Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 172 Selendang Pelangi


__ADS_3

Ayah Refald memegang bahu istrinya dan menatapnya dengan lembut. “Mereka berdua, sudah memutuskan keputusan besar yang tidak akan pernah bisa kita lakukan. Sebagai orang tua mereka, kita harus mendukung apa yang sudah menjadi pilihan putra putri kita. Bukankah mereka berdua terlihat sangat keren, Sayang? kau punya putra dan menantu yang luar biasa,” gurau ayah Refald pada istrinya yang terlihat khawatir karena untuk kesekian kalinya, pernikahan putra kesayangannya yang sudah mereka impikan lagi-lagi harus ditunda.


Tiba-tiba saja, Fey mendapat pelukan hangat dari ayahnya. Dan Fey baru sadar, bahwa waktu ayahnya pun juga tidak lama lagi di dunia ini. Dan hal itulah yang paling menyakitkan bagi Fey karena nanti, ayahnya tidak bisa mendampingi saat dirinya, benar-benar menikah dengan Refald. Fey sudah tak bisa membendung air matanya saat ayahnya memeluknya.


“Kau berhati mulia Sayang, tanpa kami mintapun kau sudah mengatakan apa yang seharusnya dilakukan. Kami semua takut kalian tidak bisa menerima situasi ini dan tetap memaksa melangsungkan pernikahan. Kami bahkan sudah mengantisipasi cara lain jika kau merengek meminta menikah sekarang, tapi ternyata ... dugaan kami salah. Kalian berdua jauh lebih kuat dari yang kami duga. Ayah bangga padamu, Shiyuri. Kau mengambil keputusan yang tepat.”


Ayah Fey menatap wajah sedih Refald yang masih menggenggam erat tangan putrinya. “Kau juga Refald, terimakasih banyak karena kau selalu ada untuk putri kesayanganku. Kau sangat laur biasa keren karena bisa sabar menghadapi Fey dan semua hal yang terjadi pada kalian berdua. Kau melampaui batasku, dan aku bangga memiliki menantu sepertimu.” Ayah Fey pun memeluk Refald, ketiganya saling berpelukan dan tangan Refald tetap menggenggam erat tangan Fey.


Semakin pecahlah tangisan Fey dipelukan ayahnya. Fey tak bisa lagi berkata-kata. Air matanya mengalir deras mendengar setiap kata yang keluar dari bibir ayahnya.


Atas restu keluarga besar Fey, akhirnya mereka semua sepakat bahwa pernikahan Refald dan Fey resmi diundur sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Semua orang pun mulai sibuk mengkonfirmasi pengunduran pernikahan Fey dan Refald kepada semua orang yang sudah mendapat undangan pernikahan mereka termasuk orang-orang terdekat Fey dan Refald.


“Honey, ikutlah denganku,” ajak Refald saat semua keluarganya sibuk menelepon dan mengurus berbagai macam hal seputar pembatalan pernikahan mereka.


“Ke mana? Kita harus memberitahu teman-temanku soal pengunduran pernikahan kita.”


“Besok saja kita berdua beritahu mereka, saat ini ... aku ingin kau ikut denganku.” Refald terlihat tak bersemangat saat berbicara dengan Fey. Fey pun juga tak bisa menolak ajakan suaminya yang keadaannya berantakan sekali.


“Kau marah?” tanya Fey saat keduanya berada diluar rumah.


Refald tidak menjawab dan malah berhenti berjalan. Ia menatap wajah Fey dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tanpa bicara, Refald pun mulai menggendong tubuh Fey dan berlari dengan cepat masuk kedalam hutan belantara. Mereka berdua menuju ke pedalaman hutan yang tidak pernah dijangkau oleh manusia.


Selama dalam perjalanan, Fey hanya diam dan memeluk erat leher Refald. Ia tidak tahu apa alasan Refald membawanya berlari ke dalam hutan ditengah hujan deras yang mengguyur wilayah mereka ini. Fey terus menatap wajah suaminya. Mereka sudah basah kuyub terkena air hujan yang membasahi tubuh keduanya.


Kini, mereka berada di sebuah danau dimana Fey sering melakukan latihan ritual terakhir untuk persiapan pernikahan mereka. Meski nyatanya sekarang, pernikahan keduanya, sudah batal dilakukan.


Refald menurunkan Fey di bawah pohon beringin agar Fey bisa berteduh dari derasnya hujan yang turun membasahi area ini. Sementara Refald sendiri malah berjalan pelan menuju tepian danau. Fey hanya memandang tubuh suaminya bersatu dengan guyuran air hujan yang sangat deras.


“Refald,” gumam Fey. Gadis itu tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Ini pertama kalinya Fey melihat orang yang ia cintai terluka sedalam ini.


“Pernikahan kita batal lagi, Honey. Entah apakah aku harus senang atau sedih,” ujar Refald. Ia berdiri tepat disamping danau dan membelakangi istrinya. “Aku ... gagal membuatmu bahagia, maafkan aku,” gumam Refald lirih.


Feypun mulai berjalan pelan menuju tempat Refald berdiri. “Akulah yang harusnya minta maaf, aku tak bisa memenuhi keinginanmu menjadikanku istri sahmu di dunia ini. Seberapa kuat keinginan kita menjadi halal, kita tidak bisa memaksakan diri untuk tetap melangsungkan pernikahan ditengah-tengah apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Jika kita menikah sekarang, selamanya ... kita akan mengingat tragedi yang begitu memilukan disepanjang hidup kita. Bagaimana pernikahan kita bisa bahagia jika setiap merayakannya, tragedi ini membekas dibenak kita. Karena itulah, akan lebih baik jika kita saling mengobati rasa sakit yang kita rasakan sampai kita bisa berdiri kembali dan siap membangun bahtera rumah tangga kita tanpa perlu dibayangi dengan kenangan sedih ini. Kau dan aku masih bisa bahagia meski tidak bisa menikah sekarang. Bagiku, kau tetap suamiku dan aku sangat mencintaimu lebih dari apapun.”


Refald menatap lembut wajah istrinya dibawah derasnya air hujan yang mengguyur tubuh keduanya. Perlahan, wajah Refald mendekat dan ia mencium Fey dengan mesra ditengah-tengah hujan lebat yang menyatu dengan tubuh mereka.


“Kau benar, Honey. Aku yang sekarang begitu lemah. Jika apa yang terjadi pada Raghu, terjadi juga pada kita. Mungkin aku pun akan berubah menjadi iblis yang bahkan lebih kejam darinya. Aku ... aku tak jauh beda dengannya. Itulah kenapa aku merasa begitu hancur, saat tahu alasan seseorang menjadi iblis hanya kerena hal buruk dan kejam menimpa wanita yang dicintai.”


“Tidak!” Fey memotong kata-kata Refald dengan cepat. “Kau tidak sama sepertinya, kau jauh lebih kuat ... bukan hanya karena kau ditakdirkan sebagai manusia super, tetapi karena kau punya hati dan kepercayaan yang kuat lebih dari Raghu. Kalaupun apa yang terjadi pada Zoya, terjadi juga padaku, kau tidak akan membantai semua orang yang menyebabkan kematianku.


"Sebaliknya ... kau akan selalu menemaniku meski dunia kita sudah berbeda. Kau akan terus hidup demi aku sampai kematianmu mempertemukan kita kembali, Itulah dirimu. Dan aku ... senantiasa selalu mengawasimu dan juga menunggumu sampai kita bersatu lagi. Kau tidak sama dengan Raghu. Kalian berbeda, satu-satunya persamaan kalian hanyalah, kalian mencintai wanita yang berarti dalam hidup kalian dengan tulus.


"Jangan samakan dirimu dengan Raghu. Hati Raghu terlalu lemah, karena itulah dia berubah menjadi iblis setelah penerang dalam hidupnya direnggut dengan kejam. Namun, hal itu ... tidak akan pernah terjadi pada kita berdua, karena kau dan aku ... ditakdirkan untuk selalu bersama-sama selamanya.”


Kata-kata yang keluar dari bibir Fey membuat Refald seolah kembali bangkit lagi. Tak seharusnya ia menjadi lemah dan menganggap bahwa yang terjadi pada Raghu bisa juga terjadi padanya.


“Kau benar Honey, aku kuat, karena ada kau disisiku. Sebaliknya, aku lemah jika kau tak berada disampingku. Kekuatanku ... adalah dirimu.” Refald memeluk Fey dengan erat.


Hujanpun turun semakin deras seakan ikut merasakan kesedihan dua sejoli ini. Fey dan Refald berpelukan mesra dan saling mencurahkan perasaan dan isi hati masing-masing dalam derasnya hujan yang mengelilingi mereka.


Begitu melihat siapa yang datang, Refald dan Fey langsung bersimpuh menyambut kedatangan leluhurnya yang tiba-tiba itu. Seketika hujanpun berhenti dan cuaca kembali menjadi terang benderang. Tetapi hanya di tempat Fey dan Refald berada saja, sedangkan di wilayah lainnya, tetap saja diselimuti awan gelap dan hujan deras yang daritadi tak kunjung berhenti.


“Bangunlah cucuku, kau tidak perlu seperti itu,” ujar kakek buyut Refald sambil menyentuh kepala kedua cucu-cucunya. Fey dan Refald pun bangkit berdiri menuruti titah para leluhurnya.


“Apa yang membawa Kakek dan yang mulia raja Inu datang kemari? Maafkan kami jika sudah mengganggu kenyamanan anda berdua.” Refald menunduk tanda memberi hormat.


“Tidak, Pangeran. Kami tidak merasa terganggu,” jawab Raja Inu. “Justru kamilah yang sudah mengganggu kalian berdua, aku harap kau tidak keberatan dengan kedatangan kami kemari tanpa memberitahu kalian terlebih dulu.”


“Tidak, Yang mulia,” ujar Fey. “Suatu kehormatan yang mulia Inu datang mengunjungi kami.” Fey pun juga menunduk tanda memberi hormat pada leluhurnya.


“Kalian berdua, sudah melakukan hal yang luar biasa. Apa yang terjadi sekarang, bukan sepenuhnya salah kalian. Begitu juga dengan Gengishkhan, iblis itu terlalu dibutakan oleh cinta sehingga ia membuang jauh hatinya sebagai manusia.


"Aku tahu bagaimana perasaan kalian saat ini, dan aku bangga atas keputusan besar yang sudah kalian ambil. Aku yakin tragedi ini akan membekas dihati kalian jika sampai kalian berdua tetap melangsungkan pernikahan. Namun, hal itu tidak kalian lakukan, aku senang karena dengan mengambil keputusan ini kalian berdua telah membuktikan bahwa kalian memang pantas menjadi keturunan kami. Untuk itu, aku memberikan hadiah luar biasa untukmu, terutama kau Fey, kau tetap setia bersama dengan Refald walau ia terlihat sangat kacau seperti itu.” Kakek buyut Refald tersenyum menatap wajah Fey dan Refald secara bergantian.


"Terimakasih, Kek." Fey tidak menyangka kakek buyut Refald rela datang kemari hanya untuk memberinya hadiah.

__ADS_1


"Hadiah apa yang akan Kakek berikan?” tanya Refald.


"Menikahlah 3 tahun lagi dari sekarang ditempat yang sudah aku siapkan. Undang semua orang yang ingin kalian undang. Lokasi pernikahan kalian akan aku beritahu tepat ditahun ketiga. Jangan bertanya apa alasannya, karena nanti kalian akan tahu sendiri.”


"Baik, Kek," ujar Refald dan Fey bersamaan.


Fey dan Refald hanya bisa saling pandang mendengar apa yang dikatakan leluhurnya. Tiga tahun, memang waktu yang lumayan lama, tapi mereka berdua percaya bahwa apapun yang dikatakan kakek buyut Refald, itu semua demi kebaikan mereka berdua.


“Fey,” panggil raja Inu.


“Iya yang mulia.” Fey pun menunduk memberi hormat.


“Ambillah selendang pelangi milik ratu Galuh Candra Kirana. Gunakan selendang ini sebagai pelindungmu disaat kau membutuhkannya. Terimalah, ini hadiah dariku atas kebaikan hatimu.” Raja Inu menyerahkan selendang pelangi yang indah pada Fey. Gadis itupun tersenyum senang karena tidak menyangka ia bakal mendapatkan selendang pelangi yang menjadi saksi bisu kisah cita leluhurnya, yaitu saat Raja Inu masih bergelar sebagai Raden Inu Kartapati dan ratu Candra Kirana masih bergelar sebagai Putri Galuh Candra Kirana.


“Tapi yang mulia ... bukankah selendang ini ....”


“Saksi terindah kenangan kisah cintaku dan istriku. Meski kisah cinta kalian sangat berbeda dengan kami, tapi selendang itu berhak menjadi milikmu salah satu keturunanku, karena kau sudah melakukan hal yang melebihi apa yang pernah kami lakukan.”


“Terimakasih yang mulia, hamba akan menyimpannya dengan baik.” Fey terlihat sangat senang.


“Baiklah, sebelum kalian kembali pulang, lakukan apa yang harus kalian lakukan sampai tiba saatnya pernikahan kalian berdua dilangsungkan,”ujar kakek buyut Refald.


“Apa itu, Kek.” Refald dan Fey menyimak dengan seksama semua detail kata-kata yang diucapkan oleh para leluhur mereka sampai hari pernikahan keduanya dilaksanakan. Yaitu 3 tahun lagi dari sekarang.


****


episode satu ini agak panjang ...semoga gak bosan


ya ...



Dilarang teriak lihat Refald ...

__ADS_1


__ADS_2