Putra Raja (Season 1&2)

Putra Raja (Season 1&2)
episode 148 Terlambat


__ADS_3

Leo berhasil mengejar Shena dan menghentikan langkah gadis itu dengan motornya. Bagaimana Shena bisa berjalan kalau Leo yang duduk di atas motornya menghalangi jalannya.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Leo sambil membuka kacamatanya.


“Aku tidak ingin terlambat dihari pertama masuk, minggir!” jawab Shena dan hendak melanjutkan jalannya, tapi lagi-lagi langkahnya dicegah oleh Leo.


“Kau masih berhutang terima kasih padaku! Selain itu ...,”


“Terima kasih!” ujar Shena dengan cepat dan buru-buru pergi lagi tanpa mau menatap wajah tampan Leo.


Sikap Shena yang acuh pada Leo, membuat cowok itu semakin tertantang untuk tahu lebih banyak siapa gadis yang berani mengacuhkannya begitu saja. Leo kembali menyalakan mesin dan mengikuti kemanapun Shena pergi.


“Kenapa kau mengikutiku? Aku sudah berterimakasih padamu? Apalagi yang kau inginkan?” tanya Shena saat Leo lagi-lagi menghadang jalannya.


Untuk sesaat, Leo sedikit kagum akan wajah Shena yang begitu manis dan natural. Ia terlihat sederhana dan juga bersahaja, tidak seperti wanita yang sering ia temui pada umumnya. Baru kali ini ia melihat ada wanita yang tidak begitu peduli dengan penampilan.


Apa mungkin dia gadis yang aku cari? Kenapa jantungku tiba-tiba tak bisa berhenti berdetak? Batin Leo.


Shena tidak tahu apa yang ada dalam pikiran cowok aneh itu, ia tidak ingin membuang-buang waktu. Shena mencari arah memutar melewati Leo, tapi tetap saja Leo menghalangi langkahnya sehingga membuat Shena jadi kesal.


“Apa yang kau inginkan?” cetus Shena lagi.


“Motorku lecet yang bagian depan gara-gara kutabrakkan pada motor kecoak itu.” Leo mencari-cari alasan supaya ia bisa lebih lama dengan Shena.


“Lalu? Apa hubungannya denganku? Aku tidak menyuruhmu melakukan itu untukku. Kalaupun aku mati tertabrak, sebenarnya bukan urusanmu! Jadi jika motor kerenmu ini lecet, itu juga bukan urusanku karena bukan aku yang menyuruhmu. Itu atas kemauanmu sendiri. Dan juga ... aku sudah berterimakasih, permisi!” Shena melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Leo sambil setengah berlari agar Leo tak lagi mengikutinya.


Dasar cowok aneh, dia yang menabrakkan motor kenapa seolah meminta pertanggungjawabanku? Apa aku yang menyuruhnya melakukan itu? Dasar! Kelihatan sekali kalau dia itu playboy. Aduh gawat! Aku buta arah, dimana tempat ospeknya? Pikir Shena mulai panik karena bingung harus kemana lagi ia melangkah. Gadis itu celingukan kesana kemari tapi tak tahu dimana tempat ospeknya dilakukan.


Leo sendiri menganga mendengar perkataan Shena. Baru kali ini ada wanita berani bicara kasar padanya. Baru kali ini juga ada wanita yang tak tertarik pada pesona ketampanannya. Biasanya, hanya sekali mengedipkan mata maka semua wanita yang melihat Leo bakal kelepek-kelepek seperti ikan yang tak bisa bernapas dengan insang. Tapi Shena, sangat berbeda, jangankan kelepek-kelepek, melihat wajah Leo saja Shena sudah enggan.


“Siapa wanita itu?” gumam Leo. Ia tersenyum dan mulai mengejar Shena lagi. “Naiklah!” teriak Leo pada Shena yang sedang berjalan dengan cepat.

__ADS_1


“Tidak, terimakasih, pergilah dulu!” Shena menjawab dengan ketus tanpa menoleh pada Leo.


“Aku akan membantumu cepat sampai ke gedungmu agar bisa mengikuti ospek. Naiklah! Aku tidak ingin ucapan terimakasih darimu, aku ingin kau berterimakasih dengan cara lain, Ayo! Naiklah!” Leo mengedipkan salah satu matanya pada Shena, tapi bukannya tergoda Shena malah jadi ilfeel dengan Leo yang suka tebar pesona pada setiap wanita.


“Aku tidak mau!” cetus Shena lagi sambil berlalu pergi.


Kesabaran Leo sudah habis kali ini. Prinsipnya adalah tidak suka ditolak dan Shena sudah menolak tawarannya mentah-mentah. Cowok itu pun turun dari motornya dan menggendong Shena dari belakang tanpa izin lalu menaikannya di atas motornya.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku! Atau aku akan teriak! Lepaskan aku!” Shena berusaha memberontak setelah ia sempat terkejut dengan aksi kurang ajar Leo padanya.


Tanpa menggubris aksi protes Shena, dengan cepat Leo melompat ke atas motornya dan segera menyalakan mesin sebelum Shena turun lagi dan melarikan diri. “Peganganlah yang kuat, kalau kau sayang dengan nyawamu! Aku akan ngebut karena ospek sudah dimulai sejak tadi!”


“Apa? Sudah dimulai?” Shena baru sadar kalau suasana kampus sudah sangat sepi. Ia langsung terkejut dan menuruti kata-kata Leo, gadis itu berpegangan erat pada pinggang cowok aneh yang baru saja ditemuinya. Sepertinya yang dikatakan Leo benar. Mereka berdua sudah terlambat mengikuti ospek di hari pertama kuliah.


Ternyata, Leo sama halnya dengan Shena. Ia juga buta arah dan tidak tahu dimana tempat ospek untuk mahasiswa baru dilakukan. Hal itu karena Leo tidak tahu menahu soal kampus ini. Jangankan tempat ospek, menginjakkan kakinya di sini saja juga baru pertama kali.


Shena yang merasa sejak tadi hanya berputar-putar mengelilingi kampusnya, mulai curiga dengan Leo. Sebab, ini sudah kali kelima Shena melintasi pohon beringin besar yang sama.


“Hei! Kau yakin kau tahu di mana tempat ospek kita pertama kali dilaksanakan?” tanya Shena dengan kencang agar cowok yang memboncengnya bisa mendengar pertanyaan Shena.


“Oke! Leo, kau yakin kita tidak tersesat? Kenapa aku merasa kita sudah melewati tempat ini berkali-kali? Apa kau buta arah?”


“Itu hanya perasaanmu saja! Semua pohon yang ada di sini sama, tidak ada bedanya?” kilah Leo. Tidak mungkin ia bilang pada Shena kalau ia juga buta arah.


“Kau yakin?” Shena agak ragu, sebab ia tahu persis pohonnya tidak berubah.


“Diam dan jangan berisik!” bentak Leo, ia juga sedang mencari-cari dimana ospek khusus untuk maba diadakan. “Sial!” umpatnya dalam hati. Tiba-tiba ponselnya berdering dan Leo mengangkatnya setelah sempat menghentikan motornya. “Halo.”


“Kau ada di mana bodooh! Kenapa belum juga datang, ospek sudah dimulai sejak tadi! Jangan bilang kau tersesat lagi!” bentak Roy dari seberang.


“Iya, sepertinya begitu,” jawab Leo tenang.

__ADS_1


“Apa maksudmu sepertinya begitu? Cepat kemari. Kau cari saja gedung yang ada pohon beringinnya. Kami semua ada di belakang gedung itu.”


“Apa? Kenapa kau tidak bilang daritadi? Aku sudah melewatinya berkali-kali!” bentak Leo sambil menutup ponselnya. "Dasar bengek kau Roy!” gumam Leo. Ia tidak sadar sejak tadi Shena sudah menatapnya dengan tatapan tajam.


“Kau yang bengek! Harusnya kau bilang kalau kau juga buta arah? Sekarang katakan padaku! Di mana tempat ospeknya!” Shena memelototi Leo karena bukannya membantu mempercepat ia sampai di lokasi ospek, tapi malah membuatnya terlambat.


“Ikut aku!” tanpa peringatan Leo langsung menggandeng tangan Shena dan menyeretnya berjalan ke gedung yang ternyata sudah sejak tadi mereka lewati berkali-kali. Padahal jelas-jelas di pinggir tiang sudah terpampang tulisan ‘tempat ospek MaBa’ tapi sepertinya keduanya tidak membaca tulisan itu daritadi.


Apa yang dikhawatirkan Shena benar. Keduanya terlambat mengikuti upacara pembukaan ospek di belakang gedung ini. Alhasil, Leo dan Shena dihukum berdiri di samping tiang bendera sambil memberi hormat. Tak hanya mereka berdua saja yang mendapat hukuman sama, Roy dan Laura pun ternyata juga terlambat. Selain itu, ada beberapa pasangan muda mudi lainnya yang bernasip sama.


Anehnya, mereka yang dihukum, datang bersamaan dan berpasang-pasangan dalam kurun waktu yang berbeda. Pasangan pertama yang telat datang adalah Roy dan Laura, lalu lima menit kemudian datanglah pasangan yang lainnya sampai yang terakhir tiba adalah Leo dan Shena, datang bersamaan.


Para senior jadi heran, setiap maba yang datang terlambat selalu berpasangan. Tak hanya satu atau dua pasang, ini jumlahnya hampir mencapai 20 pasang. Jika ini kebetulan, maka kebetulan seperti ini sangatlah langka.


“Apa kalian semua yang berdiri di sini sedang pacaran? Kenapa kalian bisa datang bersamaan dan berpasang-pasangan pula? Apa kalian semua janjian? Kalian pikir ini ajang pencarian jodoh?” tanya salah satu senior yang ada di depan mereka semua. Namun, semuanya tidak ada yang menjawab karena faktanya mereka semua tidak saling kenal.


“Hei, sepertinya mereka tidak janjian, semuanya datang dari jauh. Pasangan pertama dan terakhir malah datang dari Jerman. Sedangkan ceweknya dari kampung,” bisik salah satu teman senior itu sambil membuka berkas-berkas.


“Baiklah, kali ini kalian semua aku maafkan. Kembalilah ke kelas sesuai dengan kartu yang kalian terima untuk mengikuti materi ospek, dan besok kita akan ke suatu tempat untuk melakukan ospek lanjutan. Satu lagi, di antara kalian semua? Siapakah yang bernama Leo?” tanya senior itu.


Leo yang namanya baru saja dipanggil, maju selangkah ke depan. “Aku!” ujar Leo dengan ekspresi tenang setenang permukaan air danau.


“Temui Rektor sekarang! Huh, masih MaBa berani belagu juga kau! Hari pertama saja sudah bikin onar!” ujar senior tadi dan membubarkan yang lainnya.


BERSAMBUNG


****


bonus malam Minggu ....yang nunggu Refald sabar ... setelah ini baru dia beraksi ..


seperti apa ... tunggu episode selanjutnya..

__ADS_1




__ADS_2