
Sementara itu, Leo langsung menuju ruang Rektor dan lumayan kaget juga karena para preman yang tadi sudah ia hajar habis-habisan masih bisa bergerak.
“Aku kira kalian semua sudah mati? Makanya aku dipanggil ke sini agar ikut datang berbela sungkawa ke makam kalian. Ternyata dugaanku salah, lain kali aku akan gunakan sedikit kekuatanku jika kalian sudah sembuh nanti.” kata-kata Leo semakin membuat emosi para preman-preman itu dan langsung mengadu pada rektor agar Leo segera dikeluarkan dari kampus ini.
“Bapak dengar sendiri, kan? Cowok brengseek itu berharap kami mati. Sebaiknya, Bapak segera keluarkan surat DO untuk berandal sepertinya, agar kampus ini kembali aman,” ucap ketua geng motor yang berusaha menghasut rektornya. Dia tak sadar diri kalau pembuat onar sebenarnya adalah geng motornya sendiri.
Rektor bertubuh besar tinggi dan berkumis itu berdiri sambil menatap tajam Leo. “Apakah anda yang menghajar mereka semua, Tuan muda?” tanya rektor itu.
“Nah iya, benar ... apaaaa?” teriak ketua geng motor itu. “Tuan muda?” mata ketua geng motor itu langsung melotot menatap Leo. “Si-si ... siapa yang anda panggil tuan muda, Pak?” ketua geng motor tersebut shock melihat rektornya ternyata jauh lebih menghormati Leo daripada kursinya sebagai rektor. Lebih shocknya lagi, Leo adalah seorang anak sultan. Pantas saja dia belagu dan bersikap sok keren.
“Benar pak Zul, akulah yang menghajar mereka karena mereka hampir saja menabrak seorang gadis tak bersalah. Jika aku tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada gadis itu.” Leo tersenyum getir menatap wajah pucat pasi preman-preman yang ada disampingnya.
“Baiklah, saya mengerti. Akan saya buatkan surat keterangan bahwa yang bersangkutan terpaksa harus di DO dari kampus atas tindakan yang sudah dilakukan, termasuk anda, Tuan muda,” ujar rektor itu.
“Hah? Kenapa aku juga?” Leo tidak percaya dirinya bakal kena DO tepat dihari pertama dia masuk. “Wah, ini rekor pertamaku, ayahku pasti bakal senang jika tahu semua ini.” bukannya marah, kesal atau takut kena DO, Leo malah merasa bangga.
“Sebaliknya, Tuan muda. Tuan Byonlah yang meminta saya untuk mengeluarkan anda dari sini jika anda berbuat onar. Selain itu, mereka semua menuntut anda atas kekerasan fisik yang sudah anda lakukan. Maafkan saya karena tidak bisa membantu apa-apa. Anda sedang dalam kesulitan besar.”
Belum sempat Leo menjawab, Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sangat Leo kenal, siapa lagi kalau bukan suara kakak sepupunya, Refald.
“Beri adikku satu kesempatan lagi, Pak Zul.” Refald berjalan dengan keren memasuki ruangan. Tatapan matanya memukau setiap orang yang memandangnya.
“Tuan muda Refald, kapan anda kembali? Senang bertemu dengan anda lagi?” rektor yang bernama Zul itu pun menjabat tangan Refald.
“Senang juga bertemu dengan anda, saya akan berada di sini sedikit lebih lama untuk mengawasi bocah tengik ini. Jadi, berikan Leo kesempatan untuk menimba ilmu di universitas favorit ini. Dan juga ... bisa tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan dengan mereka.”
__ADS_1
“Oh tentu, silahkan. Saya permisi dulu.” tanpa banyak bertanya, pak Zul pun keluar dari ruangannya seakan tahu maksud dan tujuan Refald sebenarnya. Refald menatap tajam satu persatu para preman yang sudah melaporkan tindakan Leo ke pihak berwajib. Luka lebam disekujur tubuh mereka memang bisa menjadi saksi kunci untuk menjebloskan Leo ke penjara. Tentu saja, Refald tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Bos, sebenarnya siapa mereka? Bahkan rektor saja takluk pada keduanya? Aku juga tidak pernah melihat mereka berdua sebelumnya di sini,” bisik salah satu anak buah geng motor pada bosnya.
“Aku juga tidak tahu, aku baru melihat mereka hari ini.” orang yang dipanggil bos itu memerhatikan Refald dengan saksama.
Dibandingkan Leo yang urakan, Refald jauh lebih cool dan berwibawa. Bahkan aura Refald jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan Leo yang biasa saja. Iya iyalah, Refald kan bukan manusia biasa, ia manusia luar biasa.
“Kalian semua! Tatap mataku!” pinta Refald. Dan dalam sekejap, semua para preman itu tidak bisa bergerak karena leher mereka seolah ada yang mencekik. Perlahan, kaki mereka semua bahkan terangkat dengan sendirinya.
Semuanya kesulitan bicara dan juga sesak napas. Mereka semua bingung karena tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja leher mereka seolah ada yang menekan kuat sampai tubuh mereka terangkat ke atas.
“A-ada a-apa ini?” tanya bos geng motor itu berusaha melawan.
“Cabut tuntutan kalian atas nama adikku. Aku akan mengampuni kalian semua. Jika tidak, maka mereka akan mengambil jiwa kalian untuk dijadikan budak mereka. Silahkan pilih, aku beri waktu kalian 5 menit untuk mengambil keputusan. Sebaiknya gunakan waktu itu dengan baik, karena aku tidak suka menunggu.” Tatapan tajam mata Refald membuat semua orang yang melihatnya jadi gemetar.
“Ah, jadi kalian kalian tidak bisa melihatnya?” tanya Leo sambil menyeringai meski ia sendiri merasa ngeri melihat kekuatan kakak sepupunya.
“Melihat apa?” tanya para preman itu bersamaan. Sekuat tenaga mereka semua berusaha melawan tapi tetap saja tidak ada gunanya.
“Muncullah!” perintah Refald pada pasukannya.
Semua orang langsung shock melihat makhluk astral menakutkan mendadak muncul dihadapan mereka sambil mencekik leher masing-masing preman tersebut.
“A-apa ini?”tanya orang yang dipanggil ‘bos’.
__ADS_1
“3 menit, cepat putuskan sebelum jiwa kalian benar-benar menghilang. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.”
“Bagaimana kalau aku menolak!” seru orang yang dipanggil bos itu diikuti anggukan yang lainnya.
Refald hannya tersenyum sinis. “Kalian akan menyesal.” Refald memejamkan mata dan memanggil mbak kun. Dalam sekejap, makhluk fenomenal itu pun muncul di hadapan Refald.
“Anda memanggil saya yang mulia?”
“Ehm, tarik jiwa itu!” perintah Refald tanpa basa basi dan langsung diikuti anggukan dari mbak Kun.
Para preman itu gemetar ketakutan melihat sosok mbak Kun yang begitu menakutkan datang mendekati mereka. Mereka semua ingin berteriak tapi tidak bisa kerena leher mereka masih di tekan dengan kuat. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sampai terkencing dicelana saking takutnya.
“Baik!” teriak salah satu seseorang. “Akan aku cabut tuntutannya. Lepaskan kami semua!”
Refald menjetikkan salah satu jarinya dan semua makhluk astralnya menghilang seketika. Semua preman yang tadinya melayang, langsung jatuh tersungkur sambil terbatuk-batuk.
“Aku akan menunggu 1 x 24 jam, jika laporan itu belum juga dicabut, maka di menit yang ke 24. Jiwa kalianlah yang akan aku cabut. Camkan itu baik-baik,” ancam Refald pada seluruh komplotan geng motor itu. “Leo, kau ikutlah denganku.” Refald pun pergi meninggalkan ruangan rektor diikuti oleh Leo.
BERSAMBUNG
****
yang kangen sama Leo baca Playboy Jatuh Cinta juga ya ...soalnya ada episode spesial khusus hari ini ...
untuk Sanha mungkin hari ini gk up dlu ya. . lope you all
__ADS_1