
Sesuai dugaan Nura, Yua langsung datang ke rumah Mia begitu mendengar Fey ada di sini berkumpul bersama dua sahabatnya. Wanita yang kini sudah sah menjadi istri Manager di sebuah bank swasta itupun meluncur hanya dalam kurun waktu 10 menit saja.
“Wuah, nyonya Epank sudah datang.” Fey langsung menyambut kedatangan sahabat yang paling ia rindukan.
Begitu turun dari motor Nmax hitamnya, Yua langsung berlari memeluk Fey. “Kau jahat sekali, Fey. Kau tidak membalas semua pesanku. Apa saja yang kau lakukan di sana, ha? Aku kira kau telah melupakanku dan mencari teman bule Jepang di sana.” Yua terdengar lucu kalau sedang merajuk.
“Aku tidak punya waktu untuk cari teman, Yua. Mana mungkin aku melupakan kalian. Jadwal dan kesibukanku penuh sehingga jarang sekali bersantai. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanya Refald langsung.” aku melepas pelukan Yua.
“Tentu saja ia akan lebih membelamu. Kau seperti magnet bagi Refald. Dimana ada Fey, disitulah Refald berada. By the way, di mana Refald? Kenapa kau datang sendiri? Jangan bilang kalau kalian lagi bertengkar.”
“Refald sedang ada urusan, ia akan langsung menjemputku kemari begitu urusannya selesai. Sudahlah lupakan dia. Aku senang akhirnya kita bisa berkumpul kembali di sini. Ini mengingatkanku pada kenangan masa SMA kita dulu.” Fey tersenyum supaya Yua juga ikut tersenyum.
Seharian, Fey dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama dengan bernostalgia seperti saat mereka masih SMA dulu. Fey juga membawakan banyak sekali kaset DVD film yang semuanya keren-keren banget agar bisa di tonton bersama dengan teman-temannya. Tak hanya itu, mereka juga menyanyi bersama, makan bersama dan tidur siang bersama-sama. Persahabatan mereka memang patut diacungi jempol karena keempatnya masih tetap kompak seperti dulu, bahkan kekompakan mereka sama sekali tidak berubah.
Tak terasa hari juga sudah mulai sore. Fey keluar menuju teras sambil meliuk-liukkan tubuhnya dan menikmati udara hangat di sore hari. Yua dan Nura pun juga ikut keluar.
“Musim panas yang menyenangkan,” ujar Nura. “Kapan Refald akan datang menjemputmu?”
“Entahlah, tadi dia bilang ingin mengha- ... ehm ... maksudku menemui adik sepupunya dulu. Begitu ia selesai, pasti akan kemari menjemputku. Kenapa? Kau penasaran dengannya ya, pasti kau ingin tahu seperti apa Refald sekarang, iya kan?” Fey menggoda Nura karena ia tahu meski jomblo, Nura pecinta cogan juga. Salah satunya adalah Refald.
“Nggaklah, ngapain aku penasaran, bagiku cuma Johnny Yen saja yang ....,” Nura tak bisa melanjutkan kata-katanya karena Fey nyelonong pergi begitu saja meninggalkannya menuju halaman rumah Mia yang ditumbuhi dengan berbagai jenis bunga. “Dasar tengil, seenak jidatnya aja aku dikacangi!” gumam Nura kesal. Ia pun duduk manis di samping Yua sambil ngemil.
“Sejak kapan kau menanam bunga Daisy ini, Yua? Perasaan dulu bunga ini tidak ada di sini!” teriak Fey pada Mia yang masih berada di dalam rumah.
__ADS_1
“Sejak kau pergi ke Jepang, aku menanam bunga yang kau berikan padaku waktu itu. Tidak kusangka bunga itu tumbuh subur di sini. Ambillah jika kau mau.” Mia juga ikut keluar melihat reaksi Fey yang terkagum-kagum dengan bunga yang dulu pernah ia berikan padanya.
“Wuah, daebak! Indah banget?” wajah Fey jadi berbunga-bunga melihat keindahan bunga yang ada dihadapannya.
“Apa kau akan memberikannya pada Refald?” pertanyaan Mia, hampir sama seperti dulu. Fey jadi teringat kembali momen pertama kali dirinya bertemu dengan Refald.
“Tidak!” jawab Fey singkat. Meski dalam hati, Fey ingin memberikan bunga cantik ini padanya.
Fey terhanyut dalam keindahan bunga-bunga mekar yang ditanam Mia. Meski pekarangannya tidak luas, tapi jenis bunga yang ditanam Mia di halaman ini menjadi sangat indah apalagi saat semua bunganya mekar bersamaan dan berwarna warni.
Tiba-tiba saja dari belakang, ada seseorang yang menepuk pelan bahu Fey. Tentu saja gadis itu menoleh dan betapa terkejutnya ia setelah tahu siapa orang yang berdiri disampingnya.
“Maaf mengganggu nyonya Refald, apakah kau bisa memberitahuku dimana vila Cahaya berada?” tanya laki-laki itu sambil tersenyum.
“Eric!” sapa Fey dan membalas senyumannya. “Lama sekali tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Fey senang.
Fey pun tersenyum pada Refald karena adegan ini mengingatkannya kembali saat ia pertama kali bertemu dengan Refald. Masa-masa itu tidak akan pernah bisa Fey lupakan, sebab setelah adegan ini Refald yang saat itu membawa volvonya tak sengaja menyipratkan air padanya ketika Fey ada di pinggir jalan membantu Rio yang kini sudah menjadi suami Mia.
“Akan aku tunjukkan padamu di mana lokasi vila Cahaya jika pria itu datang menemuiku.” Fey masih menatap Refald yang juga masih menatapnya sambil tersenyum.
Refald pun keluar dari mobil volvonya dan berjalan mendekati istrinya, Fey. “Kau mengingat momen ini?” tanyanya masih dengan senyuman yang menawan.
“Aku tidak akan pernah melupakannya, apalagi setelah adegan di sini, aku membuatmu kesal karena sudah merusak kaca belakang mobilmu dengan kayu yang kulempar saat kau sengaja mengotori seluruh bajuku. Kau kehilangan kekuatan karena marah dan apesnya lagi, ada banteng yang mengejarmu karena jaket unlimited yang kau pakai ini berwarna merah menyala. Saat itu, meski aku sangat membencimu, aku tetap menyelamatkanmu tepat waktu. Bagaimana bisa aku melupakan kenangan yang membuat kita jadi bersatu seperti ini.” Fey memetik bunga Daisy yang ada didepannya dan memberikannya pada Refald.
__ADS_1
Refald menerima bunga itu dengan senang hati lalu mencium wangi bunganya. Dengan menatap tajam manik mata wanita yang sangat Refald cintai ini. Pria itu menyelipkan bunga Daisy tersebut dibalik telinga Fey dan mencium lembut kening istrinya dihadapan Eric dan ketiga teman Fey. Sungguh adegan itu langsung membuat semua orang yang melihat mereka berdua, jadi baper tingkat dewa.
Bahkan ketiga teman Fey tak sadar kalau mereka menggigiti semua kuku kuku mereka karena tersentuh melihat betapa romantisnya adegan Fey dan Refald yang mengalahkan drama-drama romansa lainnya.
“Fey benar-benar memberikan bunga itu pada kekasihnya. Padahal dulu ia bilang, tidak punya kekasih, dan lihat sekarang. Gadis tengil itu membuatku iri,” komentar Yua masih tanpa kedip menyaksikan Fey dan Refald yang begitu sweet.
“Kau benar, bahkan adegan mereka jauh lebih romantis dari semua drama yang pernah kita lihat.” Yua menambahkan.
Sedangkan Nura tak bisa berkomentar apa-apa, karena ia langsung terpana melihat ketampanan Eric yang dulu pernah ia suka.
Aksi Refald tak hanya berhenti sampai disitu, dengan kekutan Refald yang semakin bertambah, ia menghentikan waktu sehingga semua benda-benda yang ada disekitarnya jadi berhenti bergerak juga. Refald menggendong Fey dan dalam sekejap mata mereka pun menghilang tanpa jejak, lalu baru muncul kembali di tengah hutan belantara.
Berlahan, Refald menurunkan Fey dari gendongannya. “Kau ingat tempat ini, Honey?” tanya Refald.
Sejenak Fey mengamati hutan disekitarnya sambil tersenyum. “Iya, aku ingat. Ini adalah tempat dimana aku menyelamatkanmu saat kawanan banteng hendak menyerangmu. Di tempat ini pula aku salah memberikan saleb pada luka ...,”
Refald langsung menghadiahi ciuman mesranya pada Fey sebelum istrinya itu selesai bicara. Keduanya beradu mulut dengan syahdu mengingat kembali masa-masa awal pertemuan mereka yang paling mengesankan.
BERSAMBUNG
***
Episode berikutnya masuk kisah Leo .. jangan bosan nunggu up-nya ya. ..
__ADS_1