Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 222 Persiapan


__ADS_3

Wanita muda bernama Riska itupun menceritakan kisah hidupnya pada semua orang yang ada dirumah pa Po. Dimulai dari saat ia masih belum menikah dengan suaminya. Wanita itu adalah salah satu korban perceraian orangtunya, ibunya menikah lagi dengan pria lain yang hampir saja melecehkannya saat ia berusia remaja. Wanita tersebut akhirnya memilih tinggal dengan neneknya dan memiliki kekasih bernama Aditya. Pria yang kini bersamanya.


Sebenarnya, mereka saling mencintai, tapi takdir berkehendak lain, karena suatu insiden yang tak terduga, Riska terpaksa menolak lamaran kekasihnya dan lebih memilih menikah dengan orang yang dijodohkan dengannya, yaitu suaminya yang sekarang. Namanya Andre. Pernikahan mereka tidak bahagia karena Riska terus terbayang sosok Aditya, kekasihnya yang dulu sempat ia cintai.


Tanpa sengaja, keduanya pun bertemu dan cinta lama diantara mereka mulai bersemi kembali. Suami Riska sangatlah kasar dan juga sering menyakiti hati Riska, disaat itulah Aditya datang dan berusaha menyenangkannya. Sampai akhirnya, hubungan keduanya diketahui oleh Andre.


Saat itulah Riska memutuskan untuk melarikan diri dari suaminya dan hendak hidup bersama dengan Aditya. Tapi naas, Andre ternyata memiliki pasukan preman yang ia perintahkan untuk menghabisi Aditya dan membawa pulang Riska kembali ke rumah dalam keadaan hidup. Dari situlah keduanya bertemu dengan Refald dan Fey sehingga terjadilah insiden di pasar tadi.


“Saya sadar diri, saya tidak pantas menjadi istri Andre, Tuan. Karena ... saat menikah dengannya, saya ... sudah tidak suci lagi. Saya sangat merasa bersalah padanya, itulah kenapa pernikahan kami tidak bisa bahagia. Sungguh saya merasa, bukan saya yang pantas mendampinginya, tapi wanita suci dan lebih terhormat dari sayalah yang harus berada disisinya.” Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Riska setelah menjelaskan alasan kenapa ia lari dari suaminya.


Fey dan Refald saling pandang. Sedikit banyak, mereka berdua mulai mengerti situasinya. Pernikahan tidak bahagia karena dijodohkan, kesucian yang terenggut, dan juga kisah cinta segitiga yang rumit. Fey dan Refald tidak bisa berkata apa-apa lagi. Namun, raut wajah Refald terlihat begitu serius karena sedang memikirkan sesuatu. Untuk sesaat ia berjalan mondar-mandir kesana-kemari hingga membuat yang lainnya bingung termasuk istrinya sendiri.


“Bisa kita bicara sebentar, Mr. Aditya?” ujar Refald pada kekasih Riska itu.


“Tentu saja, Tuan.” Aditya menyetujui permintaan Refald untuk bicara dengannya meski ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan.


“Mari, ikut aku!” Refald berjalan lebih dulu menuju lantai atas diikuti oleh Aditya dibelakangnya.


Sedangkan yang lainnya hanya diam menunggu diruang tamu dengan pikiran masing-masing. Fey menatap Riska yang sedang mengusap air matanya. Apa yang dialami Riska memang miris sekali, dan anehnya kebanyakan anak muda di zaman sekarang memang seperti itu, dan yang menjadi korban rata-rata adalah pihak wanita, tapi inilah takdir. Tidak ada yang tahu seperti apa takdir setiap orang karena hanya sang Penciptalah yang menentukan. Fey jadi teringat kata-kata yang diucapkan Refald tadi siang. Kini, ia mulai mengerti apa maksud ucapan suaminya.


“Jadi ini arti dari apa yang dikatakan Refald, tadi?” gumam Fey.


“Ada apa, Putri?” tanya pak Po kepo. “Memangnya apa yang pangeran katakan pada Putri?”


“Kau ini kepo sekali? Sudah sana tidur!” Fey jadi bersikap jutek pada pak Po.


“Pangeran menyuruhku menunggunya disini, karena ia akan mengajariku cara melakukan malam per ....” Fey langsung membungkam mulut pak Po supaya tidak bicara blak-blakan di depan semua wanita yang ada disini.


“Diam kau, bodoh! Apa kau tidak malu bicara seperti itu di depan banyak wanita? Haish, aku ingin sekali merobek-robek mulutmu itu!” geram Fey kesal. “Antar Di masuk kedalam kamar pengantinmu dan kembalilah kemari sembari menunggu Refald turun. Seharian istrimu itu sudah bekerja keras, ia pasti capek sekali. Biarkan ia beristirahat dikamar.” Fey melepaskan bekapannya dari mulut pak Po.


“Baik Putri? Kenapa ....”


“Berani bicara lagi aku sumpal mulutmu dengan bogem, pak Po! Jangan banyak bicara! Cepat laksanakan saja! Kenapa setiap kali kau didekatku darahku jadi naik!” Fey mengibas-ngibaskan tangannya seolah sedang kepanasan karena emosi.


Pak Po pun akhirnya mengerti dan pamit undur diri. Ia mengajak Di masuk ke dalam kamar mereka. Belum juga lima menit pak Po masuk, tiba-tiba ia muncul kembali dan duduk didekat Fey. Istri Refald itu hanya menghela napas panjang.


“Kau tidak mau menemani istrimu dulu?” tanya Fey.


“Haruskah saya menemaninya, Putri?” dengan polosnya pak Po malah balik bertanya.


Fey langsung menutup wajahnya dengan tangan tanda menyerah menghadapi pak Po. “Entah kenapa aku lebih suka kau jadi hantu daripada manusia,” gumam Fey lirih.


“Apa anda sakit kepala, Putri? Mau kuambilkan obat?”


“Diam kau! Atau aku bunuh kalau kau sampai bersuara lagi? Kau pikir siapa yang membuatku sakit kepala, ha?” cetus Fey sambil menggeretakkan giginya saking emosinya.


“Siapa, Putri? Biar aku hajar dia habis-habisan karena sudah membuatmu seperti ini. Meski aku tak punya kekuatan lagi, tapi aku masih bisa bela diri.” Pak Po mempraktekkan beberapa jurus tinjunya dihadapan Fey.


“Aku tidak yakin kau bisa menghajarnya,” ledek Fey. Pak Po benar-benar membuatnya kesal dengan tingkah konyolnya ini.

__ADS_1


“Kenapa, Putri? Kan belum dicoba?”


“Karena orang yang membuatku sakit kepala itu adalah kau! Dasar bodoh!” bentak Fey dan pak Po langsung jadi bingung.


“Anda benar Putri, saya tidak mungkin bisa menghajar diri saya sendiri? Apa ada orang lain yang membuat anda kesal selain saya?”


Untuk kesekian kalinya Fey mengambil napas dalam-dalam. Ia mencomot sebuah bantal kecil yang ada disampingnya dan langsung memukuli pak Po dengan bantal itu.


“Pergi kau dari hadapanku dan temani istrimu sana? Mana ada suami aneh sepertimu yang meninggalkan istrinya begitu saja! Kau jangan membuat malu diriku di depan istrimu itu. Akan aku hajar kau kalau masih saja tetap berada disini!” teriak Fey menggebu-gebu sambil terus menyerang pak Po. Habis sudah kesabaran Fey hari ini. Ia terus menghantam pak Po dengan bantal dan memaksanya masuk kedalam kamar lagi. “Tetap didalam sana dan jangan pernah keluar kalau Refald belum memanggilmu! Kalau kau sampai keluar kamar tanpa seizinku akan kujadikan pocong lagi, kau!” ancam Fey sambil memegangi kepalanya setelah berhasil mengunnci pak Po dikamarnya sendiri. “Bagaimana suamiku Refald bisa punya anak buah se-bloon, dia?”


Riska hanya melongo melihat adegan yang dilakukan Fey terhadap pak Po. Dimata gadis itu, Fey terlihat seperti emak-emak yang sedang mengomeli putranya karena telah berbuat nakal.


***


Sementara dilantai atas, Refald berdiri dibalkon bersama dengan Aditya. Karena ini malam hari, banyak bintang-bintang bertaburan dilangit-langit yang cerah. Bahkan sebagian dari mereka ada yang bergerak dan orang-orang biasanya menyebut bintang yang bergerak cepat tersebut sebagai bintang jatuh.


“Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tuan?” tanya Aditya yang berdiri tidak jauh dibelakang Refald.


“Aku ingin tahu apa alasanmu mau membawa lari Riska dari suaminya. Padahal kau tahu kalau kekasihmu itu sudah ... ehm, kau tahu maksudku.” Refald masih memandang lurus langit-langit diatasnya.


“Ehm, saya mengerti. Ada 3 alasan kenapa saya nekat melakukan ini. Mungkin apa yang saya lakukan ini bisa dikatakan gila dan tidak bermoral karena berani membawa kabur istri orang, tapi saya punya alasan yang kuat kenapa saya harus mengambil resiko melakukannya. Pertama, pernikahan Riska tidak bahagia. Suaminya terus bersikap kasar padanya, hati dan batinnya selalu tersiksa, meski saya sudah tidak berhak memilikinya, tapi entah kenapa saya ikut merasakan sakit ketika melihat wanita yang saya cintai tidak bahagia bersama dengan pasangannya.


“Akan berbeda ceritanya kalau saja pria bernama Andre itu bisa membahagiakan Riska. Namun nyatanya, tidak demikian. Pernikahan mereka penuh dengan tekanan dan siksaan. Alasan yang Kedua, karena saya mencintainya lebih dari apapun. Walaupun nantinya orang akan menggunjingkan kami, cinta saya padanya tidak akan berubah. Saya yakin, kami pasti bisa melaluinya bersama. Ketiga ....” Aditya tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia menunduk seolah apa yang akan dikatakannya begitu berat diucapkan.


“Orang yang merebut kesuciannya, adalah ... kau sendiri.” Refald membantu mengungkapkan.


“Karena aku tadi menyentuh tanganmu!”


Tentu saja penjelasan singkat Refald itu tidak dapat dimengerti oleh Aditya. Apa hubungannya menyentuh tangan dengan bisa membaca pikiran orang? Batin Aditya.


“Khusus untukku, ada!” lagi-lagi Refald menjawab suara hati Aditya dengan penuh teka-teki.


Semakin tercenganglah pria itu menatap Refald yang sejak tadi tak bergeming dari tempatnya. Suami Fey itu masih terus menatap langit-langit malam.


“Siapapun anda, anda benar-benar luar biasa, Tuan.”


“Terimakasih, tapi aku tidak suka dipuji.” Refald beralih menatap pria yang kini berdiri disampingnya. “Akan aku beritahu satu hal padamu. Urus dulu perceraian antara Riska dan suaminya, baru kalian berdua bisa menikah. Selama kalian belum menyelesaikan masalah itu, maka jangan harap kau bisa menikahi Riska sekalipaun kalian berdua saling mencintai. Jika kau nekat menikahi Riska sebelum ia resmi bercerai dengan suaminya, maka sampai kapanpun, kehidupan rumah tangga kalian tak akan bisa tenang.” Refald menepuk pelan bahu Aditya dan berlalu meninggalkan pria itu sendirian untuk memikirkan apa yang baru saja ia katakan.


Sesampainya diruang tamu, Refald meminta Riska menemui kekasihnya supaya mereka berdua bisa membicarakan solusi yang terbaik untuk keduanya. Sebab, bagaimanapun juga, masalah mereka harus segera diselesaikan bersama-sama. Refald hanya akan membantu kalau memang ia diperlukan.


“Dimana pak Po?” tanya Refald setelah Riska pergi meninggalkannya berdua dengan Fey saja di ruang tamu.


“Mantan pasukan dedemitmu itu benar-benar membuatku gila? Dia mengerti arti cinta tapi tidak tahu bagaimana cara mengarungi cinta itu? Apa-apaan itu? Memangnya dia anak TK, apa? Masa iya aku harus mengajarinya setiap hal yang kau lakukan padaku?” gerutu Fey tapi Refald hanya tersenyum melihat istrinya yang mulai bawel.


“Hal yang aku lakukan, padamu? Hal seperti apa?” tanya Refald mulai menggoda Fey. Perlahan, ia menangkap tubuh istrinya lalu menariknya dekat, lekat dan tanpa ada jarak lagi diantara mereka. “Apa seperti ini?” mata Refald menatap tajam istrinya.


“Refald, aku sedang tidak bercanda.” Fey berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya tapi tidak bisa. Tubuh Refald malah semakin menempel erat pada tubuhnya.


“Siapa yang mengajakmu bercanda, Honey?” nada suara Refald mulai terdengar merdu.

__ADS_1


“Menjauh dariku dan jangan seperti ini? Bagaimana kalau ada yang lihat?”


“Biarkan saja? Kita kan sudah sah?” Refald mulai menyeringai. Matanya, seolah siap menerkam Fey hidup-hidup.


“Baiklah, aku tarik kata-kataku tadi, lepaskan aku? Bukankah kau bilang kau mau mengajari pak Po? Karena itulah kau mencarinya, kan?” Fey berusaha mengalihkan perhatian Refald yang sedang mengintimidasinya.


“Kau benar, Honey. tapi aku ingin bersamamu dulu.” Refald hendak mencium istrinya tepat saat Pak PO membuka pintu kamarnya dan melihat Fey dan Refald saling berpelukan.


“Apa yang sedang anda berdua lakukan, Pangeran? Apakah ... anda mau menyiksa Putri?” seru pak Po. Matanya melotot seperti mau keluar menyaksikan Refald memeluk erat Fey dan hendak menciumnya. Sedangkan wajah Fey langsung merah padam karena keintimannya dengan Refald dilihat pak Po.


“Ini namanya penyiksaan yang syahdu pak Po. Sekali kau melakukannya, maka kau akan ketagihan,” ujar Refald sambil tersenyum senang.


Bola mata pak Po berputar tanda tidak mengerti apa maksud ucapan pangerannya. “Saya tidak tahu apapun makna setiap kata yang anda ucapkan, Pangeran.”


Fey melongo menatap betapa polos dan bloonnya pak Po, tapi dibalik sifatnya yang tidak tahu apa-apa itu, Fey juga bersyukur mantan pasukan Refald tidak memahami situasi yang terjadi antara dirinya dan Refald. Jadi Fey bisa bernapas lega.


“Kita lanjutkan nanti di kamar, Honey. Istirahatlah, kau pasti lelah.” Refald membelai rambut istrinya dan mengecup keningnya dengan mesra.


“Tidak mau, aku mau disini saja. Aku ingin tahu bagaimana caramu mengajari pak Po.”


“Kalau kau ada disini, berarti kita praktekkan saja didepannya. Lebih praktis dan aku tidak perlu susah-susah menjelaskannya pada pak Po.”


“Ah, tidak usah ... aku pergi saja! Kalian berdua silahkan lanjutkan kegiatan belajar mengajarnya.” Fey langsung melarikan diri dengan cara naik ke lantai atas tapi ia tetap bersembunyi dibalik dinding. Fey bermaksud mengintip Refald dari atas.


“Aku bisa merasakan hawa keberadaanmu, Honey. Jangan paksa aku untuk mendatangimu dan melakukan ritual kita yang biasa kita lakukan di depan pak Po,” Seru Refald dari bawah seakan tahu apa yang sedang dilakukan istrinya.


“Ahhh, sial? Nggak enaknya kalau punya suami manusia super seperti Refald, apa-apa pasti ketahuan!” Fey menendang-nendang dinding koridor dan masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintunya dengan keras. Fey bahkan mengunci pintu itu rapat-rapat supaya Refald tidak bisa masuk kedalam.


Refald sendiri hanya tersenyum simpul mengetahui sikap ngambek istrinya. Ia hanya tinggal melakukan ritual mereka bila pembelajaran untuk pak Po sudah selesai.


“Sekarang bagaimana, Pangeran?” tanya pak Po yang sejak tadi diam.


“Apanya yang bagaimana?” Refald pura-pura tidak mengerti.


“Bukankah Pangeran mau mengajari saya?”


“Keluarkan senjatamu!” perintah Refald langsung tanpa basa nasi.


“Senjata apa, Pangeran? Saya tidak pegang senjata apa-apa.” Pak Po malah semakin bingung dengan perintah Refald.


“Ayo ikut ke ruangan lain. Akan aku tunjukkan padamu senjata paling ampuh yang dimiliki oleh seorang laki-laki.” Refald berjalan lebih dulu lalu diiringi pak Po dari belakang.


BERSAMBUNG


***


Kira-kira, apa yang akan mereka lakukan, ya? Hehehe ... part berikutnya siap-siap sakit perut dulu.


__ADS_1


__ADS_2