
Mata Fey langsung merah menyala membaca artikel yang sudah tersebar dalam grub chat mereka. Ia benar-benar kalap dan juga murka. Mbak Kun yang menyaksikan apa yang terjadi pada istri pangerannya langsung bergidik ngeri ketakutan. Aura kemarahan yang mengerikan, terpancar jelas ditubuh Fey dan tidak ada yang bisa melihatnya selain mbak Kun.
Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, mbak Kun melayang cepat menuju kearah Fey untuk menenangkannya. “Putri, tenanglah! Anda bisa kehilangan kekuatan jika terus seperti ini,” pinta mbak Kun. Seperti halnya Refald, Fey juag bisa kehilangan kekuatan sementara jika ia benar-benar marah apalagi sampai melukai seseorang.
“Bagaimana bisa kau menyuruhku tenang, mbak Kun? Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan mereka yang sudah berani memfitnah suamiku dan juga suami teman-temanku!” geram Fey dengan suara gemetar saking emosinya.
Mata merahnya, benar-benar menakutkan. Beberapa benda yang ada dirumah, tiba-tiba saja bergetar dengan sendirinya layaknya gempa melanda. Teman-teman Fey juga jadi ketakutan, tapi syukurlah mereka masih belum sadar kalau apa yang terjadi adalah akibat kemarahan yang dirasakan istri Refald itu. Mereka berdua mengira, memang benar sedang terjadi gempa.
“Pangeran Refald akan merasa cemas jika anda seperti ini, Putri. Itu juga berdampak buruk bagi pangeran. Jika pangeran tidak bisa berkosentarasi penuh pada pertapaannya, maka semua itu akan jadi sia-sia. Saya mohon, tenanglah Putri.” mbak Kun menggenggam erat tangan Fey yang tadinya mengepal kuat.
Mendengar kata ‘Refald’ hati Fey seakan bergetar. Saat ini suaminya sedang berjuang demi kesejahteraan kebahagiaan mereka berdua. Mana mungkin Fey menghancurkan apa yang dibangun suami tercintanya. Semua yang dikatakan mbak Kun benar, tidak ada gunanya Fey marah sekarang. Gadis itu mencoba menenangkan diri dengan memejamkan mata sementara kedua temannya sedang sibuk memantau ponsel mereka.
“Jangan terprovokasi oleh obrolan mereka.” Fey membuka matanya kembali setelah bisa mengontrol emosinya. “Jangan ada yang membalas panggilan atau pesan mereka. Anggap saja kita tidak tahu apa-apa. Tutup mata dan telinga sementara sampai aku menemukan bukti bahwa foto itu hanyalah rekayasa. Akan aku cari foto aslinya dan kita tunjukkan pda semuanya kalau foto yang adadi grub itu palsu. Sepertinya mereka sengaja memotong bagian-bagian tertentu lalu diedit sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah perselingkuhan. Aku yakin, Rio dan Epank tidak pernah melakukan apa yang ada dalam foto itu. Sekarang kalian berdua pulanglah, suami-suami kalian pasti sedang menunggu.”
“Bagaimana denganmu? Refald juga dituduh selingkuh,” ujar Mia.
“Yang penting kalian berdua kan tahu foto asli Refald. Jangan khawatir, akan aku bereskan semua masalah ini. Pulanglah, nanti aku hubungi lagi.” Fey memaksakan diri tersenyum walau dalam hatinya bergejolak ingin sekali mencincang orang.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Yua.
“Tidak ada. Aku hanya akan melakukan apa yang mereka lakukan.”
“Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi suasana hatiku saat ini sedang buruk. Aku rasa, Foto Epank makan bersama dengan Via itu bukanlah rekayasa. Mereka mungkin sengaja bertemu. Secara, mereka adalah mantan. Apalagi hubungan mereka tidak berlangsung 1 atau 2 tahun saja, tapi bertahun-tahun.”
“Jangan pikirkan masalah itu, Yua. Via hanyalah masa lalu Epank. Kau dan putramu adalah masa depannya. Lagipula Via sudah menikah. Kalaupun difoto itu benar, mungkin mereka hanya say hai doang.” Fey menatap wajah sedih Yua. “Kau tidak percaya pada suamimu?”
“Entahlah Fey, aku tidak yakin.”
“Ya sudah, sebaiknya kalian berdua pulang dulu, tenangkan hati dan pikiran kalian. Nanti akan aku hubungi lagi kalau aku sudah menemukan sesuatu.” Fey tidak bisa berkata banyak untuk menghibur kedua sahabat karibnya mengenai gosip yang beredar saat ini. Sebab ia sendiri sedang kacau balau, ia tidak bisa memaafkan orang yang sudah menyebakan kekacauan ini.
Begitu Yua dan Mia pulang, Fey langsung bicara dengan mbak Kun dengan raut muka serius. “Mbak Kun, lakukan sesuatu untukku, tapi sebelum itu ... temani aku pergi ke suatu tempat.”
“Kemana, Putri?” tanya mbak Kun.
“Kau ikut saja, bukankah Refald memintamu untuk menjagaku?” ujar Fey dan beralih menatap Divani.
“Di, aku pergi dulu. Mas Gen akan menemanimu disini selagi aku pergi, dia juga salah satu teman dekat pak Po. Kalau butuh apa-apa, katakan saja padanya. Kau tidak keberatan jika aku tinggal sendirian, kan?” tanya Fey.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Putri, saya akan tetap di rumah danmneyelesaikan rajutan ini. Ehm ... kalau butuh bantuan, katakan saja Putri. Saya siap membantu.”
“Terimaksih Di, dan maaf telah merepotkanmu karen syal itu. aku memngbutuh bantuanmu, api tidak sekarang. Tunggu saja, oke.”
“Baik Putri, semoga semua masalah anda segera terselesaikan.”
“Tentu, ah ... hampir lupa. Walau wujud mas Gen menakutkan, sebenarnya dia sangat pemalu. Dia akan menggantikan mbak Kun menjagamu.”
“Baik Putri, ehm ... lalu ... dimana dia?” tanya Di penasaran pada sosok mas Gen yang dibicarakan Fey.
“Dibelakangmu.” Fey tersenyum menatap pada mas Gen.
Kalau orang normal biasa, pasti mereka akan berteriak ketakutan karena ada sosok makhluk astral yang tiba-tiba saja berdiri dibelakang mereka. Namun, berhubung Di tidak bisa melihat, maka ia tenang-tenang saja seolah tidak ada yang perlu ditakutkan.
Setelah selesai ganti baju dikamarnya, Fey turun dan menyambar kunci mobil volvo silver milik Refald yang terpakir rapi digarasi rumah neneknya. Ia menyalakan mesin, lalu perlahan melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah menuju ke suatu tempat.
20 menit sudah berlalu sejak Fey mengemudikan mobilnya. Ia pun sampai di sebuah desa. Fey memasuki gang kecil yang ada dipinggir jalan utama. Syukurlah volvo silver itu muat meski harus menghabiskan seluruh badan jalan. Tidak akan ada yang bisa lewat lagi karena semua jalan di gang ini tertutup oleh mobil Refald yang dikendarai Fey.
Fey menghentikan mobilnya di depan rumah kecil yang berjajar-jajar rapi dengan rumah-rumah lainnya. Bertahun-tahun sudah berlalu, rumah kecil itu sama sekali tidak berubah, hanya warna catnya saja yang berbeda.
Istri Refald itu kleuar dari mobilnya dengan gaya anggun laksana seorang Putri dan masuk ke dalam teras rumah kecil tersebut. Rumah ini tdak punya pekarangan karena berada di pingging jalan gang.
Kulit wanita itu tidak terlalu putih dan cenderung berwarna sawo matang. Rambutnya juga bergelombang. Make upnya pun sangat tebal seperti tante-tante. Kelihatan sekali kalau wanita ini doyan berdandan. Wanita itu menurunkan koran yang ia baca dan langsung terkejut setelah melihat Fey sedang berdiri dihadapannya.
“Kau? Mau apa kau kemari, ha?” bentak wanita menor itu yang ternyata tidak lain adalah Martha.
“Huh, jadi kau Martha? Lama tidak jumpa. Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?” Fey melempar senyuman manis semanis madu melihat Martha yang jadi gugup ketakutan. Ia langsung belari masuk ke dalam dan mengunci pintu rapat-rapat.
Melihat sikap Martha yang seperti itu, Fey semakin yakin, Marthalah biang keladi dari kekacauan yang terjadi di grub chat. “Kena kau!” gumam Fey dengan senyum liciknya.
***
Sementara di dalam rumah, Martha terlihat panik dan ketakutan. Ia bahkan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Bagaimana bisa Fey tahu rumah ini. Perasaan tidak ada seorangpun yang tahu kalau aku tinggal disini," gumam Martha. Napasnya sampai ngos-ngosan karena tidak menyangka kalau ia bakal bertemu Fey disini.
Martha menelepon seseorang yang tidak lain adalah Evi. Temannya yang satu geng dengannya. Dia ingin temannya itu menjemputnya sekarang juga dan membawanya pergi dari sini sebelum semua rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat diketahui orang lain. Evipun setuju dan ia mulai berangkat menjemput Martha.
__ADS_1
Saat ia sedang bersiap-siap, tiba-tiba saja Fey sudah duduk manis di atas ranjang tempat tidur Martha. "Kasurmu nyaman sekali, pasti kau bisa tidur nyenyak disini," ujar Fey yang langsung mengejutkan Martha.
Dengan panik, wanita menor itu berbalik badan dan ia sangat terkejut melihat Fey sudah ada dikamarnya. Martha ingat betul kalau tadi, ia sudah mengunci pintunya rapat-rapat. Bahkan kunci pintunya masih ia pegang. Sangat mustahil kalau Fey bisa langsung masuk tanpa sepengetahuannya.
"Bagaimana kau bisa ada didalam sini? Sejak kapan lalu berada disitu?" Teriak Martha mulai panik.
"Kalau aku memberitahumu, kau tidak akan pernah percaya." Fey sangat menikmati wajah panik Martha.
Martha baru menyadari, kalau ada yang berbeda dengan Fey. Selain bertambah cantik dan kece, ternyata Fey sedang hamil besar.
"Kau hamil?" tanya Martha. "Dengan siapa?"
"Dengan siapa lagi? Suamiku Refaldlah. Maaf aku lupa mengundangmu saat kami menikah dulu. Kami juga langsung berangkat ke Swiss begitu acara resepsi pernikahan selesai digelar. Dan sekarang ... aku mengandung buah cinta kami." Fey sengaja memanas manasi Martha yang sampai saat ini masih tergila-gila dengan Refald.
Martha yang sangat dendam dengan Fey benar-benar panas hatinya apalgi melihat perut Fey yang besar itu. Martha seakan tidak terima. Wajahnya terlihat sangat marah. Otaknya sudah diselimuti dengan kebencian yang begitu besar sehingga membutakan mata, hati dan pikirannya.
"Beraninya kau muncul dihadapanku." raut wajah Martha yang tadinya panik berubah menjadi serius. "Kau membuat kesalahan besar dengan datang kemari sendirian. Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu?" Martha berjalan pelan menghampiri Fey yang tetap duduk tenang di atas tempat tidur. "Aku akan melenyapkanmu dan menjadikan Refald milikku selamanya." Martha menatap tajam Fey untuk membuatnya terintimidasi.
Alih-alih takut, Fey malah tertawa terbahak-bahak. Ia bahkan sampai memegangi perutnya karena sudah tidak bisa lagi tertawa walaupun Fey sangat ingin tertawa lepas.
"Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?'' bentak Martha semakin marah.
Fey sendiri berusaha menahan diri agar tidak tertawa lagi. "Kau bilang apa tadi? Kau ingin melenyapkanku dan menggantikan posisiku? Leluconmu ini benar-benar lucu. Terimakasih sudah membuatku tertawa seperti ini."
"Siapa yang melucu?" Martha langsung mengarahkan pisau kecil kearah Fey tapi gerakan tangannya itu ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat. Tentu saja Martha sangat terkejut. Sekuat tenaga ia mencoba menggerak-gerakkan tangannya, tetap saja tangannya itu tidak bisa lepas.
"Lepaskan dia mbak Kun, dia tidak akan bisa melukaiku." Fey meminta mbak Kun agar melepaskan cekalannya.
"Baik, Putri." mbak Kun pun melepaskan tangan Martha.
Wanita itu terjatuh di lantai. "Apa itu tadi? Kau bicara dengan siapa?" pekik Martha. Ini pertama kalinya dia mengalami hal mistis seperti ini.
"Sudah kubilang, kalau aku memberitahumu, kau tidak akan pernah bisa percaya."
"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Fey yang kukenal tidak sepertimu?"
"Ehm, kau benar. Aku yang sekarang bukanlah Fey yang dulu lagi. Aku ... adalah istri Refald, Lafeysionara."
__ADS_1
BERSAMBUNG
****