Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 103 Pocong Tampan


__ADS_3

Terik matahari bersinar terang menghangatkan tubuhku yang sedang bejalan masuk ke dalam hutan bersama dengan dua orang pasukan khusus yang ada di depan dan di belakangku. Kami bertiga berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempat misi yang diberikan ayah mertuaku padaku.


Bawalah salinan flashdisk ini ke markas utama kami yang ada di lereng gunung bersama dengan Mr. Akbar dan Mr. Aril. Mereka berdua akan mengawal dan melindungimu, semetara aku dan yang lainnya akan pergi menyelamatkan Refald. Aku janji padamu, akan membawa Refald kembali dalam keadaan selamat. Itulah isi misi yang harus aku jalankan dari ayah Refald. Aku harus membawa salinan flashdisk itu ke markas utama mereka tanpa boleh ada yang tahu.


Sebenarnya, Aku sempat memaksa ayah mertuaku untuk ikut menyelamatkan Refald, tapi ayah mertuaku itu tidak mengizinkanku.


“Harus ada yang hidup untuk menjalankan segala resiko kemungkinan yang terburuk. Dan aku memilihmu, kita tidak tahu seberapa kuat musuh di dalam sana dan aku harus bersiap untuk segala kemungkinan yang ada. Kirim juga bala bantuan untuk kami, dan aku janji padamu bahwa bagaimanapun juga, akan aku bawakan Refald untukmu. Tempat itu sangat berbahaya, dan aku harus berkosentrasi penuh tanpa harus mencemaskanmu. Aku harap kau paham maksudku, oke.” Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan ayah mertuaku padaku sebelum mereka berangkat menyelamatkan Refald sementara aku harus menjalani misi yang diperintahkannya.


Selama dalam perjalanan, tak henti-hentinya aku memikirkan Refald dan juga ayah mertuaku. Perasaanku saat ini sangat kacau balau dan tidak menentu. Pandangan mataku juga kosong, entah kenapa tiba-tiba saja aku berharap ada pasukan Refald yang datang dan mau berbicara padaku untuk memberitahu bagaimana keadaan Refald saat ini.


Ini aneh sekali, sebelumnya aku sangat takut dengan pasukan Refald dan bahkan memintanya agar pasukan Refald tidak menampakkan sosoknya di depan mataku. Namun kali ini, aku malah berkeinginan sebaliknya. Aku benar-benar ingin bertemu dengan pasukan Refald supaya bisa meminta tolong untuk memberitahukan bagaimana keadaan tunanganku saat ini. Seperti apa situasi dan kondisi yang terjadi, apakah mereka sudah memulai misi penyelamatannya atau belum. Pikiran itu selalu muncul di benakku.


“Apa kau lelah? Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di sini,” tanya Mr. Akbar yang berada di depanku.


Tanpa aku sadari, kami sudah berada di bawah pohon beringin besar yang langsung mengingatkanku pada Refald saat kami berteduh di bawah pohon beringin seperti ini dikala hujan waktu itu. Semakin gelisahlah aku memikirkan Refald sehingga tidak bisa berkosentrasi menjawab pertanyaan yang diajukan Mr. Akbar padaku.


“Miss, kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” tanya Mr. Akbar dan membuyarkan lamunanku.


Aku tergeragap dan mecoba menguasai diriku. “Tidak apa-apa Mister, jangan khawatir.” Aku mencoba tersenyum ramah padanya saat tiba-tiba aku melihat sosok putih bulat seperti guling yang aku yakini sebagai pocong tampan yang sempat aku lihat saat dia melarikan diri bersama dengan Refald kemarin.


Awalnya aku merinding disko melihat sosok bulat putih yang berdiri di balik pohon di siang bolong begini. Tapi memang dialah yang aku tunggu-tunggu dari tadi. Jadi, aku sudah tidak takut lagi, dan aku yakin sekali, kedatangannya merupakan pertanda bahwa aku harus segera mengikutinya.

__ADS_1


Aku merogoh sakuku dan mengambil salinan flashdisk yang diberikan ayah mertuaku padaku dan aku serahkan ke tangan Mr. Akbar dengan cepat sehingga membuat orang itu kaget dengan sikapku. “Maafkan aku Mister, aku harus pergi ke suatu tempat, tolong gantikan aku menjalankan misi ini dari ayah mertuaku dan jangan khawatirkan aku, oke! Selamat tinggal, sampai ketemu lagi.” Tanpa menunggu jawaban, aku langsung berlari masuk menerobos hutan rimba mengikuti sosok putih tampan menyeramkan itu dengan kecepatan berlari di atas rata-rata yang aku punya. Ini pertama kalinya aku berlari secepat ini di dalam hutan.


“Pak Po! Berhenti! Tunggu aku,” teriakku pada pocong tampan itu, dia menghilang muncul menghilang muncul semakin menjauhiku. Tapi aku berusaha berlari untuk mengejarnya sampai akhirnya kami berada di sebuah sungai yang aliran sungainya terdengar sangat deras.


Aku tersentak karena aku mengenal tempat ini. Sebuah tempat yang tidak asing lagi bagiku seolah aku pernah datang kemari. Sayangnya aku lupa dan sedang berusaha mengingatnya, kapan aku pernah datang kemari? Pikirku.


Hutan di pinggir sungai ini sangatlah gelap sampai matahari tidak bisa tembus kemari. Aku terpaku dan terus mengingat-ingat tempat ini.


“Anda mencari saya?” terdengar suara dari balik punggungku.


Bulu kudukku merinding lagi karena aku tahu suara siapa itu. Jujur, aku pernah mengalami kejadian yang mirip seperti ini. Meski aku takut sekali, tapi aku berusaha menguasai diri agar aku tidak terus saja takut. Aku berbalik badan dan menghadap sumber suara itu.


“Sepertinya anda sudah tidak takut lagi pada saya, senang akhirnya kita bisa bertemu. Saya tahu, saya memang jauh lebih tampan dari pangeran.”


Aku masih terpana, bukan karena ketampanan ataupun kenarsisan sosok makhluk astral yang juga fenomenal ini. Melainkan karena aku pernah mengalami hal yang sama seperti ini. Aku yakin, aku bahkan menyanggah pernyataan narsis pocong tampan mirip Lin Yi ini soal siapa yang paling tampan. Karena menurutku, Refald adalah orang paling tampan sedunia dan tidak ada tandingannya.


Dugaanku semakin kuat saat aku menyadari ada sosok lain yang sudah hadir di belakangku, dan sosok itu adalah ... “Mbak Kun!” panggilku yang sukses membuat mbak Kun terkejut karena aku mengetahui kedatangannya.


“Huaaaah, anda hebat sekali, Putri? Anda sudah mirip seperti pangeran, pujinya padaku sambil melayang-layang mengitariku.


“Bukan,” aku mulai panik karena aku sudah mengingat peristiwa yang aku alami saat ini. Yah, tidak salah lagi, aku pernah bermimpi berada di tempat ini. Dan jika mimpi ini sama seperti waktu itu maka apa yang terjadi selanjutnya adalah ... “Refald!” teriakku seketika mengejutkan mbak Kun dan pak Po juga. Aku berbalik arah menghadap derasnya aliran sungai dan mencari-cari sosok Refald di sana.

__ADS_1


Tidak! Tidak mungkin ini terjadi, Refald! Batinku menjerit mencari-cari sosok Refald tapi tak kunjung ada. Pikiranku semakin kalut mengingat mimpi yang pernah aku alami saat kami ‘Caraka’ waktu itu. Aku harap apa yang ada dalam mimpiku, tidak benar-benar terjadi. Dan seandainya memang itu harus terjadi, maka aku akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang yang aku cintai.


BERSAMBUNG


***


Maaf up nya telat. Masih ada satu episode lagi, ditunggu ya ...


Jangan lupa untuk terus like, vote dan komentarnya.


Oh iya, Fey pernah bermimpi ketika dia melakukan kegiatan kemah di dalam hutan kala itu. Dan kejadian ini, berhubungan dengan mimpinya. Terimaksih untuk semua yang masih mau menunggu kisah cinta dari Refald dan Fey, juga peristiwa-peristiwa magic yang mereka alami di luar nalar manusia. Semoga saja yang baca ini tidak bosan meski aku akui di awal cerita ini sangat membosankan, aku aja saat baca ulang juga bosan kok, hehe.


Memang belum sempat aku revisi yang bab awal-awal, tapi nanti akan aku buat remake ulang versi Refald, bukan versi Fey lagi. Doakan saja ya ... semoga bisa ada waktu untuk meremake ulang kisah ini.


Masih banyak kejutan yang terjadi, dan jujur, ini adalah konflik favoritku yang sudah aku tunggu-tunggu sejak awal. Genre dalam episode selanjutnya sudah masuk mistis fantasi.


Mungkin banyak yang tidak suka dengan cerita fantasi, apalagi yang berbau mistis ataupun horor. Kalaupun ada yang suka, masih bisa di hitung dengan jari, tapi ini adalah dunia haluku yang sudah aku simpan sejak lama dan baru bisa tersalurkan sekarang.


Inspirasi dari konflik ini berasal dari film dokumenter ‘Dunia Lain’ pasti tahu film itu kan? Yang dulu tayang di trans7. Aku sangat suka lihat film itu meski sekarang mungkin sudah tidak ditayangkan lagi atau diganti dengan film lain. Kebetulan film Dunia lain itu pernah di ambil di daerah lokasi tempatku tinggal saat ini. Dari situlah inspirasi cerita ini muncul. Waduh, jadi curhat, ya? Hehehe ..


Ya sudahlah, pokoknya ditunggu saja kelanjutannya, ya ... terimakasih semuanya, love you all.

__ADS_1


__ADS_2