Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 251 Takdir Leo


__ADS_3

Fey tersentak ketika melihat tiba-tiba saja suaminya sudah berbaring di tempat tidur dengan menggunakan pakaian lengkap serta sepatu yang masih terpasang rapi dikakinya. Gadis itu mengamati Refald yang terus saja menatapnya sambil tersenyum, tapi kali ini Fey tidak membalas senyuman Refald. Sebaliknya, ia berjalan pelan mendekat ke arah meja riasnya dan mencari-cari sesuatu.


“Cepat sekali kau kembali? Apa urusanmu sudah selesai?” tanya Fey yang duduk di meja rias membelakangi suaminya.


“Aku merindukanmu, Sayang. Makanya aku buru-buru kembali. Kenapa kau duduk disitu? Kemarilah, mendekatlah padaku!” pinta Refald sambil merentangkan kedua tangannya berharap Fey mau jatuh kepelukannya.


Fey tidak langsung menyahut ajakan Refald. Ia memandangi wajah suaminya melalui cermin yang ada dihadapannya. Dengan hati-hati, Fey bangun berdiri sambil menggenggam sesuatu dan dengan satu gerakan cepat, Fey berbalik badan lalu melempar anak panah tajam yang ia genggam sejak tadi sehingga tepat mengenai dada Refald.


Pria itu langsung mengerang kesakitan, tapi tidak mengeluarkan darah. “Aaaaargh! Apa yang kau lakukan, Sayang? Kenapa kau membidikku?” Refald menatap Fey dengan kilatan api kemarahan.


“Jangan berpura-pura! Siapa kau?” tanya Fey sambil bersiap-siap melemparkan anak panah lagi.


“Kau ini bicara apa, Sayang? Aku suamimu, Refald!”


Sekali lagi, Fey melempar anak panahnya tapi kali ini anak panah tersebut berhasil ditangkis oleh Refald dengan mulutnya. Refald membuang anak panah itu ke lantai.


“Kau bukan suamiku! Siapa kau? Beraninya kau menyamar menjadi dia!” bentak Fey dan ia mulai menyiapkan senjata lagi dari balik punggungnya untuk menyerang pria yang pura-pura menjadi Refald.


Pria yang wajahnya mirip Refald itupun terkejut karena penyamarannya telah terbongkar bahkan sebelum ia mulai bertindak.


“Huh, aku sudah berusaha keras agar bisa menjadi semirip mungkin dengan raja dari para dedemit. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku bukan suamimu?” aku Refald palsu itu.


“Semirip apapun dirimu dengannya, kau tidak akan pernah menjadi seperti suamiku. Akan aku beritahu kenapa aku bisa mengetahui kalau kau itu bukan Refald. Pertama, auramu sangat berbeda dengan aura raja dedemit sebenarnya. Kedua, Refald tidak pernah memakai sepatu diatas tempat tidur, itu jelas bukan gayanya, dan yang ketiga ....”


Belum sampai Fey menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba datang seseorang yang entah darimana dan langsung mencekik leher Refald palsu dengan sangat kuat sehingga pria tersebut membentur dinding sangat keras. Saking kerasnya, dinding tersebut sampai retak parah.


“Yang ketiga ... panggilanku untuk istriku, bukanlah ‘Sayang’ bodoh! Beraninya kau menyamar menjadi diriku!” mata Refald asli menyala terang hingga membuat Refald palsupun kesakitan sampai tak bisa bersuara. Wajahnya perlahan memudar tepat disaat pak Po datang membuka pintu kerena mendengar suara keributan.


“Ada apa, Putri?” tanya pak Po yang langsung bingung karena tepat dihadapannya, Refald ada dua.


“Ce-cepat to-tolong aku!” teriak Refald palsu berusaha mengecoh pak Po.


“Kenapa Pangeran, ada dua?” tanya pak Po lagi memandang Refald asli dan duplikatnya bergantian.


“Jangan dengarkan dia pak Po, yang minta tolong padamu adalah Refald palsu.” Fey memberitahu pak Po dan dia pun mengerti.


Dalam sekejap, Refald melenyapkan Refald palsu itu menjadi abu hitam yang berserakan di udara seperti asap tebal. Asap itupun menyebar keseluruh ruangan dan hilang tanpa jejak karena tersapu oleh angin. Sedangkan Fey, langsung berlari memeluk tubuh suaminya dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya.


“Syukurlah, kau datang tepat waktu,” ujar Fey dalam pelukan Refald.


“Kau tidak apa-apa, Honey?” tanya Refald memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.


“Ehm, aku langsung tahu kalau makhluk tadi bukanlah dirimu. Dan tidak akan pernah ada yang bisa menyamaimu.”


“Aku benar-benar kesal, bagaimana bisa makhluk bodoh itu memanggilmu ‘Sayang’. Aku benar-benar ....” Refald langsung mendapat ciuman manis dari Fey sebelum ia menyelesaikan kata-katanya.


Pak Po yang melihat adegan sweet itu langsung memalingkan wajahnya sampai keduanya selesai bersyahdu ria.


“Maafkan saya Pangeran, ini juga kelalaian saya. Harusnya saya tahu kalau ada penyusup masuk kedalam rumah ini,” ujar pak Po masih sambil menunduk tak berani menatap wajah pangerannya.


Refald melepas pelukan Fey dan berjalan mendekat ke arah pak Po. “Dengarkan aku pak Po, karena usia kandungan Fey sudah hampir mencapai bulan ke-4, maka akan banyak sekali iblis-iblis jahat yang menginginkan jiwa dari anakku. Mereka berpikir dengan mendapatkan jiwa itu, mereka bisa mengalahkanku dan mengambil alih posisiku, menggantikanku menjadi raja berikutnya. Tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah meninggalkan Fey lebih dari 6 jam. Selama aku tidak ada, jangan pernah sedetikpun meninggalkan Fey sendirian di rumah ini. Aku sudah membuat penghalang khusus dan juga memanggil semua rekan-rekanmu untuk berjaga-jaga diluar. Jika ada sosok mencurigakan mendekat, kalian pasti akan segera tahu dan bisa langsung memusnahkannya. Kau mengerti?”


“Bagaimana kalau ada makhluk yang menyamar menjadi Pangeran lagi?” tanya pak Po.


“Kalian semua pasukanku, pasti bisa membedakan mana aku yang palsu dan yang asli?”


“Baik, Pangeran. Saya mengerti, kalau begitu ... saya permisi dulu. Saya akan berjaga di depan kamar anda.” Pak Po pamit undur diri dan pintu kamarpun ditutup. Kini hanya tinggal Refald dan Fey saja di dalam kamar.


“Sebenarnya, ada apa Refald? Makhluk apa itu tadi? Kenapa dia menyamar sebagai dirimu? Apa yang dia inginkan dariku?” tanya Fey dengan ekspresi cemas.


Refald mengambil koper besar warna hitam dengan gerakan super duper cepat. Dan dengan kecepatan yang sama, Refald mengemasi beberapa pakaian Fey yang ada dilemari pakaian lalu memasukkannya ke dalam koper. Fey hanya memandang pergerakan suaminya dalam diam, menunggu sampai Refald mau menjelaskan semua ini padanya.


Begitu selesai berkemas, Refald mulai mendekat ke arah Fey berdiri. Menarik pelan pinggang istrinya dan langsung mendekatkan tubuh Fey kearahnya. Refald menatap mata indah Fey dengan penuh kehangatan dan juga menenangkan.


“Mereka semua adalah makhluk astral diuar pasukanku, Honey. Seperti iblis gumiho, suami mbak Kun. Mereka mengincar jiwa putra kita dimana jiwa itu mengalir darahku didalamnya. Tapi kau jangan khawatir, Honey. Tidak akan aku biarkan siapapun menyentuhmu ataupun melukaimu, aku akan melindungimu dan juga putra kita.”


“Ehm, aku percaya kau pasti bisa melindungi kami berdua. Karena kau adalah rajanya dedemit.”


Refald tertawa mendengar Fey menyebutnya sebagai raja dedemit. “Sepertinya, aku harus terbiasa mendengar panggilan itu, Honey. Sekarang istirahatlah, besok siang pesawatku akan mendarat dan aku akan pergi menemui Leo. Kau juga harus ikut denganku. Pak Po akan mengawalmu, sementara Di biarlah dia tinggal disini ditemani mbak Kun dan suaminya.”


“Tunggu! Kenapa aku harus ikut bersamamu?” tanya Fey bingung.


“Kau lupa, Honey? Leo dan Shena akan segera menikah. Kau harus tiba di rumah Leo dan istirahat disana sampai hari H tiba. Sementara Leo dan Shena disibukkan dengan urusan mereka. Saat ini, Paman Byon dan bibi Biyanca juga sudah tiba disana dan menyiapkan semuanya."


Refald membantu membaringkan istrinya diatas tempat tidur dan ia pun memeluk Fey dengan erat dalam dekapannya. Beberapa menit kemudian, terdengar napas teratur Fey karena sudah tertidur pulas dipelukan Refald.


***


Begitu keluar dipintu bandara, Refald menelepon istrinya Fey. “Honey, aku sudah tiba. Jangan pergi kemana-mana sampai aku kembali kesana. Kau mengerti,” ujar Refald begitu sambungan teleponnya diangkat.


“Aku mengerti, tapi kenapa kau meminta pak Po mengikutiku kemana-mana? Aku risih dengannya? Kamar mandi adalah satu-satunya tempat ternyaman tanpa gangguan dari pasukan dedemitmu. Itupun pak Po masih berisik sekali diluar. Suruh dia menjauh dariku!” pinta Fey.


Refald hanya tertawa mendengar gerutuan sang istri tentang pak Po. “Dia hanya mengkhawatirkanmu saja, Honey. Kejadian kemarin membuatnya merasa bersalah dan jadi lebih waspada dari sebelumnya supaya dia tidak kecolongan lagi. Bersabarlah sebentar, aku akan segera kembali. Aku tutup dulu ya, bye ... aku mencintaimu, Honey.” Refald tersenyum dan menutup sambungannya lalu melanjutkan langkahnya.


Dari kejauhan, sudah ada Leo yang sedang berdiri menunggunya disamping mobil mewah Leo. Setelah cuap-cuap sebentar, keduanya langsung menuju ke kediaman penjahat yang bernama Kenzo. Tugas Refald hanyalah melindungi dan membantu Leo mengintimidasi penjahat itu agar tidak lagi mengganggu kehidupan orang-orang yang berhubungan dengan Leo. Begitu Refald menunjukkan aksi kerennya, semua penjahat itupun tak bisa berkutik lagi. Kekuatan yang Refald perlihatkan pada mereka, sukses membuat sang gembong mafia menjadi bingung sendiri.


“Apa itu tadi? Apa mereka hantu?” itulah kata terakhir yang Refald dan Leo dengar setelah keduanya selesai dengan intimidasi mereka dan bergegas pergi meninggalkan sekumpulan penjahat itu.


Setelah berhasil membuat sedikit kehebohan, Refaldpun bergegas kembali ke bandara karena ia tidak bisa lama-lama meninggalkan Fey sendirian. Awalnya, Leo ingin mempertemukan Refald dengan Shena tetapi Refald menolak.


Leo juga tidak bisa memaksa kakaknya. Keduanya berpisah di bandara. Leo kembali pulang ke rumah menemui Shena dan Refald kembali ke Swiss menemui Fey dengan menggunakan jurus teleportasinya. Fey dan Refald bersiap-siap menghadiri acara pernikahan Leo dan Shena tanpa diketahui sang kedua mempelai kalau bakal ada pernikahan drama ikan terbang untuk mereka.


“Kita berangkat sekarang Honey,” ujar Refald begitu ia sudah kembali berada di dalam rumah.


Kemunculan Refald yang tiba-tiba, sudah tidak membuat Fey kaget lagi. Padahal baru beberapa menit lalu suami Fey itu berpisah dengan Leo, tapi kijni ia sdah adadisini hanya dalam sekejap mata. Itulah kehebatan Refald, bisa berpindah tempat dimana saja tanpa perlu bersusah payah. Refald mengangkat koper hitam yang sudah ia siapkan sebelumnya dan memasukkannya ke dalam taksi yang standby di depan rumah mereka.


“Jalan, Pak!” ujar Refald pada sopir taksi itu.


“Refald, aku mau mi ayam.” Fey mulai memasang wajah cemberut tanpa sebab. “Kenapa kau tidak membawakanku mi ayam sewaktu kau bersama Leo, tadi?” rengek Fey.


“Honey, kita bisa membelinya begitu kita tiba disana besok.” Refald menggenggam erat tangan Fey.

__ADS_1


“Tapi kau sudah janji akan membuatkannya sendiri,” rengek Fey lagi.


“Aku akan membuatkan mi ayam untukmu kalau kita sudah tiba di rumah paman Byon, Honey. Makanan tidak bisa diajak berteleportasi, karena pasti bentuknya akan berubah menjadi tidak beraturan dan bahkan langsung hsncur menjadi butiran debu. Aku janji, begitu kita mendarat besok, hal pertama yang akan kita lakukan adalah makan mi ayam terenak yang kau suka.”


“Tunggu dulu!” Fey seolah teringat sesuatu. “Bukankah pesawatmu masih ada di Indonesia? Jangan bilang ... kalau aku bakal berangkat sendirian?” Fey menatap cemas wajah Refald.


“Kau akan melakukan pemeriksaan sendiri di bandara. Begitu kau masuk ke dalam pesawat pribadi kita, aku akan menemanimu disana. Jangan khawatir Honey, sudah kubilang aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lama-lama.” Refald mencium kening istrinya dengan mesra.


Tidak ada pilihan lain bagi Fey selain mengikuti apapun yang dikatakan suaminya. Sesuai rencana, Fey harus masuk untuk melakukan cek kemanan dan pemeriksaan lainnya sebagai syarat mengikuti prosedur peraturan di bandara seorang sendiri. Tentunya ada pak Po yang selalu menjaga dan melindungi Fey kalau-kalau ada iblis lain mencoba menyerang istri pangerannya, dan hanya Fey saja yang bisa melihat sosok pak Po. Mungkin beberapa orang yang punya indra keenam juga bisa melihat pocong tampan itu. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, barulah Fey masuk kedalam pesawat pribadinya dimana sudah ada Refald didalamnya.


Keduanya duduk saling berdampingan sambil memandangi pemandangan indah yang ada dibawahnya.


“Kenapa kau diam saja, Refald?” tanya Fey pada suaminya. Ekspresi Refald terlihat tegang seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Honey!” nada suara Refald terdengar gemetar.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau ketakutan begitu?” Fey jadi ikutan tegang. Ini pertama kalinya ia melihat suaminya gemetar. “Katakan padaku Refald? Ada apa denganmu?” Fey mulai tidak sabar lagi.


“Leo, Honey ....” Refald malah terlihat shock sekarang. Sepertinya, Refald melihat masa depan Leo dan pastinya kalau dilhat dari ekspresi Refald kali ini, itu bukanlah sesautu hal yang baik.


“Katakan ada apa Refald? Apa yang terjadi dengan Leo? Apa dia dalam bahaya?” pekik Fey. Ia sungguh penasaran, apa yang membuat suaminya jadi seperti itu.


“Lebih dari itu Honey, Leo ... akan mati,” ujar Refald lirih tanpa tenaga.


“Apa?” teriak Fey seketika, bahkan tubuhnya langsung refleks berdiri. Ikatan sabuk pengaman Fey sampai terlepas saking kencangnya Fey melawan tekanan dari sabuk pengaman itu. “Kau jangan bercanda Refald.”


“Aku tidak sedan becanda, Honey. Ini serius, Leo benar-benar akan mati.”


“Tidak! Itu tidak mungkin, Leo tidak boleh mati? Bagaimana bisa kau membiarkan adikmu mati tepat dihari menjelang pernikahannya? Takdir macam apa ini? Tidak bisakah kau melakukan sesuatu, Refald? Bagaimana dengan Shena?” Fey telihat jauh lebih panik dari sebelumnya dan tiba-tiba saja, ia merasakan sedikit keram diperutnya. “Auh ....” Fey mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


“Honey, kau tidak apa-apa? Duduklah, jangan berdiri!” pinta Refald yang langsung menopang tubuh istrinya agar tidak sampai jatuh. “Tenangkan dirimu Honey, jangan terllau shock, karena tidak baik untuk kesehatanmu. Ingat, kau sedang hamil sekarang.”


“Lakukan sesuatu Refald, jangan biarkan Leo mati.” Fey merintih kesakitan sampai tanpa sadar, ia mengeluarkan keringat dingin dipelipisnya.


Rafald berusaha menenangkan Fey agar ia tidak terlalu mengkhawatirkan apa yang akan menimpa Leo. dengan telaten, Refald mengusap lembut keringat dingin yang keluar di wajah secantik Fey.


“Dengarkan aku Honey. Aku akan menolong Leo dengan menentang takdir yang sudah digariskan padanya. Aku sudah pernah memberitahumu apa konsekuensinya jia aku melakukan itu. kekuatanku akan hilang, Honey. Saat aku menyelamatkan Leo, aku akan menggunakan kekuatan terakhirku untuk berpindah tempat dikamar rumah paman Byon. Kau harus segera datang kesana sendirian dan langsung temui aku. Keadaanku saat itu pasti akan sangat buruk karean aku akan menjadi manusia biasa sama sepertimu. Agar tenagaku pulih kembali, maka kau harus ....”


“Aku akan melakukannya,” sahut Fey cepat seolah mengerti apa yang akan dikatakan Rafald selanjutnya.


“Kau mengerti makudku?”


“Ehm, aku tahu, percayalah padaku ... aka akan melakukannya.” Fey menatap wajah suaminya yang sedikit ragu apakah istrinya ini benar-benar mengerti apa maksudnya.


BERSAMBUNG


***


part soal adegan Kenzo, ada di novel Playboy Jatuh Cinta. Yang sudah baca pasti tahu .


__ADS_1


__ADS_2