
PERINGATAN: Dalam episode ini ada adegan 18++ tapi tidak sampai menjurus ke 21++.
Salam manis dari penulis.
****
Refald masih mengurungku di bawah pohon. Aku hanya bisa cemberut melihat reaksi Refald yang terlalu berlebihan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya cara adalah aku harus bersikap seimut mungkin supaya aku bisa melaksanakan tujuanku.
“Ref ... ehm, maksudku, Sayang.”
“Hem, ada apa, Honey.” Refald masih saja mendekatkan wajahnya tepat di depan wajahku. Bahkan bibir kamipun saling berdekatan. Sepertinya ia masih menunggu apa yang sebenarnya ingin kuperiksa dari dirinya.
“Bisakah kau mundur sedikit? Aku kesulitan bernapas!”
“Tidak bisa! Aku tidak bisa mundur. Tubuhmu seakan menarik tubuhku mendekat padamu seperti magnet.”
Aku berusaha menahan napas, gemetar, tapi juga hasratku mulai tertantang.
Akankah kami berdua benar-benar akan melakukannya di sini? Tidak! Tidak mungkin! Kami berdua belum cukup umur untuk melakukannya. Apalagi di tempat terbuka seperti ini.
“Katakan padaku! Apa yang membuatmu penasaran dariku?” Refald ingin menciumku tapi secepat kilat aku berpaling darinya.
Reaksiku ini ternyata memancingnya semakin mendekatkanku padanya. Refald langsung merangkul pinggangku dengan kedua lengannya lalu menarikku ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Bagus! Sekarang diantara kami berdua sudah tidak ada sekat apapun. Tubuh kami menempel sempurna di tubuhnya.
“Lepaskan aku!” aku berusaha berontak, tapi usahaku ini berakhir sia-sia. Refald jauh lebih kuat dariku. Jelas sekali kalau aku tidak akan bisa melawannya. “Sayang, bisakah kau melepaskanku?” aku berusaha merayunya dengan bersikap seimut mungkin. “Dan juga ... tolong pakai lagi kemejamu. Kau bisa sakit, udara di sini sangat dingin, Sayang,” ucapku sambil pura-pura tersenyum manis.
Sebenarnya aku sangat tidak nyaman dibekap oleh Refald seperti ini. Jantungku berdetak dengan sangat cepat, peluh dipelipisku juga sudah mulai penuh dan siap mengalir. Aku hanya bisa menelan saliva saat melihat tubuh Refald yang kekar dan dada bidang Refald yang begitu menggoda. Aku benar-benar tidak bisa fokus. Berkali-kali aku memejamkan mata tapi tetap saja aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.
Oh my God, kenapa Refald terlihat sangat seksi?Apa yang harus aku lakukan sekarang? Berteriak pun juga percuma. Tidak akan ada yang datang kemari, adanya malah binatang buas yang terpanggil. Itu sama saja dengan ke luar dari kandang macan dan masuk ke dalam kandang singa.
Sebisa mungkin aku menahan diriku agar aku tidak tergoda, sampai-sampai aku jadi lupa untuk bernapas.
“Apa kita harus melakukannya di sini, Honey?”
“Apa?” spontan aku berteriak.
“Hentikan Refald, aku tidak bisa bernapas.” Aku menahan wajahnya tepat sebelum bibirnya menyentuh bibirku.
“Siapa yang menyuruhmu berhenti bernapas, Honey? Tetaplah bernapas dan lihatlah aku, betapa seksinya tunanganmu ini.” Refald tersenyum dan memundurkan wajahnya hanya sekitar 10 cm saja dari wajahku. “Kau juga harus tahu Honey, aku memang lebih suka tidak memakai baju saat berada di gunung. Itu sungguh mengasyikkan.” Refald menyunggingkan senyumannya yang menggoda.
Deg, aku langsung terkejut mendengar pernyataan Refald.
Gila! Pantas saja para dedemit itu mau menjadi pasukan Refald, pasti mereka terdiri dari berbagai jin wanita semua. Apa? Seksi? Dasar cecunguk tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia mengatakan hal semacam itu di tempat seperti ini. Apa benar yang sedang kuhadapi ini Refald? Aku baru tahu kalau ternyata tunanganku bisa seliar ini?
“Kalau kau mengintimidasiku seperti ini? Aku bisa jantungan, tidakkah kau tahu jantungku seakan meledak setiap kali kau mendekatiku seperti ini?” aku mulai kesal tapi aku tidak boleh emosi saat ini jika ingin berhasil memastikan apa yang ingin kupastikan.
__ADS_1
Mati-matian aku berusaha menahan hasrat alamiku sebagai wanita saat didekati seorang pria apalagi ia dalam keadaan setengah telanjang seperti yang Refald lakukan sekarang ini.
“Intimidasi? Aku hanya menuruti apa yang kau mau, Honey. Bagaimana bisa kau menuduhku mengintimidasimu?” Refald mulai membelai lembut pipiku dan semakin membuatku gugup.
Bagaimana caraku supaya aku bisa membuka perban yang ada di lengan Refald. Haduh sial! Kenapa dia jadi sok sweet gini, sih? Aku harus mencari cara sebelum Refald bertindak berlebihan. Tapi bagaimana, kalau aku dan dia ... ahh tidak, Fey! Hilangkan pikiran kotor seperti itu.
Aku hanya bisa menghela napas panjang dan hampir saja pasrah karena keadaan. Namun, tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikiranku.
Aku tahu cara apa yang harus aku lakukan sekarang. Meski aku sendiri tidak yakin apakah cara ini berhasil tau tidak. Tapi, tidak ada salahnya jika aku mencobanya.
Aku memegang tangan kanan Refald yang terbalut perban saat ia memegang pipiku, lalu secepat kilat aku mencium bibir Refald, berusaha menikmatinya dan aku mencoba cara seperti yang ada di film-film romantis lainnya. Aku membuka sedikit bibir Refald dan memaksakan lidahku masuk kedalamnya.
Meski bibirku bergerak sangat aktif, tapi tanganku dengan cepat berusaha melepas perban yang ada ditangan Refald. Aku tahu Refald pasti terkejut dengan aksiku yang tidak biasa. Namun kesempatan ini aku gunakan untuk membuka perban Refald untuk mengetahui apakah lukanya itu benar-benar parah atau tidak.
Begitu perbannya berhasil aku lepas aku menyudahi ciumanku segera, sayangnya Refald yang masih belum mau berhenti, menarikku kembali dalam pelukannya dan kami saling beradu lidah satu sama lain. Kami berdua menikmati suasana romantis dan menegangkan ini.
Sejujurnya aku sangat malu pada diriku sendiri. Tapi aku sudah tidak punya cara lain, mungkin terlihat gila untuk seorang sepertiku, apalagi ini pertama kalinya aku bertindak sangat konyol begini. Terlebih lagi, aku melakukannya pada tunanganku sendiri. Namun hanya inilah cara yang bisa aku lakukan untuk mengetahui apakah dugaanku selama ini salah atau benar.
Setelah kami selesai, perlahan Refald melepaskanku dan menatapku. Sedangkan aku langsung menunduk untuk memeriksa lengannya yang mungkin tanpa ia sadari sudah terlepas dari perbannya dan aku terkejut sekali mengetahui bahwa lengan Refald ... sangat bersih. Hanya ada luka baret saja di sana.
Rasa maluku yang tadinya menyerang mendadak hilang tak berbekas dan jadi terkejut setengah mati setelah melihat luka Refald yang sebenarnya.
Ternyata dugaanku benar, jadi Refald membohongiku selama ini ....
__ADS_1
****