
Angin berhembus kencang melanda wilayah perkampungan tempat tinggal pak Po. Ini pertama kalinya desa ini dilanda badai topan sekencang ini. Beberapa rumah yang terbuat dari bambu pun rusak parah dan tak sedikit pula rumah yang mengalami kerusakan lain seperti retaknya dinding bangunan di beberapa tempat.
Kejadian ini, tentu saja membuat semuanya panik. Sebagian besar dari penduduk desa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Namun, tak sedikit pula yang memilih berdiri diam saja di dalam rumah mereka masing-masing sambil berharap-harap cemas. Tidak ada yang tahu kenapa tiba-tiba saja ada badai topan, padahal saat siang tadi cuaca sangat cerah.
Di jalan-jalan utama desa, banyak sekali pohon-pohon tumbang tak beraturan tanpa peringatan. Begitu juga dengan tiang listrik mulai berjatuhan sehingga kabel-kabel listrik yang terhubung disemua rumah terputus. Keadaan seluruh desa menjadi gelap seketika dan hanya bersinarkan cahaya rembulan, itupun sebentar lagi akan tertutup awan karena hembusan angin yang sangat kencang menutupi bulan purnama yang bersinar terang.
“Ada apa ini? Kenapa mendadak terjadi badai?” tanya Riska yang mulai panik mengamati keadaan sekitar. Semuanya terlihat kacau, ditambah lagi semua lampu mulai padam akibat putusnya kabel listrik yang berdiri disepanjang jalan. “Apa tidak apa-apa jika kita terus melanjutkan perjalanan? Bagaimana kalau kita kembali saja dan berkumpul dengan yang lain? Entah kenapa firasatku sama sekali tidak enak.” Riska mencoba membujuk Aditya agar kembali kerumah pak Po.
Namun sepertinya, Aditya tidak punya niat untuk kembali. Ia malah semakin melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
“Tidak apa-apa, mereka semua pasti baik-baik saja. Ini hanya badai biasa. Sebentar lagi para petugas badan penanggulangan bencana akan datang dan memperbaiki kerusakan yang terjadi di tempat ini. Kalau kita kembali, itu hanya akan mempersulit diri kita sendiri.” Aditya terus fokus melihat jalan.
Sebenarnya Aditya juga mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres disini. Namun, ia harus tetap pergi dari tempat ini dan menghilang bersama Riska secepatnya. Ia tahu, cepat atau lambat, Refald pasti menyadari tentang siapa dia sebenarnya.
Dan benar saja, Refald dan Fey memang sudah mulai tahu siapakah Aditya. Keduanya, kini bahkan sedang dalam perjalanan mengejar Aditya dan Riska. Refald sudah mulai bisa melihat kendaraan mobil sedan warna biru yang dikendarai Aditya sudah hampir sampai di perbatasan keluar masuk desa. Jika sampai Aditya keluar dari batas penghalang yang sudah dibuat Refald, maka ia dan Fey akan kesulitan melacak keberadaan manusia yang sudah bersekutu dengan iblis itu. Artinya, Refald tidak akan bisa membantu menyelamatkan Riska lagi.
“Refald, mereka hampir sampai! Apa yang harus kita lakukan?” tanya Fey yang masih berada dalam gendongan suaminya.
“Jangan khawatir, Honey. Kita manfaatkan situasi yang terjadi. Cium aku sekarang!” seru Refald langsung.
“Hah?” Fey tertegun dan tidak mengerti, dalam keadaan genting seperti ini suaminya itu masih sempat-sempatnya minta cium.
“Bukan hah, Honey. Cium aku sekarang!” pinta Refald sekali lagi.
Walau bingung, Fey tetap melakukan apa yang diminta suaminya. Begitu mendapat ciuman manis dari istrinya, Refald tersenyum senang dan semakin melesat cepat seperti angin bahkan lebih kencang dari angin yang berhembus saat ini.
Dalam diam, Refald menggunakan kekuatan matanya untuk menumbangkan banyak pohon agar menutupi jalan utama. Tujuannya adalah, menahan Aditya supaya tidak bisa pergi dari perkampungan ini sebelum Refald membereskannya.
__ADS_1
Beberapa pohon berjatuhan menghalangi jalan sehingga mau tidak mau Aditya harus menghentikan laju mobilnya. Ia memukul keras kendali mobil sambil mengumpat.
“Sial! Dasar pohon-pohon sialan! Kenapa menghalangi jalanku disaat genting seperti ini!” teriak Aditya sehingga membuat Riska menjadi sangat kaget. Baru kali ini ia melihat orang yang ia cintai jadi semarah itu.
Sejauh ini, Riska mengira kalau Aditya adalah orang yang sabar dan penyayang, lemah lembut, dan tidak kasar, tapi melihat sikapnya seperti ini, penilaian Riska terhadap Aditya selama ini ternyata salah. Kekasihnya ini, tak jauh beda dengan perangai Nouval yang kini sudah resmi menjadi mantan suaminya.
“Aditya? Kenapa kau marah? Itu cuma pohon dan kini sedang terjadi badai? Masih untung kita bisa selamat dan pohon yang tumbang itu tidak menimpa kita?” ujar Riska masih menatap nanar kekasihnya. Karena ini sangat gelap, Riska tak begitu paham seperti apa ekspresi Aditya saat ini.
Walau Riska tidak tahu kalau tumbangnya pohon itu disengaja, Aditya mengetahuinya karena ia bisa merasakan keberadaan Refald ditempat ini. Bertahun-tahun bergumul dengan iblis, laki-laki itu jadi memiliki sedikit kekuatan mistis dari iblis yang terikat kontrak perjanjian dengannya. Tentu saja hal itu tidaklah gratis. Aditya harus menukar sesuatu yang berharga agar bisa mendapatkan kekutan sesat itu termasuk mengorbankan nyawa orang-orang yang dicintainya. Siapa lagi kalau bukan keluarga Aditya, mereka semua adalah orang terdekat sekaligus orang yang dicintai kekasih Riska ini. tanpa belas kasih Aditya telah menumbalkan seluruh keluarganya tanpa ada yang tersisa.
Kini, seluruh keluarga Aditya telah tiada akibat dijadikan tumbal, karena itulah ia berusaha mendekati Riska dengan tujuan menjadikan wanita itu sebagai tumbal berikutnya. Sebab, di dunia ini, satu-satunya orang yang dicintai Aditya adalah Riska.
“Maafkan aku Riska, aku kesal karena sebentar lagi kita bakal hidup bahagia tetapi harus tertunda lagi akibat bencana ini. Aku harap kau mengerti perasaanku,” ujar Aditya pura-pura memasang wajah sedih agar Riska bersimpati padanya. Selain berhati iblis, rupanya Aditya pandai sekali bersandiwara.
Meski sedikit merasa aneh. Riska berusaha mengerti dan memahami perasan kekasihnya ini. Tapi kali ini ia jadi lebih sedikit waspada. Rasa trauma yang ia alami saat bersama dengan mantan suaminya membuat Riska harus lebih berhati-hati lagi. Wanita itu benar-benar tidak ingn kembali mengalami hal menyakitkan seperti saat ia menjadi istri Nauval.
“Benarkah? Bukannya kau takut kalau rencanamu menjadikannya tumbal itu gagal total?” ujar Refald yang tiba-tiba saja muncul dari samping mobil Aditya.
Tanpa basa-basi lagi, Refald mendorong kuat tubuh Aditya hingga ia jatuh terjerembab. Riska yang menyaksikan itu jadi terkejut dan tidak mengerti, kenapa kekasihnya tiba-tiba dihajar habis-habisan oleh Refald. Riska bahkan masih tertegun dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Refald barusan.
“Ada apa lagi, ini? Tumbal apa?” tanya Riska dengan nada gemetar saking shocknya.
“Kau adalah tumbal berikutnya. Karena itulah iblis berwujud manusia ini mati-matian membawamu keluar dari tempat ini. Kau adalah wanita yang dicintainya. Perjanjian yang ia lakukan dengan iblis ditubuhnya itu adalah menumbalkan orang yang dicintai, termasuk dirimu?” terang Fey sambil terus memegangi lengan Riska, Ia berhati-hati agar Riska tidak bertindak gegabah.
“Apa? Tapi ... kenapa? Kenapa harus ada tumbal segala? Untuk apa? Ini pasti hanay mimpi. Tidak mungkin Aditya seorang pemuja iblis? Kalainsedang bercanda kan?”
“Untuk apa kami jauh-jauh datang kemari untuk menyelematkanmu kalau kami hanya bercanda? Badai topan ini adalah akibat ulahnya sendiri, ia menarik semua iblis-iblis jahat agar datang menyerangku dan Refald.” Fey tetap meyakinkan Riska agar wanita itu percaya padanya.
__ADS_1
“Tidak mungkin, ini sungguh tidak mungkin. Kenapa Aditya melakukan itu? Kenapa?” teriak Riska. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
“Kekuatan mistis!” kali ini Refald yang menjawab pertanyaan Riska sambil terus memukuli Aditya. “Dia membuat perjanjian dengan iblis untuk memperkaya diri sendiri danmendapat kekuatan mistis layaknay para iblis.” Satu pukulan mendarat di wajah Aditya.
Namun, bukannya kesakitan, laki-laki yang sudah babak belur karena dihajar Refald itu malah tertawa terbahak-bahak sehingga semakin yakinlah Riska bahwa apa yang dikatakan Fey dan Rafald memang benar.
“Kau ...” Riska menatap mata Aditya yang sudah berubah drastis dari sebelumnya.
Matanya ... bukan mata milik Aditya yangs elama ini ai kenal. Mata itu, benar-benar menakutkan. Aditya yang ia lihat sekarang, bukanlah Aditya yang sebelumnya. Laki-laki itu sangat berbeda.
“Hah, kau sudah merusak semua rencanaku!” Aditya berusaha berdiri danengusap darah yang mengalir dbibirnya dengansenyuman yang menakutkan. “Kalian semua ... harusamti ditanganku!” teriak Aditya sambil merentangkan tangan memanggils emua iblis jahat agar berkumpul ditubhnya.
Badai petir dan angin kencang datang emndekat kearh mereka semua. suasan jadisemakiterlihat mencekam.
“Mereka semau datang, Honey. bawa Riska pergike tempat yangaman!” teruakRefald muai waspada.
“Bagaiaman denganmu?” tanyafey muali cemas.
“Aku baik-baik saja, Honey. Jangan khawatirkan aku. Kau sudah mencimku tadi. Kekuatanku sudah kembali, sepenuhnya, pergilah!” seru Refald. Matanya menatap langit-langit yang mulai terbuka dan awan mulai berputar-putar seolah membentuk pusaran air yang bergelombang tinggi. "Huh, penghalangku terbuka," gumam Refald.
Refald memejamkan mata dan memanggil seluruh pasukan dedemitnya. Ia mengernyitkan alisnya saat merasakan sesuatu yang tidak ia inginkan telah terjadi. Namun, saat ini Refald tidak bisa melakukan apa-apa karena ia harus mulai bersiap-siap memusnahkan semua iblis jahat yang sudah mulai berdatangan ke arahnya.
Fey hanya menatap Refald yang berdiri membelakanginya. Ia percaya sepenuhnya pada kekuatan Refald. Meski dengan hati yang berat, Fey terpaksa mengikuti perintah suaminya dan mengajak Riska yang masih shock untuk segera pergi dari sini menuju ke tempat yang lebih aman. Sebab, Riska adalah target tumbal yang dipersembahkan Aditya pada iblis-iblis jahat itu.
“Tunggu aku suamiku, aku akan datang kembali untukmu!” gumam Fey sambil terus berlari menjauh menggandeng tangan Riska dan membawanya pergi ketempat aman terlebih dulu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***