
Setelah membersihkan diri bersama dengan suaminya Refald, Fey langsung turun kebawah dan membantu Di menyiapkan sarapan untuk semua. Awalnya, tidak ada yang aneh saat Fey berkutat bersama istri pak Po di dapur. Fey merasa semuanya baik-baik saja seperti biasanya. Namun, lama-kelamaan Fey mencium ada yang aneh dengan gelagat Di saat berdiri disampingnya.
Entah itu hanya perasaan Fey saja atau apa, yang jelas wajah Di terlihat pucat dan letih serta tak bertenaga. Berkali-kali wanita itu menghela napas panjang.
“Kau tidak apa-apa, Di? Kenapa dengan wajahmu? Pucat begitu?” tanya Fey masih sambil mengamati Di yang menunduk untuk menghindari tatapannya.
“Saya tidak apa-apa, Putri. Sungguh!” Di berpindah tempat untuk menghindari Fey lagi.
“Baiklah, kalau kau tidak mau bilang padaku, aku akan tanya langsung pada pak Po.” Fey melepas celemeknya dan hendak pergi keluar dapur.
“Tunggu, Putri!” seru Di. “Jangan temui, pak Po.” Mata Di mulai berkaca-kaca sehingga membuat Fey semakin heran dan juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua.
“Katakan padaku! Ada apa?” Fey menatap tajam Di yang juga sedang melihatnya.
***
Setelah mendengar pejelasan singkat dari Di, Fey langsung marah dan juga kesal pada salah satu mantan pasukan Refald. Dengan menahan napas dan emosi yang sudah meluap, Fey keluar dari dapur dengan kemarahan yang tak terkira lagi. Ia mencari-cari keberadaan pak Po tapi yang dicari tidak ada dimana-mana.
“Pak Po! Dimana, kau?” teriak Fey dengan kencang sehingga seisi rumah pun bisa mendengar suaranya. “Keluar, kau! Sini! Hadapi aku!” teriak Fey lagi.
Riska dan Aditya yang tadinya ada di dalam kamar jadi ikutan keluar kerena penasaran mengapa Fey berteriak-teriak seperti itu.
“Apa yang terjadi dengan Nona Refald?” tanya Aditya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu, ternyata kalau lagi marah dia bisa seram juga, ya? Akhir-akhir ini, aku perhatikan dia sering kesal dengan orang yang dipanggil pak Po itu,” terang Riska pada Aditya.
“Sebaiknya, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka daripada kita kena imbasnya juga. Ayo kita masuk ke dalam saja. Aku merasakan ada firasat yang buruk.” Aditya menggandeng tangan Riska masuk ke dalam kamar mereka lagi dengan paksa.
__ADS_1
Sebenarnya, Riska penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi Aditya tidak ingin ia terlibat dan tetap memaksanya masuk lagi ke dalam kamarnya.
“Ada apa, Honey? Kenapa pagi-pagi kau sudah marah-marah seperti itu?” Refald muncul dari belakang Fey dan langsung memeluk tubuh istrinya agar Fey tak marah lagi.
Fey melepas paksa pelukan suaminya yang melingkar erat diperutnya. “Jangan halangi aku, Refald! Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan kesabaranku lagi. Katakan dimana pak Po, sekarang?” wajah Fey terlihat sangat serius kali ini. Refald sendiri langsung mengerutkan keningnya karena ini pertama kalinya ia melihat Fey semarah itu.
“Ada apa? Apa yang pak Po lalukan sampai kau jadi semarah itu?”tanya Refald pelan. Ia harus bersabar sementara menghadapi Fey yang saat ini sedang kesal.
Fey mencoba mengambil napas dalam-dalam supaya bisa menjelaskan duduk perkaranya pada Refald. “Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran mantan pasukanmu itu, Suamiku? Bagaimana bisa pak Po memaksa Di membuka selangkangannya dan menempelkan pedangnya dimahkota berharga milik Di semalaman tanpa boleh bergerak sedikitpun? Kau tahu betapa tersiksanya Di? Wajahnya sampai pucat dan tubuhnya terasa kaku karena pak Po sama sekali tidak memperbolehkan istrinya menutup selangkangannya.” Fey menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan kemarahannya. “Siapa yang memberitahu pak Po cara nyeleneh bin ajib itu? Aku benar-benar ingin menghabisinya?”geram Fey masih sambil mengamati sekeliling mencari-cari sosok pak Po.
Refald tertegun menatap istrinya sekaligus tercengang mengetahui apa yang dilakukan pak Po pada Di. Ia juga ingin tertawa karena ternyata pak Po salah mengartikan apa yang sudah ia ajarkan semalam.
"Kau yakin dengan apa yang dilakukan pak Po pada Di, Honey? Si bodoh itu hanya menempelkan pedangnya saja? Tanpa memasukkannya?” tanya Refald sekali lagi.
“Itu benar, Di sendiri yang bilang padaku. Aku penasaran siapa cecunguk gila yang memberitahu pak Po agar ia berbuat aneh begitu?” lagi-lagi, Fey menahan amarah tanpa tahu bahwa suaminya sendiri yang mengajari pak Po meski bukan hal itu yang diajarkan. Apa yang dilakukan pak Po sudah melenceng dari pembelajaran.
“Kau ingin tahu siapa orangnya?” tanya Refald pada Fey.
“Siapa?”
“Ayo ikut aku!” Refald langsung menggandeng tangan Fey menuju lantai atas dan mengajak istrinya masuk ke dalam kamarnya.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kita malah masuk kedalam kamar?” tanya Fey bingung.
“Bukankah kau ingin menghabisi orang yang mengajari pak Po hingga ia berbuat seperti itu?” Refald menanggalkan pakaiannya satu persatu dan berjalan pelan mendekat ke arah Fey.
“Iya, tapi apa hubungannya dengan kau melepas pakaianmu?”
__ADS_1
“Karena orang yang mengajari pak Po itu adalah ... aku! Ayo, habisi aku sekarang!” Refald langsung memeluk tubuh istrinya sehingga Fey jadi tersentak. “Habisi aku diatas ranjang!” tanpa peringatan Refald menggendong Fey dan merebahkannya diatas tempat tidur. Refald benar-benar membuat istrinya tidak bisa berkutik.
Adegan mau mundur cantikpun terjadi lagi diantara mereka berdua. Fey sendiri tak kuasa menolak apa yang dilakukan Refald padanya. Kali ini,suaminya itu menyelesaikan ritualnya lebih cepat dari biasanya. Setelah hasrat birahi mereka tersalurkan dengan baik, Refald memeluk Fey dan mencium istrinya dengan mesra.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kau mengajari pak Po melakukan hal itu? Tak bisa dibayangkan, semalaman Di harus berpose begitu sementara pak Po tidak melakukan apa-apa." Fey memulai pembicaraan.
"Aku memperlihatkan video mantap-mantap padanya dan menjelaskan apa yang harus ia lakukan. Aku pikir dia paham, karena ia sudah tahu apa fungsi pedang etalibun. Tapi ternyata dugaanku salah. Dia jauh lebih bodoh dari apa yang aku bayangkan."
Melihat ekspresi Refald, Fey jadi tersenyum sendiri. Pasti suaminya ini juga bingung menghadapi betapa oon-nya mantan pasukan dedemit yang satu itu.
"Sepertinya, kau harus menggunakan cara lain untuk mengajari pak Po. Jika cara modern tidak bisa, gunakan cara tradisional saja, kali ini aku yakin pasti berhasil. Pak Po pasti bisa membobol gawang istrinya." Fey menatap wajah Refald sambil tersenyum seolah ia tahu apa yang harus dilakukan.
"Cara tradisional? Memang ada?" tanya Refald penasaran.
"Ada," ujar Fey senang. Ia langsung membisikkan sesuatu ditelinga Refald sehingga membuat suaminya itu jadi ikut tersenyum senang.
"Kau benar, Honey. Kenapa tidak terpikirkan olehku cara itu. Aku yakin kali ini, kita pasti berhasil." Refald mencium mesra bibir istrinya. " Kau memang istriku yang terbaik. Aku sangat mencintaimu." Refald memeluk erat tubuh Fey.
"Aku juga mencintaimu, Pangeranku." Fey pun membalas pelukan suaminya. Selama berjam-jam mereka berdua menghabiskan waktu didalam kamar dan baru keluar setelah perut mereka keroncongan.
BERSAMBUNG
****
__ADS_1