


“Aku tidak peduli, kalau perlu, kita juga bisa berciuman di sini?” seringai nakal mulai Leo tunjukkan pada Shena.


“Kau sudah gila? Kau pikir kau itu siapa? Cari wanita lain yang bisa kau permainkan! Jangan aku!” bentak Shena marah.


Leo hanya tersenyum. “Kau adalah satu-satunya wanita yang marah jika aku mendekatimu seperti ini, kebanyakan wanita yang kutemui malah menyerahkan diri mereka secara sukarela tanpa di paksa, dan itu membuatku ilfeel pada mereka semua.” Leo menatap tajam mata Shena, jantungnya semakin berdetak kencang. Tidak salah lagi, perasaan ini sama seperti yang kurasakan pada gadis kecilku waktu itu, batin Leo.


“Jangan bandingkan aku dengan mereka, minggir! Aku ada kelas yang harus aku ikuti. Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan orang sepertimu!” cetus Shena. Sikapnya benar-benar dingin pada Leo.


“Orang sepertiku?” Leo tersenyum getir. Ia mencoba lebih mendekatkan lagi wajahnya dan berbisik di telinga Shena seolah akan mencium pipinya. “Kau akan pingsan kalau aku memberitahumu, siapa aku sebenarnya. Sayangnya, aku orang yang tidak suka pamer. Suatu saat nanti, kau akan tahu sendiri, saat ... dimana kau sudah menjadi milikku,” bisik Leo ditelinga Shena.


Shena sangat malu karena sudah banyak pasang mata sedang melihat mereka seolah sedang bermesraan di tempat umum. Padahal, yang terjadi sebenarnya, Shena sedang terintimidasi oleh sikap Leo yang aneh ini. Mereka semua bahkan sudah berbisik-bisik tentang Leo dan Shena.


Entah sampai kapan Shena harus menanggung malu karena Leo sepertinya sengaja membuat mereka dilihatin banyak orang yang berlalu lalang disekitar mereka berdua. Tiba-tiba, muncullah ide di kepala Shena supaya ia bisa terlepas dari kurungan Leo.


“Wuaah, cantik sekali ... seksinyaaa ...,” ujar Shena sambil melihat ke suatu arah di belakang Leo. Leo pun jadi penasaran dan ia menoleh ke arah mata Shena memandang, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.


Begitu Leo kembali menghadap Shena, gadis itu sudah melarikan diri dan hilang entah kemana. Leo celingukan kesana kemari tetapi tidak menemukan Shena dimanapun. Leo kesal dan menendang-nendang angin dengan kakinya sambil mengumpat, “Sial! Cerdik juga dia! Awas kau!” geram Leo.


Shena yang bersembunyi di tikungan jalan, mengamati Leo yang terlihat kesal karena dirinya bisa dengan mudah melarikan diri dari cengkeraman orang aneh yang menakutkan seperti macan Leopard itu.


“Ada apa dengan si gila itu? Dasar playboy, gak bisa dikit dengar cewek cantik dan seksi. Huh semua laki-laki sama saja. Dasar buaya darat.” gumam Shena sambil berlalu pergi menuju kelasnya.


BERSAMBUNG


***

__ADS_1




__ADS_2