Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
Episode 274 Hal Baru


__ADS_3

Sebulan sudah berlalu, Rey dan keluarganya tinggal di tempat dimana dulu Fey dan Refald tinggal. Rey juga bersekolah di mana orangtuanya dulu sekolah. Dengan cepat ia mudah beradaptasi dengan semua teman-temannya. Seperti halnya Refald dulu, kedatangannya juga sukses membuat heboh kaum hawa yang ada di sekolah barunya. Semua orang khususnya para siswi sekolah menyambut kedatangan Rey dengan suara teriakan histeris yang menggemparkan seisi sekolah.


Bedanya, Rey masih belum menemukan sosok pujaan hatinya. Rey juga tidak tahu apakah gadis yang dijodohkan dengannya itu bersekolah di tempat yang sama dengan Rey atau tidak. Sejak kedatangannya kemari, baik ayah ataupun ibunya sama sekali tidak pernah membahas soal gadis pilihan mereka. Rey sendiri juga tak punya niat untuk bertanya ataupun mencari tahu dimanakah calon istrinya berada. Fey dan Refald malah sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan membiarkan Rey berbaur dengan lingkungan barunya sesuai dengan keinginannya sendiri.


Tak butuh waktu lama bagi Rey untuk beradaptasi dengan semua hal yang ada di tempat ini. dengan mudah, ia juga banyak mendapat teman baru. Untuk mengisi kegiatan di waktu luangnya, Rey memlilih ikut esktra organisasi pencinta alam di dekolah barunya, sama seperti kedua orangtuanya dulu. Alasan Rey memilih organisiai tersebut bukan hanya karena orang tuanya menyukai dunia itu, melainkan tidak ada hal lain yang menarik di sini. Jadi, Rey ingin mencoba sesuatu hal yang belum pernah ia lakukan.


Rey ingin merasakan seperti apa rasanya menjelajahi hutan dan naik kepuncak gunung. Setidaknya, kebanyakan anggota dalam organisasi ini lebih banyak prianya daripada wanitanya. Kalaupaun ada, pasti wanita-wanita itu sedikit tomboy dan cenderung cuek sehingga Rey tak perlu khawatir diganggu. Sebab, setiap hari, banyak sekali cewek yang mengejar-ngejar Rey, mencari perhatian, dan selalu saja menganggu ketenangannya. Bahkan ada yang tak segan-segan memintanya secara langsung supaya mau jadi kekasihnya tanpa merasa malu sedikitpun. Hal tu cukup membuat Rey stres.


Berbeda dengan saat Rey masih berada di Swiss yang suka sekali bermain-main dengan banyak wanita. Disini, Rey sama sekali tidak tertarik dengan semua gadis-gadis yang ada di tempat ini. Menurutnya, semua gadis-gadis seusianya terlihat biasa-biasa saja. tidak ada yang wah, dan lebih cenderung kampungan, lebay serta suka seenaknya memaksakan diri. Namun, Rey selalu acuh tak acuh pada semuanya dan menganggap mereka yang mencoba mendekatinya tidak ada.


“Besok sudah akhir pekan, apa kau tidak ada kegiatan?” tanya Fey sambil membuatkan teh untuk putranya yang duduk santai sambil bermain game.


“Ada, besok pagi aku dan teman-teman organisasiku mengikut kegiatan survei susur sungai,” jawab Rey tanpa mau menoleh pada ibunya.


‘Oh, iya? Wuah, aku kira kau tidak menyukai kegiatan seperti itu. Kenapa kau berubah haluan?” tanya Fey lagi dan meletakkan teh putranya di atas meja.


“Cuma kegiatan itu yang aman untukku, Ibu.” Rey meletakkan ponselnya dan menatap Fey yang duduk dihadapannya. “Ibu, tidak bisakah kita kembali saja ke Swiss? Orang-orang disini sangat aneh, Bu. Aku ... sama sekali tidak bisa memahami mereka semua,” rengek Rey.


“Kenapa? Aku lihat, kau bisa beradaptasi dengan baik disini. Kau bahkan punya banyak teman baru selain Yeon. Lagipula, rumah kita sekarang ada disini, Rey. Hidupmu bahkan baru saja dimulai besok, kenapa kau buru-buru kabur?” Fey meminum teh buatanya sendiri sambil melirik wajah putranya yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Apa maksud Ibu dengan hidupku baru saja dimulai? Memangnya selama ini aku mati, apa?”


Fey tersenyum melihat Rey berwajah cembert seperti itu, ia samasekali tidak menyangka kalau putranya yang dulunnya menggemaskan kini sudah mulai beranjak dewasa dan semakin tampan.


“Rey, kau tidak bisa mengerti semua orang yang ada disekelilingmu, itu karena kau belum mengenal mereka semua dengan baik. Tak kenal, maka tak sayang, tapi jika kau sudah mengenal seperti apa mereka ... ibu yakin, pandanganmu tentang mereka semua bakal berubah. Nikmati saja hidupmu selagi kau bisa menikmatinya,” ujar Fey membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan Rey pada Refald sewaktu mereka masih berada di Swiss beberapa waktu lalu.


Refald yang mendengar pembicaraan istri dan anaknya itu hanya tersenyum tipis. Ia jadi penasaran, seperti apa reaksi Rey jika ibunya berkata seperti itu dan hasilnnya, Rey malah terdiam dan tidak berkata apa-apa. Padahal tadinya Refad pikir anaknya itu bakal berontak dan tidak terima, tapi sepertinya lingkungan di sini telah mempengaruhi kepribadian Rey yang dulunya suka sekali membangkang sekarang jadi lebih suka memikirkan apa yang dikatakan orang terutama kata-kata ibunya.

__ADS_1


“Cecunguk itu sudah mulai berubah,” gumam Refald sambil memeriksa beberapa dokumen yang berhubungan dengan pekerjaannya.


Mungkin saja apa yang dikatakan ibunya itu benar. Rey masih belum mengenal siapapun yang ada disini dengan baik, karena itulah ia merasa tidak cocok dengan mereka. Lamban laun, Rey pasti bakal terbiasa dengan semua hal yang ada di tempat ini.


Sebenarnya, tanpa sepengetahuan Rey, ada makna tersembunyi dibalik kata-kata yang diucapkan Fey barusan. Fey bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya sambil bergumam, “Sudah waktunya kau bertemu dengan calon istrimu, Rey. Bersiaplah.” Fey tersenyum meninggalkan Rey sendirian di ruang keluarga.


“Ibu bilang apa?” tanya Rey, secara samar-samar ia mendengar gumaman ibunya.


“Tidak apa-apa, semoga harimu besok menyenangkan. Pergilah tidur karena besok adalah hari yang melelahkan bagimu. Have nice dream my Son.” Fey melambaikan tangan sambil tetap memunggungi putranya agar Rey tak bisa melihat ekspresi mencurigakan dari Fey.


***


“Kenapa kau senyam-senyum sendiri, Honey?” tanya Refald yang selesai memeriksa semua dokumen-dokumennya.


Refald melepas kacamatanya dan meletakkannya diatas meja, sementara tubuhnya sendiri masih betah bersandar disandaran ranjang. Ia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kehadiran istri tercintanya.


“Oh iya? Bukankah kita sudah melakukannya setiap hari? Apa kau tidak bosan?” Refald mengelus lembut rambut Fey.


“Kau ini!” Fey memukul pelan dada bidang suaminya. “Bukan momen kita yang aku maksud, tapi Rey. Kisah kita sudah selesai, giliran putra kita sekarang.”


“Siapa bilang kisah kita sudah selesai, kisah kita akan tetap berlanjut bahkan jika maut memisahkan kita.” Refald langsung mencium mesra bibir Fey. Sudah belasan tahun mereka berdua menikah tapi nuansa romantis masih saja menyelimuti keduanya. “Kau sudah bicara dengannya?” tanya Refald setelah menyudahi ciuman mautnya. Selama kedatanganya kemari, ia belum sempat bertemu dengan calon menantunya itu.


“Sudah, hampir setiap hari aku kesana tanpa sepengetahuan Rey. Rhea sudah sembuh dari lukanya. Begitu Rey bertemu dengannya, aku akan membawanya tinggal disini. Tidak akan kubiarkan ia tinggal di goa lagi.”


“Dia tidak tinggal sendiri Honey, ada pak Po dan Di disana. Kenapa kau khawatir?”


“Tetap saja, aku tidak akan membiarkan Rhea terluka lagi, pak Po dan Di terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sama sepertimu yang selalu datang dan pergi seenaknya. Ketimbang dipanggil raja dedemit, kau lebih pantas disebut sebagai jelangkung, datang dan pulang tak diantar.”

__ADS_1


Sambil tertawa, Refald langsung merebahkan tubuh istrinya dan mengunci tubuh mungil itu dengan kedua tubuh Refald. “Beraninya kau menghina raja dengan menyebutnya sebagai jelangkung, ha? Apa sebaiknya kita bikin adik untuk Rey?”


“Tidak mau! Rey sudah besar, pasti dia tidak setuju! Lagipula, sebentar lagi kita juga akan punya cucu! Apa kau tidak malu, ha?”


“Kenapa harus malu? Rey masih 17 tahun, aku berencana akan menikahkannya 10 tahun lagi saat usia adiknya berumur 9 tahun.”


“Apa kau bercanda Refald? Kau sendiri yang tidak ingin melihatku melahirkan lagi. Padahal tidak masalah buatku jika kau ingin memiliki anak lagi. Tapi kau terus bersikukuh tidak ingin aku hamil lagi. Kenapa sekarang kau menginginkan adik untuk Rey?”


“Bercanda Honey, aku memang tidak ingin kau kesakitan lagi kecuali jika ada cara supaya bisa menggantikan rasa sakitmu saat kau melahirkan keturunanku. Perjuanganmu saat itu, aku tidak bisa melupakannya.”


“Aku bahagia Refald, aku tidak pernah menyesal melahirkan Rey, karena dia adalah keturunanmu yang berharga. Jangan sedih begitu, bagaimana kalau kita main maju mundur cantik saja.” Fey mengedipkan salah satu matanya pada Refald dengan gaya khas centilnya.


Raut wajah Refald yang tadinya sedih seketika berubah senang. “Aku tidak akan pernah menolak untuk yang satu itu. Dua ronde oke! Kau tidak boleh menolak.” Refald langsung malancarkan aksinya bergumul mesra dengan Fey diatas ranjang tanpa menunggu persetujuan dari istrinya lagi.


BERSAMBUNG


***


kasih komentar dong ..kira- kira visual mereka cocok nggak?



visual Rhea



visual Rey

__ADS_1


__ADS_2