
“Ada apa, Leo?” tanya Shena. Ia pun ikut turun juga dan berdiri di samping Leo. Shena sama terkejutnya dengan Leo karena sopir pick-upnya sudah tidak ada. “Di mana anak itu?” Shena bingung, karena tiba-tiba saja anak yang berdandan ala anak punk itu menghilang tanpa jejak.
Padahal, tidak ada tanda-tanda pengemudi sopir pick-up itu pergi dari sini. Harusnya, kalau anak itu keluar dari mobil pasti ia dan Leo bisa melihatnya, kerena tempat ini sangat sepi dan berada ditengah hutan pula. Namun sejak tadi baik Shena ataupun Leo tak melihat ada sosok keluar dari badan pick up ini. Kalau si sopir tadi menghilang rasanya sangat aneh dan sedikit misterius juga.
“Aku juga sedang bertanya-tanya, kemana perginya anak itu. Ini aneh sekali, ia menghilang begitu saja ... tunggu!” Leo mulai mencurigai Refald lagi. Jangan-jangan ini ulah si kampret Refald, apalagi yang ia rencanakan kali ini? Dasar biksu Tong! Batin Leo sambil mengumpati Refald.
Pandangan mata Leo beralih dan memerhatikan cup mesin mobil yang memunculkan asap dari dalam. Ia membuka cup tersebut dan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi pada mobil ini. Setelah terbuka, asap tebal beterbangan dimana-mana. Leo mengamati beberapa mesin mobil dan menyadari kalau ada masalah kecil yang membuat mobil itu berhenti.
“Ini mobil apa rongsokan, sih? Mesinnya tua sekali?” gumam Leo sambil memeriksa bagian-bagian mesin. Sedikit banyak, Leo memang tahu soal mesin-mesin mobil meski ia adalah seorang anak sultan. Leo juga hobi bongkar pasang mobilnya sendiri bahkan memodifikasinya supaya menjadi lebih modis dan mengikuti tren masa kini.
Sementara Shena, sibuk memerhatikan pemandangan alam yang ada disekelilingnya. Bau hutan pinus menusuk hidungnya dan semakin menambah segar udara disekitar tempat ini. Tempat ini adalah lokasi bekas dilewati banjir, tapi keindahan pemandangannya tetap tidak berubah seolah menandakan bahwa apa yang terjadi telah berlalu.
“Shena, ayo ikut denganku,” ajak Leo. “Kita cari air untuk mendinginkan mesin ini. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di sini. Jadi, kau ikut saja denganku.” Leo bicara pada Shena tetapi tidak mendapat sahutan apa-apa. “Shena, apa kau dengar aku?” Leo mengintip dari balik cup mesin tapi ia sangat terkejut karena mendapati Shena sudah tidak ada lagi disekelilingnya. Shena benar-benar tidak ada dimana-mana.
Tentu saja Leo langsung khawatir dan celingak -celinguk mencari keberadaan Shena. “Sial! Ke mana lagi, dia?” Leo berlari kesana-kemari untuk mencari Shena.
Matanya tertuju pada sosok wanita yang masuk ke dalam hutan belantara. Wanita itu tidak lain adalah Shena sendiri jika dilihat dari jaket yang dikenakannya. Leo langsung tahu karenq jaket itu adalah miliknya.
“Apa yang dilakukan gadis itu di sana?” gumam Leo dan langsung berlari menyusul Shena. “Shena! Kau mau pergi ke mana?” teriak Leo, tapi gadis itu sama sekali tidak mau menoleh atau menyahut panggilannya. Shena terus saja berjalan lurus ke depan.
Anehnya, meski Leo berlari mengejar Shena, ia tetap tidak dapat menyusul langkah gadis itu. Meski jalannya Shena terlihat santai, sebenarnya ia bergerak sangat cepat seolah ada yang mendorongnya dari belakang. Wajar kalau Leo tidak bisa mendekati Shena.
“Ada apalagi ini? Apa ini bagian dari rencana Refald, juga?” napas Leo mulai tersengal-sengal karena ia sudah berlari terlalu jauh mengejar Shena.
Sampai akhirnya, Leo pun sampai disebuah tempat yang tidak asing lagi bagi Leo. ia mengamati semua tempat disekitarnya dan memastikan bahwa apa yang ia pikirkan saat ini tidak salah. Tempat yang ia datangi ini, adalah tempat dimana banjir bandang meluluhlantakkan tempat ini hingga jadi seperti ini.
“Apa ini? Kenapa aku malah datang kemari lagi?” tanya Leo karena ia bingung kenapa kakaknya harus mengarahkannya datang lagi ke tempat menyeramkan ini.
Disisi lain. Leo mendapati Shena berdiri menatap sekeliling tempat ini. Tanpa ragu, Leo mendekati Shena dan ikut berdiri disampingnya. “Aku baru tahu jalanmu cepat, sekali!” awalnya Leo ikut takjub karena tempat yang ia lihat saat ini merupakan tempat bekas bencana yang terjadi beberapa waktu lalu.
Sekarang, kondisinya jadi berubah dan lebih terlihat menakjubkan sekaligus juga angker, tapi rasa takjub Leo berubah jadi waspada ketika ia tak mendapat respons apapun dari Shena.
Gadis yang berdiri disampingnya hanya diam membisu, mematung tak bergerak. Leo mengamati wajah Shena dari samping dan betapa terkejutnya dirinya ketika mata Shena, kembali berubah menjadi merah menyala.
__ADS_1
“Tidak mungkin, Shena ... kau!” mata Leo terbelalak saat Shena mulai bergerak menghadap Leo dengan tatapan tajam dari mata merah menyala Shena.
****
Refald tiba di bandara Seoul dan langsung menuju kediaman calon suami adik iparnya yang terletak di Winsle County Town House, Gyeonggi-do, Seoul. Rumah ini berada di kompleks perumahan elite yang hanya terdapat 98 rumah saja. Sudah bisa ditebak seperti apa keluarga calon suami Zaya jika dilihat dari rumahnya yang memiliki desain modern dan unik serta taman yang cantik. Sistem keamanan rumahnya saja juga sangat ketat sehingga tidak ada orang luar yang bisa mengganggu privasi pemilik rumah.
Sebelum sampai di rumah besar berlantai tiga ini, Refald harus melalui beragam serangkaian protokol keamanan mengingat calon besan pamannya bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki jabatan penting dikepolisan Korea yang tergabung dengan organisasi tentara keamanan Mithril Jepang. Begitu lolos seleksi, barulah Refald dipersilahkan masuk dan langsung bertemu dengan Mr. Sagara A, mantan Sersan Mithril yang sekarang naik pangkat menjadi seorang komandan.
Saat Refald datang, Sagara sedang duduk santai dengan istrinya yang berasal dari Jepang. Keduanya menyambut hangat kedatangan Refald karena mereka tahu, siapa Refald dan juga keluarga besarnya. Ayah Refald sendiri adalah teman dekat orang yang bernama Sagara ini.
“Hai Refald, selamat datang. Senang bisa bertemu lagi denganmu,” ujar Sagara dan langsung memeluk hangat Refald.
“Senang juga bertemu dengan anda paman Sagara, dan tentunya anda juga bibi Kiname,” sapa Refald dengan tersenyum.
“Kau semakin tampan Refald, tapi aku sempat kecewa kerena pernikahanmu ditunda lagi. Yah apapun alasannya, kami akan selalu mendukung keputusanmu. Sejujurnya, aku kira kau sudah tidak tahan untuk malam pertama, hahaha ....” wanita yang dipanggil Refald dengan sebutan ‘bibi Kiname’ itupun tertawa seolah menertawai dirinya sendiri.
“Chidori,” seru Sagara seketika menghentikan tawa istrinya. Untung istrinya itu cepat sadar.
“Ehem, maaf aku keceplosan.” Kiname mulai bersikap normal lagi.
Istri komandan Sagara adalah seorang whispered (semacam istilah penting dalam dunia mafia yang memiliki pengetahuan tentang gabungan ilmu fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya terkait tentang tekhnologi perakitan dan penggunaan senjata tempur). Dibalik gaya loyalnya, Kiname tak bisa dianggap remeh oleh siapapun.
Refald yang mengetahui betul seperti apa istri sahabat ayahnya ini hanya tersenyum simpul. “Bibi tidak perlu minta maaf, yang Bibi katakan memang benar, tapi mau bagaimana lagi? Aku adalah pria yang sopan dan taat pada aturan.”
Kiname tertawa lagi mendengar ucapan Refald. “Itulah kenapa aku sangat menyukaimu. Bagaimana kabar ayah ibumu dan juga calon istrimu? Apakah kekasihmu itu pemarah sepertiku?” tanya Kiname tanpa merasa sungkan sedikitpun.
“Fey sedikit mirip denganmu Bibi, itu karena kalian berdua berasal dari negara yang sama.”
Lagi-lagi, Kiname tertawa lepas dan Sagara hanya memandangi istrinya dengan penuh cinta.
“Kau selalu bisa membuatku tertawa, Refald.” Kiname berhenti tertawa. “Baiklah, aku tahu ada hal penting yang ingin kalian berdua bicarakan mengingat kau harus jauh-jauh datang kemari. Akan aku tinggalkan kalian berdua supaya obrolan kalian jadi lebih leluasa.” Kiname mencium mesra suaminya tanpa peduli ada Refald di samping mereka. Wanita konyol itu pun langsung berlalu pergi begitu saja. Namun, sebelum ia menghilang ditikungan, Kiname berkata pada Refald, “Kapan-kapan, aku akan menemui istrimu untuk membicarakan sesuatu. Sampaikan salamku padanya, ya? Bye!” Kiname pun menghilang tanpa menunggu respons dari Refald.
Dua orang laki-laki itu hanya tersenyum menatap kepergian wanita aneh, tapi istimewa itu.
__ADS_1
“Maafkan sikapnya yang blak-blakan, Chidori memang tak pernah berubah sejak dulu.”
“Dan anda sangat mencintainya, itulah kenapa anda lebih memilih bibi Kiname dari pada Bibi Teressa yang jelas-jelas beliau adalah atasan paman yang berpangkat Kolonel. Jika bibi Teressa mau, beliau bisa saja mengeluarkan perintah agar Paman menikahinya karena ia adalah atasan Paman, tapi bibi tidak melakukannya karena beliau tahu, Paman sangat mencintai bibi Kiname.”
“Sepertinya ayahmu sudah menceritakan semuanya padamu seperti apa kisah kami dulu, Dasar tak bisa jaga rahasia.”
“Bukan ayah yang menceritakan padaku seperti apa kisah Paman dan Bibi, tapi paman Weber. Sahabat paman sendiri sekaligus rekan satu tim Paman selama kalian masih menjabat sebagai Sersan.”
“Ah, dia rupanya. Huh, sudah lama aku tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana kabarnya?”
“Paman Weber dan Bibi Melisa baik-baik saja. Sejujurnya mereka berdua tidak jauh beda dengan anda dan juga bibi Kiname.”
Sagara tertawa terbahak-bahak. “Kalau saja aku punya anak perempuan, pasti ia sudah kunikahkan denganmu. Sayangnya, aku hanya punya anak laki-laki yang kakunya minta ampun. Itulah alasanku kenapa ingin menjodohkannya dengan keluargamu. Ah, apa kau kesini karena mendapat perintah dari Mr. Byon Pyordova?” tanya Sagara saat keduanya sedang duduk santai bersama.
“Iya, Paman, tapi ada sedikit masalah, sepertinya ... kita harus menunda pernikahan Zaya dengan putra paman.”
“Oh iya? Kenapa?”
“Ini hanya pendapatku, tapi itu semua terserah Paman. Biarkan mereka menikmati masa muda mereka selagi bisa, kerena masa muda keduanya tidak bisa datang dua kali. Akan aku pastikan mereka akan mengukir kisah mereka sendiri yang jauh lebih unik dari kisah kalian semua.”
Sagara menatap tajam mata Refald sambil tersenyum simpul. “Jika itu keputusanmu, maka terserah kau saja. Kau jauh lebih tahu. Saat ini, Deydi sedang ada tugas di satuannya. Ia baru kembali nanti malam, bicarakan sendiri dengannya. Istirahat dulu di sini. Akan aku suruh pelayan menyiapkan kamarmu."
Refald hanya mengangguk diam tanpa suara seolah sedang merasakan sesuatu yang genting.
BERSAMBUNG
***
Haluku kumat ...
hehehe ....
__ADS_1