
Mungkin apa yang dikatakan Refald memang benar. Ini adalah takdir. Takdir sudah memisahkan kami selama ini, dan takdir pula yang mempertemukan kami kembali. Aku tidak habis pikir dengan semua ini. Hidupku seolah dipermainkan oleh takdir. Tapi, seperti yang dikatakan ayah, bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melawan ataupun mengubah takdir yang telah digariskan pada seseorang. Termasuk takdirku sendiri.
Aku menatap foto yang diberikan Refald padaku. Berusaha mengingat kembali masa itu, aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang waktu itu kutolong dan yang menolongku adalah Refald. Dan dia ternyata juga .... tunanganku!
Berawal dari musim liburan semester kemarin, saat itu pertengahan bulan Desember. Aku memutuskan pergi ke kota Surabaya untuk mencari beberapa referensi buku yang kubutuhkan dan mencari film-film kesukaan teman-temanku.
Aku pergi seorang diri, tanpa ditemani oleh siapapun. Terlalu berani bagi seorang gadis bepergian sendiri diusiaku yang masih belia. Mau bagaimana lagi? Aku yang memilih untuk hidup sendiri. Jadi, aku memutuskan untuk melakukan apa yang ingin kulakukan sendirian. Seperti mengusir rasa bosan dengan bepergian seorang diri.
Untuk bisa sampai di kota Surabaya, hal pertama yang kulakukan adalah pergi ke terminal di pusat kota lalu memarkir motor scoopyku di sana. Kemudian, aku naik bis menuju kota Surabaya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di kota terbesar kedua di negara ini. Cukup 45 menit saja, aku sudah menginjakkan kakiku di kota ini. Setelah turun dari terminal Purabaya, aku langsung naik taxi menuju Gramedia. Menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu seorang diri untuk mengelilingi kota ini. Aku menganggap ini sebagai hiburanku karena aku tidak bisa kembali ke Jepang sampai aku lulus nanti.
Meski aku sangat rindu pada keluargaku, aku tidak bisa menemui mereka. Karena aku masih belum bisa mengatasi rasa kesedihanku. Sehingga setiap kali liburan, aku menghabiskan waktuku untuk menjelajahi kota di negara ini sendirian. Entah itu hanya untuk mencari buku ataupun sekedar berburu kuliner saja.
Aku tidak bisa mengajak teman-temanku, karena identitasku yang selama ini aku sembunyikan rapat-rapat bisa saja terbongkar jika mereka tahu aku bisa bepergian seorang diri tanpa mengalami kendala apapun.
Mereka akan tahu siapa aku yang sebenarnya jika aku mengajak mereka. Itu akan sangat menyakitkan bagiku sebab mereka pasti akan bertanya banyak hal tentang masa laluku dan alasanku datang kemari. Itulah yang kuhindari dari mereka selama ini.
Setelah menemukan buku-buku yang kucari, aku mencoba ke distro yang menjual berbagai jenis film. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan beberapa kaset DVD film kesukaan teman-temanku.
“Mereka pasti senang melihat film ini!” gumamku pelan.
Setelah membayar semuanya, aku mencari tempat yang bisa kupakai bersantai sambil menikmati makan siang. Sesekali aku membaca buku-buku yang sudah kubeli di Gramedia tadi. Tidak terasa aku sudah menghabiskan waktu empat jam di sini. Aku rasa, sudah waktunya aku harus kembali pulang sebelum jam kerja selesai. Karena jalanan padat di jam-jam seperti itu.
Aku menunggu taxi di depan halte bus. Ada beberapa orang disekelilingku yang juga sama sepertiku. Bis dalam kota sudah dekat dan orang-orang disekitarku mulai bersiap untuk naik begitu bis itu berhenti di depan mereka.
Satu persatu orang naik bergantian, sampai orang terakhir yang kulihat tanpa sengaja menjatuhkan dompetnya. Orang itu adalah laki-laki yang berdiri di sebelahku dari tadi sambil sibuk menelepon dengan menggunakan bahasa yang tidak kumengerti. Sepertinya, itu bahasa Korea dan ada campuran bahasa Jerman. Dompet laki-laki bule blasteran Jerman-Korea itu jatuh tepat di bawah kakiku, sehingga aku refleks mengambilnya dan berniat mengembalikannya.
Sialnya, bis itu sudah berjalan, terpaksa aku berlari mengejarnya. Aku berteriak sekencang-kencangnya berharap bis itu mendengarku dan berhenti sebentar supaya aku bisa mengembalikan dompet ini pada pemiliknya. Tapi lagi-lagi aku sial, bis itu tidak mendengar suaraku. Beruntung ada taxi lewat didepanku dan aku langsung menghadang taxi itu.
Aku meminta supir taxi tersebut untuk mengikuti bis dalam kota itu. Aku yakin bis itu akan berhenti di halte berikutnya. Jadi, untuk bisa mengejar bis itu, aku meminta supir taxi agar mengambil jalan pintas supaya lebih cepat sampai dihalte berikutnya, mengingat jalanannya sangat padat.
Dugaanku benar. Tujuan bis itu memang halte berikutnya, yang letaknya sekitar dua kilometer dari halte sebelumnya. Sesaat setelah aku turun dari taxi di halte ini, bis dalam kota itupun muncul dan berhenti untuk menurunkan penumpang. Aku langsung masuk ke dalam bis itu dan mencari-cari pemilik dompet hitam ini.
Tadi saat di dalam taxi, aku sempat membuka dompet ini untuk mencari kartu identitas pemiliknya. Aku menemukan tanda pengenalnya dan melihat fotonya. Aku berusaha menghafal wajah pemilik dompet itu dan mulai mencarinya saat aku berada di dalam bis.
Akhirnya aku menemukan pemilik dompet kulit ini. Dia duduk di kursi paling belakang sambil memainkan ponselnya dan memakai airphonennya. Bis sudah mulai berjalan lagi. Perlahan aku mendekatinya dan langsung menyodorkan dompet itu tepat di depan wajahnya.
Awalnya laki-laki itu terkejut dengan sikapku yang memang kuakui, agak kurang sopan.
“Itu adalah dompetmu! Tadi terjatuh di depan Royal!” ucapku menjelaskan atas apa yang kulakukan.
Ia menatapku yang juga menatapnya. Lalu ia mengambil dompet yang kuberikan sambil berkata, “Terima kasih.”
Begitu ia menerima dompet itu aku langsung balik badan dan berdiri di depan pintu keluar bis. Saat pintu itu terbuka, aku langsung turun dan tersadar bahwa aku tidak tahu dimana posisiku sekarang.
“Bagus! Sekarang giliranku yang tersesat!” aku bergumam sendiri.
Beruntung masih banyak taxi yang berlalu lalang di sini. Sehingga aku bisa meminta salah satu taxi itu untuk mengantarku kembali ke terminal Purabaya agar aku bisa cepat pulang ke rumah.
__ADS_1
Tapi sepertinya, petualanganku masih belum selesai sampai di sini. Supir taxi yang membawaku ternyata bukan orang yang baik. Ia membawaku kesuatu tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Supir taxi tersebut mencoba berniat jahat padaku. Ia memaksaku untuk menyerahkan semua harta benda yang kubawa seperti ponsel dan dompet.
“Kalau aku tidak mau! Apa yang akan kau lakukan?” aku berusaha melawan, aku menunjukkan pada penjahat ini bahwa aku sama sekali tidak takut dengan ancamannya.
“Berani sekali kau, ya? Kau cari mati rupanya, tapi wajahmu itu terlalu cantik kalau langsung kuhabisi! Mari kita bermain-main sebentar.”
Ia berusaha mendekatiku tapi aku langsung menendang alat vitalnya dengan sangat kencang. Ia mengerang kesakitan sambil mengumpat. Kesempatan itu kugunakan untuk melarikan diri dan mencari pertolongan. Tapi sepertinya, aku berada dilingkungan yang tidak tepat. Tidak akan ada yang bisa membantuku di sini.
Ini adalah lingkungan para perampok dan begal itu tinggal. Supir taxi tadi sepertinya adalah salah satu anggotanya. Ia menyamar sebagai supir taxi dan membawa targetnya kemari untuk dirampok bahkan bisa juga dibunuh. Entah sudah berapa banyak korban yang sudah jadi mangsa mereka.
Aku memang berhasil keluar dari taxi itu, tapi aku harus menghadapi beberapa perampok dan begal yang mengepungku. Hari ini aku benar-benar sial, Ini namanya keluar dari kandang buaya, masuk ke dalam kandang singa!
“Oh.... ada mangsa baru rupanya, cantik pula!” ucap seseorang yang sepertinya pimpinan kawanan perampok ini.
Supir taxi yang kutendang tadi keluar masih dalam keadaan sempoyongan.
“Habisi saja dia Bos!” pintanya sebelum akhirnya ia pingsan.
Orang yang dipanggil bos dan beberapa rekannya tercengang melihat salah satu komplotannya tumbang.
“Apa yang kau lakukan pada anak buahku!” teriak pimpinan perampok itu.
“Kalau ingin tahu! Kemarilah! Akan kuberi tahu!” jawabku lantang tanpa merasa takut sedikitpun.
Orang-orang seperti mereka harus diberi pelajaran dan hukuman yang setimpal. Aku akan menghajar mereka habis-habisan di sini!
Laki laki itu semakin dekat dan berusaha menyerangku. Tapi aku berhasil menangkis semua serangannya dan membalas balik serangan mereka dengan menendang alat vital para penjahat seperti yang kulakukan pada temannya. Tendangan itu begitu keras sehingga ia juga menjerit kesakitan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya perampok itupun pingsan juga.
Pimpinan itu terlihat sangat marah melihat rekannya terkapar didepanku. Ia mengeluarkan senjatanya yang berupa pisau kecil dan berteriak memberikan komando pada yang lainnya supaya menyerangku bersamaan.
Akupun juga mulai bersiap menghadapi mereka semua. Akan aku keluarkan semua jurus taekwondo yang aku bisa.
Saat beberapa orang akan menyerangku, tiba-tiba seseorang datang menghadang mereka dan melayangkan beberapa pukulan ke bagian wajah sehingga mereka semua tumbang bersamaan. Kejadian itu begitu cepat. Aku sendiri juga tidak bisa melihat dengan pasti bagaimana orang yang menghadang mereka barusan melakukannya.
Tapi para penjahat itu masih bisa berdiri dan menyerang orang itu lagi. Dengan lihai laki-laki itu menangkis semua serangan mereka dan balas menghajar mereka satu persatu hingga tubuh mereka semua babak belur.
Laki-laki itu tetap kokoh berdiri, padahal ia diserang sekitar enam sampai tujuh orang secara bersamaan. Tapi ia berhasil mengalahkan mereka semua.
“Waaaauwww! Kerennn!” diam-diam aku mengaguminya dalam hati.
Aku mendengar sirine mobil polisi dan bergegas melarikan diri. Aku tidak ingin berurusan dengan polisi saat ini. Mereka pasti akan menginterogasiku dan menanyakan identitasku yang sebenarnya. Aku tidak mau semua itu terjadi.
Tanpa peringatan apapun, aku meninggalkan para penjahat dan laki-laki itu begitu saja. Mereka sibuk berkelahi tapi aku malah lari sekencang mungkin untuk mencari jalan keluar dari sini secepatnya supaya sampai di jalan utama agar bisa naik bis ke terminal Purabaya.
“Ahhhhh ... sial!! Harusnya aku sudah sampai di rumah sekarang! Kenapa malah terjebak di sini?" gerutuku masih sambil sibuk berlari.
Aku terus berlari dan berlari menjauh dari lokasi. Tapi sayangnya, aku tidak mengenal wilayah ini. Jadi, aku semakin jauh tersesat.
Saat aku sampai dipersimpangan jalan, tiba-tiba ada yang menarik lengan jaket jins biruku. Tarikan tangannya yang sangat kuat membuatku tak bisa menahan keseimbangan tubuhku sehingga aku terjatuh tepat didekapan seseorang yang menarikku. Aku terkejut setelah tahu siapa orang itu.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa?” tanya orang itu yang ternyata pemilik dompet yang kutemukan tadi. Dan orang itu pula yang membantuku menghajar para preman perampok itu.
“Aku melepaskan pelukannya. “Iya! Aku tidak apa-apa! Terima kasih!”
“Aku akan mengantarmu. Ikutlah denganku!”
“Aku bisa pergi sendiri!” aku berjalan lurus meninggalkan orang asing ini. Kejadian tadi membuatku lebih waspada dari sebelumnya.
Sebenarnya, aku sendiri bisa mengatasi para penjahat itu. Tapi terpaksa melarikan diri karena aku tidak boleh sampai berurusan dengan polisi.
“Kau salah arah. Itu bukan jalan menuju jalan utama!” teriaknya.
Aku menghentikan langkahku seketika, dan mengamati sekelilingku. Wilayah ini terlalu sepi untuk sebuah perkampungan. Tidak ada siapapun di sini.
Tiba-tiba ia menarik tanganku lagi dan membimbingku berjalan kejalan yang benar. Sesampainya dijalan utama, kami berdua naik ke dalam taxi dan menuju terminal Purabaya. Tujuan utamaku.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam tanpa saling bicara. Kejadian tadi membuatku canggung. Sepertinya, ia juga tidak ingin melibatkan diri dengan polisi. Karena itu ia mengikutiku melarikan diri.
Tidak terasa kami pun sampai di depan terminal. Aku turun setelah mengucapkan terima kasih padanya.
“Sekarang kita impas! Terima kasih karena sudah mengembalikan dompetku!” ujarnya sebelum aku pergi. Aku hanya mengangguk pelan lalu menutup pintu taxi yang langsung melesat pergi.
Akupun segera naik bis dan kembali ke terminal dimana motor scoopyku terparkir. Dan akhirnya aku sampai di rumah dengan selamat.
Keesokan harinya, aku berkumpul dengan teman-temanku di rumah Mia dan memberikan film kesukaan mereka.
Itulah kenangan masa liburanku waktu itu. Aku baru ingat nama pemilik dompet yang kutemukan.
Namanya adalah A. Refald Dilagara. Itu adalah nama lengkap Refald. Selama bersamanya, aku tidak pernah tahu siapa nama lengkapnya. Tapi sekarang, aku sudah mengingat semuanya.
Aku tersenyum sendiri dengan takdir yang lucu ini, aku baru menyadari bahwa orang itu ternyata adalah Refald. Tunanganku yang juga orang yang kucintai. Aneh rasanya mengetahui bahwa aku jatuh cinta pada tunanganku sendiri.
Aku memandangi fotoku yang diberikan Refald padaku. Sepertinya, foto ini diambil saat aku berdiri di depan pintu bis dalam kota setelah aku mengembalikan dompetnya.
“Sepertinya ia memotretku diam-diam tanpa sepengetahuanku!” aku bergumam sendiri. Tidak menyangka kalau bisa bertemu lagi dengan orang asing yang waktu itu. Tidak ada yang bisa menebak takdir seseorang.
“Fey!” teriak seseorang yang tidak lain adalah Yoshi, seniorku.
“Iya, Kak?” aku keluar dari tenda untuk menemui seniorku dan buru-buru memasukkan fotoku ke dalam saku jaketku. “Ada apa?”
“Ada yang mencarimu!”
Aku terkejut. “Malam-malam begini, siapa yang mencariku?”
“Aku juga tidak tahu! Sebaiknya, kau temui saja dia. Orang itu ada di sana.” Yoshi menunjuk orang yang memakai jaket berwarna hitam sedang berdiri membelakangiku.
Aku berjalan ke arah orang yang menungguku di pintu masuk lokasi kami berkemah. Saat aku mendekatinya, aku terkejut karena orang itu adalah ... Refald!
****
__ADS_1