Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 282 Pernikahan Ghaib


__ADS_3

Akhirnya, saat yang dinantikan pun tiba. Dengan harap-harap cemas, Rey menunggu kedua orangtuanya hadir diruangannya. Walau ia tidak mengerti tentang penikahan ghaib yang dimaksudkan, Rey tidak bisa menolak pernikahan ini. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan pada ayahnya, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung hadir juga.


“Dimana ayah dan ibu? Kenapa belum muncul? Apa yang sedang mereka lakukan?” gumam Rey pada dirinya sendiri sambil mondar mandir kesana-kemari.


“Kami disini!” ujar Refald yang tiba-tiba saja sudah bersandar di salah satu tiang penyangga istana berukuran besar dan tinggi menjulang sambil menggendong Fey.


Mereka berdua muncul dalam pakaian yang lengkap dan terbilang indah. Sesuai dengan acara pernikahan putranya yang digelar malam ini.


“Kenapa kau belum juga siap-siap?” tanya Fey setelah Refald menurunkannya.


“Kemana saja kalian? Kenapa baru muncul sekarang? Aku sudah gugup setengah mati disini.” Rey mulai meluapkan perasaannya.


“Kami harus melakukan ritual sebelum pernikahanmu dimulai sebagai bentuk restu kami untukmu,” terang Fey sambil mendekat ke arah putranya dan membantunya bersiap-siap.


“Aku baru tahu kalau ada ritual gendong-gendongan seperti itu? Aku bukan anak kecil lagi, Ibu. Mana ada ritual model begitu? Auuwww!” pekik Rey karena kepalanya dijitak keras oleh ibunya. “Kenapa ibu menjitak kepalaku?”


“Yang sopan kalau sama orang tua! Dalam keadaan apapun, ayahmu memang selalu bersikap romantis pada ibumu ini, harusnya kau mencontohnya! Bersikap baiklah pada Rhea. Meski dia 11 12 dengan ayahnya, Rhea adalah gadis yang baik dan penurut. Jangan sampai kau membuatnya menangis ataupun menyakiti hatinya. Kau harus banyak belajar dari ayahmu bagaimana cara memperlakukan wanita. Jangan main-main lagi.”


“Daripada belajar dari Ayah, mending aku belajar dari paman Leo,” Rey cemberut menatap ayahnya yang juga menatapnya.


“Ayahmu jauh lebih keren dari pamanmu, kenapa kau lebih memilih pamanmu yang nggak ada akhlak itu?”


“Ayah terlalu kuno Ibu, paman Leo lebih modern.”


“Sama saja, kakak beradik itu sama-sama nggak ada akhlak!”


“Bagiku mereka berdua beda, Ibu.” Rey tetap lebih mendukung Leo dari pada ayahnya sendiri.


Dari kejauhan, Refald hanya bisa memerhatikan dengan mengusap-ngusap jidatnya menggunakan satu tangan mendengar perdebatan ibu dan anak tentang siapa yang lebih keren diantara dirinya dan adiknya, Leo. Padahal itu sama sekali tidak penting bila diperdebatkan. Sampai detik ini Refald juga heran, kenapa putranya ini sangat mengidolakan Leo.


Ketika Fey sibuk mendadani putranya, Rey terdiam dan mulai mengingat sesuatu yang ingin sekali ia tanyakan pada ayah dan ibunya mumpung mereka berdua ada disini.


“Ayah, Ibu ... wanita berpakaian serba putih dan laki-laki berjaz hitam yang aku lihat di kamar Rhea saat di goa itu ... apakah mereka adalah pasukan ghaib ayah? Mereka bersimpuh didepanku dan tidak berani menatapku. Awalnya, aku terkejut karena tiba-tiba saja bisa melihat mereka. Dan orang-orang yang ada di luar sana, aku bisa melihat mereka semua.”


Ucapan Rey membuat Fey menghentikan tangannya yang sedang sibuk menata rambut putranya. “Wuah ... kau sungguh jatuh cinta? Pada Rhea? Cinta pada pandangan pertama?” wajah Fey berbinar-binar senang. Bahkan saking senangnya Fey memutar kursi yang diduduki putranya supaya menghadapnya. “Bagaimana kesanmu tentangnya? Selain kata cantik tentunya.”


“Apa maksud, Ibu? Apa hubungannya jatuh cinta dengan hal aneh yang aku lihat?” wajah Rey memerah, ia tak terbiasa membicarakan soal cinta pada ibunya.


“Bukan aneh, tapi memang sudah seharusnya kau bisa melihat mereka karena kau adalah putraku yang mewarisi kekuatanku.” Kali ini Refaldlah yang menjawab pertanyaan putranya.


“Apa? Tapi ... bukankah, aku hanya manusia biasa, Ayah? Aku merasa sangat berbeda dengan Ayah dan Ibu? Aku bahkan berpikir kalau aku sebenarnya adalah anak paman Leo.”


Refald dan Fey langsung tertawa keras mendengar ucapan putranya. Bisa-bisanya Rey beranggapan bahwa dirinya adalah anak Leo. Jelas itu tidak mungkin.


“Jadi, selama ini, kau mengira kalau kau adalah anaknya Leo? Kau ini ada-ada saja. Kau putra kami satu-satunya. Alasan kau tidak memiliki kekuatan seperti kami, itu karena kau belum menemukan pasangan hidupmu. Lebih tepatnya adalah cinta sejatimu,” terang Refald.


“Dulu ibu juga manusia biasa Rey, begitu juga dengan ayahmu. Kekuatan ayahmu muncul saat ia jatuh cinta pada ibu sama seperti yang kau alami sekarang. Kau baru bisa melihat semua pasukan ayahmu saat kau jatuh cinta pada Rhea. Dialah cinta sejatimu yang sesungguhnya. Dan ibu baru bisa menjadi seperti ayahmu saat aku menikah dengannya dan mengandung dirimu. Tunggu saja, kau pasti akan memiliki kekuatan seperti ayahmu seiring dengan bertumbhnya cinta diantara kalian berdua. Semakin dalam kalian saling mencintai, semakin besar pula kekuatan yang kalian miliki.” Fey mengusap lembut kepala putranya denga kasih sayang.


Fey baru menyadari kalau putranya yang tampan ini sudah besar. Sedangkan Rey sendiri masih mencerna semua penjelasan dari ayah dan ibunya. Butuh waktu untuk bisa memahami semuanya.

__ADS_1


“Bersiaplah, Rey. Kau akan memiliki kekuatan seperti yang aku punya. Tapi ... kekuatanmu itu akan hilang jika kau menyalahgunakannya untuk hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rhea. Dan jika setelah pernikahan ini kau berani menyentuh wania lain selain Rhea, maka akan ada bencana besar yang bakal menimpa kita semua, termasuk kematian. Camkan kata-kata itu dengan baik, aku akan selalu mengawasimu dan berhentuklah jadi playboy! Jangan ikuti pamanmu itu.”


“Baik, Ayah. Aku mengerti, ehm ... apakah ... aku hanya boleh menyentuh Rhea seorang?”


“Ehm, begitu juga dengan Rhea. Dia juga hanya boleh menyentuhmu dan tidak boleh menyentuh pria lain selain dirimu. Kau juga tidak boleh mencintai wanita lain selain Rhea, begitu juga dengannya.”


Rey tertegun, ia baru tahu kalau ternyata inilah alasan kenapa ayah dan ibunya jadi terlalu kuno. Tiba-tiba sekilas bayangan tentang Rhea muncul di kepala Rey. Untuk pertama kalinya jantungnya berdebar kencang saat ada didekat gadis itu. Mungkin yang dikatakan ibunya benar. Rey sudah jatuh cinta pada wanita paling unik yang pernah Rey temui kerena Reha sangat berbeda dengan wabita yang pernah ia kenal.


“Kau siap Rey? Setelah upacara pernikahan ghaib ini, aku akan memberikan hadiah pernikahan untuk kalian berdua.” Refald bergerak cepat melebihi kecepatan cahaya dan menepuk pelan bahu putranya. Padahal posisi Refald tadi lumayan jauh ada di belakang Fey dan Rey.


“Aku siap, Ayah. Tapi ... aku punya satu permintaan.” Rey menatap ayah dan ibunya yang berdiri di samping kanan dan kiri dirinya melalui cermin yang ada dihadapannya.


“Katakan, apa permintaanmu.” Refald membalas tatapan mata Rey sambil tersenyum penuh makna.


***


Masih sambil menangis, Rhea berjalan beriringan di samping pak Po dan Di menuju ruang pernikahan ghaib. Hari ini, ia akan menikah dengan orang asing yang tidak ia kenal. Siapa namanya, dari mana asalnya, dan seperti apa dia, Rhea sama sekali tidak tahu menahu tentang calon suaminya sendiri. Walau orang asing itu tidak jahat padanya, tetap saja ada sedikit nyesek di hati Rhea yang sebenarnya sangat mengidolakan pangeran impiannya, putra tunggal dari raja dan ratu ayahnya.


Kaki Rhea terasa berat untuk melangkah. Ingin rasanya ia melarikan diri dari situasi ini, tapi ayah dan ibunya mencengkeram erat kedua lengan kanan kirinya agar tak bisa kabur dari acara ini. Rhea harus mengikhlaskan pangeran impiannya.


“Ayah, tidak bisakah kita batalkan saja pernikahan ini? Aku tidak ingin menikah dengan dengan orang yang tidak aku cintai. Bagaimana dengan pangeranku, Ayah? Harusnya aku menikah dengannya, bukan dengan orang yang tidak aku kenal.” Rhea menyeka air matanya yang sejak tadi tak berhenti mengalir.


Gadis cantik ini benar-benar patah hati, padahal ia sama sekali belum pernah bertemu dengan pangerannya. Tapi melihat seperti apa sosok Refald dan Fey, pangerannya itu pasti sangat tampan dan juga tak kalah keren dari kedua orangtuanya. Namun kini, mimpinya untuk menjadi istri seorang pangeran telah kandas sudah, setelah ini Rhea hanya akan menjadi istri dari manusia biasa. Betapa sakitnya hati Rhea saat ini.


“Kau yang berbuat jadi kau sendiri yang harus betanggungjawab. Siapa suruh kau mengikatkan selendang pemberian ratu kepada pria asing yang tidak kau kenal. Itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Masih untung raja dan ratu tidak murka padamu. Sebaliknya, mereka malah mau membantumu mencarikan solusi dari masalah yang kau ciptakan sendiri. Soal pangeran, aku yakin raja dan ratu bisa mengatasinya. Aku juga belum bertemu dengannya sejak raja dan ratu datang kemari. Entah ada dimana pangeran sekarang.”


“Hentikan tangisanmu, Rhea. Percuma kau menangis, semua yang sudah terjadi tak bisa diputar kembali. Kau harus menghadapi takdirmu. Relakan saja pangeranmu dan kau harus fokus pada suamimu, jangan sampai kau berpaling darinya ataupun meninggalkannya. Kau harus selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Jika sampai kau melanggar, maka bencana besar akan menimpa kita semua, tak menuntut kemungkinan, aku dan ibumu akan lenyap kalau sampai kau mengkhianati suamimu. Kau bahkan dilarang menyentuh pria lain selain suamimu sendiri begitu juga sebaliknya. Kau mengerti?”


“Mengerti, Ayah.” Rhea mulai kembali tenang.


Yang dikatakan ayahnya memang benar. Tidak ada gunanya ia menangis sekarang. Lagipula, belum tentu juga pangeran impiannya mempunyai perasaan sama seperti yang Rhea rasakan pada pangerannya saat ini, karena sebelumnya memang mereka belum pernah bertemu ataupun berkomunikasi satu sama lain. Rhea saja yang suka berimajinasi sendiri tentang calon suami yang dipilihkan untuknya walau sekarang sudah tidak jadi calon suaminya lagi.


Acara pernikahanpun dimulai, seluruh tamu undangan yang terdiri dari seluruh pasukan dedemit Refald satu persatu berdiri tegak menyambut kedatangan raja dan ratu mereka beserta calon mempelai pengantin pria. Sepertinya, hanya pak Po sekeluarga saja yang tidak tahu bahwa calon suami Rhea adalah putra tunggal Refald dan Fey, yaitu Rey.


Semua rekan-rekan pak Po saling pandang dan bergunjing tentang betapa tampannya Rey saat ini. Pak Po pun terpaku melihat ketampanan putra rajanya.


“Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa melihat pangeran Rey lagi. Kenapa dia begitu tampan saat berjalan bersama dengan ayah dan ibunya. Sayang sekali, pangeran tampan itu tidak jadi menikahi putriku.” Mata pak Po mulai berkaca-kaca. Dia masih belum sadar kalau Reylah yang akan menikah dengan putrinya.


“Apa yang pangeran lakukan disini?” tanya Divani ikut bingung juga.


“Apalagi? Sudah pasti menghadiri upacara pernikahan gadis tengil ini.” Pak po memerhatikan putrinya terus menunduk sambil meneteskan air mata. “Angkat kepalamu, dan lihatlah pangeran. Dia begitu tampan, sayang sekali dia batal menjadi calon suamimu.” Ada nada kesedihan yang begitu besar dalam nada suara pak Po.


“Tidak, Ayah. Aku tidak boleh menatap pangeran. Jika aku melihatnya, maka hatiku bisa goyah, aku ... aku tidak bisa ....” air mata Rhea semakin deras mengalir.


Gadis cantik itu tak kuasa menahan betapa sakit hati yang iarasakan saat ini. Sebab, harusnya ia senang akhirnya bisa melihat wajah tampan pangeran impiannya. Namun, ia sungguh tak bisa melihat seperti pangerannya karena sebentar lagi ia hanya boleh melihat wajah suaminya. Bukan wajah pangeran lagi. Apa jadinya jika Rhea tahu pangeran yang tidak ingin ia lihat wajahnya ini ternyata adalah calon suaminya sendiri.


“Suamiku, dimana calon menantu kita? Kenapa belum muncul juga?” tanya Divani. Ia mencari-cari ke segala arah tapi tak ada satupun manusia yang hadir dalam ruangan ini kecuali keluarga Refald.


“Kau benar, harusnya dia sudah hadir di acara pernikahannya. Kau tunggu saja disini. Aku akan menanyakannya pada Raja.” Pak Po menghilang dan langsung berada di samping Refald untuk menanyakan dimana keberadaan calon menantunya tanpa pak Po sadari bahwa yang ia cari sudah berada disini sejak tadi.

__ADS_1


“Raja, dimana calon menantu saya?” tanya pak Po dari balik punggung Refald.


“Kembalilah ke tempatmu, pak Po. Upacara pernikahan akan segera kumulai. Dia sudah ada disini sejak tadi. Kalau kau tidak ingin terjadi masalah, maka diam dan ikuti saja ritual upacara ini hingga seleai.”ujar Refal dan kembali mengahdap ke depan.


Refald menyapa semua para pasukan dedemitnya dan memberi sambutan pembuka serta memperkenalkan Rey sebagai pangeran penerusnya karena kini, Rey sudah bisa melihat mereka semua.


Sedangkan pak Po menuruti perintah Refald dan kembali ke posisinya tanpa berani lagi menatap ke depan lagi. Kali ini, ayah dan anak itu sama-sama menundukkan kepalanya. Hanya Divani saja yang bingung dengan kelakuan mereka berdua, tapi sebagai pihak pendukung, Di tak bisa berkomentar apa-apa. Dia hanya mengamati semua rangkaian pembuka upacara pernikahan putri kesayangannya dan berharap calon menantunya nanti setampan wajah pangeran Rey.


Setelah acara pembukaan selesai, Refald meminta Rhea berjalan maju ke depan begitu pula dengan calon suami Rhea. Saat inilah yang paling ditunggu-tunggu Divani, ia penasaran seperti apa calon suami putrinya dan betapa terkejutnya dia karena pangeran Rey, ikut maju ke depan dan mendekat ke arah Rhea yang berdiri menunduk sambil terus menangis tanpa suara. Gadis itu bertekad tidak akan mengangkat kepalanya sampai upacara pernikahan ghaib ini selesai.


“Suamiku.” Di menyenggol lengan pak Po yang juga menunduk sejak tadi, sama halnya seperti Rhea. Pak Po pun bertekad akan terus menundukkan kepalanya dan menyembunyikan kesedihannya karena tak bisa menjadi besan raja dan ratunya. “Ezi! Kau dengar aku, tidak?” seru Divani karena suaminya tak juga bereaksi.


“Ada apa?” sengal pak Po yang jadi kesal karena Divani sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini.


“Coba lihat disana? Kenapa pangeran Rey ikutan maju ke arah Rhea? Dimana calon suami Rhea? Apa yang terjadi?” tanya Divani masih menatap lurus ke tempat Rey dan Rhea bertemu dan saling berhadapan.


Pak Po mengikuti arah pandang istrinya dan betapa terkejutanya dirinya ketika tahu Rey menatap wajah Rhea dengan penuh cinta. Tatapan mata itu, sama seperti tatapan mata Refald saat melihat Fey.


Seketika pak Po langsung sadar, bahwa calon suami Rhea adalah Rey sendiri. Selendang pelangi yang terikat di lengan Reylah buktinya. Rey sengaja menutupi lengannya yang terbalut selendang pelangi pemberian Rhea dengan memakai setelan jas silver. Sehingga tidak ada yang tahu kalau di lengan Rey ada selendang Rhea. Namun, ia segera melepasnya ketika berjalan mendekat kearah Rhea. Jiwa pak Po langsung memudar dan berubah transparan saking shocknya sampai akhirnya dedemit itupun menghilang dari ruang upacara tanpa berkata apa-apa.


“Sampai kapan kau terus menunduk?” tanya Rey pada Rhea ketika mereka berdua sedang berdiri berhadap-hadapan. “Kau tidak ingin melihat wajah tampan calon suamimu?” senyum tipis terpancar di wajah Rey. Ia melihat tetesan air mata Rhea tak kunjung berhenti daritadi.


“Tidak, aku akan melihatmu setelah upacara ini selesai,” jawab Rhea dengan suara parau kerena kebanyakan menangis.


“Lihat aku, sekarang,” pinta Rey dengan suara lembutnya.


“Tidak mau, jika aku melihatmu, maka ... aku pasti bisa melihat pangeran itu juga ... aku tidak bisa ... harusnya aku menikah denganya, bukan denganmu!” isak Rhea tanpa ia tahu bahwa calon suaminya ini mati-matian menahan tawa.


Perlahan, Rey mengulurkan tangan kanannya dan menyentuh dagu Rhea. Ia mengangkat dagu mungil itu supaya bisa melihat seperti apa wajah calon istrinya sekarang. Postur tubuh Rey yang tinggi dan tubuh Rhea yang mungil membuat gadis itu harus menengadah saat bertatap muka dengan pria siang yang diselamatkannya.


Entah kenapa, Rhea jadi terpesona melihat betapa tampan pria asing yang berdiri dihadapannya. Ia melihat selendang pelangi yang ia ikatkan dilenga Rey. Rhea pun menjadi trenyuh melihat selendang tersebut. Hati dan perasaannya bercampur aduk tak karuan antara sedih dan juga kecewa. Tapi inilah takdirnya, ia tidak bisa menghindar atau melarikan diri dari takdir ini. Mulai detik ini, Rhea harus belajar mencintai pria asing yang sedang menatapnya.


“Tidak baik bagi pengantin wanita menangis di hari pernikahannya. Kita mulai saja pernikahan kita, dan mulai detik ini, kau hanya boleh melihatku seorang,” ujar Rey mulai mencium mesra kening Rhea. Rhea sendiri hanya bisa memejamkan mata, pasrah akan takdir yang harus ia jalani bersama pria asing dihadapannya ini.


Sambil menggenggam erat tangan Rhea, Rey menghadap seluruh pasukan dedemit Refald sambil berkata, “Aku ... Reyshinhard Refey Dilagara, berjanji akan selalu hidup bersama dengan Rhea Sasikirana Fahrezi sebagai pasangan baru mengikuti jejak ayah dan ibuku, yaitu raja dan ratu Mirza Banta.” Kata-kata Rey terdengar lantang dan menggema diseluruh ruangan.


Tanpa menunggu waktu lama, bunga-bunga indah yang barus aja dperti dari tangkainya, langsung jatuh bertaburan dari atas langit-langit istana diikuti teriakan sorak sorai dan tepuk tangan meriah seluruh pasukan dedemit Refald.


Sedangkan Rhea, jangan ditanya. Mulutnya sejak tadi menganga lebar karena shock tak percaya bahwa pria asing yang kini menjadi suaminya ini ternyata adalah pangeran impiannya sendiri. Gadis itu baru sadar kalau pria asing ini benama Rey, putra dari raja dan ratunya. Anehnya, ia tidak mengenalinya sejak awal.


“Tidak mungkin! Ka-kau ... adalah ... Pangeran?” tiba-tiba saja kepala Rhea berkunang-kunang dan ia pun langsung pingsan tepat di pelukan Rey yang dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum benar-benar menyentuh tanah.


BERSAMBUNG


***


Gimana-gimana? part ini bagus nggak? Hehehe ...


Dukung dan terus semangatin aku ya ... supaya bisa terus menghasilkan karya yang lebih bagus lagi dari ini. Love you all ...

__ADS_1


__ADS_2