
Aku sangat terkejut melihat siapa yang sudah menodongkan pistolnya di kepalaku. Wajahnya sangat familiar bagiku. Aku yakin, orang ini adalah salah satu penjaga hutan yang dulu pernah kami temui saat melakukan kegiatan caraka, terlepas dari hilangnya aku dan Refald akibat dari bencana dadakan waktu itu.
“Bu-bukankah, anda ...”
“Ya, aku penjaga perhutani, tidak ku sangka ingatanmu jeli juga!” pria itu terkekeh melihatku. Bukan rasa takut lagi yang kurasakan saat ini, tetapi kemarahan yang begitu besar melihat wajah penjaga perhutani yang ternyata, bukanlah orang baik.
Aku melirik Refald yang masih diam menunduk karena emosi menatapku di todong pistol oleh penjaga perhutani ini yang tidak kuketahui namanya. Sejuta misteri dan berbagai macam pertanyaan memenuhi isi kepalaku.
“Apa yang anda inginkan dari kami? Anda jugakah yang menculikku?” tanyaku untuk mengurangi rasa penasaranku.
“Pacarmu itu memiliki sesuatu yang aku cari, tapi dia tidak mau memberikannya padaku.” Penjaga perhutani itu to the poin padaku tanpa basa basi.
“Apa itu?” tanyaku juga ingin tahu sesuatu apa yang diinginkan orang ini dari Refald.
“Flashdisk. Dia punya flashdisk yang tak sengaja kalian temukan di dalam hutan saat kalian sedang tersesat. Jika kau tahu di mana flashdisk itu, maka berikan padaku. Dengan begitu, aku akan melepaskan kalian berdua dan pergi dari sini.” Penjaga hutan itu bersikap sok manis padaku tapi aku tahu, ada tatapan kelicikan yang tersembunyi dibaliknya.
“Jangan dengarkan dia, Fey! Mereka akan tetap membunuh kita walaupun dia sudah mendapatkan flasdisk itu,” teriak Refald yang langsung mendapat hadiah pukulan dipipinya oleh salah satu anak buah penjaga hutan ini.
Tentu saja aku khawatir dan langsung merutuki orang yang memukul Refald, tapi tidak ada yang bisa kulakukan karena nyawaku sendiri juga sedang dalam bahaya. Apalagi, saat ini Refald tidak bisa meggunakan kekuatannya dan ia hanyalah seorang anak SMA biasa. Tidak mungkin Refald menang melawan para penjahat sekuat mereka sedangkan ia seorang diri sekarang.
__ADS_1
Sebisa mungkin aku memutar otak agar orang-orang ini tidak menyakiti Refald lagi sembari menunggu ada bantuan datang. Aku ingat, Refald pernah bilang pasukannya baru bisa muncul jika hari mulai menjelang malam. Mungkin aku bisa memanfaatkan situasi itu untuk menolong Refald dan melepaskan diri dari orang-orang jahat ini.
“Aku akan memberitahumu di mana flashdisk itu, dengan satu syarat!” jawabku berbohong. Refald menatapku dan aku mengedipkan salah satu mataku padanya untuk memberitahu kalau aku sudah punya rencana.
Refald tidak setuju denganku karena ia tidak pernah memberitahuku ada di mana flashdisk itu sebenarnya. Tapi keputusanku sudah bulat, hanya dengan cara ini kami bisa mengulur waktu sampai pasukan Refald muncul sehingga kami punya peluang melarikan diri.
“Apa syaratnya?” tanya penjaga hutan itu dengan penuh waspada dan semakin mengeratkan pistolnya padaku. Orang itu bersiap menarik pelatuknya kapan saja jika syaratku dinilai sangat memberatkannya.
Aku berusaha menguasai ketakutan dan kepanikanku serta berusaha setenang mungkin agar apa yang aku rencanakan ini berhasil dan tidak menimbulkan kecurigaan.
“Kami menyembunyikan flashdisk itu di suatu tempat dan cuma kami saja yang tahu lokasinya. Lepaskan tunanganku dan kami akan berjalan menuntunmu ke sana. Jangan coba-coba menyakitinya lagi. Jika kau membunuh kami, maka selamanya kau tidak akan pernah menemukan flashdisk itu meskipun kau membabat seluruh hutan ini.” nadaku terdengar seperti mengancam. Refald pun juga tercengang mendengar ucapanku.
Tentu saja Refald pun juga diperlakukan sama sepertiku. Aku menunggu Refald dan berjalan beriringan bersamanya. Dan kami pun memimpin jalan di depan dengan ditodong pistol di belakang punggung kami.
“Jangan macam-macam atau membodohi kami. Gerak-gerik kalian akan selalu kami awasi, jika ada hal yang mencurigakan, maka peluru ini akan menembus otak kalian.” Petugas perhutani itu mengancam kami, dan kami hanya diam tak bersuara. Aku dan Refald, cuma bisa saling pandang.
Saat kami keluar goa, matahari sudah bersinar terang dari arah barat yang menandakan bahwa saat ini, sudah memasuki sore hari dan sebentar lagi berganti dengan malam. Jalanan masih basah dan licin akibat diguyur hujan. Suara tetesan air dari daun-daun rimbunnya pepohonan membasahi seluruh jalan setapak yang kami lewati. Untungnya Refald segera memakaikanku baju saat aku terlelap sebelum para penjahat ini datang. Dia benar-benar melindungiku dengan caranya sendiri.
Berarti aku hanya tinggal berputar-putar saja sampai menjelang petang agar pasukan Refald bisa datang menyelamatkan kami.
__ADS_1
“Jangan coba-coba menipu kami, jika tidak, maka kalian tahu sendiri akibatnya!” geram penjaga perhutani itu yang seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Jika aku jadi kau, aku akan sangat malu dengan seragam yang kau pakai itu.” Refald mencoba memancing emosi orang itu. “Tugasmu adalah melindungi hutan dan melestarikannya, tapi yang kau lakukan malah sebaliknya. Kau bahkan tega menghilangkan nyawa seseorang hanya demi memuaskan keserakahan duniawimu saja,” sindir Refald.
Sebenarnya sampai detik ini aku masih belum mengerti apa yang terjadi. Alasan kenapa penjaga perhutani menginginkan flashdisk yang kami temukan dan apa isi dari flashdisk itu. Namun, dari pembicaraan Refald barusan, aku bisa menangkap bahwa flashdisk tersebut pasti berisi bukti kejahatan yang sudah penjaga perhutani ini lakukan.
Seseorang pasti mengetahui kejahatannya dan hendak melaporkannya pada pihak berwajib. Dan kemungkinan terburuknya adalah, si berengsek itu pasti sudah melenyapkan orang yang hendak melaporkannya tetapi ia kehilangan bukti. Dan bukti itu adalah flashdisk yang kami temukan.
Sangat masuk akal sekarang, itulah kenapa saat itu Refald sempat bertengkar dengannya di malam kami datang ke kantor perhutani untuk melaporkan keadaan kami. Ternyata ini alasan orang-orang itu menculikku dan mengancam Refald agar ia mau menyerahkan bukti kejahatannya.
“Bocah ingusan sepertimu tak perlu ikut campur urusan orang dewasa, sebaiknya kau belajar saja dengan tekun supaya dapat nilai baik dan lulus sekolah, jangan main pacaran aja di hutan! Ayo, jalan! Jangan buang-buang waktu lagi.” kata-kata orang itu tak kalah pedas juga.
Ingin rasanya aku meninju muka orang ini. Sudah jelek, berhati busuk, masih hidup pula? Sayang saja kekuatan Refald hilang, jika saja dia tidak kehilangan kekuatannya, pasti orang ini bakal dijadikan daging cincang oleh si manusia super Refald.
Refald menggenggam erat tanganku dan kami terus masuk ke dalam hutan. Ia sama sekali tidak bicara padaku dan terus menatap lurus ke depan seolah mewaspadai sesuatu yang akan datang.
****
maaf baru bisa up ..
__ADS_1