
Refald tertawa melihat mukaku yang memerah karena marah. Aku mendorong paksa tubuhnya dan mengusir Refald untuk keluar dari tenda. Susah payah akhirnya Refald mau keluar juga dari tenda dan semua orang menyambut kami dengan tatapan yang tidak bisa kumengerti maksudnya.
“Dasar kalian ini! Kalau mau pamer kemesraan jangan di sini?”
“Ini bukan tempat untuk bulan madu!”
“Fey, apa kau sengaja? Mengundang suamimu ke sini untuk pamer pada kami?”
Aku terkejut mendengar komentar para senior cewek yang rata-rata masih jomblo itu, dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Refald hanya tertawa dan mengajak mereka semua pergi menjauh dariku karena melihat mukaku yang sudah merah seperti tomat.
Berbeda dengan para seniorku yang lebih dulu berada di sini. Mia dan Nura tercengang melihat Refald berada bersama mereka, bahkan Refald terlihat sangat akrab. Dua temanku ini berjalan mendekat ke arahku dengan wajah penuh tanya.
“Apa aku tidak salah lihat? Apa benar orang itu... adalah Refald?” Tanya Mia yang masih menatap Refald bersama dengan para senior lainnya.
“Tidak! Mereka semua tadi bilang kalau orang itu adalah suaminya, Fey! Apa maksudnya itu? Kapan kau menikah, Fey?” Nura mulai ngelantur kemana-mana.
“Benarkah itu Fey? Kau sudah menikah? Kapan?”
“Apa yang kalian bicarakan ini? Jika aku menikah aku tidak mungkin ada di sini! Lagi pula siapa yang mau menikah! Aku masih ingin menikmati masa mudaku!”
“Tapi... mereka semua bilang....”
“Mereka semua hanya menggodaku!”e
“Tapi bagaimana Refald juga bisa ada di sini? Bukankah dia sudah pergi?”
“Dia kembali! Aku juga baru melihatnya kemarin, dan aku juga terkejut ia datang kemari semalam?”
“Apa? Semalam? Di tenda itu? Kalian berdua tidur dalam satu tenda?” Nura terkejut dan masih saja berpikiran yang bukan-bukan.
Sedangkan Mia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Astaga naga...."
“Tidak seperti itu!” aku menjelaskan pada Mia dan Nura kronologi kejadian yang sebenarnya. “Sudahlah jangan dibahas lagi! Sebaiknya kalian cepat bersiap-siap karena sebentar lagi kita akan mengadakan upacara pembukaan begitu para junior dan pembina datang!”
Nura dan Mia setuju.
“Tunggu!” aku menggamit lengan Mia sebelum ia pergi. “Apa kau tidak lihat Yua dan anggota PMR lainnya?”
“Mereka ada di belakang bersama dengan yang lainnya.”
“Baiklah kalau begitu!”
Tidak lama kemudian orang yang kutunggu dari tadi akhirnya tiba. Para junior dan pembina kami juga sudah datang, mereka langsung disambut oleh beberapa senior dan sebagian lagi mengarahkan para junior untuk segera berbaris di lapangan. Mereka diperbolehkan duduk dan beristirahat sebentar untuk melepas lelah setelah dari perjalanan sebelum melaksanakan upacara pembukaan.
Yua dan anggota PMR juga sudah datang. Tapi aku sangat terkejut melihat ada siapa diantara para anggota PMR itu. Via, kekasih Epank, ternyata juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Padahal dia tidak diundang.
Aku langsung menghampiri Yua dan berbisik di telinganya. “Ada apa ini, Yua? Kenapa Via juga ikut?”
Yua mengajakku untuk menjauh dari kerumunan mereka. “Aku juga tidak tahu, dia sudah datang dengan Epank saat aku tiba di sana tadi!”
Aku berniat pergi menghampiri Epank untuk menanyakan langsung padanya alasan kenapa Epank mengajak Via. Tapi Yua menahanku seolah mengerti apa yang akan kulakukan. “Jangan, Fey! Biarkan saja!”
“Tapi, Yua....”
“Tidak apa-apa, Fey! Kau tenang saja, oke!”
Aku merasa tidak enak hati dengan Yua. Aku ingat saat Yua kegirangan begitu mendengar hanya dia dan Epank yang akan berpartisipasi dalam kegiatan ini tanpa harus terganggu dengan keberadaan Via. Tapi kini, semua itu sirna. Via ikut datang dan aku langsung bisa membayangkan bagaimana ia akan mengacaukan segalanya.
Yua pergi meninggalkan aku dan kembali ke kelompoknya untuk berbenah dan menyiapkan diri mengikuti acara upacara pembukaan yang sebentar lagi akan dimulai.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Yua, aku menarik Epank agak jauh dari lokasi kami berkemah dan berbicara dengannya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengajak Via juga?"
Epank agak bingung dengan ucapanku. Mungkin terdengar aneh, tidak seharusnya aku menanyakan itu mengingat Via adalah kekasih Epank dan sangatlah wajar jika ia mengajak serta pacarnya kemanapun ia pergi.
"Ada apa, Fey? Kau keberatan jika Via ikut denganku?"
Aku merasa gugup dan menyesal karena sudah menyinggung perasaan Epank. "Bukan begitu, maaf jika kau tersinggung. Aku hanya terkejut Via ikut datang. Kegiatan ini tidak sama dengan kegiatan yang lain, aku hanya khawatir...."
"Kau jangan khawatir!" Epank memotong ucapanku. "Aku jamin Via tidak akan berbuat onar di sini. Ia hanya mengkhawatirkan aku." ucap Epank seolah mengerti apa yang kupikirkan.
"Baiklah kalau begitu, maafkan aku jika kau tersinggung dengan ucapanku."
"Tidak! Harusnya aku yang meminta maaf karena waktu itu Via kurang sopan padamu. Aku harap kau mengerti perasaannya."
Aku terdiam menatap Epank. Dia terlalu baik untuk Via. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Epank tahu seperti apa sebenarnya kekasihnya itu.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya seseorang yang sudah ku hafal suaranya. Siapa lagi kalau bukan Refald si pengacau. Ia berjalan menghampiri kami. "Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Refald menatapku dengan penuh api cemburu. Padahal aku dan Epank tidak melakukan apa-apa. Aku sangat tidak menyukai sifatnya yang seperti itu.
"Kau juga mengajak pacarmu kemari rupanya?" goda Epank. Tapi ia langsung diam begitu melihat kilat kemarahan di mata Refald.
"Aku tidak mengajaknya! Dia sendiri yang datang kemari." aku menatap Refald yang juga masih menatapku. Entah kenapa aku senang melihat Refald terbakar api cemburu.
Epank merasa canggung sendiri. Jadi, ia memutuskan untuk pamit lebih dulu. "Baiklah, kalau begitu ... akan kutinggalkan kalian berdua di sini." tidak ada yang menyahut ucapan Epank, dan cowok itu langsung pergi dengan bingung meninggalkan kami yang masih saling bertatapan tanpa suara.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanyaku berusaha mencairkan kecemburuan yang dirasakan Refald.
Refald mendekatkan wajahnya ke wajahku seolah ingin menciumku. Aku melangkah mundur tapi Refald malah terus maju mendekatiku. Sampai akhirnya punggungku terbentur sebuah pohon yang ada di belakangku. Sungguh aku sangat tidak suka jika Refald bersikap seperti ini.
"Apa yang akan kau lakukan? Banyak orang yang akan melihat kita?"
"Hentikan! Jika kau tidak ingin aku berteriak!"
"Teriak saja!"
"Ada pembina juga di sini!"
"Bodo amat! Kita hanya tinggal pulang ke KUA setelah ini!"
"Kau benar-benar tidak waras! Apa yang kau lakukan?" aku berusaha kuat mendorong tubuh Refald, tapi ia malah mencengkeram tanganku dan menahan gerakanku.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau bicarakan dengan Epank di tempat seperti ini? Kenapa harus menjauh dari lokasi? Ada apa?"
Refald menatapku dan hendak menciumku karena aku tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Akan kukatakan!" teriakku. "Tapi menjauhlah sedikit, beri aku ruang untuk bernapas."
Refald menjauhkan sedikit wajahnya dariku. Sekarang jarak kami hanya 10 cm. Ia mengurungku dengan kedua lengannya di sandaran pohon agar aku tidak bisa kabur.
"Aku tidak suka Via ada di sini." akhirnya aku berkata jujur. Semua ini gara-gara Refald yang berhasil mengintimidasiku.
"Kenapa?"
"Kau tahu sendiri alasannya. Kita sudah pernah bertengkar masalah ini. Terakhir kau langsung pergi meninggalkanku tanpa pamit." aku menyindirnya, karena kenyataannya memang dia langsung pergi meninggalkanku setelah kami berdebat di rumah sakit waktu itu. Meskipun alasan dia meninggalkanku masih belum jelas sampai saat ini. Entah karena ia bertengkar denganku atau karena ada hal lain yang membuatnya harus pergi begitu saja.
Refald menunduk. Ia melepaskan cengkeramannya dan beralih mengenggam lembut tanganku lalu menciumnya. Ia menatapku lagi. Kali ini tatapannya berubah sendu dan penuh dengan cinta. Kemarahan karena api cemburunya tadi mendadak hilang lenyap seketika.
"Aku pergi, bukan karena kita sedang bertengkar waktu itu. Tapi, aku merasa sudah saatnya kau tahu siapa aku dan seperti apa hubungan kita yang sebenarnya. Itulah sebabnya aku pergi dan menemui ayahmu!"
__ADS_1
"Karena itu kau datang bersama dengan ayah dan Eric?"
Refald mengangguk pelan. "Aku tidak ingin lama-lama memendam rahasia ini. Aku begitu ingin bertemu denganmu sampai aku tidak bisa menahan hasratku untuk memelukmu dengan segenap hatiku saat tahu bahwa kau adalah tunanganku yang selama ini aku cari-cari. Aku bahkan merasa bersalah karena sempat membencimu karena luka ditanganku yang disebabkan olehmu. Banyak hal yang harus kutinggalkan gara-gara luka ini. Tapi setelah dipikir lagi, berkat luka ini pula aku bisa menemukan orang yang selama ini aku cari. Bahkan aku di buat jatuh cinta dua kali oleh orang yang sama."
"Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu!"
"Foto itu. Aku sempat ragu dengan perasaanku. Selama kita terpisah aku tidak tahu seperti apa dirimu saat ini. Aku bahkan juga ingin memutuskan pertunangan kita tepat ketika aku menerima cincin yang kau berikan pada kakakmu. Tapi, sebelum aku memutuskannya, aku ingin sekali bertemu denganmu untuk memastikan kembali perasaanku padamu. Tidak kusangka aku bertemu dengan gadis di foto yang kuberikan padamu. Aku jatuh cinta pada gadis di foto itu."
Aku teringat foto yang Refald berikan padaku, itu adalah foto diriku sendiri.
"Itu, kan fotoku?"
"Benar! tapi aku tidak tahu kalau foto gadis yang membuatku jatuh cinta lagi ternyata adalah foto tunanganku sendiri!"
Dalam hati aku juga tersenyum sendiri. Aku tidak tahu kalau orang yang kubenci dan membuatku merasakan apa itu cinta juga ternyata adalah tunanganku sendiri. Sungguh ironi sekali kisah kami. Harus berputar-putar dulu supaya kami bisa kembali bersama lagi.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Refald.
Secepat kilat aku menyembunyikan senyumku dan berekspresi lugu. "Aku tidak tersenyum. Kau mungkin salah lihat!"
Aku hendak pergi meninggalkan Refald tapi dengan sigap ia menahan tanganku. Aku pun beradu pandang dengan Refald.
"Lepaskan aku! Aku harus kembali ke tim ku! Mereka mungkin sedang mencariku!" tentu saja Refald tidak mendengarkanku. Ia tetap menggenggam erat tanganku tanpa mau melepasnya.
"Mengenai kisah cinta segitiga teman-temanmu. Apa yang membuatmu bersikeras bahwa Yua jauh lebih baik dari Via?"
Pertanyaan Refald membuatku tertegun sesaat. Aku memikirkan sebuah rahasia Via yang selama ini kusimpan rapat-rapat dan hanya aku saja yang tahu. Tapi sekarang, terpaksa aku harus mengatakan pada Refald semuanya jika tidak ingin dia membuat kekacauan di kegiatanku nanti.
Saat kami berdua keasyikan mengobrol terdengar suara sirine pertanda acara upacara akan segera dimulai. Aku bergegas ke tempat para tim pelaksana kegiatan berkumpul untuk mengikuti jalannya upacara tersebut. Sedangkan Refald sendiri memutuskan pamit untuk pulang.
"Aku akan datang lagi nanti." ucapnya sebelum meninggalkanku.
Aku mengangguk. "Maaf tidak bisa menemanimu!" Refald mencium keningku dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu. " Refald melepaskan genggamannya dan berlalu pergi.
Semua peserta berbaris di lapangan yang berada di tengah-tengah tenda. Kegiatan upacara ini aku sendiri yang memandu selaku ketua pelaksana kegiatan ini. Upacara pembukaan ini di buka pertama oleh pembina yang memberikan sambutan-sambutannya mengenai kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama berada di lokasi perkemahan yang ada di tengah hutan ini.
Kemudian disusul lagi dengan sambutan-sambutan dari beberapa alumni dan senior yang memberikan pengarahan dan wejangan agar semua peserta dapat menaati semua peraturan yang ada dari acara dimulai sampai selesai.
Saat aku meminta salah satu petugas perhutani yang berjaga untuk membantu memandu acara kami untuk memberikan sambutan pada upacara pembukaan ini, mereka semua menolak. Mereka bilang bahwa apa yang sudah disampaikan pembina dan beberapa alumni sudah mewakilkan apa yang akan mereka sampaikan juga.
Aku merasa aneh sebenarnya. Tapi ada benarnya juga. Entah kenapa sejak Mia dan Nura melihat hal-hal yang aneh, aku selalu merasa ada yang aneh juga dalam kegiatan ini. Semoga saja apa yang kupikirkan tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan aku berharap ini hanya kecemasanku saja.
Begitu upacara selesai, para peserta diminta untuk kembali ke tenda masing-masing untuk menyantap bekal mereka sebelum kegiatan selanjutnya dimulai pada pukul tiga sore. Selama tenggak waktu istirahat kurang lebih satu setengah jam, semua bisa bersiap-siap untuk istirahat dan membersihkan diri.
Hari pertama, kegiatan yang diadakan tidak terlalu berat. Hanya penyampaian materi tentang survival dan beberapa materi lainnya yang berhubungan dengan organisasi pecinta alam seperti repling dan prusiking. Yaitu teknik dasar panjat tebing yang paling digemari para anggota pecinta alam.
Sedangkan hari kedua adalah praktek langsung di lapangan yang akan diadakan besok pagi setelah sarapan.
Aku bermaksud untuk menggelar rapat bersama dengan timku yang di pimpin langsung oleh pembina kami. Tapi langkahku menuju tenda terhenti ketika aku melihat Refald yang masih berdiri tegak menatap waspada sesuatu.
Aku terkejut dia masih berada di sini. Padahal sudah 30 menit lebih sejak ia pergi pamit tadi. Aku heran kenapa ia menatap para petugas perhutani dengan tatapan waspada seperti itu.
"Fey! Cepat kemari!" Lisa memanggilku. Sepertinya Refald belum tahu kalau aku sedang melihatnya. Pandangannya nanar seakan melihat sesuatu yang tidak kuketahui. Aku ingin sekali menghampirinya, tapi teman-temanku yang lain sudah menunggu.
Apa yang dilakukan Refald di sana? Ada apa ini?
****
__ADS_1