
Ingin rasanya aku menjerit tapi aku tidak bisa melakukannya, sebab aku tahu inti dari pembicaraan yang ayah dan ibu bicarakan. Tubuhku serasa lemas dan aku langsung jatuh terkulai bercucuran air mata.
Dadaku serasa sesak sehingga aku kesulitan bernapas. Aku terus menunduk dan menangis tersedu-sedu.
“Ayah!” isakku sambil terus memanggil nama ayahku. Refald pun ikut bersimpuh dan memelukku untuk menenangkanku.
“Maafkan aku, Honey. Kau harus kuat menerima semua kenyataan ini. Mereka berdua ditakdirkan bersama. Tidak baik juga jika ayahmu terus terlarut dalam kesedihan meski beliau tak pernah menunjukkannya pada kalian berdua. Mungkin inilah yang terbaik bagi ayah dan ibu. Ayah sudah mengambil keputusannya karena ia tahu, tugasnya sebagai ayah sudah selesai.
"Sakura sudah memiliki Sauran yang akan menggantikan posisi ayah untuk menjaga, melindungi dan membahagiakan kakakmu, dan kau sendiri juga memilikiku yang akan selalu berada disisimu. Aku sudah berjanji padamu untuk selalu membuatmu bahagia.” Refald menengadahkan wajahku supaya mau menatapnya. “Honey, apa kau mau bahagia bersamaku?” tanya Refald dengan serius.
Aku akui pelukan Refald, dan juga kata-kata manisnya langsung sukses meredakan tangisanku. Refald selalu berkata benar dan selalu saja membuatku meleleh dibuatnya.
“Tentu aku bersedia. Kaulah satu-satunya orang yang membuatku bahagia. Tidak ada alasan lain bagiku untuk tidak mau hidup bahagia bersamamu.” Refald langsung menghadiahiku kecupan lembut dibibirku.
“Terimakasih, Honey. Tersenyumlah, kita akan menghadapi segala sesuatu bersama-sama. Walaupun itu adalah hal yang menyakitkan.” Refald menggenggam erat tanganku.
“Refald, berapa lama waktu yang dibutuhkan ayah untuk bisa bersama kami.” Tanyaku memastikan.
“2 tahun, setelah kita lulus. Kalau kau mau, kita bisa pindah sekolah kemari agar kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ayah.”
Aku diam sejenak setelah mendengar jawaban Refald. “Itukah sebabnya kau memintaku menikah denganmu begitu kita lulus?” aku mulai mengerti alasan Refald sering memaksaku menikah dengannya ketika kami lulus SMA nanti.
“Ehm.” Refald mengangguk pelan. “Itu salah satunya alasanku ingin menikahimu secepatnya.”
“Refald, apa ... kau punya kekuatan pindah dimensi? Aku tahu aku mungkin akan lebih menyusahkanmu lagi. Tapi aku tidak bisa meninggalkan teman-temanku begitu saja, jika kita pindah sekarang maka aku akan sangat merindukan mereka semua. Aku belum siap berpisah dari teman-temanku yang selama ini bersedia menemaniku, Refald. Dan ayahku, aku juga ingin bersamanya sampai waktunya tiba. Apa yang harus aku lakukan? Aku ... aku harus memilih salah satu dari mereka?” tanyaku putus asa karena harus dihadapkan oleh pilihan yang sangat sulit untuk kutentukan.
Refald kembali memeluk dan menenangkanku, “Kau tidak harus memilih, Honey. Akan aku lakukan apapun untuk memenuhi semua yang kau inginkan, tak peduli seberapa sulit keinginanmu itu.”
“Apa maksudmu? Jangan bilang kau ingin berlatih kekuatan itu? Aku tidak mau kau menanggung resiko sebesar itu, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu. Beri aku waktu untuk memutuskan siapa yang aku pilih, kau tidak perlu lagi mengorbankan apapun untukku.” Aku jadi semakin bersalah pada Refald. Harusnya tadi aku tidak bicara seperti itu padanya.
__ADS_1
“Tidak akan terjadi apa-apa padaku, Honey. Karena kau ada disampingku. Asal kau bersamaku, aku tidak akan pernah kenapa-napa. Percayalah,” Refald menciumku dengan mesra dan akupun membalas ciumannya.
Bunga-bunga sakura kembali beterbangan mengelilingi kami berdua. Aku sungguh tak mengira bahwa kehadiran Refald adalah hal terindah dalam hidupku. Bersamanya, semua masalahku seolah selalu bisa diatasi dengan mudah. Bahkan aku merasa, aku tak butuh apapun asal Refald selalu bersamaku.
Tak dapat dipungkiri, fakta baru soal ayahku, memang sempat membuatku terpukul dan sedih. Namun, Refald selalu berhasil mengatasi kesedihanku dan menggantinya dengan kebahagian yang tak terkira. Hal itu, membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki seorang manusia super yang hebat seperti Refald.
****
Keesokan harinya, aku kembali terbangun dipelukan Refald, tetapi kami tidak lagi berada di dunia kami sendiri, kami sudah ada di kamarku lagi. Refald masih tertidur pulas saat aku mulai terjaga. Perlahan, aku bangun dari tidurku setelah mengecup lembut kening Refald.
Tidak kusangka, ternyata Refald langsung mencekal lenganku dengan cepat dan menarik tubuhku hingga aku terjatuh diatas tubuhnya. “Mau ke mana kau, Honey? Kau harus bertanggung jawab karena sudah membangunkanku dengan kecupanmu itu?” Mata Refald masih tertutup rapat saat ia berbicara.
“Lepaskan aku Refald, aku tidak ingin orang rumah mengira yang bukan-bukan tentang kita jika mereka melihat aku dan kau dalam keadaan seperti ini.”
“Aku tidak peduli. Aku malah berharap mereka berpikiran seperti itu supaya kita cepat dinikahkan seperti Sauran dan Sakura. Aku sama sekali tidak keberatan jika mengatakan kalau kau sedang hamil sekarang. Sebab, kita sudah pernah melakukan penyatuan jiwa.”
“Apa kau sudah gila? Yang bersatu hanya jiwa kita? Raga kita masih belum boleh. Berhenti melantur dan cepat lepaskan aku sekarang juga! Aku ingin bertemu dengan Sakura sebelum ia berangkat berbulan madu dengan Sauran.”
“Kan, tadi sudah?” protesku.
“Itu kan dikening, aku maunya di sini.” Refald menggerakkan jari telunjuknya menyentuh bibirnya.
Aku hanya menghela napas panjang melihat Refald bertingkah mesum seperti itu. Namun, jika keinginannya tidak dituruti, Refald tidak akan pernah melepaskanku.
Perlahan, aku mendekatkan wajahku pada wajah Refald dan mencoba mencium bibirnya, tapi belum sampai bibir kami bersentuhan, mata Refald terbelalak seketika sehingga membuatku terkejut setengah mati. Bahkan aku sampai meloncat ke bawah saking kagetnya. Aku benar-benar terkejut melihat mata Refald tiba-tiba melotot seperti itu.
“Apa yang kau lakukan? Kau sengaja mengerjaiku?” tanyaku dengan kesal.
Refald bangun dan mengulurkan tangannya untukku supaya aku mau berdiri, tapi aku langsung menepis tangan itu dengan kasar.
__ADS_1
“Ayoah, Honey. Jangan marah, aku hanya bercanda. Lihat wajahmu! Kau sangat lucu saat terkejut!” Refald terkekeh menatapku.
“Dasar bengek kau Refald, aku tidak mau bicara padamu!” aku bangun berdiri cepat dan langsung berlari ke arah pintu keluar kamarku, tapi dengan kecepatan yang luar biasa, Refald berhasil menyusulku dan menghalangiku agar tidak sampai menyentuh gagang pintu.
“Kau tidak boleh keluar! Kau bilang apa tadi? Bengek? Bahasa apa itu?” tanya Refald yang langsung mengurung tubuhku dengan kedua lengannya.
“Itu bahasa yang ditujukan khusus untuk orang menyebalkan sepertimu. Minggir dari hadapanku dan biarkan aku pergi. Kalau tidak, selamanya aku tidak mau menikah denganmu!” aku mulai memberanikan diri mengancam Refald. Sebab, aku sangat kesal padanya.
“Honey, kita sudah menikah, kau ingat? Ancamanmu itu tidak berlaku padaku. Kau juga tahu, aku bisa menikahimu sekarang juga jika aku mau.”
“Apa yang kau inginkan dariku, ha? Apa kau belum puas membuatku ....,”
Refald langsung menghujani ciuman mautnya untuk mengunci mulutku sehingga aku tidak bisa berbicara lagi, bahkan serangan Refald kali ini membuatku lupa bernapas. Saat Refald selesai menciumku, aku langsung terbatuk-batuk karena kehabisan napas.
“Aku mencintaimu, Honey,” bisik Refald ditelingaku lalu ia pergi tidur lagi. “Bangunkan aku satu jam lagi, Honey. Kita akan berangkat ke Jerman malam ini.” Refald menarik selimutku dan tenggelam didalamnya.
“Dasar mesum,” gumamku sambil membanting pintu kamarku sendiri.
BERSAMBUNG
*****
dukung like, vote dan komentarnya ya ..
terimakasih
mampir juga di karya baruku ya ...
__ADS_1