
Suasana pagi terasa cerah merekah, membuat hatiku semakin bahagia. Ditambah lagi, dengan lincah Refald meloncat kesana kemari dan tak jarang juga ia terbang ke atas membawaku ke suatu tempat yang Refald sebut sebagai hutan terlarang.
Aku kenal kawasan hutan itu. Dulu, Sakura pernah tersesat di hutan tersebut saat diajak temannya untuk memeriksa sesuatu. Itulah hari di mana Sakura pertama kali bertemu dengan Sauran.
Kisah cinta mereka sangat unik dan penuh mistis, tapi tidak ada yang tahu bagaimana kisah mereka sesungguhnya selain mereka sendiri. Sama halnya seperti aku dan Refald saat ini. Tidak ada ada yang tahu kalau aku dan Refald sudah menikah di dunia lain.
Sekarang, disinilah kami. Aku tidak tahu apa alasan Refald mengajakku masuk ke dalam hutan terlarang yang jelas-jelas sudah dilarang oleh kepala pemerintahan wilayah ini.
“Kenapa kita harus ke hutan terlarang? Ada apa di sana?” tanyaku membuka pembicaraan sambil merasakan betapa menyenangkannya terbang digendongan orang yang paling aku cintai.
“Aku harus memperkenalkan istriku pada mereka semua sebelum kita berangkat ke Jerman."
"Mereka? Mereka siapa?"
"Para pasukanku," jawab Refald. "Mbak Kun dan pak Po juga ada di sana. Mereka berdua berlomba-lomba saling pamer pasangan masing-masing.” Refald menyunggingkan senyumnya.
“Mereka berdua pasangan yang serasi, kenapa tidak kau nikahkan saja mereka?” aku pun ikut tersenyum seperti Refald membayangkan pak Po dan mbak Kun bersaing dengan pasangan mereka masing-masing.
“Setuju!” jawab Refald cepat.
“Benarkah?” aku terkejut karena Refald langsung menyetujui usulanku. “Kapan kau akan menikahkan mereka? Setelah ini? Di hutan terlarang, itu?” aku merasa aku terlalu antusias mendengar pernikahan pasukan dedemit Refald.
“Segera setelah kita menikah, kau minta sekarang? Oke, aku sangat tidak keberatan. Ayo kita menikah sekarang dan akan kunikahkan mbak Kun dan Po juga begitu pernikahan kita selesai dilaksanakan.”
“Apa?” teriakku.
“Jangan berteriak, Honey! Aku tahu kau terlalu bahagia. Sepertinya aku harus menculik kedua orangtua kita kemari agar segera menikahkan kita. Idemu benar-benar briliant.” Refald terkekeh dengan kata-katanya sendiri.
“Turunkan aku!” cetusku dengan kesal.
“Kenapa?” Refald menoleh padaku.
“Cepat turunkan aku atau aku akan lompat!” ancamku. Aku menatap Refald lekat-lekat untuk membuktikan bahwa aku serius dengan ucapanku.
Refaldpun mencari sebuah pijakan di atas pohon dan perlahan ia turun ke bawah. Kami berdua mendarat mulus di sebuah jalan setapak yang ada dipinggiran hutan.
Tanpa bicara, aku turun dari gendongan Refald dan nyelonong pergi meninggalkannya. Tentu saja dengan cepat Refald berhasil menyusulku dan menghentikan langkahku.
“Ada apa? Kenapa kau marah? Kau tidak mau menikah denganku?”
“Aku sudah jadi istrimu? Bagaimana mungkin aku tidak mau menikah denganmu?”
“Lalu, kenapa kau marah, Honey ? Cantikmu bisa luntur jika kau berwajah manyun begitu. Tersenyumlah untukku, oke. Aku sangat menyukai senyumanmu.” Refald berusaha merayuku. Sayangnya, aku tidak akan mudah termakan bujuk rayunya.
“Aku tidak marah, aku kesal!” seruku.
Aku melewati tubuh Refald dan berlalu begitu saja meninggalkannya. Namun, baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba ada sosok bayangan hitam putih datang ke arahku.
Aku terkejut karena bayangan itu semakin lama, semakin mendekat. Aku mencoba mundur selangkah demi selangkah dan langsung berbalik arah berlari menuju ke tempat Refald berdiri. Ia bahkan merentangkan kedua tangannya untukku seolah tahu kalau aku bakal berlari ke arahnya karena ketakutan.
Refald menangkapku, begitu berada didekatnya. “Kau bilang kau tidak takut, kenapa kau lari?” Refald tersenyum manis padaku.
“I-itu ... itu ta-tadi, apa?” tanyaku gugup. "Wajahnya benar-benar menyeramkan." sungguh ini pertama kalinya aku melihat makhluk astral yang modelnya aneh seperti itu.
“Apa ya namanya? Aku juga tidak tahu, hehe ....” Refald masih memelukku. “Kalian berdua! Tetaplah disitu dan jangan mendekat," perintah Refald pada makhluk aneh itu.
__ADS_1
"Berdua? Jadi yang tadi itu ada dua?" tanyaku terkejut.
"Ehm, apa kau mau lihat mereka?"
"Tidak, terimakasih. Sebaiknya aku tidak melihat mereka." Aku menyembunyikan wajahku di dada bidang Refald.
"Baiklah, tetaplah dipelukanku. Ayo! Lokasinya sudah dekat." Refald merangkul bahuku dalam dekapannya sambil terus berjalan ke arah depan.
Bulu kudukku merinding saat melewati dua makhluk astral yang tak ingin aku lihat seperti apa rupanya. Pasti menakutkan sekali. Seumur-umur aku belum pernah melihat seperti apa wujud hantu Jepang. Apakah sama seperti yang digambarkan dalam film-film atau tidak. Yang jelas mereka pasti menakutkan lebih dari pak Po dan mbak Kun.
Tidak ada tempat yang lebih aman selain berada di dekapan Refald. Harusnya aku sudah terbiasa dengan dunia Refald yang menyeramkan ini, tapi entah kenapa aku masih saja ketakutan setiap kali melihat pasukannya.
Sebenarnya ada berapa banyak pasukannya? Apa setiap negara, ada pasukan Refald? batinku.
Kami berdua mulai memasuki kawasan hutan rimba yang gelap. Semakin ke dalam semakin mencekam suasana di dalam hutan. Apalagi cahaya matahari tidak bisa menembus kawasan ini.
Pantas saja namanya Hutan terlarang, tempatnya gelap gulita gini. Aku membatin lagi
"Meskipun gelap, hutan tetaplah hutan, Honey. Banyak sekali pasukanku yang lebih memilih tinggal di sini karena mereka merasa aman berada di tempat ini."
Aku mulai menegakkan tubuhku dan melepaskan pelukan Refald. Saat aku melihat sekeliling, rasa takjub itu kembali menyelimutiku.
Lagi-lagi, kami berada di dunia lain, dunia yang hanya bisa dihuni oleh para makhluk astral, terutama pasukan para Refald.
"Selamat datang kembali, Pangeran," sapa sesosok makhluk tinggi berjubah putih transparan. Dia melayang dari dalam menuju arah kami berdiri. Sosok itu tersenyum melihat kami.
"Lama tak jumpa, Kakek." Refaldpun balas tersenyum. Sedangkan aku hanya bisa gemetar karena takut berada ditengah-tengah kumpulan para pasukan Refald.
"Sudah lama sekali Pengeran tidak datang mengunjungi kami. Dan wajah anda semakin lama semakin tampan saja. Aku jadi merasa tua," canda makhluk yang dipanggil Refald dengan sebutan 'kakek' itu.
"Bagiku, Kakeklah yang termuda di sini." Refald bisa juga bercanda.
Dua makhluk yang tadi pertama aku lihat juga tiba-tiba muncul di depan kami sambil membawa bunga ditangan masing-masing.
Mereka adalah makhluk satu tubuh tetapi berkepala dua dengan wajah tak karuan dan rambut jeprak bagai orang yang baru saja tersengat listrik berdaya 1000 volt.
Awalnya aku terkejut melihat wujud menyeramkan mereka semua, tetapi setelah aku perhatikan baik-baik. Wujud makhluk berkepala dua yang ada di depanku ini, mirip dengan makhluk yang pernah aku lihat di film Jepang kesukaanku. Judulnya adalah 'Death note' film yang berisi tentang catatan dewa kematian.
Makhluk astral ini ... mirip dengan dewa kematian yang aku lihat. Batinku.
Makhluk berkepala dua itupun mengalungkan sebuah karangan bunga indah padaku dan juga pada Refald.
"Selamat datang Pangeran dan juga ...," Suara makhluk itu benar-benar besar dan menyeramkan. Sama persis seperti yang ada di film Jepang favoritku.
Mungkin ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dia tidak tahu siapa aku. Aku sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkan suasana yang aneh bin ajaib ini. Kini, aku seolah sedang melihat langsung adegan syuting film death note yang diperankan langsung oleh salah satu pemainnya, yaitu dewa kematian.
"Oh, kenalkan, wanita cantik ini adalah istriku." Refald kembali merangkul bahuku dengan bangga.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, Kami semua yang ada di sini turut bahagia." Makhluk berkepala dua itu berucap bersamaan layaknya orang yang sedang paduan suara.
"Ryuk," panggilku seketika. Tentu saja Refald dan yang lainnya langsung terkejut melihatku. "Kau, Ryuk bukan? Kau adalah Shinigami (dewa kematian) pemilik death note. Benar, kan?" Sungguh aku berharap tebakanku ini salah. Sebab, aku benar-benar gugup sekali skarang.
"Honey, kau mengenalnya?" Tanya Refald yang langsung menghadapku.
"Siapa yang tidak kenal dia? Dia Shinigami Ryuk sang pemilik death note," jawabku.
__ADS_1
Semua yang ada di sini saling pandang satu sama lain mendengar pernyataanku.
"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" Refald bertanya lagi. Kali ini lebih serius.
"Aku hampir melihatnya setiap hari bersama dengan teman-temanku," jawabku santai dan masih tetap mengagumi Ryuk.
Bahkan aku terlihat seperti fans beratnya. Lebih parahnya lagi, aku tidak menganggap Ryuk sebagai salah satu makhluk astral asli ataupun salah satu pasukan Refald. Melainkan sebagai aktor Jepang pemain film Death Note.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?" Nada suara Refald mulai meninggi.
"Apanya?" Tanyaku yang baru sadar kalau Refald terlihat marah dan tidak suka.
"Kalian bertemu setiap hari tanpa sepengetahuanku? Kau mau berpaling dariku? Dengan makhluk seperti ini? Apa aku kurang tampan bagimu? Beraninya kau menduakan aku?" Refald mulai menuduhku yang bukan-bukan.
Mulutku menganga mendengar pernyataan Refald. Ia jelas salah paham padaku.
Belum juga aku menguasai keterkejutanku atas tuduhan Refald padaku, ia langsung mengulurkan tangannya dan mencekik kedua leher makhluk mirip pemain death note itu.
"Beraninya kalian menemui istriku tanpa sepengetahuanku? Kalian ingin kulenyapkan selamanya?" tanya Refald sedikit marah.
"Refald hentikan, kau salah paham. Maksudku, aku melihat filmnya, bukan bertemu dengannya. Lepaskan mereka. Kau bisa kehilangan kekuatanmu."
"Apa? Film? Film apa?"
Aku membuka ponselku dan mencari informasi soal film death note di internet dan menunjukkan gambar yang wujudnya sama seperti wujud Ryuk saat ini. Sayangnya, di film tersebut Ryuk hanya berkepala satu. Sedangkan Ryuk yang di cekik Refald berkepala dua.
"Namanya sama, Ryuk. Dia juga digambarkan sebagai dewa kematian. Tadi aku hanya memastikan apakah tebakanku ini salah atau tidak. Dan ternyata ..." Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena aku yakin, Refald pasti sudah tahu kelanjutannya.
Refald menurunkan kembali tangannya. Sepertinya ia sudah mulai paham maksudku.
"Sejak kapan kalian main film?" kali ini giliran pasukannya yang diinterogasi.
"Kami tidak pernah bermain film apapun, Pangeran. Tapi, mungkin ada seseorang yang punya Indra keenam dan bisa melihat sosok kami. Bisa saja ia menggambarkan tokoh yang wajahnya mirip dengan kami."
"Bagaimana karakter tokoh dan namanya sama. Bahkan profesi kalian pun sama?"
"Bisa saja seseorang itu mendengar percakapan semua makhluk yang ada di sini." Aku membantu mencari tahu solusi teka teki aneh ini. "Apa ada yang pernah datang kemari?" tanyaku pada Ryuk.
"Beberapa orang pernah kemari, tapi mereka semua langsung lari begitu melihat salah satu dari kami."
Aku dan Refald saling pandang. Penjelasan Ryuk masuk akal juga. Kemungkinan salah satu dari mereka pasti bisa melihat sosok Ryuk ini.
Refald bersikap tenang lagi dan mengamati sekeliling. "Tempat ini tidak berubah, masih sama seperti dulu." Refald berjalan ke arah hutan yang lebih dalam dan meninggalkan aku sendirian.
"Apa-apaan ini? Kenapa aku malah ditinggal?" gumamku lirih.
Beberapa makhluk astral yang ada di sini datang menghampiri Refald dan memberi salam hormat padanya. Di dunia ghaib ini, suamiku itu jauh lebih tenar daripada artis papan atas di dunia nyata.
BERSAMBUNG
****
mulai seru nih ... maaf kalau jiwa haluku mulai bertebaran dimana-mana. hehehehe ...
__ADS_1