Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 249 Hutan


__ADS_3

Rembulan bersinar terang menyinari malam syahdu antara Refald dan Fey. Fey meminta Refald membuka sedikit pintu balkon kamar agar ia bisa merasakan hembusan angin malam yang menyegarkan hati dan pikirannya dimalam indah, bersama dengan orang yang paling Fey cintai, yaitu suaminya Refald. Keduanya sedang berbahagia, saling memadu kasih dan mencurahkan perasaan mereka karena Fey telah hamil anak pertama, buah dari pernikahan Fey dan Refald.


“Refald,” ujar Fey yang masih berada dalam pelukan suaminya.


“Ehm,” jawab Refald. Ia memejamkan mata menikmati angin sepoi-sepoi yang masuk kedalam kamar mereka berdua.


“Kau tidak memberitahuku dalam ingatanmu alasan kenapa nenekku langsung merestuimu sebagai bagian dari hidupku. Di buku diary ibuku, nenek sangatlah pemilih, tak banyak pria yang nenek suka. Bahkan pria sebaik ayahku saja ditolak mentah-mentah oleh nenek. Tapi, sepertinya tidak berlaku padamu, apa yang terjadi sebenarnya?”


“Kau sungguh ingin tahu?” Refad mulai membuka matanya yang berubah setelah bercinta dengan Fey.


“Ehm, aku penasaran.” Fey menatap mata Refald. “Kau tahu? Aku sangat suka matamu yang seperti ini. Kau jauh lebih tampan dari biasanya.”


“Dan juga seksi.” Refald tersenyum sambil memberikan kecupan manis di bibir istrinya.


“Dasar narsis! Cepat jawab pertanyaanku itu! Atau aku tarik kembali kata-kataku tadi.”


“Kata-kata yang mana?” goda Refald.


“Refald!” pekik Fey mulai kesal.


“Oke-oke, bercanda Honey. Kau sensitif sekali!” Refald tertawa melihat wajah manyun Fey. Ia kembali memeluk istrinya. “Ehm, kalau tidak salah, saat itu ... aku bilang pada nenek, kalau aku bsia melihat kakek.”


“Apa?” Fey tersentak mendengar jawaban Refald. Ia bangun dari pelukan Refald dan langsung menatapnya. “Kau bilang apa tadi? Apa aku tidak salah dengar?”


“Tidak, Honey. Sama halnya dengan pak Po dan Di. Kakek akan muncul dan menghabiskan malam bersama dengan nenek di setiap muncul bloodmoon, super bloodmoon, bluemoon, blood bluemoon, super blood bluemoon,dan yang terakhir adalah supermoon. Kau mungkin masih ingat, saat malam supermoon yang terjadi beberapa tahun silam. Waktu itu aku mengajakmu ke vila paman Arya. Aku memintamu mencintaiku tepat dibawah malam supermoon. Pada malam yang sama, kakek muncul dan menghabiskan malam bersama dengan nenek di rumah.”


Mulut Fey menganga lebar mendengar penjelasan dari Refald. “Wuahh, daebak? Kenapa kau tidak memberitahuku waktu itu? Setidaknya aku bisa melihat wajah kakekku.”


“Kalau saja waktu itu kau langsung bilang bersedia mencintaiku, mungkin aku bisa mempertemukanmu dengan kakek, tapi kau malah pergi meninggalkanku.”


“Mana aku tahu kalau kau itu tunanganku? Kalaupun aku tahu juga butuh waktu agar aku bisa mencintaimu seperti yang kau inginkan karena kita tidak saling kenal sebelumnya. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang asing yang baru saja aku temui?”

__ADS_1


“Itu sangat tidak adil, Honey. Aku begitu mencintaimu sampai mati, tapi kau malah hanya menganggapku orang asing, kau tahu betapa sakitnya hatiku waktu itu? Ditolak mentah-mentah oleh tunanganku sendiri?”


“Salah sendiri, siapa suruh kau mencintaiku? Kau juga tidak bilang kalau kau adalah tunanganku dan malah mengerjaiku, kau membuatku menjadi orang terburuk didunia, merasa bersalah tanpa tahu harus bagaimana berbuat. Kau menyiksaku dengan harus menjadi bayanganmu. Apa maksudnya itu?”


“Maksudku kan baik, aku ingin kau lebih dekat denganku?”


“Dekat apanya? Huh, kau membuatku jadi kena darah tinggi setiap hari, dan kau menyembunyikan fakta bahwa kakek bisa datang menemui nenek. Apa kau tahu perasaanku sekarang? Aku kesal padamu.”


“Kau bilang kau membenci tunanganmu? Jika aku bilang dari awal siapa aku, kau mungkin akan kabur lagi dariku dan semakin membenciku!” Fey diam, sepertinya Refald berhasil mengakhiri perdebatan mereka.


Fey tidak bisa menjawab karena kemungkinan besar apa yang dikatakan Refald memang bakal ia lakukan. Sebab, sejak awal Fey tidak menyukai Refald. Ditambah lagi, sebagai tunangan, Fey juga tidak tahu menahu soal siapa sosok Refald yang dijodohkan dengannya. Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening.


“Honey. Kita lupakan saja masa lalu yang sudah berlalu.” Refald memulai pembicaraan. “Bukankah kau pernah bertemu dengan kakek? Saat kau melakukan ritual malam satu suro pada pak Po. Kakeklah yang memandumu, kan?”


Fey mencoba menepis semua kenangan buruk antara dirinya dan Refald di masa lalu, dan ingin fokus pada kehidupannya yang sekarang. “Aku hanya mendengar suaranya. Aku tidak bisa benar-benar melihat seperti apa wajah kekekku,” ucap Fey lirih. Ia benar-benar ingin bertemu langsung dengan kakeknya yang sudah lama tiada bahkan jauh sebelum dirinya dilahirkan.


“Kau akan segera bertemu dengannya, Honey. bersabarlah menunggu.”


“Saat Refald kecil lahir, dia adalah salah satu keturunan langsung dari kakek. Tidak mungkin kakek tidak datang untuk menyambut kelahiran cicitnya.”


“Benarkah?” mata Fey langsung berbinar-binar senang. “Kau tidak bohong, kan?”


“Kapan aku pernah berbohong, Honey. Kau akan segera bertemu dengan kakek begitu Refald kecil kita lahir kedunia.”


Tanpa bicara lagi, Fey langsung memeluk Refald dengan penuh semangat hingga tubuh Refald menabrak sandaran ranjang yang ada dibelakangnya. “Hati-hati Honey, ingat kau sedang berbadan dua.” Refald membalas pelukan Fey dengan mesra.


“Maaf, aku terlalu senang sampai-sampai aku tidak memikirkan kondisiku sendiri. Sekarang, aku tahu kenapa nenek langsung merestuimu.” Fey melepas pelukannya dan kembali menatap Refald yang juga sedang menatapnya.


"Ehm, sudah pasti karena aku sangatlah tampan. Tidak ada pria manapun yang bisa mengalahkan ketampananku."


“Dasar kau ini, selain menjadi rajanya dedemit, kau itu sangat narsis sekali. Tapii syukurlah kau bukan dedemit sungguhan.” Fey kembali memeluk suaminya lagi.

__ADS_1


“Dan kau adalah istrinya raja dedemit." Refald tersenyum sendiri mendengar kata-katanya. "Wahai permaisuri hatiku, maukah terbang jalan-jalan sebentar bersamaku? Kita keliling hutan,” ajak Refald.


“Ehm, aku pakai pakaianku dulu.” Fey mengangguk senang. Ia paling suka diajak terbang jalan-jalan dengan Refald.


“Aku bantu!” Refald bangun berdiri dengan gerakan cepat dan mengambilkan satu set pakaian untuk Fey dari dalam lemarinya lalu membantu mengenakannya.


Setelah selesai, giliran Refald sendiri yang memakai pakaiannya. Dalam hitungan detik keduanya sudah bersiap dan Refaldpun langsung menggendong tubuh istrinya. Refald keluar balkon pintu kamarnya dan melesat terbang menghilang masuk ke dalam hutan yang letaknya memang tidak jauh dari kediaman nenek Fey.


Ditengah kegelapan malam, Refald dan Fey melesat cepat mengelilingi hutan dimana Fey dan Refald dulu sering menghabiskan waktu bersama di tempat ini. Menikmati derasnya suara air terjun dan kicauan suara burung hantu yang bertengger di pohon-pohon kesukaannya. Ada juga suara burung pelatuk yang sedang membuatkan rumah baru untuk pasangannya. Suara-suara berisik itu menjadi hiburan tersendiri bagi pasangan Fey dan Refald. Fey juga sangat menyukai suasana hutan disini, terlebih lagi bila ada Refald disisinya.


“Kita mungkin lama tinggal di Swiss, apa tidak apa-apa jika kau tidak melihat hutan ini lagi Honey?” tanya Refald saat keduanya bertengger diatas dahan pohon sambil menikmati kelap-kelipnya lampu rumah-rumah penduduk desa yang bersinar di area sekitar pegunungan tempat Fey dan Refald berada saat ini.


“Kalau aku ingin kemari, kau pasti bisa langsung mengabulkannya untukku. Tidak sulit bagimu berpindah tempat dari Swiss ke desa ini.”


“Itu namanya ilegal, Honey.” Refald tersenyum sambil memeluk tubuh Fey dari belakang.


“Tidak kalau hanya untuk 2 jam saja.”


Sebuah ciuman manis mendarat di pipi Fey yang terus memandangi alam disekitar tempat mereka. Bahkan tanpa sadar, Fey tertidur pulas dipelukan Refald tanpa mimpi. Sedangkan Refald sendiri masih terus memandangi panorama malam yang sudah hampir berakhir. Begitu juga dengan kisah dirinya dan juga Fey yang sebentar lagi akan berganti dengan kisah putranya.


“Hutan ini, tetap akan menjadi kenangan dan sejarah kehidupan kisah cinta kita berdua Honey. Bahkan kisah cinta putra kita, juga akan dimulai di hutan ini. Untuk kedua kalinya, kemungkinan kau dan aku akan terpisah kembali dalam jangka waktu lama meski tak selama saat kau pergi meninggalkanku dulu.” Refald mencium kening istrinya. Ada guratan kesedihan tentang apa yang akan terjadi dengannya Fey suatu hari nanti.


Napas Fey yang teratur membuat Refald memutuskan melesat turun dengan pelan lalu berlari cepat kembali ke kediaman nenek Fey untuk membaringkan istri tercintanya di tempat tidur.


BERSAMBUNG


***


Segini dulu, nanti aku lanjut lagi ... ditunggu ya ...


__ADS_1


__ADS_2