Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
Episode 296 Pangeran Mirza Anta


__ADS_3

Sebuah cahaya terang langsung menyambut kehadiran Rey dan Rhea. Keduanya sama-sama mengangkat kedua tangan mereka untuk menutupi sinar cahaya terang benderang itu agar tidak mengenai mata mereka.


Begitu sinar cahaya tersebut meredup, Rey menggandeng tangan Rhea masuk ke dalam ruangan dimana semua orang sudah menunggu kedatangan mereka berdua, termasuk Refald dan Fey. Bahkan pak Po serta Divani juga sudah hadir disana. Intinya, kedua orang tua Rey dan Rhea beserta seluruh keluarga besar Rey, telah menunggu keduanya.


Rhea sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi disini, sedang dalam rangka apa sehingga semua makhluk yang sejenis dengan kedua orangtua Rhea berkumpul dalam suatu ruangan di aula istana megah yang entah ada dimana ini sekarang. Yang jelas, tempat ini bukan berada di dunia nyata, melainkan dunia lain yang belum pernah Rey dan Rhea lihat. Ini pertama kalinya bagi mereka datang ke tempat seperti ini.


“Tempat apa ini, Rey?” tanya Rhea disela-sela mereka berdua berjalan menuju tempat yang sudah disediakan. Keduanya berjalan pelan diatas red karpet yang digelar khusus untuk menyambut kedatangan mereka.


“Aku juga tidak tahu, mas Gen yang memberitahuku supaya datang kemari bersamamu.” Rey menjelaskan pada Rhea, tapi matanya tetap menatap lurus ke depan.


Terutama tatapan ayahnya yang sejak tadi menatapnya dalam tatapan yang sangat sulit dimengerti. Rey tidak tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya. Tidak biasanya ayahnya itu melihat dirinya seperti itu.


“Mas, Gen?” Rhea membayangkan wajah siluman mengerikan yang sering disebut genderuwo oleh masyarakat setempat.


“Ehm, aku rasa kau pasti pernah bertemu dengannya, karena dia juga salah satu rekan ayah mertua.”


Rhea semakin bergidik ngeri, harusnya ia terbiasa dengan lingkungan disekitarnya mengingat siapa sosok kedua orangtua Rhea. Sebagai putra tunggal pasangan dedemit satu-satunya yang ada di dunia ini, Rhea selalu menganggap dirinya sebagai manusia biasa seperti manusia normal lainnya. Meski pada kenyataannya, ia termasuk golongan berasal dari keluarga yang abnormal. Namun, Rhea tidak pernah menyalahkan takdir yang diberikan padanya. Ia justru bersyukur bisa dilahirkan ke dunia ini. Rhea bahagia terlahir sebagai manusia yang berbeda, dan ia juga berusaha keras membaur dengan semuanya.


Tidak ada yang tahu seperti apa orangtua Rhea. Setiap kali pengambilan rapor di sekolah, yang datang adalah Fey sebagai wali murid dari Rhea. Dan itu terus rutin Fey lakukan karena ia sudah menganggap Rhea bukan lagi sebagai menantu, tetapi lebih seperti putrinya sendiri. Hanya saja, Refald tidak mengizinkan Rhea bertemu lebih awal dengan Rey dengan alasan takdir.


Dan karena takdir pula, Refald dan seluruh keluarganya juga harus siap menerima segala sesuatu yang sudah digariskan pada mereka. Refald tidak bisa mengubah takdir itu, yang bisa ia lakukan adalah menghadapinya dan mencari solusinya. Seperti yang akan terjadi setelah ini. Refald seolah memberikan pesan pada putranya bahwa ia harus siap menerima cobaan hidup yang sudah ditakdirkan untuknya dan Rhea.


“Selamat datang di istanaku, wahai cicitku, selamat juga atas pernikahan dadakan kalian,” Sapa seorang kakek yang tidak lain dalah leluhur Rey.


Semua makhluk yang ada di ruangan ini menundukkan kepala mereka dengan khidmad menanggapi sambutan dari sang leluhur Refald dan Rey.


“Siapa kakek itu?” bisik Rhea pada Rey. Ia menatap ake arah pak Po dan Divani, tapi mereka malah menundukkan kepala mereka sejak tadi.


“Kakek buyutku,” jawab Rey singkat. Ia pun mengajak Rhea bersimpuh dihadapan leluhurnya seperti yang dulu Refald lakukan saat ia datang bersama dengan Fey pertama kali.


Sang kakek mendekat ke arah Rey dan Rhea yang sedang bersimpuh lalu memberikan berkat pada keduanya dengan mengusap kepala mereka masing-masing. “Kami semua hanya bisa berdoa untuk pernikahan kalian, semoga bahagia dan langgeng sampai pernikahan resmi kalian di dunia nyata siap dilangsungkan. Aku tidak perlu menjelaskan seperti apa pernikahan ghaib ini karena aku percaya, kalian sendiri sudah memahaminya.


"Karena kekuatan Rey sudah muncul. Maka kami semua memberimu gelar sebagai Pangeran penerus ayahmu kelak. Sama seperti ayahmu yang mendapat gelar sebagai pangeran dan kini menjadi raja Mirza Banta, maka kami selaku leluhurmu, telah memutuskan bahwa Reyshinhard Refald Dilagara mendapat gelar sebagai pangeran, yaitu Pangeran Mirza Anta. Dengan begini, kalian berdua sudah bisa melakukan ritual malam pertama kalian yang sempat tertunda.” Kakek merentangkan kedua tangannya dan memberikan sepasang gelang hitam sebagai pengikat keduanya. Hal yang dulu tidak dilakukan Refald dan Fey.


“Gelang ini adalah simbol pernikahan ghaib kalian. Jangan sampai terlepas,” terang leluhur Rey dan mereka berdua mengamati gelang berwarna hitam itu. Gelang tersebut bukanlah emas ataupun berlian, tetapi gelang itu adalah simbol kesucian cinta Rey dan Rhea.


Suara tepuk tangan riuh ricuh dan sambutan ala pesta meriah langsung menghiasi seluruh ruangan ini. Semua sosok makhluk astral memberi dukungan penuh pada putra semata wayang Refald yang kini sudah resmi menjadi pangeran dedemit seperti ayahnya dulu. Kelopak bunga-bunga indah yang dihadirkan dari seluruh alam semesta bertaburan bagai hujan dilangit-langit sebagai tanda peresmian gelar Rey sebagai pangeran dedemit Mirza Anta.


Semuanya ikut berbahagia tak terkecuali kedua orang tua Rey dan Rhea. Begitu acara peresmian gelar pangeran untuk Rey selesai, kini tibalah saatnya bagi pasangan pengantin baru di dunia lain ini melangsungkan malam pertama mereka. Meski di dunia nyata status mereka masih pelajar dan baru berusia 17 tahun. Semua itu tidak berlaku di dunia lain ini. Rey dan Rhea akan melakukan penyatuan jiwa seperti yang dulu pernah dilakukan Refald dan Fey.


Dalam sekejap, Rey dan Rhea sudah berada disuatu tempat. Tepatnya sebuah ruangan kamar pengantin. Semua dekorasi ruangan ini bernuansa putih. Di samping meja kamar mereka, terdapat dua gelas minuman yang harus diminum oleh Rey dan Rhea.


Sebenarnya, Rhea agak canggung karena ia harus berduaan saja dengan Rey di dalam kamar. Jantungnya sejak tadi tidak bisa berhenti berdetak kencang. Ingin rasanya ia melarikan diri tapi itu tidak mungkin bisa ia lakukan. Satu-satunya jalan hanyalah melewati malam ini bersama Rey meskipun Rhea sangat gugup setengah mati. Berbeda dengan Rhea, Rey malah menikmati momen yang ia tunggu-tunggu ini. Matanya tertuju pada dua gelas yang tersedia di sebuah meja kamarnya.


"Kau gugup?" tanya Rey menggoda Rhea.


"Tentu saja, ini pertama kalinya bagiku sekamar degan seorang pria. Berbeda denganmu yang mungkin sudah terbiasa," sindir Rhea. Ia yakin, selama di Swiss dulu, Rey sering bermalam dengan banyak wanita.


"Kau salah, ini juga pertama kalinya bagiku. Ayah dan paman Leo benar-benar mengawasiku. Tidak ada wanita manapun yang aku sentuh selain dirimu, seperti ini." Rey maju mendekat dan membelai lembut pipi Rhea. "Dulu aku kesal pada ayah dan juga paman, tapi sekarang, aku berterimakasih pada mereka berdua karena telah menjaga tubuhku hanya untukmu." Rey mencium mesra Rhea.


Jantung keduanya berdetak sangat kencang dan saling meluapkan perasaan cinta masing-masing. Agar tidak lepas kendali, Rey menyudahi ciumannya dan berpaling mengambil gelas yang ada di sampingnya.

__ADS_1


“Munumlah ini, Sayang.” Rey mengambilkan segelas air yang ada di meja dan menyerahkannya pada Rhea.


“Apa ini?” tanya Rhea.


“Aku juga tidak tahu, yang jelas itu bukan racun. Minum saja,” pinta Rey.


“Lalu, kau sendiri?”


“Aku juga akan minum tepat setelah kau menghabiskan minuman itu. Urut-urutannya sih begitu. Aku hanya menjalankan perintah.”


Sebelumnya, Rey memang sudah diberitahu apa saja yang harus ia lakukan saat proses penyatuan jiwa antara dirinya dan Rhea. Dan kini ia hanya tinggal melaksanakan apa yang diperintahkan. Meski Rhea tidak tahu menahu apa yang terjadi, ia pun mengikuti saja semua yang dikatakan suaminya. Tanpa banyak bertanya lagi, Rhea pun menghabiskan semua minuman yang ada dalam gelas dalam sekali teguk.


“Rasanya manis,” komentar Rhea dan tiba-tiba saja, Rhea lanngsung pingsan.


Rey dengan sigap menangkap tubuh istrinya yang lemah tak berdaya. Menggendongnya dan meletakkan tubuh Rhea diatas ranjang. Sekarang giliran Rey meminum air yang ada dalam gelas satunya. Lalu ia berbaring di samping Rhea. Mereka berdua, kini sudah tak sadarkan diri.


Seperti halnya Refald dulu, jiwa Rey dan Rhea keluar dari raga mereka masing-masing. Bedanya, jiwa keduanya tak bisa keluar lebih lama seperti orang tua Rey dulu. Sebab jika terlalu lama, maka raga keduanya akan membusuk karena terpisah dari jiwanya. Dengan kata lain, Rey dan Rhea sedang mengalami mati suri.


“Apa yang terjadi?” tanya Rhea begitu jiwanya keluar dari dalam tubuhnya.


Rey yang jiwanya juga keluar pun langsung melesat ke arah jiwa Rhea berada. “Ini adalah proses penyatuan jiwa kita. Mau melakukannya sekarang atau bermain-min sebentar?” Rey tersenyum melihat wajah kikuk Rhea.


“Hah?” Rhea sungguh tidak mengerti apa maksudnya semua ini.


Tanpa peringatan, Rey langsung menggamit tangan Rhea dan mengajaknya melayang berputar-putar mengelilingi ruangan layaknya hantu casper yang beterbangan. Sementara raga keduanya terbaring lemah diatas ranjang.


“Ternyata seperti inilah malam pertama kita, pantas saja ayah bilang sangat menyenangkan. Aku baru tahu, kita bisa menjadi hantu sementara? Sangat menyenangkan, bukan?” Rey melirik Rhea yang ada dibelakangnya.


Rhea sendiri masih belum bisa memercayai semua ini. Ia bahkan tidak bisa membedakan apakah ini nyata ataukah hanya mimpi semata. Rasa takjub, tegang, dan juga takut membuat Rhea tak bisa berkata-kata.


Rhea hanya mengangguk saja melihat sinar mata Rey berbinar cerah saat melihatnya. Senyum mengembang terpancar di wajah keduanya. Mereka berdua melesat cepat menembus atap ruangan menuju langit-langit yang ternyata, hari sudah menunjukkan waktu malam.


Tepat di bawah sinar rembulan purnama yang terang benderang, keduanya berputar-putra untuk mengekspresikan momen langka yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Rey terlihat begitu bahagia sehingga Rhea pun ikut merasakan hal sama.


“Sebahagia itukah kau saat ini?” tanya Rhea disela-sela ia berputar dengan Rey.


“Tentu saja, kau tidak?” Rey balas bertanya.


“Ehm, aku juga bahagia meski sejujurnya aku sungguh ... ini ... benar-benar menakjubkan?” Rhea masih terlihat kikuk dihadapan Rey.


“Awalnya aku juga tidak mengerti, tapi gelang ini ... adalah simbol kesucian cinta kita. Meski ini terlalu cepat dan kau mungkin belum terbiasa denganku, aku masih bisa merasakan kalau cinta kita ini begitu kuat. Karena itulah kekuatanku muncul dan kita bisa melakukan ritual ini bersama-sama. Begitu jiwa kita bersatu padu, maka ... kau dan aku adalah satu. Aku memang tidak bisa berpuisi seperti apa yang pernah ayah lakukan pada ibu, tapi cintaku padamu benar-benar tulus. Rhea, aku ... mencintaimu.” Rey mendekat ke arah Rhea dan mencium mesra istrinya. Rhea pun membalas ciuman suaminya. Keduanya saling menghisap bibir masing-masing, mencurahkan perasan cinta yang mereka punya dan langsung berlanjut ke dalam kamar mereka.


Jiwa keduanya benar-benar bersatu, menjadi satu kesatuan yang utuh. Proses penyatuan jiwa keduanya berjalan sekitar 30 menit dan tidak mengalami hambatan apapun. Malam pertama mereka dilakukan lebih cepat dari yang pernah dilakukan Refald dan Fey dulu. Begitu prosesnya selesai, dua jiwa tersebut kembali ke raga mereka masing-masing.


***


Keesokan paginya, Rhea membuka matanya dan langsg tersenyum melihat wajah tampan Rey ada dihadapannya. Masih teringat jelas dibenaknya apa yang terjadi semalam antara Rey dan juga dirinya.


“Apa yang semalam itu cuma mimpi?” gumam Rhea. Ia menghela napas panjang dan menatap lekat-lekat wajah suaminya yang masih tertidur pulas.


Tanpa diduga, Rey langsung menyerang Rhea dengan ciumannya sehingga membuat mata Rhea terbelalak saking terkejutnya. “Ini bukan mimpi, ini nyata,” ujar Rey sambil memamerkan senyum menggodanya setelah selesai mencium mesra Rhea.

__ADS_1


“Lepaskan aku, aku mau bangun.” Rhea menggeliat karen Rey memeluknya dengan erat.


“Nggak mau! Hari ini aku cuma mau sama kamu terus seperti ini.” Rey malah semakin membekap erat tubuh Rhea.


“Kita harus bersiap-siap sekolah.”


“Hari ini hari minggu, Sayang. Kita nikmati saja masa indah menjadi pengantin baru di dunia lain. Aku tidak mau kembali ke dunia nyata dulu. Karena di dunia nyata, aku masih seorang siswa, dan itu mengesalkan.”


“Kalau begitu, kita ada dimana sekarang? Sepertinya tempat ini tidak asing lagi.”


“Ini dikamarmu.” Rey masih memejamkan matanya sambil memeluk Rhea.


“Kamarku?” Rey memerhatikan sekeliling ruangan dan ia langsung sadar kamar mana yang dimaksud Rey. “Di goa? Sejak kapan? Bagaimana bisa?” pekik Rhea agak sedikit terkejut.


Rey membuka mata dan menopang kepalanya dengan satu tangan, tapi matanya tetap menatap tajam mata Rhea. “Tidak penting sekarang kita ada dimana. Aku baru sadar kalau selama ini kau belum pernah sekalipun menyatakan cinta padaku. Padahal berkali-kali aku selalu bilang, kalau aku mencintaimu. Dan kau hanya diam saja saat aku menyatakan cinta padamu. Sekarang katakan padaku kalau ... kau juga mencintaiku.” Tandas Rey. Tatapan matanya benar-benar tajam.


“Benarkah? Tapi aku merasa aku sudah pernah mengatakannya?” Rhea mencoba mengingat-ingat.


“Belum.” Rey menjawab cepat. “Ayo katakan, aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari kamar ini sebelum kau menyatakan cinta padaku.”


“Itu namanya pemaksaan,” protes Rhea.


“Salah sendiri! Siapa yang suruh kau tidak pernah bilang cinta padaku.”


“Apakah itu penting? Aku milikmu sekarang, tanpa diucapkanpun harusnya kau sudah tahu seperti apa perasaanku.”


“Penting, aku ingin mendengar kata cinta itu terucap dari bibir indahmu ini.” Sebuah ciuman manis mendarat mulus di bibir ranum Rhea.


“Baiklah, lepaskan pelukanmu dulu ... aku ... kesulitan bernapas.”


Rey pun melepas pelukannya tanpa menaruh curiga. “Katakan, atau aku bekap lagi tubuhmu!” ancam Rey.


“Ehm ... aku ....” Rhea sengaja menciptakan suasana tegang, kedua mata mereka saling beradu pandang. Rey sendiri sudah tidak sabar menunggu kata cinta keluar dari mulut istrinya. “Aku ... aku ... mau ke toilet!” dengan gerakan secepat kilat, Rhea langsung bangun dari tidurnya dan berlari keluar kamar menuju pintu keluar goa sambil tertawa keras karena telah berhasil mengerjai Rey habis-habisan.


Sementara Rey menganga tak percaya bahwa dirinya sudah diperdaya mentah-mentah oleh wanita yang sangat dicintainya. “Awas saja kau Sayang. Jangan sampai kau tertangkap olehku!” Rey pun bangkit berdiri dan berlari keluar menyusul Rhea.


Sesampainya diluar goa, Rey menggigit bibirnya karena gemas melihat Rhea sedang berdiri diam di luar goa. “Habislah kau sekarang! Mau lari kemana kau, Sayang.” Rey berlari cepat memeluk erat tubuh Rhea yang mematung.


Rey sendiri langsung tertegun setelah mengetahui alasan kenapa istrinya ini hanya diam saja melihat lurus ke arah seseorang. Tidak salah lagi, ada orang lain selain mereka berdua disini, dan orang itu adalah ...


BERSAMBUNG


****


Ada yang tahu siapa?


Episode selanjutnya, siapin tisu ya ... hiks hiks ...


4 episode terakhir .. hehe ...


oh iya ... jangan khawatir kalau novel ini tamat .. karena aku bakal rilis novel baru yang mengisahkan kelanjutan kisah Rey dan Rhea yang pastinya tak kalah seru dari kisah ayah dan ibunya. Dan disini juga bakal menceritakan perjalanan Fey selama 3 tahun menunggu kedatangan Refald.

__ADS_1


Tapi aku rilisnya diakun baru juga .. dan hanya terap dinoveltoon/Mangatoon. Hanya beda akun baru aja. Nanti bakal aku kasih pengumuman kalau sudah rilis semuanya ...


Terimakasih atas semua dukungannya, love you all ...


__ADS_2