Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 267 forget me not


__ADS_3

Mata semua kaum hawa tak berkedip menatap wajah Refald yang semakin lama semakin terlihat tampan. Apalagi ia memakai setelan jas warna hitam dengan kemeja putih didalamnya ditambah hiasan dasi kupu-kupu hitam menambah kesan elegan seorang Refald. Dari dulu hingga sekarang, cowok itu selalu menjadi idola mereka. Tidak ada yang bisa menandingi betapa menakjubkannya Refald yang bagaikan seorang dewa.


Seketika para kaum hawa itu lupa bahwa mereka semua yang ada disini sudah memiliki pasangan masing-masing. Pandangan mata mereka tak bisa dipalingkan lagi dari pesona Refald yang berdiri tegap sambil membawa sebuket bunga indah ditangannya. Tentu saja bunga tersebut hanya akan diberikan pada istri tercintanya yang kini sedang mengandung buah hatinya. Siapa lagi kalau bukan Fey yang juga sedang berdiri menunggu kedatangan Refald.


“Refald,” gumam Fey senang.


Akhirnya, pangeran pujaan hatinya datang juga. Tadinya Fey mengira kalau suaminya itu tidak akan bisa datang ke acara ini, tapi ternyata Refald sengaja mengejutkannya dengan datang terlambat. Fey dan Refaldpun saling pandang satu sama lain. Begitu pula yang lainnya, semua merasa takjub akan ketampanan Refald yang paripurna dan sangat serasi dengan istrinya, Fey.


Refald berjalan pelan dan tanpa disuruhpun semua orang memberi jalan untuk Refald dan Fey untuk saling bertemu setelah 3 hari lamanya mereka terpisah. Tidak ada yang bersuara ketika menyaksikan kedua sejoli itu saling menghampiri satu sama lain.


Begitu keduanya sudah berhadapan dalam jarak dekat, Refald langsung bersimpuh dihadapan Fey sambil berkata, “Forget me not, Honey!” Refald mengulangi kalimatnya sambil menyerahkan bunga cantik berwarna ungu kebiruan yang terlihat cantik dan anggun pada wanita pujaan hati Refald.


Suara menggoda Refald yang sengaja ia ucapkan khusus untuk Fey seorang, telah berhasil membuat semua wanita yang hadir di acara pesta ini hanya bisa menggigit jari karena iri. Wanita mana yang tidak kelepek-kelepek diperlakukan istimewa seperti itu.


Dengan wajah sumringah, Fey menerima bunga itu lalu mencium bunganya. “Bunga apa ini, Suamiku? Aku baru melihatnya.” Fey masih menatap lembu wajah tampan Refald dengan senyuman manisnya.


“Itu adalah bunga ‘forget me not’ Honey. Bunga itu melambangkan kesetian pada pasangan. Seperti kesetiaanku padamu. Meskipn aku tak ada disampingmu, kau tidak boleh melupakanku karena aku ... sangat mencintaimu melebihi apapun. Di dunia ini, tidak ada alat ukur apapun yang bisa mengukur betapa besar dan dalamnya cintaku yang kupersembahkan hanya untukmu seorang. Tidak ada akan pernah ada yang lain.” Ucapan Refald bagaikan pukulan telak atas gosip yang beredar di jagad maya selama ini.


Meski dalam keadaan bertapa dan tidak bisa berhubungan dengan apa yang terjadi dengan dunia luar, Refald bisa mengetahui semua yang terjadi pada Fey dan semua masalah yang menimpanya. Hal itu karena jiwa Refald dan Fey sudah bersatu padu. Apapun yang dirasakan istrinya, Refaldpun juga bisa merasakannya. Dan apapun yang dilakukan Fey selama suaminya itu tidaka ada, Refaldpun juga bisa mengetahuinya meski Fey tidak memberitahunya.


Melihat betapa keren suaminya ini, Fey ikut bersimpuh bersama Refald lalu mencium mesra bibir suaminya dihadapan banyak orang. Sudah lama juga Fey ingin melakukan hal ini karena ia sangat merindukan suami luar biasanya ini.


“Terimakasih, Suamiku ... untuk segalanya. Aku sangat merindukanmu, aku kira kau tidak datang karena urusanmu belum selesai, tapi ternyata kau datang juga, aku senang, dan aku sangat merindukanmu.” Fey tersenyum pada Refald dan melingkarkan kedua lengannya di leher Refald. Gadis itu memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat untuk melepas perasaan rindu yang selama 3 hari terakhir ini selalu menyelimutinya.


“Aku juga sangat merindukanmu, Honey. Kau tahu betapa sulitnya aku menahan rindu ini, hampir saja aku mengacaukan semuanya dan berlari menemuimu saat kau datang mengunjungiku. Tapi untungnya pak Po berhasil mencegahku sampai akhirnya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Sungguh aku tak bisa berpisah darimu lebih dari sehari, Honey. Rasanya terlalu berat. Padahal kita hanya terpisah 3 hari saja, tapi rasanya seperti 3 dasawarsa,” ujar Refald dengan membalas pelukan istrinya. Berkali-kali Refald membelai lembut rambut indah Fey yang tergerai.


“Apa yang sedang mereka bicarakan?” tanya seseorang yang berdiri tidak jauh dari adegan petemuan mengharukan yang terjadi antara Fey dan Refald.


“Mereka sedang mencurahkan perasaan rindu satu sama lain kerena tak bisa bertemu akibat suatu hal. Hal apa itu ... aku juga tidak tahu. Yang membuatku heran adalah, mereka hanya terpisah 3 hari, tapi pertemuan mereka ini seolah sudah mencapai 3 abad lamanya. Entah mereka berdua yang lebai atau aku yang baper, sih?” ujar seseorang itu pada orang yang bertanya tadi.


“Kau yang baper, dan mereka juga lebay. Hadeuh bikin iri aja. Pasanganku mana, ya?” wanita itu celingak-celinguk mencari pasangannya.


“Kau cari siapa?” tanya cowok yang sejak tadi ada disebelahnya dan juga yang menjawab pertanyaannya tadi.


“Pasanganku!” jawab cewek itu dengan polos.


“Apa kau terkena amensia, ha? Apa pesona Refald telah membutakan matamu sehingga kau tak mengenali suamimu sendiri?” pria yang ternyata adalah suaminya sendiri itu mulai marah karen istrinya tak mengakuinya sebagai suami.


“Ah, maaf ... aku lupa kalau sudah menikah denganmu, tapi ... bagaimana aku bisa menikah denganmu, ya? Apa kau mengguna-gunaiku?” tanya cewek itu lagi menuduh suaminya yang bukan-bukan.


“Aku tidak percaya ini, dalam sekejap kau melupakan bagaimana kisah cinta kita setelah kau bertemu dengan Refald. Ayo pulang! Pesta ini benar-benar merusak rumah tangga orang!” pria itu menyeret paksa pulang istrinya meski sang istri sebenarnya tidak mau pulang. “Ah, sial! Adegan ini mengigatkanku ketika Refald pertama kali datang kesekolah dan semua wanita menyambut kedatangannya. Saat itu, aku juga baru jadian dengan wanita yang kini sudah kunikahi. Huh, mengesalkan sekali, hal serupa terjadi lagi tepat disaat kami semua sudah berkeluarga. Refald juga sudah menikah dengan Fey, tapi pesonanya tak pernah memudar dari dulu hingga sekarang. Benar-benar luar biasa.” Pria itu terus-terusan menggerutu sepanjang jalan sambil membawa istrinya pergi menjauh dari kerumunan.


“Tunggu!” sergah istri pria yang menyeretnya pergi. “Bagaimana kelanjutan adegan itu? Apa yang terjadi selanjutnya? Masa cuma pelukan gitu? Biarkan aku melihat adegan mereka, Sayang. Boleh, ya?”


“Nggak!” jawab suaminya dengan wajah kesal. “Sudah jelas mereka akan berciuman, dan begitu acara ini selesai, pasti mereka melanjutkannya dengan melakukan ritual malam sebelum tidur seperti yang biasa kita lakukan. Jangan bilang kalau kau juga melupakannya.”

__ADS_1


“Ehm, entah kenapa setelah melihat wajah tampan Refald aku jadi lupa segalanya dia benar-benar luar biasa tampan.” sang istri malah mengakui.


“Ayo kita pulang! Biar kuingatkan semua kenangan kita yang kau lupakan itu, kau ini menyebalkan sekali! Mulai sekarang kau tidak boleh kemana-mana tanpaku!” cowok itu benar-benar membawa pulang istrinya disaksikan oleh beberapa orang yang hanya bisa menganga menatap kepergian dua sejoli aneh itu.


Tak hanya pasangan suami istri yang baru saja pergi, beberapa pasangan lain juga mulai heboh dan saling berdebat dengan pasangan mereka masing-masing. Semua itu dikarenakan mereka terlalu baper melihat betapa sweetnya Refald pada Fey. Sedangkan biangkerok dari kehebohan ini malah tetap asyik melanjutkan aksi memadu kasih mereka tanpa peduli pada semua orang yang sedang heboh disekitarnya.


Refald menggenggam erat tangan istrinya dan membantu menariknya berdiri. Dengan senyum mengembang, ia langsung mencium bibir indah Fey dengan segenap hati dan jiwanya. Lama juga Refald melakukan adegan ekstrim itu sampai membuat semua orang yang melihatnya tidak bisa mengatupkan mulut mereka lagi.


“Haaa ... so sweet,” seru seseorang.


“Huaaa ... aku juga mau ... eh, Sayang. Lakukan seperti apa yang Refald lakukan pada Fey itu, ya,” pinta seorang wanita pada suaminya.


“Nggak! Aku nggak mau! Kamu habis makan banyak tadi, gosok gigi dulu sana!” suami wanita itu menolak mentah-mentah.


“Kok kamu gitu sih, Sayang? Biasanya juga kamu suka nyosor duluan kalau di kamar!” wanita tersebut langsung cemberut akibat penolakan suaminya.


“Itu kalau kita sedang berdua saja. Disini kan banyak orang, apa kamu nggak malu?”


“Fey dan Refald nggak malu, kenapa kita nggak bisa kayak mereka?”


“Mereka memang sweet daridulu. Lah kalau kamu ntar malah malu-maluin!”


“Kok kamu gitu, sih? Kita cerai saja kalau gitu!” cetus wanita itu sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan suaminya. Sang suamipun segera mengejar istrinya yang langsung minta cerai dadakan itu.


"Sayang! Mau kemana? Tungguin dong ..." teriaknya sambil berlari.


Bila pasangan lain sedang heboh dengan aksi mainstream Refald terhadap Fey, lain halnya dengan Martha yang menghentak-hentakkan kakinya sendiri hingga hampir meloncat-loncat saking kesalnya. Wajahnya benar-benar dongkol akut bahkan giginya sampai gemeretak menahan amarah karena tidak terima melihat betapa romantis dan sweetnya pasangan Refald dan Fey.


“Kalian berdua ....” geram Martha, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


“Dasar mereka berdua itu! Benar-benar nggak ada akhlak. Bikin iri dan baper saja,” ujar Mia, Nura, dan Yua secara bersamaan dengan kata-kata yang hampir sama pula. Hanya mereka bertiga saja yang tidak kaget melihat apa yang dilakukan Refald dan Fey.


“Mau kemana kau, Martha!” teriak Refald tiba-tiba setelah melihat Martha hendak pergi meninggalkan ruang pesta.


Seketika suasana menjadi hening dan menoleh ke arah Martha. Semua orang penasaran kenapa Refald menghentikan Martha pergi.


Martha yang namanya pertama kali dipanggil oleh seorang Refald tiba-tiba saja berbunga-bunga dan merasa senang. Ia pun berbalik badan dengan cepat supaya bisa menatap Refald. Namun, senyumnya langsung memudar ketika melihat betapa menyeramkannya tatapan api kebencian Refald terhadapnya. Ini pertama kalinya Martha melihat Refald semarah itu. Kilatan api kemarahan itu benar-benar menakutkan. Bahkan Martha bisa merasakan aura membunuh Refald yang begitu kuat.


“Jangan pergi dulu, aku ... belum balas dendam padamu!” mata Refald yang tadinya terlihat indah dan penuh cinta saat menatap wajah Fey, kini tiba-tiba saja berubah menjadi menyeramkan bak orang yang sedang kesetanan kala melihat wajah Martha.


“Gawat, sepertinya dugaanku benar. Refald benar-benar marah pada Martha karena telah membuat repot istrinya,” ujar Eric dengan harap-harap cemas.


Seolah tahu apa yang bakal dilakukan sahabatnya bila sedang marah. Eric mengajak Nura, Mia, Yua beserta suami-suami mereka agar melangkah mundur ke belakang Refald.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau menyuruh kita semua mundur menjauh?” tanya Nura pada suaminya.

__ADS_1


“Diam dan lihat saja,” jawab Eric tanpa mengalihkan pandangan dari Refald.


Fey yang berdiri di sebelah suaminya hanya bisa diam dan memercayakan semuanya pada Refald. Apapun yang akan dilakukan suaminya, Fey berharap bisa membuat jera Martha and the gengnya agar tidak lagi mengusik kehidupan orang lain dengan menyebarkan gosip yang tidak benar.


Suasana yang tadinya heboh, seketika menjadi hening dan menegangkan kala Refald mulai mengangkat satu tangannya lurus mengarah pada Martha. Martha yang ketakutan berusaha mencari cara agar bisa lolos dari amukan Refald walau ia sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukan Refald padanya.


“Tunggu Refald! Kau harus tahu satu hal mengenai Fey.” Martha mencoba membala diri dan menghentikan aksi Refald yang misterius itu. Dan ternyata berhasil, Refald menurunkan kembali tangannya lalu menatap tajam Martha tetap dengan bara api kebencian yang amat besar.


Melihat reaksi Refald, Martha pun melanjutkan kata-katanya. “Wanita yang kau cintai itu sangat berbahaya, Refald. Aku mohon percayalah padaku, dia bukan manusia biasa. Dia berteman dengan setan, ah tidak ... istrimu itu ... pasti ... dia adalah setan!” Martha gemetar dan juga gugup mengungkap kebenaran tentang Fey berdasarkan asumsinya sendiri.


Apa yang dikatakan Martha langsung sukses menghebohkan semua orang lagi. Sebagian besar ada yang langsung tertawa karena menganggap Martha sudah gila, tapi tak sedikit pula yang terkejut mendengar Martha berkata seperti itu. Segelincir orang itu mulai tertarik tentang apakah yang dikatakan Martha itu benar atau tidak. Jika itu benar, maka tak heran kalau Fey bisa membuat seorang Refald yang sempurna dari segi apapun jatuh kedalam pelukannya dengan mudah tanpa mengalami kendala. Itu pasti karena Fey bukanlah manusia biasa.


“Apa yang kau bicarakan?” tanya teman-temannya untuk mencari tahu apakah Martha berbohong atau tidak.


“Aku tidak bohong. Sungguh!” seru Martha menggebu-gebu. “Beberapa waktu lalu, Fey datang bersama dengan sosok kuntilanak, awalnya aku tidak bisa melihat sosok mengerikan itu, tapi atas perintah Fey dia menampakkan dirinya dan menakut-nakutiku, makhluk itu bahkan merasuki tubuhku dan berbicara dengan Vike dan Evi sebagai diriku.”


“Apa?” teriak Evi dan Vike bersamaan karena nama mereka disangkut pautkan.


Tidak hanya mereka berdua yang terkejut, semua orang yang ada diruangan ini juga terkejut termasuk teman-teman Fey, kecuali Eric. Sebab Eric mengerti semua yang terjadi antara Fey dan juga Refald tanpa ada yang tersembunyi.


“Kau jangan mengada-ngada Martha? Bagaimana bisa Fey berteman dengan hantu? Apa kau habis melihat film horor, ha? Sehingga kau berhalusinasi dan menuduh Fey yang bukan-bukan? Itu sungguh tidak masuk akal.” Yua mencoba menyanggah pernyataan Martha yang gila itu.


“Kalian semua boleh tidak pecaya pada apa yang aku katakan ini, tapi aku memiliki bukti yang bisa membuat kalian percaya, bahwa aku berkata yang sebenarnya.” Tatapan mata Martha mengarah pada Fey dengan seyuman penuh kemenangan karena berhasil mengeluarkan kartu AS-nya. “Asal kau tahu Fey,” ujarnya kemudian. “Apa yang kau lakukan dan teman dedemitmu padaku waktu itu, sudah terekam kamera cctv dirumahku! Huh, kau tidak akan pernah menyangkanya bukan? Dan sekarang, kau juga tidak bisa mengelak lagi karena aku sudah memeriksa video itu. Awalnya aku tidak percaya, tapi apa yang aku lihat itu nyata, kau ... adalah ratunya setan!” tandas Martha pada Fey.


Refald hanya tersenyum getir mendengar si nenek lampir itu mencoba menjatuhkan nama baik istrinya.


“Pangeran,” ujar mbak Kun yang sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi wanita congkak seperti Martha itu. “Perintahkan saya untuk membunuhnya. Tangan saya sudah gatel Pangeran, rasanya ingin sekali mencabik-cabik wajahnya!” geram mbak Kun diiringi tawa lembut dari Fey.


“Itu terlalu mudah baginya mbak Kun, aku berencana untuk membuatnya menderita sedikit lebih lama. Kau diam dan lihat saja dulu aksinya. Biarkan dia bersenang-senang, baru kita akan beri dia pelajaran berharga supaya wanita itu tak bisa mengangkat wajahnya lagi dihadapan semua orang. Kau jagalah Di dulu sampai pak Po datang.”


Fey langsung menyadari sesuatu setelah mendengar Refald mengatakan nama pak Po. “Suamiku, dimana pak Po? Kenapa dia tidak datang bersamamu?” Fey mencari-cari sosok pak Po disetiap sudut ruangan ini, tapi yang dicari tetap tidak ada.


“Dia belum datang, Honey. Aku meminta Desy anak buah Leo untuk memermaknya menjadi pria tampan. Dengan begitu, Pak Po bisa serasi dengan Di.” Refald menatap lembut mata Fey dengan senyuman manisnya.


BERSAMBUNG


***



bunga forget me not



pesona Refald

__ADS_1



visual Refald dan Eric


__ADS_2