Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 154 Salah Paham


__ADS_3

Refald menggendong tubuh Fey yang basah kuyub kembali kekamarnya untuk berganti pakaian. Suasana romantis antara Refald dan Fey masih terus menyelimuti mereka berdua.


Sang pangeran Demit Refald mengambil handuk putih dan mengelap lembut kepala Fey sambil berkata, “Pakai ini supaya kau tidak masuk angin, Honey. Jangan sampai kau sakit dihari pernikahan kita.” Refald mencium lembut bibir calon istrinya.


“Kau juga, cepatlah kembali ke kamarmu dan ganti baju, kau bisa masuk angin nanti. Bajumu juga basah semua,” ujar Fey setelah Refald selesai menciumnya. Gadis itu mengambil handuk yang diberikan Refald padanya dan mengusapkannya kembali di kepala Refald yang juga basah. Lagi-lagi, mereka berdua terlihat begitu romantis habis karena satu handuk dipakai berdua.


“Honey, sepertinya ... acara pernikahan kita ...,”


“Aku tahu.” Fey menempelkan jari telunjuknya di bibir Refald untuk menghentikannya berbicara. “Aku tahu apa yang akan kau katakan padaku. Kita berdua mungkin tidak akan bisa mengubah takdir yang akan terjadi, tapi setidaknya, kita berdua bisa bersiap-siap untuk menghadapi takdir itu. Karena itulah aku ingin berhasil melakukan ritual ini, walau pada akhirnya, bencana itu tetap akan terjadi. Membayangkannya saja aku ...,” Fey tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena matanya sudah berkaca-kaca seolah air matanya ingin tumpah keluar.


“Kau tahu?” tanya Refald yang menatap nanar wajah orang yang dicintainya.


“Sayang, selama bersamamu ... aku mulai bisa merasakan sedikit kekuatanmu. Apa yang kau lihat, aku juga bisa melihatnya, apa yang kau rasakan, aku juga bisa merasakannya. Termasuk apa yang akan terjadi tepat di hari pernikahan kita nanti. Aku tahu semuanya ... tapi itu bukan salahmu, atau salah siapapun, itu adalah takdir yang sudah digariskan dan tak bisa dihindari atau dihilangkan, karena itu adalah akibat dari ulah mereka sendiri. Kau tak bisa mencegah atau mengubahnya. Kau bukan Dewa, semua terjadi atas kehendak-Nya. Kau tidak bisa melindungi semua orang yang sudah digariskan seperti apa takdirnya.” Fey menyentuh kedua pipi Refald untuk bisa merasakan apa yang ia rasakan saat ini.


Refald memeluk Fey yang sudah menangis saat mengatakan kata-kata itu. Mereka berdua saling menguatkan hati masing-masing tentang sesuatu yang akan terjadi dan sudah mereka ketahui.


"Aku tidak menyangka, kau berkembang sejauh ini, terimakasih, Honey." Refald semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Saat keduanya terlarut dalam perasaan masing-masing, tiba-tiba saja pintu kamar Fey terbuka begitu saja dan Eric muncul dibaliknya.


“Fey, apa kau melihat Ref ...,” Eric tak bisa melanjutkan kata-katanya karena tertegun melihat Refald dan Fey berbasah-basahan berdua dan mereka begitu dekat. “A-apa ... yang se-sedang kalian lakukan? Kalian kan belum resmi menikah?” tanya Eric dengan raut wajah shock berat.


Untungnya, Refald dengan sigap menyembunyikan tubuh Fey yang agak terbuka dan menutupinya dengan tubuh Refald sendiri. “Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini?” bentak Refald. Fey pun berdiri di belakang Refald sehingga yang terlihat oleh Eric hanya kepala Fey saja.


“Aku mencarimu kemana-mana tapi tidak juga menemukanmu, ini adalah tempat terakhir yang belum kudatangi, jadi aku pikir kau ... pasti ada di sini,” ujar Eric dengan gugup. “Dan benar saja, kalian berdua ... kenapa bikin anak sekarang? Dasar tidak sabaran. Kalian berdua merusak mataku saja.” Eric pun menutup pintunya karena merasa malu sendiri. Refald pun agak bingung bagaimana menjelaskan situasi ini pada sahabat karib yang sedang salah paham itu.


“Cepatlah ganti bajumu, aku akan memberi pelajaran cecunguk gila itu karena sudah menerobos kamarmu tanpa permisi dulu.” Refald mengecup lembut kening Fey dan berlari menyusul Eric. “Siapa yang bikin anak, ha? Kau salah paham pada kami! Eric! Berhenti, kau!” teriak Refald samar-samar sampai terdengar di telinga Fey. Gadis itu hanya tersenyum simpul.


“Dasar, mereka berdua tetap saja tidak berubah, tapi kenapa aku merasa seolah sedang berakting di drama ikan terbang, sih? Ngapain juga Refald harus menjelaskannya pada Eric? Memangnya mereka jeruk makan jeruk apa? Ada-ada saja,” gumam Fey.


***


Setelah absen dan pengecekan barang selesai dilakukan, Shena datang menghampiri Leo yang sedang duduk di kursi dan dikerumuni banyak wanita. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya Shena pada Leo.


Tanpa suara, Leo berdiri dan mengkode Shena untuk mengikutinya menjauh dari para gadis-gadis yang mengerumuninya. Shena mengerti maksud Leo dan mengekor di belakangnya. Begitu Leo menghadap Shena, gadis itu langsung memberikan amplop putih tebal berisi uang yang sudah Shena janjikan pada Leo kemarin.

__ADS_1


“Aku cuma punya segini, kalau masih kurang ... beri aku waktu untuk mencari pekerjaan paruh waktu agar bisa melunasi hutang-hutangku padamu. Terimalah! Aku janji aku tidak akan melarikan diri kalau menyangkut masalah soal hutang. Aku pasti akan melunasinya. Sebutkan saja berapa sisa nominal yang harus aku bayar untuk melunasi hutangku padamu.” Shena masih menunggu Leo menerima amplop putih itu darinya.


Sayangnya, Leo tak bergeming dari tempatnya, ia memerhatikan penampilan Shena mulai dari atas hingga bawah sedikit agak lama. Cowok itu mengambil amplop dari Shena dan memasukkannya kembali di saku hem putih Shena sehingga gadis itu terkejut karena Leo tiba-tiba saja menyentuh dadanya.


“Apa yang kau lakukan? Dasar kurang ajar?” bentak Shena langsung. Ia terkejut karena amplop yang ia berikan pada Leo malah dimasukkan lagi ke dalam saku kemeja Shena yang kebetulan memang ada di dada kirinya.


“Kau hanya punya dua saku, di dada kirimu dan di samping kanan kiri rok hitammu. Kalau aku memilih bagian bawah, kau malah akan semakin salah paham padaku. Makanya aku memilih bagian atas. Dan juga ... aku tidak butuh uangmu, yang aku butuhkan adalah ... ka-mu. Tunggu dan lihat saja, cepat atau lambat, kau akan jadi milikku. Untuk saat ini aku tidak ada rencana memaksamu agar bisa bersamaku, tapi jika sudah saatnya, kau harus siap menerimaku. Sementara itu, terus fokuslah belajar sampai akhir semester nanti. Bye.” Leo pergi meniggalkan Shena dengan sejuta teka teki yang tidak Shena mengerti dari kata-kata Leo.


“Bicara apa sih, dia? Kenapa setiap kali ketemu orang gila itu aku selalu jadi stres,” gumam Shena.


BERSAMBUNG


***


Tiap like nya tembus 100 like aku langsung up lagi ... kasih semangat aku dong ... love you ...


__ADS_1



dilarang berteriak 😂😂


__ADS_2