
“Apa yang kalian bicarakan di ruangan pamanmu, Sayang.” Aku memulai obrolan saat Refald mengantarku pulang setelah makan malam dengan paman Randra dan bibi Halimah.
Refald tidak langsung menjawab, aku bisa menebak pasti ia sedang memikirkan apakah dia mau memberitahuku atau tidak.
“Ada sesuatu, Honey. Tapi aku tidak bisa memberitahumu sekarang karena aku masih belum bisa memastikannya. Aku harus mencari tahu dulu kebenarannya baru aku akan memberitahumu semuanya.” Refald masih saja fokus menyetir. Aku percaya sepenuhnya pada Refald.
“Kau ini seperti detektif saja.” aku tersenyum pada Refald yang terlihat semakin keren kalau berwajah serius.
Kalau dilihat dari sikapnya saat ini, sepertinya memang ada hal yang sangat serius sekali. Tidak biasanya Refald bersikap seperti ini sekalipun ia tahu kalau dia dalam kondisi bahaya. Ada apalagi ini? Semoga saja bukanlah hal yang buruk.
“Sebaiknya, sebelum aku menemukan titik terang permasalahan ini, kau harus selalu bersamaku. Aku akan mengantarmu kemanapun kau pergi, bahkan jika kau pergi bersama dengan teman-temanmu, aku akan menemanimu.” Keseriusan Refald saat bicara membuatku jadi semakin penasaran ada apa sebenarnya. Aku bingung karena Refald tiba-tiba berubah jadi protektif.
“Ada apa sih? Apa ada sesuatu yang membahayakanku lagi?” tanyaku penasaran, karena aku tidak pernah melihat Refald seserius ini.
“Jangan khawatir Honey, tidak ada apa-apa. Selama aku berada disampingmu, kau aman.” Refald belum mau menceritakan masalah apa yang terjadi, tapi kenapa ia harus melibatkan paman Refald segala?
Mungkin saja sesuatu itulah yang membuat Refald mau datang kemari menemui pamannya. Atau pertemuan mereka memang disengaja dan direncanakan untuk mendiskusikan masalah yang belum aku ketahui saat ini.
Pasti ada sesuatu yang terjadi. Refald hanya tidak ingin aku cemas makanya ia tidak mau memberitahuku sekarang.
Sepanjang perjalanan pulang, kami lebih banyak diam dari biasanya. Refald terlalu fokus menyetir dan akupun bergelut dengan pikiranku sendiri. Namun aku yakin, ada banyak sekali hal-hal yang sedang di pikirkan Refald saat ini.
“Aku akan menjemputmu besok pagi, aku pulang dulu dan sampaikan salamku pada Nenek dan Ayahmu!” seru Refald yang masih tetap berada di mobil saat kami sampai di depan rumahku.
“Kau tidak ingin masuk ke dalam?” tanyaku penasaran.
__ADS_1
“Ini sudah larut Honey, apa kata dunia kalau aku berada di sini lama-lama. Kita belum resmi menikah.” Refald mengecup lembut keningku.
“Sejak kapan kau peduli dengan apa yang dikatakan dunia?” sindirku sambil membuka pintu mobil.
Refald hanya tertawa, “Masuklah, aku akan pergi setelah kau masuk,” pintanya dan aku langsung menurutinya.
Sebelum aku membuka pintu depan rumah, aku menoleh ke arah Refald yang masih menatapku. Ia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya. Aku pun membalas lambaiannya dan masuk ke dalam rumah.
“Kau sudah pulang, Sayang?” tanya ayah yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Aku sempat kaget melihat ayah sendirian di sini. Padahal ini sudah pukul 21.00 malam.
“Aku pulang, Otousan. Kenapa masih di sini? Apa ayah menungguku?” aku duduk disamping ayah.
“Tentu saja ayah menunggumu, di mana Refald? Kenapa dia tidak ikut masuk?” ayah masih membolak balik koran yang dibacanya, sepertinya ayah sedang mencari-cari berita menarik.
“Besok kami harus sekolah Ayah, besok pagi Refald akan datang menjemputku dan kami berangkat besama, karena itulah Refald langsung pulang dan tidak ikut masuk supaya besok kami tidak terlambat. Refald titip salam pada Ayah dan Nenek. Apa Nenek sudah tidur?”
Aku terkejut ayah ingin mengajak Refald main igo. Sedekat itukah hubungan mereka berdua?
“Ayah, apa Ayah membawa papan igo juga kemari?” aku baru tahu kalau Refald pernah main igo bersama ayah. Aku penasaran siapakah yang menang diantara mereka, karena ayahku sangat jago sekali bermain igo. Itulah sebabnya almarhum ibuku sangat menyukai ayah saat mereka masih muda dulu.
“Tidak Sayang, ayah bisa main igo secara online.”
“Oh iya? Sejak kapan Ayah main igo dengan Refald? Dia pasti selalu kalah dari Ayah, itulah kenapa dia tidak pernah menceritakan kalau dia pernah main igo dengan Ayah, benar kan? Berapa kali ayah mengalahkan dia?”
“Setiap kali Refald mengunjungi ayah, dia selalu bermain igo dengan ayah. Saat itu, dia masih belum bisa menemukanmu.” Ayah meletakkan korannya di meja dan berdiri. “Sudah malam, pergilah tidur.”
__ADS_1
Aku berdiri mengikuti ayah. “Tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan permainan igo Ayah. Aku jadi ingin tahu seperti apa wajah Refald saat dikalahkan oleh Ayah.” Aku senyam-senyum membayangkan wajah Refald yang kesal karena kalah bermain igo dengan calon mertuanya.
"Hanya ada satu orang yang bisa mengalahkan Ayah," ujar Ayahku sambil berjalan menaiki tangga.
"Oh iya?" tanyaku penasaran dan mengekor mengikuti ayah dibelakangnya. "Apa aku mengenalnya?"
"Kau sangat mengenalnya dengan baik." Ayah semakin membuatku penasaran tentang siapakah orang yang berhasil mengalahkan gelar master igo yang dimiliki ayah.
"Apa Sakura bisa mengalahkan Ayah?" aku menebak-nebak.
"Kau tahu sendiri kalau Kakakmu itu tidak suka bermain igo."
Aku tidak tahu siapa orang yang dimaksud ayah. Selama di Jepang orang yang paling dekat denganku selain ayah hanyalah Sakura dan almarhum ibuku saja, tidak ada yang lain.
"Pasti ibu, kan?" aku masih belum menyerah untuk menebak.
"Ibumu adalah fans berat ayah. Dia tidak bisa bermain igo. Main catur saja dia juga tidak bisa. Bagaimana mungkin ibumu mengalahkanku?"
"Lalu siapa?" akhirnya aku menyerah menebak-nebak.
Ayah sudah sampai di depan kamarnya. Ia menatapku dengan serius.
"Orang itulah yang membuat ayah memutuskan untuk menjodohkanmu dengan Refald."
aku tercengang sampai tidak sadar kalau tanganku bergerak sendiri menutup mulutku.
__ADS_1
Apa orang yang dimaksud ayah adalah ayahnya Refald?
****