Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 205 Pengakuan Pak Po


__ADS_3

“Kau yakin kau tidak ingin suamimu ada di sini?” tanya Refald tidak terima kalau istrinya hanya ingin bicara berdua dengan pak Po.


“Jika kau ada di sini, pak Po tidak akan mengatakan yang sejujurnya padaku karena takut padamu.” Fey mulai jutek dengan Refald karena mencurigainya yang bukan-bukan.


“Mana ada hantu takut dengan pria setampan diriku, Honey? Kau jangan mengada-ngada. Apa kau menyukai pak Po?” Refald menatap tajam mata istrinya.


“Apa? Aku tidak segila itu, Refald? Bagaimana bisa aku menyukai pasukan dedemit suamiku sendiri walaupun aku akui semua pasukanmu berwajah tampan dan rupawan. Tapi aku hanya mencintaimu seorang. Kau masih tidak percaya padaku? Setelah apa yang kita lalui bersama?”


“Bukan begitu, Honey. Tunggu! Kau baru saja memuji ketampanan orang lain selain suamimu?”


“Tidak, aku tidak memuji orang lain, pasukanmu kan bukan orang, mereka dedemit!”


“Sama saja! Pokoknya aku akan tetap di sini bersamamu. Mana bisa aku membiarkanmu berduaan saja dengan pak Po? Aku tidak mau pergi dari sini!” Refald tetap bersikukuh dengan pendiriannya.


Fey hanya menghela napas panjang menghadapi kecemburuan konyol suaminya yang tidak masuk akal ini. Bagaimana bisa Refald cemburu dengan pak Po sementara anak buahnya itu sudah mencintai wanita lain.


“Sayang dengarkan aku, aku hanya ingin bicara dengan pak Po untuk mempertimbangkan pendapatku mengenai kekasihnya. Kau sendiri yang minta pendapatku tentang calon pendamping hidup anak buahmu. Jika kau berada di sini bersama kami, aku tidak akan mendapatkan apa yang ingin aku ketahui. Kerena aku yakin pak Po takut padamu. Bukan karena kau adalah atasannya, tapi karena dia menghormatimu sebagai rajanya. Pak Po tidak akan pernah mau mengeluarkan perasaan tersembunyinya bila ada raja yang dihormatinya di sini mengamatinya. Tolong mengertilah, kau bisa mendengar pikiranku, kan? Kau pasti tahu apa yang nantinya akan aku bicarakan dengan pak Po.” Fey mencoba membujuk Refald agar mau menuruti kemauannya.


Meski berat, apa yang dikatakan Fey tentang pak Po itu benar. Selama ini, pak Po tak pernah mengeluarkan uneg-unegnya pada Refald, tapi selalu bersikap terbuka pada Fey. Semua pasukan dedemit Refald lebih suka berbagi rasa dengan istrinya karena Fey memiliki sisi keibuan yang bisa membuat semua pasukannya nyaman berada disisinya. Wanita yang kini menjadi istrinya ini, sudah bukan lagi gadis penakut seperti saat keduanya masih duduk dibangku SMA. Kini Fey sudah berubah menjadi wanita dewasa yang sesungguhnya, bijaksana dan juga berwibawa.


Sambil tersenyum dan mengusap lembut pipi Fey, Refald memejamkan matanya dan keduanya langsung berpindah tempat lagi kedunia lain dimana sudah ada pak Po yang berdiri tegap disamping Refald. Salah satu pasukan dedemit Refald itu menundukkan kepalanya menyambut kedatangan pasangan pengantin baru.


“Akan kutinggalkan kalian berdua di sini, aku akan langsung tahu jika terjadi sesuatu yang tidak beres,” ancam Refald. Ia pun langsung menghilang meninggalkan Fey dan pak Po berdua saja.


Untuk beberapa saat, Fey menatap tajam pak Po yang menundukkan kepalanya daritadi. Salah satu pasukan Refald sudah jarang memakai seragam kebesaran warna putihnya dan berubah menjadi laki-laki normal seperti manusia pada umumnya. Hal itu membuat Fey sudah tidak takut lagi pada pak Po atau rekan-rekannya yang lain.


“Pak Po, Refald sudah menceritakan semuanya padaku dan aku juga sudah melihat wanita cantik yang kau cintai itu. Kau tidak ingin mendengar pendapatku tentangnya?” tanya Fey memulai pembicaraan.


“Maafkan saya Putri, saya hanya menyusahkan kalian berdua.”


“Tidak apa-apa, pak Po. Jangan bicara begitu, lagian kau hanya menjaga kekuatan Refald agar tidak hilang jika ia tidak menepati janjinya. Aku tahu kau sangat menyayangi pangeranmu lebih dari aku menyayanginya. Itu karena kalian sudah bersama-sama sejak Refald masih kecil. Kau pelindung yang sempurna bagi suamiku. Karena itu kami berjanji akan membantumu juga. Kau mengerti?”


“Mengerti, Putri. Dan juga terimakasih, sungguh saya sangat senang karena andalah yang menjadi pendamping pangeran. Jika orang lain, maka saya lebih memilih lenyap dari dunia ini daripada harus melihat pangeran bersanding dengan wanita lain selain anda.” Pak Po masih menunduk, dia belum berani melihat istri pangerannya. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa jadi mengakui perasaan yang sudah ia sembunyikan dari dulu.


“Oh, iya?" Fey juga terkejut tapi ini awal yang bagus karena pak Po mau langsung terbuka padanya. "Kenapa kau bicara begitu? Menurutku, ada banyak wanita yang jauh lebih baik dariku, pak Po. Aku hanya wanita yang tumbuh berdasarkan rasa dendam dan kecewa yang begitu dalam bahkan diselimuti dengan banyak kebencian. Jika saja Refald tidak datang kemari, aku mungkin sudah menjadi siluman rubah yang menakutkan karena ada kebencian di dalam hatiku.”

__ADS_1


Fey mengenang kembali masa-masa dimana ia kabur dari rumah dan lebih memilih tinggal di tempat asing yang tidak pernah ia datangi sebelumnya hanya karena ia tidak bisa menerima kematian ibunya. Meski masa-masa kelam itu sudah berlalu, tetap saja Fey tidak bisa melupakan kenangan pahit yang terjadi dalam hidupnya.


“Anda adalah emas yang terendam dalam lumpur tuan Putri. Tak peduli seberapa dalam emas itu terkubur dalam kubangan lumpur. Emas tetaplah emas yang akan selalu bersinar terang dimanapun benda kuning itu berada. Bagi saya, hanya andalah pendamping pangeran yang sempurna, tidak ada wanita lain selain anda. Pangeran Refald sangat berubah drastis ketika ia bertemu dengan anda. Dia yang tadinya pemarah jadi lemah lembut saat berada didekat anda. Bahkan saya adalah orang pertama yang langsung lompat-lompat kesana kemari saat pangeran mengatakan bahwa andalah wanita yang selama ini dia cari. Saat itu, saya langsung datang menemui anda ketika anda berkumpul di dalam kamar almarhum ibu anda dengan teman-teman anda.” Kali ini pak Po mencoba mengangkat kepalanya untuk mengetahui seperti apa wajah Fey.


Pengakuan pak Po langsung membuat Fey tertegun. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian beberapa tahun silam saat ia masih SMA tepat setelah Refald datang kedalam hidupnya dan memenuhi hari-harinya. Saat itu, ia memang sedang berbincang-bincang dengan ketiga teman-temanya yaitu, Yua, Mia dan juga Nura mengenai Refald yang sudah berhasil membuatnya menjadi kekasihnya, tapi mendadak jendela kamar Fey langsung terbuka lebar dan angin berhembus kencang sehingga membuat bulu kuduknya berdiri. Saat itu Fey memang merasakan ada yang aneh. Ternyata ini alasannya. Jendela yang terbuka, angin yang tiba-tiba saja berhembus kencang, itu karena ada pak Po disana.


“Pak Po ... jadi saat itu, jendela yang terbuka itu ... adalah ulahmu?” tanya Fey masih terkejut dan shock.


“Benar putri, maafkan saya karena baru berani mengaku sekarang. Sampaikan maaf saya juga pada pangeran karena saya yakin, dia juga baru tahu kejadian itu. Tidak ada maksud apapun Putri, saya hanya ingin melihat seperti apa wanita yang bakal menjadi pengantin pangeran. Dan kesan pertama saya pada anda adalah ... anda wanita sempurna yang cocok berdampingan dengan pangeran.


"Tadinya, jika saya merasa anda tidak sepadan dengan pangeran, maka saya akan terus menakuti anda hingga anda menyerah. Namun ternyata, kesan saya pada anda sangatlah bagus, saya sangat setuju jika pangeran menikah dengan anda tuan Putri. Karena aura anda sangat berbeda dengan wanita lain yang pernah saya lihat di dunia ini, termasuk aura teman-teman anda sendiri. Perbedaan kalian semua begitu kontras. Maaf jika saya lancang, Putri.” Pak Po menundukkan kepalanya karena ia malu sudah bicara panjang lebar.


Fey tersenyum lega mendengar jawaban dari, pak Po. Bukan karena pengakuan yang baru saja pak Po utarakan, tetapi karena ia sekarang berada diposisi sama seperti saat pak Po melihatnya pertama kali dulu.


“Ini sangat aneh pak Po. Posisiku sekarang sama persis seperti saat kau melihatku pertama kali untuk mengetahui apakah aku layak untuk Refald atau tidak. Hal itu juga sedang aku lakukan pada wanita yang kau cintai. Aku ingin tahu, apakah ia layak untukmu atau tidak. Dan jawabanku adalah ....” Fey menggantung kalimatnya untuk melihat ekspresi pak Po yang sejak tadi menundukkan kepalanya. “Dia ... Rosalinda Divani, adalah wanita terbaik yang pernah ada di dunia ini. Sungguh aku terharu dengan kisah cinta kalian, akan aku lakukan apapun untuk bisa menyatukan kalian berdua!” mata Fey langsung berkaca-kaca saat mengutarakan isi hatinya.


Sementara pak Po hanya bisa menunduk sambil menyembunyikan rasa bahagia yang tak terkira mendengar putri dan pangerannya mengerti apa yang selama ini diinginkannya.


“Katakan padaku pak Po, apa yang membuatmu mencintai wanita tercantik dikota ini terlepas dari ketidak sempurnaan yang ia miliki, selain kebaikan hatinya tentunya. Aku tidak membicarakan fisiknya. Karena bagiku, semua makhluk ciptaan Tuhan itu indah.”


Pak Po terdiam beberapa saat untuk mengontrol kembali hatinya. Meski ia adalah pasukan dedemit yang tidak akan bisa hidup kembali seperti manusia normal pada umumnya. Pak Po tetap ingin menikahi wanita yang sudah berhasil mengisi relung hatinya yang hampa.


Keadaan itu semakin diperparah dengan bertemunya ia dengan Rosalinda Divani saat pak Po diminta Fey mencarikan bunga marigold sebanyak-banyaknya untuk mengenang kematian Raghu dan Zoya yang terjadi tiga tahu silam.


Pak Po datang ke Lofoten dan melihat ada toko bunga milik Rosalinda Divani. Ia mencari-cari bunga marigold sebanyak-banyaknya dan mengamati semua bunga indah di toko ini. Awalnya, ia hanya memerhatikan saja, tidak bermaksud membeli bunga ditempat ini, toh tidak ada yang bisa melihat kedatangannya. Namun ternyata, hal tak terduga terjadi, disaat semua orang tidak bisa melihat sosok pak Po, wanita cantik penjual bunga itu justru bisa merasakan hawa keberadaannya padahal jelas-jelas ia buta alias tidak bisa melihat. Tapi anehnya, wanita itu tahu kalau pak Po sedang mencari bunga di toko bunganya dalam keadaan bingung.


Ada fakta yang menarik dari pertemuan pertama keduanya. Tak hanya bisa merasakan hawa keberadaan pak Po, wanita yang biasa dipanggil dengan sebutan 'Di' juga bisa mendengar suara makhluk astral tak kasat mata yang berdiri di depannya sehingga keduanya bisa saling berbincang-bincang ria. Jika ada orang normal yang melihatnya, wanita itu pasti sudah dianggap gila karena berbicara sendiri. Tanpa mereka tahu bahwa sesungguhnya, Di tidak benar-benar sendiri, ia bicara dengan pak Po si pocong tampan.


Singkat cerita, Di mengajak pak Po kerumahnya yang ternyata, di belakang rumah gadis itu terdapat hamparan bunga marigold yang luas. Kebetulan, semua bunga tersebut sedang bermekaran sehingga terlihat menakjubkan. Di mempersilahkan pak po memetik seluruh bunga itu tanpa perlu membayar alias gratis. Pak Po memang menceritakan alasan kenapa ia datang kemari dan mencari bunga marigold itu.


“Bawalah bunga itu, ambil sebanyak yang kau suka. Tidak perlu membayarnya, aku harap orang yang menerima bunga ini akan bahagia di alam sana. Suatu kehormatan bagiku bisa memberikan bunga ini pada seorang pemilik cinta sejati yang abadi.”


Saat itu, pak Po tertegun mendengar alasan wanita cantik tunanetra ini. Ia tidak bisa melihat keindahan dunia yang ia ciptakan di belakang rumahnya, tapi ia bisa melihat segala hal yang tidak bisa dilihat oleh manusia normal lainnya. Sejak saat itulah pak Po terkesan dan juga terpesona dengan kepribadian wanita cantik yang ada didepannya.


Akhirnya, setiap ada waktu luang, pak Po selalu datang mengunjungi Di untuk sekedar berbincang-bincang dengannya. Perkembangan hubungan keduanya pun melesat cepat dan kini mengarah ke jenjang yang lebih serius lagi tanpa Di tahu bahwa antara dirinya dan pak Po, berbeda dunia.

__ADS_1


Pak Po menceritakan semua detail pertemuan pertamanya dengan Rosalinda Divani pada Fey serta alasan kenapa ia mencintai wanita cantik itu, padahal wanita cantik itu bisa dibilang sebagai wanita cacat. Namun, bagi pak Po, Di adalah satu-satunya wanita paling sempurna yang pernah ia lihat di dunia.


“Di, tidak memiliki siapapun di dunia ini, tuan Putri. Alasan kenapa saya memilihnya menjadi pendamping saya, itu karena ... ia membutuhkan saya.”itulah kata-kata penutup dari pak Po setelah selesai bercerita singkat tentang hubungannya dengan Di.


Fey terharu mendengar kisah cinta singkat antara pak Po dengan kekasihnya. Sungguh kisah mereka benar-benar mengharukan dan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan ia sama sekali tidak menyangka kematian Raghu juga bisa menciptakan cinta yang begitu so sweet seperti ini. Fey sampai terhuyung kebelakang membayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Di tahu bahwa pria yang dicintainya berasal dari dunia yang berbeda.


Dalam benak Fey, kemungkinan besar Di bakal tetap mencintai pak Po, tapi Fey juga tidak bisa menjamin Di bakal mau menikah dengan sosok yang berasal dari dunia lain. Istri Refald itu merasa ada begitu banyak kisah cinta luar biasa sampai hatinya bergetar setiap kali mendengarnya. Masalah pak Po, memang rumit. Hanya kekuatan cintalah yang bisa menyatukan mereka, entah bagaimana caranya.


“Putri, anda tidak apa-apa?” tanya pak Po cemas.


“Tidak apa-apa, pak Po. Aku baik-baik saja. Ini cuma shock saja.” Fey memejamkan matanya untuk kembali menguasai diri. Ia tidak ingin Refald melihatnya seperti ini.


Dari belakang, tiba-tiba Refald muncul dan langsung menggendong tubuh istrinya yang lemah tak berdaya. Ia menatap pak Po sambil berkata, “Kau memang layak bahagia pak Po. Bersabarlah, aku akan segera menikahkan kalian berdua bagaimanapun caranya. Dan juga, terimakasih untuk semuanya. Kita akan bertemu lagi nanti setelah Fey kembali tenang. Kau orang ketiga yang membuat kami terharu seperti ini.” Refald tersenyum pada pak Po lalu menghilang begitu saja meninggalkan pak Po yang terkejut mendengar kalimat terakhir yang dikatakan Refald barusan.


Refald muncul kembali di hotel Thol Lofoten sambil menggendong istrinya dalam dekapannya. Ia menghadap jendela yang langsung mengarah ke kota dimana Rosalinda Divani tinggal. Fey yang masih setengah sadar digendongan Refald juga ikut mengamati pemandangan indah itu. Saat ini, hari sudah berganti malam. Jadi, yang terlihat didepan mata keduanya adalah kelap kelip lampu kota yang tak kalah menakjubkan bila dibandingkan di siang hari.


“Sekarang, apa rencanamu, Suamiku?” tanya Fey sambil memeluk leher suaminya.


“Apalagi Honey, tentu saja membuat keduanya bersatu!” jawab Refald sambil terus menatap pemandangan kota malam di Lofoten Island.


“Tapi ... bagaimana caranya?” Mereka berbeda dunia.


“Salah satu dari mereka harus membuat pilihan, Honey. Ini memang tidak mudah, tapi aku yakin mereka berdua bisa mengambil keputusan yang tepat, karena mereka saling mencintai.” Kilatan mata Refald terpantul dari jendela kaca yang ada didepannya. Fey yang menyaksikan itu hanya bisa menatap wajah suaminya.


Apapun hasilnya, Fey akan tetap mendukung semuanya dan berdoa yan terbaik untuk pak Po dan juga kekasihnya.


BERSAMBUNG


****


Haluku kumat lagi hehehe ...



__ADS_1



pak po


__ADS_2